NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Apel Ajaib dan Janji Pertemuan

Lin Cheng melanjutkan penjelasannya, wajahnya serius kembali. "Di keluargaku, sayangnya, kami hanya mewarisi metode kultivasi yang sangat mendasar. Hanya sampai pada tahap Body Refinement – Tahap Fisik."

Dia kemudian merinci tingkatan yang ada:

Skin Tempering – Kulit mengeras seperti baja.

"Pada tahap ini, kulitmu akan jadi sangat keras," jelas Lin Cheng sambil menepuk lengannya sendiri.

"Bahkan bisa menahan sayatan pisau biasa atau pukulan tumpul tanpa luka serius."

Bone Tempering – Tulang sekuat besi.

"Ini tahap selanjutnya," lanjutnya.

"Tulang-tulangmu akan menguat luar biasa, seolah terbuat dari besi tempa. Patah tulang akan jadi hal langka."

Blood Refinement – Darah jadi sumber kekuatan Qi.

"Dan yang terakhir ini, tahap di mana darahmu mulai dimurnikan," kata Lin Cheng, suaranya sedikit bangga.

"Darahmu akan menjadi sumber kekuatan Qi yang lebih murni, memungkinkanmu mengalirkan energi ke seluruh tubuh untuk serangan atau pertahanan dasar."

"Itu saja yang kami punya," Lin Cheng menghela napas, gestur tangannya menunjukkan betapa terbatasnya warisan mereka.

"Teknik ini memang membuat tubuh sangat kuat, tapi tidak ada kemampuan mengendalikan elemen, atau terbang, atau mengeluarkan jurus-jurus keren seperti yang ada di pikiran orang awam."

Lin Cheng menatap Xiao An dengan alis terangkat.

"Bukankah kamu memiliki guru? Kenapa kamu masih tanya? Bukankah ini hal mendasar? Apa gunanya aku menjelaskan padamu?" Dia menggelengkan kepala, lalu tertawa kecil, sedikit malu.

"Huh, aku terlalu antusias rupanya, haha."

INI

"Wow!" Xiao An sangat kagum dan antusias.

Dalam hati kecilnya, dia juga ingin belajar kultivasi ini, namun dia terlanjur "memiliki guru". Tapi kemudian, sebuah ide melintas di benaknya. Dia tersenyum canggung.

"Ah, itu... guruku baru saja memungutku," kata Xiao An, menggaruk kepalanya.

"Karena dia ada urusan mendadak yang sangat penting, dia terlalu cepat pergi meninggalkan aku di sini. Jadi, teknisnya aku juga belum belajar apa-apa. Hehe."

Kemudian, mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Tawa Xiao An renyah, tawa Lin Cheng lebih dalam. Keberadaan teman baru ini, dengan segala keanehan dan kekocakannya, membuat beban di hati Lin Cheng sedikit terangkat, dan Xiao An merasa tidak lagi sendirian di dunia barunya yang aneh ini.

Setelah tawa mereka mereda, Xiao An bertanya, matanya penasaran,

"Jadi, kamu sendiri, kamu sampai di tahapan minor apa?"

Lin Cheng mendengus pelan, raut wajahnya kembali muram. Dia menghela napas.

"Aku masih sampai di Skin Tempering," katanya, ada nada malu dan kecewa di suaranya.

"Itu pun tidak sepenuhnya kukuaai. Kitab metode kultivasi keluarga kami... sudah sobek di banyak halaman. Jadi banyak bagian penting yang hilang." Dia menggelengkan kepala, menyesalkan nasibnya.

"Seharusnya di usiaku ini, aku sudah masuk ke tahap dua mayor, yaitu di Qi Condensation."

Xiao An merekam dengan baik setiap tahapan Body Refinement itu di ingatannya: Kulit, tulang, darah. Setelah itu ada tahap Qi Condensation. Teorinya terdengar masuk akal, bahkan menarik. Tapi kekecewaan kecil merayapinya. Jika metode yang Lin Cheng gunakan tidak lengkap, itu berarti dia pun akan sulit belajar.

Xiao An bergidik membayangkan.

"Bagaimana kalau ada kesalahan praktik?" pikirnya ngeri.

Dalam novel yang ia baca, salah sedikit saja dalam kultivasi bisa berakibat fatal: Qi melenceng, jalur meridian rusak, bahkan bisa gila atau meninggal. Dan secara teknis, baik dia maupun Lin Cheng, sama-sama tidak punya guru yang nyata untuk memberi pelatihan dan petunjuk. Ini bisa jadi bahaya besar.

Xiao An mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh tentang metode kultivasi yang tidak lengkap itu. Rasa sesal menyelimuti, membayangkan bahaya praktik tanpa panduan. Ia hanya mengangguk-angguk, menyimpan informasi itu dalam benaknya.

Setelah berbincang cukup lama, berbagi cerita dan tawa, matahari sudah lebih condong di barat, memancarkan cahaya keemasan ke seluruh puncak bukit. Lin Cheng bangkit berdiri, merangkul keranjang herbalnya kembali ke punggung.

"Aku harus pulang sekarang, kakek pasti menungguku," ujar Lin Cheng.

Melihat Lin Cheng hendak pergi, Xiao An tiba-tiba teringat sesuatu. Dia segera berlari ke pohon apel, memilih dua butir yang sudah memerah sempurna. Dengan gerakan cepat, ia melemparkan kedua apel itu ke keranjang bambu Lin Cheng.

INI

"Eh, buah apa ini?" Lin Cheng terkejut, mengeluarkan salah satu apel dan memutarnya di tangannya. Matanya membulat melihat bentuk dan warna yang begitu indah, tak pernah ia jumpai sebelumnya di hutan atau di desanya.

"Tampak sangat indah."

Xiao An tertawa.

"Itu adalah apel," katanya, sedikit bangga. Dia menduga apel memang tidak tumbuh di daerah ini, makanya Lin Cheng sangat asing dengan buah itu.

"Cobalah nanti, rasanya manis sekali!"

Lin Cheng mengangguk, melambaikan tangan sebagai balasan, lalu mulai menuruni tangga batu yang berlumut. Keranjang di punggungnya terasa lebih ringan dengan dua buah apel merah di dalamnya. Dari atas, Xiao An melambai-lambai dengan antusias.

"Besok main ke sini lagi ya?!" teriak Xiao An, suaranya bergema di udara senja.

Mendengar teriakan itu, pelipis Lin Cheng berkedut-kedut. Dia menghela napas.

"Main lagi?" batinnya. Ini bukan sekadar jalan-jalan sore. Dia baru saja mendaki ratusan anak tangga yang terasa tak berujung, memeras keringat dan energi. Betapa sulitnya menemui teman barunya ini. Rasanya seperti menguji kesabaran dan kebugaran tubuhnya.

Tapi, ia harus akui, pengalaman ini jauh lebih menarik daripada sekadar mencari jamu di hutan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!