Nadeo Gibran Erlangga berniat untuk melamar Arzela Kayzel Atharva, yang selama ini dia klaim sebagai jodohnya.
Namun Nadeo terpaksa harus mengubur impiannya itu demi membalas budi pada keluarga yang sudah merawat dan membesarkannya selama ini.
Nadeo harus menikah dengan Sabrina Eleazar menggantikan sang adik yang kabur di hari pernikahannya.
Arzela hancur dan patah hati, namun ia harus tetap mengikhlaskan cinta pertamanya itu menikahi Sabrina yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Akankah Nadeo bertahan dengan pernikahannya setelah tahu kebenaran yang selama ini tersembunyi?
Ataukah justru takdir mempersatukan Nadeo dan Arzela kembali?
Sekuel Belenggu Cinta Pria Beristri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Tok tok tok
"Kak Deo, se--sejak kapan Kakak di situ?"
Wajah Sabrina tiba-tiba pucat saat mendapati Nadeo berdiri di pintu dengan tatapan datarnya.
"𝘔𝘢𝘮𝘱𝘶𝘴! 𝘈𝘱𝘢 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘶𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯?"
Sabrina akhirnya bisa bernapas dengan lega saat melihat sikap Nadeo yang terlihat seperti biasanya, datar dan dingin. Andai Nadeo mendengar ucapannya barusan, pasti dia akan marah, kan? Pikir wanita itu.
"Aku baru sampai," ucap Nadeo. Pria itu masih berdiri di tempatnya, karena belum ada satu orang pun yang memintanya untuk masuk.
Sabrina berjalan menghampiri Nadeo, lalu menggandeng tangan suaminya untuk masuk. Nadeo diam saja membiarkan istrinya menggandeng nya, walaupun sebenarnya ia merasa jijik dengan istrinya. Apalagi setelah mengetahui kebusukan Sabrina yang disembunyikannya selama ini.
"Duduk dulu Kak, aku ambilkan minum." Sabrina tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.
Sebenarnya bisa saja ia meminta tolong asisten rumah tangganya, tapi tidak Sabrina lakukan karena ingin terlihat baik di depan Nadeo.
"Kamu kerja apa sekarang?" Tanya Rako. Daddy Sabrina itu menatap menantunya dengan tatapan sinis. Rako tahu Nadeo meninggalkan profesinya dan juga pekerjaannya sebagai dokter setelah menikah dengan Sabrina.
"Saya masih menunggu panggilan dari salah satu rumah sakit," ucap Nadeo. Nadeo sedikit berbohong, sebenarnya justru pihak rumah sakit lah yang menunggu persetujuannya untuk bekerja di rumah sakit itu.
Namun Nadeo masih mempertimbangkannya mengingat ia juga memiliki tanggung jawab di perusahaan yang baru saja ia pimpin. Nadeo hanya perlu membagi waktu antara perusahaan dan rumah sakit. Namun tentu saja itu tidak akan mudah, mengingat Nadeo baru saja terjun di dunia bisnis.
Sebagai seorang dokter, Nadeo tidak pernah melupakan tugas utama nya. Ia tetap ingin berguna untuk semua orang yang membutuhkannya. Papa Dewa pun mendukung penuh keinginan putranya itu, bahkan Dewa berencana untuk membuatkan rumah sakit untuk putranya itu.
"Lagian, Kamu udah enak jadi direktur di rumah sakit Elang, sok sok-an keluar segala. Sekarang bingung kan, gak ada rumah sakit yang mau nerima Kamu?"
Rako sebenarnya sangat kesal dengan Nadeo yang tidak realistis dan hanya mementingkan egonya saja. Padahal awalnya Rako sempat bangga memiliki Nadeo sebagai menantunya. Walaupun pernikahan putrinya dan Gentala gagal, setidaknya ia mendapatkan Nadeo yang merupakan direktur utama di rumah sakit Elang.
Namun Nadeo justru memilih mundur dari rumah sakit itu.
"Tapi, saya memiliki alasan untuk itu. Karena---"
"Demi mempertahankan harga diri maksudmu? Memangnya anak haram sepertimu memiliki harga diri?"
Deg
Lagi-lagi predikat nya sebagai anak haram harus kembali Nadeo dengar. Namun bukan dari mulut Harleya, melainkan dari mulut mertuanya.
Nadeo mengepalkan tangannya, bukan keinginannya terlahir sebagai anak haram. Namun salahkah jika orang sepertinya memiliki harga diri?
"Tentu saja, saya sangat menjunjung tinggi yang namanya harga diri. Walaupun seperti kata Anda, saya adalah anak haram," ucap Nadeo tetap tenang. Ia tahu Rako sengaja mengatakan itu untuk mengintimidasi nya. Namun Nadeo sama sekali tidak terpancing, justru ucapannya berhasil membungkam telak mulut Rako yang pedasnya mengalahkan mulut tetangga.
"Anda harus ingat satu hal, anak haram ini lah yang menyelamatkan harga diri Anda," ucapnya lagi dengan seringai tipis di wajahnya.
"𝘒𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘫𝘢𝘳! 𝘋𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶."
Sabrina datang membawa secangkir kopi di tangannya. Senyumnya sangat manis mengingat rencananya sebentar lagi akan berhasil.
"Kak, ini kopinya."
Sabrina meletakkan secangkir kopi itu di atas meja. Wajahnya menyeringai tipis, dan tidak ada seorang pun yang menyadarinya.
"𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶."
...----------------...
"Kenapa harus seperti ini?"
Arzela menelungkupkan wajahnya di atas meja kerjanya. Ia masih berada di kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Entah kenapa hari ini Arzela kehilangan fokusnya gara-gara Nadeo tiba-tiba menjadi atasannya.
Padahal, Arzela ingin melupakan cinta pertamanya itu. Namun takdir selalu membuatnya terikat dengan Nadeo. Takdir seolah sengaja mempertemukan namun tidak untuk mempersatukan.
"Bagaimana caranya aku melupakan dia, sementara aku harus melihatnya setiap hari?" Arzela menjerit tertahan menahan emosi dan sakit hati yang datang bersamaan.
"Kamu belum pulang, Arzela?"
"Ehhh... Pak Dewa, belum Pak. Sedikit lagi." Arzela tersenyum kikuk pada atasannya. Gadis cantik itu pura-pura mengerjakan sesuatu padahal ia bingung sendiri apa yang sedang ia kerjakan. Arzela benar-benar kehilangan fokusnya.
"Sebaiknya Kamu pulang saja. Percuma dipaksakan kalau otakmu tidak bisa berpikir."
Arzela mengernyitkan keningnya, ucapan Dewa terdengar ambigu. Namun saat ia hendak bertanya, Dewa sudah lebih dulu meninggalkannya.
"Maksud Bapak ap--- ehhh... ke mana orangnya?" Arzela celingukan mencari sosok Dewa yang ternyata sudah beranjak dari tempatnya. "Atasan mah bebas, ya. Datang gak dijemput, pergi nyelonong aja."
...----------------...
Sementara itu, Nadeo merasa tiba-tiba tubuhnya panas setelah minum kopi buatan Sabrina. Dan ia tidak bodoh, sebagai seorang dokter Nadeo jelas tahu apa yang terjadi dengannya.
"𝘚𝘪𝘢𝘭! 𝘞𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢."
Nadeo mencoba meredam gairahnya dengan sekuat tenaga, ia mengalihkan tatapannya dari Sabrina yang sengaja menaikkan dress yang dikenakannya. Sabrina sengaja memperlihatkan paha mulusnya supaya Nadeo dengan cepat menerkamnya.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢?"
Sabrina mengingat-ingat apa yang dilakukannya itu sudah benar, tapi sampai saat ini Nadeo belum juga menunjukkan reaksi apa pun.
Sementara itu Nadeo mati-matian tetap menjaga kewarasannya. Ia tidak ingin jatuh ke dalam perangkap Sabrina yang akan membuatnya tidak bisa lepas dari istri pura-pura nya itu.
"𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪."
Namun belum sempat Nadeo beranjak tiba-tiba saja terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Terlihat nama seseorang mengirimkan sebuah chat yang berhasil membuat Nadeo menyeringai.
"𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘎𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭𝘢."
Nadeo beranjak dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya sedikit terseok. Ia berusaha menahan gairah yang membuat hawa panas di dalam tubuhnya semakin meningkat.
"Kamu mau ke mana, Kak?"
Sabrina mencekal tangan Nadeo yang hendak keluar dari rumahnya. Namun Nadeo dengan cepat menepis jijik tangan istrinya itu.
"Jangan pernah menyentuhku, JALANG SIALAN!" Nadeo menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Namun ia berusaha tetap tenang untuk tidak berteriak di depan istrinya itu.
Deg
Ucapan Nadeo begitu menyayat hati Sabrina. Ia tidak menyangka Nadeo akan berkata sekasar itu padanya.
"Kak, kenapa Kamu tega sekali mengatai ku begitu? Aku ini istrimu Kak!"
Sabrina mencoba menjual tampang sedihnya, namun tentu saja tidak membuat Nadeo simpati sedikit pun. Pria itu terlanjur muak dan jijik dengan Sabrina yang sialnya adalah istrinya.
"Jangan kira aku tidak tahu apa yang Kamu lakukan." Nadeo menatap tajam Sabrina yang terlihat pucat karena ketahuan. "Sudah kubilang sampai kapanpun aku tidak akan menyentuhmu, apalagi dengan cara murahan seperti ini."
Nadeo meninggalkan rumah itu dengan langkah tergesa. Meninggalkan Sabrina yang mematung dengan wajah merah padamnya.
"𝘚𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪."
Nadeo ingin secepatnya merendam tubuhnya yang sudah semakin panas. Karena di ruangan kerjanya tersedia fasilitas kamar lengkap untuknya beristirahat.
"Wanita sialan, awas saja, aku akan memberimu pelajaran!"
Nadeo semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sepanjang perjalanan mulutnya tidak pernah berhenti mengumpat Sabrina yang sudah berani bermain-main dengannya.
Sampai di kantor, Nadeo buru-buru keluar dari mobilnya. Nadeo hendak masuk ke dalam lift namun ia tidak sengaja menabrak seseorang yang akan keluar dari lift yang sama.
"Hati-hati dong---"
Nadeo langsung menarik tangan itu kembali masuk ke dalam lift.
"Kak, Kamu apa-apaan? Aku mau pulang!" Seseorang itu berusaha melepaskan cekalan tangannya dari Nadeo. Namun, Nadeo justru semakin erat menggenggam tangannya.
"Arzela, tolong bantu Kakak!"
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
zela hmil.....deo blm slsai pula sm tu nnek shir....ccckkk......ksian zela sm anknya nnti....
gtu jwbnya kl kthuan sm istrinya....🤮🤮🤮.....
jgn cm omong doang y deo...km msti bnrn ngsih pljrn sm tu nnek shir....
thoooorrrr....lo bs yg rekan klakuan duo iblis mnjijikkan viralkan videox biar seruuuuu
krna jalang spertix tu su g py malu jd klakuan" bejadx hrs d viralkan, biar d hujat byk nitizen
bc d bab ni z lgsg muntah 🤮🤮🤮
sngat....sngaaàaatttt mnjijikkan
bner" jalaaaaangggg😠😠😠