NovelToon NovelToon
Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Horror Thriller-Horror / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thinkziam

Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...

----

~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Arka masih berdiri di depan pintu baja ketika suara pertama datang. Bukan dari terowongan utama, tapi dari lorong timur tempat mereka menemukan kelompok penggali tadi malam. Getaran itu berubah menjadi pukulan. Teratur. Keras. Seperti linggis yang menghantam dinding tanah dari sisi lain.

Pratama yang berada di dekat rak stok langsung berdiri. Tangannya meraih pistol di pinggang. “Mereka sudah tembus.”

Arka mengangguk. Dia menoleh ke Wawan yang duduk di ruang kontrol. “Matikan lampu.”

Wawan menekan tombol. Semua lampu di bunker padam. Hanya layar monitor di ruang kontrol yang masih menyala dengan cahaya redup, cukup untuk melihat peta dan radio. Gelap menyelimuti ruang utama dan lorong-lorong.

Arka merasakan dingin yang berbeda. Bukan dingin dari luar. Tapi dingin dari dalam, dari jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

Pukulan itu berhenti. Sunyi. Lalu suara tanah longsor kecil. Dinding lorong timur runtuh.

Langkah kaki. Satu. Dua. Tiga. Empat. Mereka masuk ke lorong gelap dengan senter menyala, sorot putih yang bergerak tidak menentu.

Arka sudah bersembunyi di balik rak besi yang dipindahkan kemarin. Tangannya memegang pistol, jari di pelatuk, napas ditahan. Di seberang ruangan, Pratama bersembunyi di balik tumpukan karung beras. Umar di dekat pintu ruang medis, obeng di tangan, tubuhnya membeku.

Senter pertama menyapu ruangan. Cahaya putih melewati rak besi, melewati kursi, melewati tempat Arka berdiri. Tidak berhenti. Pria di balik senter itu berjalan ke depan, diikuti tiga lainnya.

“Kosong,” bisik salah satu dari mereka. “Mereka kabur.”

“Periksa semua sudut.”

Arka menunggu. Dia menghitung langkah. Dua meter. Satu meter.

Sekarang.

Dia muncul dari balik rak. Dua tembakan. Peluru pertama mengenai bahu pria dengan senter. Pria itu jatuh, senternya memantul di lantai, cahaya berputar kacau. Peluru kedua mengenai kaki pria di belakangnya.

Pratama juga menembak dari sisi lain. Dua tembakan. Satu pria jatuh. Yang lain berteriak, “Mundur! Ada perangkap!”

Langkah kaki terburu-buru menuju lorong timur. Satu orang tertinggal, tergeletak di lantai dengan luka di paha, merintih pelan.

Arka mendekat. Senter yang jatuh dia ambil, disorotkan ke wajah pria itu. Wajah tertutup balaclava, mata menyipit kesakitan. “Berapa banyak yang dikirim?” tanya Arka.

Pria itu tidak menjawab. Mulutnya mengerang.

Pratama datang dengan tali nilon. “Cepat ikat sebelum yang lain kembali.”

Mereka mengikat tangan dan kaki pria itu, lalu menyeretnya ke ruang medis. Dewi sudah menunggu dengan perban di tangan. Wajahnya pucat tapi tidak panik.

“Dia butuh jahitan,” katanya.

“Lakukan,” kata Arka. “Kita butuh dia hidup.”

Di ruang kontrol, Arka menyalakan radio. Statis. Dia memutar pelan.

“...kelompok di BNI sudah mulai bergerak ke selatan. Mereka tinggalkan markas. Warga di sekitar Kebayoran diminta waspada...”

Suara itu putus. Arka mematikan radio. “Komandan mengerahkan semua anak buahnya.”

Pratama mengusap keringat di dahi. “Berarti mereka tidak hanya fokus ke kita. Ada target lain.”

“Atau mereka sudah tahu kita tidak akan kemana-mana. Mereka mau selesaikan yang lain dulu.”

Umar masuk dengan wajah tegang. “Mas, aku dengar dari lorong timur. Mereka masih di luar. Tidak masuk lagi.”

“Mereka menunggu. Atau mencari jalur lain.”

Arka melihat peta di dinding. Bunker, terowongan, stasiun, gedung-gedung di atas. Di timur laut, titik yang mereka tandai sebagai lokasi penggalian. Di selatan, Kebayoran. Di utara, BNI.

“Malam ini kita cari tahu,” kata Arka. “Lewat stasiun, lihat pergerakan mereka.”

Pratama mengangguk. “Aku ikut.”

Umar menggenggam obengnya. “Aku jaga sini.”

Mereka bersiap. Jaket tebal, senter, pistol, amunisi terbatas. Arka menatap monitor sekali lagi. Putih. Sunyi. Tapi di sudut layar, bayangan. Bukan anjing. Manusia. Berjalan membungkuk di depan pintu hotel.

“Mereka sudah di atas,” kata Arka.

“Biarkan,” kata Pratama. “Mereka tidak bisa masuk dari sana. Pintu hotel kita perkuat.”

“Tapi mereka tahu kita di sini.”

“Sudah dari awal.”

Mereka masuk ke terowongan. Gelap. Dingin. Suara langkah kaki bergema di dinding tanah.

Di stasiun Sudirman, sunyi. Es masih menutupi lantai. Jejak sepatu baru terlihat di beberapa tempat. Arka mengikuti jejak itu menuju pintu darurat timur.

Pratama berbisik, “Dari sini mereka keluar ke atas.”

Arka membuka pintu pelan-pelan. Di baliknya, lorong menuju gedung parkir. Gelap. Bau apek. Angin tipis bertiup dari celah dinding.

Mereka berjalan perlahan. Di ujung lorong, suara. Bukan langkah kaki. Suara orang berbicara. Pelan. Tidak jelas.

Arka mematikan senter. Mereka merayap di dinding.

“...besok kita masuk lagi. Kali ini semua tim. Komandan tidak mau ada yang lolos.”

“Dengar, mereka punya perangkap. Dua orang kita kena.”

“Maka kita kirim lebih banyak. Mereka tidak punya cukup peluru.”

Suara itu menjauh. Arka menunggu. Setelah satu menit, dia menyalakan senter.

Pratama menghela napas. “Besok mereka akan menyerang habis-habisan.”

“Kita harus siap.”

Mereka kembali ke bunker dengan informasi yang cukup. Besok. Semua tim. Serangan besar-besaran.

Di ruang utama, Arka mengumpulkan semua orang. “Besok mereka datang. Tidak ada waktu untuk takut. Kita punya satu malam untuk mempersiapkan diri.”

Umar memegang obengnya. “Apa yang bisa kita lakukan?”

“Kita pasang perangkap terakhir di lorong timur. Kita kosongkan ruang utama. Kita jadikan bunker ini labirin.”

Pratama mengangguk. “Gelap akan membantu kita.”

Wawan angkat suara. “Saya bisa matikan semua listrik. Hanya senter kita yang menyala.”

“Lakukan.”

Mereka bekerja sepanjang malam. Memindahkan rak, menyusun barikade, memasang tali pancing di tempat-tempat yang tidak terduga. Dewi menyiapkan perban dan obat di ruang medis. Rina mematikan lampu grow dan bersembunyi di sudut ruang tanam.

Arka berdiri di depan pintu utama. Di tangannya, pistol dengan amunisi tersisa dua puluh butir. Tidak banyak. Tapi cukup untuk dua puluh tembakan. Cukup untuk dua puluh nyawa jika dia tidak meleset.

Pratama mendekat. “Kita tidak akan mati di sini.”

“Aku tahu.”

“Kita sudah bertahan terlalu lama untuk mati sekarang.”

Arka tidak menjawab. Matanya tertuju ke pintu besi yang menutup rapat. Di balik pintu itu, terowongan. Di balik terowongan, musuh yang akan datang.

Tapi dia tidak takut. Dia sudah mati sekali. Dia tahu rasanya. Dan dia tidak ingin merasakannya lagi.

Besok, mereka akan bertempur. Besok, salah satu pihak akan kalah.

Arka menarik napas. Udara dingin memenuhi paru-paru.

Kali ini, pikirnya, aku yang akan menang.

1
Nadja 🎀
hm... seru jg tp ulang² ttg bunker ? tp gpp semangat ya nulisnya!
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Gak bisa tidur... 😁
Jack Strom
Hmmm 🤔
Jack Strom
Tikus² got... 😁
Jack Strom
Ih... Ngeri aku!!! 😁
Jack Strom
Wow... 😁
Jack Strom
Waduh... Mengerikan!!! 😁
Jack Strom
Wow... Mulai merinding nih... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Seru cok!!! 😁
Jack Strom
Semangat... Cemangat!!! 😁
Jack Strom
Oh... Gitu!!! 😁
Jack Strom
🤔 Jika fisik Arka lebih kuat, Jika Arka punya skill bertahan hidup, jika Arka secepatnya menikahi Sari, jika Sari tidak kelaparan, jika Andre dan Toni tidak jumpa dengan Sari... Mungkin ceritanya beda, mungkin Sari tidak mengkhianati Arka... Mungkin!!? 🤔
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁
Jack Strom
Jika statnya beda, mungkin kejadiannya berbeda juga... 😁
Jack Strom
💪💪💪 SEMANGAT!!! 😁
Jack Strom
Jejak di atas salju tertinggal... 😁
erlang2402
macam kenal alur nya
Thinkziam: Hmm.. novel/manga sejenis emng banyak.. kk.
total 1 replies
Mauizatul Hasanah
coba dulu
alan32439
manarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!