NovelToon NovelToon
Akad Yang Tak Kuinginkan

Akad Yang Tak Kuinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikah Kontrak
Popularitas:92.5k
Nilai: 5
Nama Author: Shinta Aryanti

Jingga Nayara tidak pernah membayangkan hidupnya akan hancur hanya karena satu malam. Malam ketika bosnya sendiri, Savero Pradipta dalam keadaan mabuk, memperkosanya. Demi menutup aib, pernikahan kilat pun dipaksakan. Tanpa pesta, tanpa restu hati, hanya akad dingin di rumah besar yang asing.

Bagi Jingga, Savero bukan suami, ia adalah luka. Bagi Savero, Jingga bukan istri, ia adalah konsekuensi dari khilaf yang tak bisa dihapus. Dua hati yang sama-sama terluka kini tinggal di bawah satu atap. Pertengkaran jadi keseharian, sinis dan kebencian jadi bahasa cinta mereka yang pahit.

Tapi takdir selalu punya cara mengejek. Di balik benci, ada ruang kosong yang diam-diam mulai terisi. Pertanyaannya, mungkinkah luka sebesar itu bisa berubah menjadi cinta? Atau justru akan menghancurkan mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinta Aryanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mereka yang Tanpa Sengaja Selalu Bersama…

Aula kantor sore itu riuh rendah. Semua karyawan sudah berkumpul, dari staf junior sampai jajaran direksi. Suasana seperti kelas besar menjelang pembagian kelompok perkemahan… ada yang deg-degan, ada yang sumringah, ada pula yang wajahnya pucat seakan hendak menghadapi ujian.

Mbak Ratna dari HRD berdiri di depan podium, mikrofon di tangan. “Teman-teman semua, sesuai agenda, outing kantor tahun ini akan berbeda. Supaya lebih seru dan menantang, kita akan membuat kelompok campuran: staf, supervisor, hingga direksi. Semuanya random, nggak bisa milih. Jadi mohon siap-siap ya, karena nama akan saya bacakan langsung satu per satu.”

Sorakan kecil terdengar. Ada yang langsung menggenggam tangan teman sebelah sambil berdoa, ada pula yang bisik-bisik cepat.

“Semoga jangan sekelompok sama Pak Savero deh,” gumam lirih seorang staf administrasi.

Temannya langsung menyikut. “Eh, jangan keras-keras! Bisa-bisa kedengeran.”

Yang lain menahan tawa. Tapi sebenarnya hampir semua punya doa serupa. Bukan karena Savero tak profesional, justru karena pria itu perfeksionis dan dingin… satu tatapan tajamnya saja bisa bikin mental goyah.

Mbak Ratna membuka map dan mulai membaca. “Kita mulai dari kelompok satu…”

Satu per satu nama diumumkan. Ada yang langsung bersorak, ada yang meringis kecewa. Sampai tibalah giliran kelompok kelima.

“Kelompok lima: Mahesa, dari bagian marketing.”

Jingga yang duduk di barisan tengah refleks menegakkan tubuh. Jantungnya berdetak cepat, berharap besar.

“Lidya, dari keuangan.”

Beberapa orang bersiul kecil menggoda, membuat Lidya tersenyum malu. Jingga semakin menatap dengan mata berbinar… setidaknya masih ada harapan.

“Dan… terakhir, kelompok lima ditemani Pak Arman, manager marketing.”

Seketika aula heboh.

“Wuih, dapet manager marketing!”

“Bakal solid tuh kelompok lima!”

Mahesa tersenyum tipis sambil mengangguk, sementara Lidya tampak antusias. Jingga di kursinya menunduk, hatinya tercekat.

“Ya Allah… kenapa bukan aku…” keluhnya dalam hati.

Mbak Ratna segera melanjutkan ke kelompok enam.

“Kelompok enam: Nisa, dari keuangan.”

Nisa langsung menoleh ke Jingga dengan tatapan berharap.

“Jingga, dari keuangan.”

“YES!” Jingga spontan mengepalkan tangan, wajahnya bersinar lega.

Tapi belum selesai.

“Dan terakhir, kelompok enam ditemani Pak Savero.”

Aula mendadak hening sepersekian detik, lalu pecah dengan bisik-bisik, cekikikan, dan sorakan kecil.

“Waduh… berani-beraninya HRD nyatuin mereka sama Pak Savero.”

“Kasihan Jingga…”

“Atau jangan-jangan… seru juga tuh.”

Jingga sendiri membeku, mulutnya menganga. “Apa??” gumamnya nyaris tak bersuara.

Savero yang duduk di depan hanya berdiri tenang, wajahnya dingin seperti biasa, lalu melangkah keluar aula tanpa komentar sedikit pun.

Nisa menepuk bahu Jingga sambil cekikikan. “Selamat ya, Jingga. Kamu bakal punya pengalaman yang nggak semua orang bisa rasain.”

Jingga menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Nis, ini bukan pengalaman. Ini musibah!”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi itu halaman kantor sudah ramai. Deretan bus besar terparkir, pintunya terbuka lebar menunggu penumpang. Semua karyawan, dari staf hingga manajer, berbaur dengan wajah antusias. Outing kantor selalu jadi momen langka, kerjaan ditinggalkan sebentar, diganti dengan keseruan.

Tapi, suasana riuh itu mendadak mereda ketika seorang figur tinggi melangkah keluar dari lobi. Savero.

Biasanya, pria itu hanya terlihat dengan jas hitam elegan, kemeja licin tanpa cela, dan sepatu kulit mengilap. Namun pagi itu, ia mengenakan kaos seragam outing berwarna biru tua yang membalut bahunya dengan sempurna, celana training hitam, topi, dan kacamata hitam. Sederhana, tapi justru memancarkan pesona yang sulit ditolak.

Beberapa orang yang sedang bercanda langsung terdiam. Staf wanita saling menyikut pelan, mata membesar. Bahkan para pria yang biasanya tak segan berisik pun refleks menatap dua kali.

“Gila… bos bisa kayak gitu ternyata,” bisik salah satu staf, buru-buru menunduk begitu sadar Savero melangkah mendekat.

“Biasanya kayak patung lilin di ruang rapat, sekarang… astaga.”

“Shhh! Nanti kedengaran!”

Savero tetap berjalan tenang, seolah tak peduli pada lirikan yang mengikutinya. Ia menaiki tangga bus, langkah mantap, lalu duduk di bangku dekat jendela. Gerakannya biasa saja, tapi aura yang terpancar cukup untuk membuat suasana kembali hening beberapa detik.

Jingga yang baru saja naik ke bus setelahnya langsung melongo, tanpa bisa menahan ekspresinya. Ia berdiri di lorong, menatap Savero dari ujung kaki sampai kepala, lalu berdecak dramatis.

“Wah… wah… wah… ini siapa lagi? Kok kayak bintang iklan minuman energi versi eksklusif. Bapak kok nggak kasih tahu kalau punya style cadangan kayak gini? Aku sampai salah fokus, loh!”

Beberapa penumpang di sekitar tertawa kecil, berusaha menahan diri. Savero menoleh perlahan, menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menatap langsung ke arah Jingga. Tatapannya datar, dingin.

“Kalau kamu mau heboh, lakukan sendiri. Jangan ajak-ajak saya.” Suaranya tenang, tapi cukup membuat Jingga buru-buru cengengesan.

Ia lalu menjatuhkan diri ke kursi di sebelah Savero, masih dengan wajah jenaka. “Yah, kan saya cuma jujur, Pak. Ternyata Bapak juga bisa down to earth gini. Jangan-jangan setelah ini Bapak ikutan lomba tarik tambang sambil teriak-teriak, ya?”

Savero menghela napas pelan, memakai kembali kacamatanya, dan menatap keluar jendela. “Fokus saja pada tujuan outing. Ini bukan ajang pamer kehebohan.”

Jingga mengedipkan mata, menoleh ke Nisa yang duduk di kursi belakang mereka, lalu berbisik cukup keras agar Savero bisa dengar. “Yaampun, lihat deh. Bos kita ini niat banget. Kalau bisa semua kegiatan nanti dianggap turnamen internasional kali, Nis.”

Savero tidak bereaksi, tapi ujung bibirnya nyaris… sangat nyaris… menyentuh garis tipis yang bisa disebut senyum.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Bus-bus rombongan berhenti di tepi pantai yang sudah dipenuhi tenda warna-warni dan spanduk besar bertuliskan “Fun Outing & Team Building”. Angin laut langsung menyapa, membawa aroma asin yang khas. Cahaya matahari pagi memantul di permukaan air, berkilau seperti ribuan kristal.

Begitu turun, sebagian karyawan langsung heboh melepas alas kaki, berlari kecil di pasir, ada yang sibuk selfie dengan background laut, sementara yang lain menyerbu minuman dingin yang disediakan panitia.

Savero turun paling terakhir. Meski hanya memakai kaos seragam dan celana training, ditambah topi dan kacamata hitam, aura pria itu tetap membuat banyak kepala refleks menoleh. Beberapa staf wanita sempat terdiam sepersekian detik, sebelum buru-buru mengalihkan pandangan.

Jingga justru bersemangat, menarik tangan Nisa dan menyeretnya mendekat ke area lapangan berpasir yang sudah ditandai tali.

“Ayo, Nis! Katanya lombanya seru-seru. Jangan sampai kalah, biar grup kita terkenal paling kompak.”

Nisa tertawa canggung. “Tapi… Pak Savero udah jalan tuh, lihat?”

Savero memang sudah melangkah duluan ke arah panitia. Gerakannya tenang tapi mantap, seolah ia sedang menghadapi rapat penting, bukan outing santai.

MC naik ke panggung kecil, suaranya menggema lewat pengeras suara.

“Selamat datang di acara outing kantor kita tahun ini! Kali ini kita akan buktikan kekompakan lewat games pantai. Ingat, semua permainan dilakukan dalam tim. Jadi bukan cuma kuat, tapi juga kompak.”

Sorak-sorai karyawan menggema, sebagian bertepuk tangan, sebagian bersorak semangat.

Savero berdiri di depan kelompoknya. Tatapannya tajam, suaranya dingin.

“Kita harus menang. Jangan ada yang ceroboh. Fokus.”

Jingga spontan menepuk keningnya sendiri, lalu menatap Nisa sambil berbisik keras-keras, cukup untuk didengar Savero.

“Astaga, baru juga lomba balap karung di pasir, briefingnya udah kayak persiapan sidang kabinet.”

Beberapa orang di sekitar mereka nyaris tertawa, tapi buru-buru menahan diri.

Savero menoleh perlahan, menatapnya di balik kacamata hitam.

“Kalau kamu niat main-main, lebih baik jangan ikut. Kamu cuma akan jadi beban.”

Jingga malah nyengir lebar. “Tenang, Pak Bos. Saya ini jagoan lomba tujuh belasan di kampung. Balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, semua saya pernah juara. Jadi… jangan remehin saya.”

Nisa, yang berada di tengah, hanya bisa mengangkat tangan pasrah. “Tolong ya, jangan berantem di pantai juga…”

(Bersambung)…

1
Halimatus Syadiah
ini apa sdh tamat? ko gak ada beritanya
illl
jawaban pemeran cewek kurang relate sama kehidupan kantor, lebih ke seperti jawab ke temen
Saimah Manurung
kok tidak ada lanjutannya,ini belum tamat
ovi eliani
up lg dong thor seru ini, semoga ada kabar klo istri tercinta lg hamil ya
ceyee
alurnya copy drakor
Yuliana Tunru
akhir x keremy dan vero baik2 z smoga bahagia dan smoga njingga hamil
Sri Wahyuni Abuzar
alhamdulillah..makasih savero sudah bertahan dan berjuang untuk tetap hidup demi jingga 🥰
Yuliana Tunru
apa savero jatuh ya tp kyk x aavero sengaja menghilang biar di anggap mati ..jgn gitu dong thorr kapan bahagia x baru z jibgga dan vero merasakan bahagia di.pernikqhqn x tp krn nadine semua qmbyar resepsi gagal skrg vero hilang gmn ortu vero ya 😭😭 up x jarang bikin kesel
Juwita Moecharael: Aku pikir mingkin Savero sengaja membuat Skenario seoalah meninggal agar tidak akan bercerai dengan Jingga😅
total 1 replies
Maya Lara Faderik
sama terluka
Yuliana Tunru
jingga ini penyesalan teebesarmu saat kau ingin savero sadar gmn penipu x nadine knp ada cerita ttg cerai apalg lewat kevin hrs kau rangkul savero smoga z selanat klobtdk hancur lah semua x jibgga bkn cm oenyesalan mu tp ortu savero jg pasri akan marah kau akan jd tersangka
aku
oalah. karepmu wes piye. 🤧
Cookies
jingga balik ke savero??
Maya Lara Faderik
bagus jinga
Cookies
lanjut thor
Ratna Ningsih
ya siih jingga pegel perih.ntar paa udah sembuh mau lagi🤣🤣🤣
Sri Wahyuni Abuzar
ngenes amat nasib mu bang savero 🤣🤣
mau sampe kapan jingga silent treatmen ke savero...sudahi dan hidup bahagia lah bersama 🥰
Meliandriyani Sumardi
mungkin jingga sdh menyerah sama perasaannya ,terlalu sakit apa yg sdh savero perbuat ...lanjut kak
Cookies
next update thor
Meliandriyani Sumardi
bener. banget biarin aja jingga menjauh dulu biar savero sadar bahwa jingga berharga...kesel banget sama savero soalnya🤭..lanjut kak
Cookies
lanjut thor, seru nih, bagus lah jingga menjauh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!