Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Bab 9
Panas di dalam gua itu bukan sekadar suhu—ia seperti makhluk hidup yang bernapas, menyemburkan hawa dari perut bumi. Dinding batu memerah, retak-retak seperti kulit yang terlalu lama terbakar matahari. Di sela retakan itu, cahaya oranye dari lahar menyelinap keluar, berdenyut seperti jantung raksasa yang sedang marah.
Tidak ada manusia biasa yang bisa bertahan di tempat seperti ini. Udara terasa berat, seperti dipenuhi abu yang tak kasatmata. Setiap tarikan napas seperti menelan bara.
Bumi hampir tidak sanggup berdiri.
Namun ia tetap memeluk Pam.
Tubuh Pam di lengannya terasa ringan—terlalu ringan. Seperti memeluk ranting kering. Kulitnya mengerut, melipat-lipat seperti kain tua yang disimpan terlalu lama. Tulang-tulangnya menonjol, membentuk bayangan tajam di bawah kulit tipisnya. Ia terus menyusut, seolah waktu sedang diputar mundur secara brutal.
“Pam…” suara Bumi bergetar, tenggelam di antara gema gua. “Aku harus bagaimana?”
Pertanyaan itu bukan hanya untuk Pam. Itu untuk dirinya sendiri. Untuk nasibnya. Untuk waktu yang terasa patah.
Ia takut.
Takut mati di tempat asing ini.
Takut tak pernah melihat tahun 2026 lagi.
Takut menjadi bagian dari masa lalu yang bukan miliknya.
“Sudah lah! Buang dia, Bumi!” suara Shopia menggema, tajam seperti serpihan kaca. Ia berdiri tegak di seberang, wajahnya bersinar oleh pantulan lahar, matanya menyala penuh kegilaan.
Bumi menggigit bibir. Tangannya justru semakin erat memeluk Pam.
“Buang aku…” suara Pam tiba-tiba muncul. Tipis. Hampir seperti bisikan angin.
“Apa?” Bumi menunduk, tak percaya.
Pam membuka matanya perlahan. Mata itu… masih sama. Masih hidup.
“Gelindingkan aku ke arah Shopia…” katanya lirih.
Jantung Bumi seperti tersentak.
“Tapi… aku nggak bisa…”
“Sudah, cepat!” Kali ini suara Pam lebih tegas, meski tubuhnya nyaris habis dimakan waktu.
Bumi menutup mata sejenak. Dunia di sekitarnya seperti berhenti. Hanya ada suara detak jantungnya sendiri.
“Maaf… maafkan aku, Pam…”
Dengan tangan gemetar, ia menjatuhkan tubuh Pam ke lereng gua. Tubuh itu mulai menggelinding.
Perlahan.
Lalu semakin cepat.
Seperti bola kecil yang dilepaskan dari puncak bukit.
Shopia tertawa keras. Tawanya menggema, memantul di dinding gua seperti ratusan suara yang mengejek.
“Bagus!”
Namun tiba-tiba—
GEMURUH.
Suara itu datang dari dalam tanah. Dalam. Berat. Mengguncang.
Tubuh Pam yang kecil itu tidak lagi kecil. Ia menyapu debu, batu, dan serpihan tanah, menggulungnya menjadi bola besar yang terus membesar. Seperti longsoran hidup yang tak bisa dihentikan.
Gua bergetar hebat. Langit-langitnya berderak. Retakan baru muncul seperti kilat yang membelah batu.
Bumi membuka mata, lalu berlari. Ia tidak berpikir lagi. Ia mengikuti jejak Pam—jejak kehancuran yang membuka jalan. Debu memenuhi udara. Pandangannya kabur. Napasnya terputus-putus.
Di depan, terjadi enturan keras.
BOOM!
Bola besar itu menghantam tebing tempat Shopia berdiri.
Jeritan terdengar. Ajudan-ajudan Shopia berhamburan keluar, panik seperti semut yang sarangnya dihancurkan. Shopia berusaha lari.
Tapi tangan Pam mencuat dari gumpalan debu. Menariknya. Menjatuhkannya. Ke dalam lahar.
“TIDAAAAAK!”
Suara Shopia pecah, teredam oleh percikan lava yang menyala seperti kembang api neraka. Anya mencoba meraih Shopia. Namun kakinya terpeleset. Tubuhnya ikut jatuh. Dua bayangan itu hilang dalam cahaya pijar yang menelan segalanya.
Bumi terdiam sesaat.
Dunia seperti berhenti.
Namun tidak lama.
Pam! Tubuhnya kini hampir ikut terseret ke lahar.
“Pam!” Bumi melompat, meraih tangannya tepat sebelum jatuh. Pegangan itu lemah. Namun Bumi menggenggamnya sekuat hidupnya.
“Lepaskan…” kata Pam, menatapnya.
“Tidak!”
“Kalau tidak, kamu akan ikut jatuh!”
“Biar!” teriak Bumi, suaranya pecah. “Mungkin kalau aku jatuh… aku bisa bangun di tahun 2026!”
Itu bukan keberanian. Itu keputusasaan. Namun tangannya tidak goyah. Dan saat itu, sesuatu berubah.
Kulit Pam yang keriput mulai mengencang. Seperti kain yang ditarik kembali. Tulang-tulangnya tak lagi menonjol. Otot muncul, perlahan, membungkus rangkanya. Rambut putihnya… menghitam. Seperti malam yang kembali setelah fajar.
“Pam…” suara Bumi penuh takjub.
Pam menatap tangannya sendiri. Lalu tersenyum. “Iya… kita berhasil…”
Kini wajahnya muda. Segar. Hidup. Usianya setaar dengan Bumi, mungkin lebih tua dua tahun. Bumi mengira Pam sekitar dua puluh tahun. Kakinya menapak kuat di tebing. Tangannya mencengkeram batu. Ia menarik Bumi, bukan lagi sebagai beban, tapi sebagai penolong. Mereka berhasil naik ke bibir kawah. Duduk terengah-engah. Napas mereka berat, tapi hidup.
Namun gua tidak memberi waktu. Gemuruh semakin keras. Batu-batu jatuh seperti hujan kematian.
“Ayo!” Pam berdiri, menarik tangan Bumi.
Mereka berlari. Lorong gua terasa lebih sempit, lebih gelap, lebih mematikan. Di belakang mereka, jalan runtuh satu per satu. Seperti masa lalu yang menutup pintunya. Saat akhirnya mereka keluar, langsung di sambut udara luar terasa seperti surga.
Namun itu hanya sekejap. Tampak puluhan nenek-nenek berdiri di mulut gua. Wajah mereka keriput, mata mereka kosong… tapi penuh amarah.
Pam dan Bumi saling berpandangan. Mereka tahu bahwa ajudan pasukan Shopia sudah berubah menjadi umur aselinya.
“Gara-gara kalian…” salah satu dari mereka melangkah maju, suaranya bergetar seperti daun kering.
“Kalian harus mengembalikan jiwa muda kami!”
“Gawat…” bisik Pam. “Lari!”
Mereka berdua berbalik dan berlari.
Hutan menyambut mereka dengan bayangan dan suara. Daun bergesekan. Ranting patah. Nafas mereka berpacu dengan waktu. Di belakang, ratusan anak panah melesat.
“Zing!”
Bumi hampir terkena. Ia berlari zig-zag, mengikuti Pam. Pam bergerak seperti angin. Lincah. Ringan. Sesekali melompat batu, menunduk, berputar. Bumi terpukau di tengah ketakutan.
“Kira-kira umur mereka berapa?!”
“Mungkin dua ribu tahun! Siapa tahu!” Pam setengah tertawa.
Kejaran itu perlahan menjauh. Langkah para nenek mulai melambat. Waktu akhirnya mengejar mereka. Dan di depan mereka terlihat hamparan luas, jalan tanpa hambatan yang sudah ditumbuhi lumut.
Sepi. Sunyi. Seperti dunia yang berbeda.
Pesawat kapsul itu masih di sana. Menunggu. Seperti satu-satunya pintu keluar dari mimpi buruk. Mereka berlari masuk. Pintu tertutup.
Pam duduk, masih terengah, lalu memasang sabuk pengaman dengan tangan gemetar. “Aku boleh ikut?” tanyanya pelan.
Bumi menoleh. Menatapnya. Kini bukan nenek tua. Bukan makhluk misterius. Tapi seorang perempuan muda… yang menyelamatkan hidupnya.
“Iya lah,” jawab Bumi, tersenyum tipis. “Kamu harus bantu aku balik ke 2026.”
Pam mengangguk. “Oke.”
Tiba-tiba suara familiar menggema. “Halo, kalian berhasil kembali?” Suara Emma yang kaku tapi menyenangkan seperti cahaya di ujung lorong panjang.
“Bawa kami pergi dari sini! Cepat!” kata Bumi.
“Siap.” Mesin pesawat meraung. Getarannya memenuhi kabin. Asap knalpot menyembur dari belakang mereka.
Pesawat kapsul bergerak terbang. Terangkat. Meninggalkan tanah, hutan, gua, dan masa lalu yang hampir menelan mereka hidup-hidup. Pesawat itu melesat ke langit. Membelah awan. Menuju timur.