Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
.
Dirga perlahan berdiri dari tempat duduknya, membalikkan badannya, menghadap ke arah Putri dan Ega yang masih berbincang.
Pria itu menarik napas panjang, berusaha menghela rasa sesak yang seakan ingin meledak di dalam dadanya. Pemandangan dua sejoli yang saling mencintai namun terpaksa harus berjarak itu begitu menyakitkan untuk dilihat.
“Tunggu Ayah, Nak... Ayah akan berusaha memperbaiki segalanya,” batinnya bertekad bulat.
Setelah itu, Dirga perlahan menjauh, meninggalkan taman itu dengan beban berat yang kini berubah menjadi semangat untuk memperjuangkan kebahagiaan putrinya.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Dirga terus berkecamuk. Matanya fokus menatap jalanan, namun pikirannya melayang entah ke mana. Hingga tanpa sengaja, matanya menangkap sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di depan sebuah butik ternama.
“Bukankah itu mobil Toni,” gumam Dirga bertanya pada dirinya sendiri.
Tanpa sadar kaki Dirga refleks menginjak rem, membelokkan mobilnya dan mencari tempat parkir yang agak jauh dari posisi mobil Toni. Jantungnya berdegup kencang, entah dorongan apa yang membuatnya ingin memastikan sesuatu.
Dengan hati-hati dan berusaha tidak mencolok, Dirga turun dan melangkah masuk ke dalam butik tersebut. Matanya menyapu ruangan yang luas dan mewah itu, hingga akhirnya berhenti tepat di sebuah ruang ganti yang terbuka sebagian.
Dan saat itulah... sesuatu yang sangat menyakitkan menghantam dada Dirga bagaikan sebuah batu besar. Di sana, di antara banyak patung manekin yang berdiri berjajar, terlihat Jameela sedang berdiri mengenakan kebaya berwarna putih gading yang sangat anggun. Wajahnya berseri-seri, memancarkan kebahagiaan yang luar biasa.
Di sampingnya, seorang pegawai butik yang sedang membantunya mengepas kebaya, merapikan sedikit bagian kain di bahu Jameela. Tak jauh dari mereka, Toni menatap Jameela penuh cinta, dan tampak olehnya mata Jameela yang membalas tatapan Toni dengan wajah merona.
Dunia Dirga seakan berhenti berputar. Tubuh pria itu terhuyung mundur, merasakan kakinya lemas seolah tak kuat menopang berat badannya sendiri.
“Jadi... ini memang sudah takdirnya,” batin Dirga hancur lebur.
Dengan punggung yang gemetar, Dirga menyandar pada sebuah pilar besar di sudut ruangan untuk menopang tubuhnya yang terasa mau roboh. Rasa sakit itu nyata, menusuk tepat di jantungnya. Kisah tentang dirinya dan Jameela benar-benar telah usai. Harapan untuk kembali bersama Jameela benar-benar sudah musnah. Ikatan jodoh mereka yang terputus karena talak tiga yang ia ucap saat emosi, benar-benar tak mungkin terulang kembali.
Perlahan, Dirga menyeret kakinya mundur, berbalik pergi meninggalkan tempat itu, membawa luka yang kembali terbentuk di hatinya. Langkahnya berat seiring mata yang mulai memanas.
*
*
*
Pagi datang, Dirga Wijaya melangkah keluar dengan penampilan rapi dan penuh wibawa. Wajahnya begitu cerah, tatapan matanya tegas, dan senyumnya tak lepas dari bibirnya.
"Selamat pagi, Sayang!" sapa Dirga ceria, bergerak mendekat melabuhkan kecupan di puncak kepala Putrinya yang sudah duduk di sana menunggunya.
Putri yang sedang menerima laporan kerja dari asistennya, mengerutkan kening menatap wajah ayahnya yang tampak berseri-seri. Dan gaya pakaiannya… jas warna biru langit dengan celana panjang warna serupa. Sejak kapan ayahnya beralih dari warna hitam? Seingatnya semenjak kepergian ibunya sang ayah selalu tak pernah memakai warna lain selain hitam.
"Pagi, Yah..." jawab Putri ragu. "Ayah ada apa hari ini? Kok kayak lagi hepi banget?” tanyanya penasaran.
Dirga tertawa kecil, lalu duduk di kursi utamanya dengan santai. Ia mengambil serbet dan meletakkannya di pangkuan, masih dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
"Ra- ha- si- a..." jawab Dirga sambil mengedipkan sebelah matanya dengan gaya yang terlihat sangat misterius.
Putri semakin bingung dengan sikap ayahnya yang terkesan centil, "Ishh… apaan sih, Yah? Sok main rahasia segala?!"
Tanpa Putri ketahui, senyum lebar yang terlihat begitu natural dan memukau itu bukanlah hasil instan. Sejak di dalam kamar mandi tadi, dan bahkan saat berdiri di depan cermin besar di lemari pakaiannya, Dirga sudah berlatih berkali-kali.
"Senyum, Dirga. Senyum yang lebar. Jangan kaku. Tunjukkan kalau kamu bahagia di depan anakmu," perintahnya pada bayangannya sendiri tadi. Pria itu memaksakan otot wajahnya untuk rileks, bahkan menarik dua sudut bibirnya dengan ujung jari.
"Apa sih… kepo aja. Buruan makan. Nanti dingin," ucap Dirga memotong rasa penasaran Putri.
“Apa, Yah? Kepo?” Putri semakin heran menatap ayahnya. Sejak kapan Ayahnya itu kenal bahasa gaul?
Belum selesai Putri dengan rasa penasaran akan perubahan pembawaan ayahnya, seorang pelayan wanita datang mendekat dengan tangan terangkat ke depan membawa sebuah benda kecil di tangan.
"Permisi, Tuan, Nona..." sapa pelayan itu sopan. "Pak Sopir yang sedang membersihkan mobil, menemukan anting emas di bawah jok mobil Tuan. Apakah ini milik Nona Putri?"
Putri menengadahkan tangannya menerima anting itu dan langsung menggelengkan kepala.
"Bukan, Bi. Putri tidak punya anting seperti ini," jawab Putri tegas.
Namun, sesaat kemudian wajah gadis itu berubah. Matanya memicing tajam menatap ayahnya yang sedang menikmati sarapan. Alisnya terangkat tinggi penuh selidik.
"Ayah lagi kencan sama wanita tanpa bilang sama Putri ya, sampai-sampai antingnya tertinggal di mobil?" tuduhnya serius.
Uhuk uhuk!
Dirga tersedak makanan yang belum selesai dikunyah. Wajahnya seketika memerah menahan sakit di tenggorokan, matanya terbelalak lebar mendengar tuduhan putrinya.
"Apa-apaan kamu nuduh Ayah kayak gitu?” Dirga langsung menyambar gelas air putih di depannya. "Mana ada Ayah seperti itu!" bantahnya tidak terima.
“Terus punya siapa dong?” tanya Putri. "Ingat ya, Yah! pokoknya, kalau Ayah mau nikah lagii, orang itu harus lolos seleksi Putri!"
Dirga mendengus menatap sengit. Namun, sesaat kemudian mengernyitkan dahinya kuat-kuat, mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ada wanita yang menumpang mobilnya.
Anting... di bawah jok...
Seketika matanya terbuka saat teringat sesuatu. “Ah… Ayah ingat sekarang. pasti milik perawan tua itu!” ucapnya spontan saat mengingat Amanda pernah bersembunyi di bawah dashboard waktu dikejar preman.
“Ayah!!!” suara bentakan Putri melengking. “Putri tidak suka ya, Ayah nyebut Bu Manda kayak gitu!”
Glek!
Dirga menelan ludahnya kasar melihat sorot mata penuh kekesalan dari putrinya.
“Maaf, Ayah lupa!” Dirga meringis menunjukkan deretan giginya dengan dua jari teracung di samping wajah. “Peace… “ ucapnya.
Putri menatap sengit. "Bu Manda itu orang yang paling baik sama Putri, Yah. Ayah gak boleh bersikap buruk pada beliau. Sebagai hukumannya, Ayah harus mengantar anting itu ke tempat Bu Manda!” perintah nya tegas.
Dirga yang baru saja hendak menyuapkan kembali makanan ke dalam mulutnya langsung menghentikan gerakannya.
"What?! Kok Ayah sih?” tolak Dirga ketus. "Kenapa nggak suruh saja dia datang ke sini ambil sendiri, atau suruh Pak Sopir saja antar ke sana. Ayah itu sibuk, banyak kerjaan."
“No!” sahut Putri tidak mau dibantah. “Pokoknya harus Ayah yang ngantar!" desak Putri tegas. "Kalau Ayah nggak mau ngantar, Putri tidak mau berteman sama Ayah lagi!"
Rahang Dirga mengeras. “Dasar perawan tua sialan! Bikin repot saja!” maki Dirga yang hanya berani berteriak dalam hati.
"Iya, iya! Ayah antar! Tapi bukan sekarang. Ayah harus ke kantor dulu." Dirga mengambil anting itu dari tangan Putri, lalu menyimpannya ke dalam saku jasnya. “Nanti sore kalau Ayah gak lupa,” lanjutnya.
Mata Putri kembali menatap galak. "Nggak boleh lupa, Yah!"
"Iya, Iya. Nanti Ayah suruh Asisten Kevin catat besar-besar di buku agenda. Puas?!"
Putri tersenyum lebar, kemenangan terpancar di wajahnya. "Makasih, Yah. Ayah is the best!"
Dirga mendengus, tapi di dalam hati ia tersenyum kecil melihat putrinya yang bersemangat. Apapun itu, asal bisa membuat Putri bahagia, akan dia lakukan.
tapi kalo cinta kok memaksa
tanpa filter sekali pak
menurutku lebih pas.