NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

“Maaf, Ma, mungkin Alia salah. Tapi sebenarnya kita nggak ada maksud apa-apa, beneran. Aku bisa panggil Arnold kok kalau memang Mama butuh dia untuk bicara.”

“Mama percaya sama kamu, Al. Tapi Mama nggak tahu kenapa, kayaknya ada yang kamu sembunyiin dari Mama. Bisa nggak, sayang, kalau kamu jujur aja sama Mama?”

“Aku udah mencoba jujur kok sama Mama. Tapi kalau Mama masih ngerasa ragu sama aku, ya aku juga nggak tahu. Makanya kan aku sebenarnya juga udah jujur sama Mama.”

Mama mencoba untuk tetap berpikir realistis, seperti yang dikatakan Papa sebelumnya, saat Mama belum menelpon Alia.

“Kamu bilangin ya anak kamu itu, jangan bandel dan kurang ajar sama saya! Saya nggak nyangka kalau misalkan dia bisa berubah seperti itu. Saya kira dia hanya anak kecil yang nggak akan pernah dewasa. Tetapi saat dia dewasa, dia jadi berani untuk melawan saya.”

“Kenapa sih, Pa, kok tiba-tiba Papa ngomongnya kayak gitu? Emangnya Alia ngapain?”

“Kamu tanya aja sama anak kamu sendiri yang kamu sayang itu. Dan kamu tahu, saya benar-benar kecewa sama dia. Rasanya saya nggak mau menganggap dia seperti anak saya lagi. Mulai sekarang, jangan pernah lagi kamu berpikiran kalau saya sayang sama dia. Itu nggak akan pernah.”

Bip.

Telepon terputus begitu saja, tetapi Mama masih penasaran apa yang dimaksud oleh Papanya. Sampai akhirnya Mama bertemu dengan Alia.

“Kamu yakin nggak ada yang kamu tutupin dari Mama, sayang?”

“Nggak ada, Mah. Emang Papa bicara apa sih sama Mama, sampai kayaknya Mama nggak percaya dan ragu gitu sama aku?”

“Papa kamu tuh bener-bener kecewa banget sama kamu sekarang. Sampai-sampai Papa kamu katanya udah nggak sayang kamu lagi. Mama nggak tahu sih kenapa kamu dibilang begitu. Tapi Mama percaya sama kamu dan pengen dengar dari sisi kamu. Karena Mama tahu kalau Papa kamu itu memang orangnya rada tempramen, dan Mama pun juga nggak bisa memaksa Papa kamu.”

“Papa kayaknya kesel gara-gara Arnold tadi bilang kalau itu bukan salah aku. Tapi emang bener sih, kita nggak ada salah. Arnold cuma mencoba membela aku. Karena kan dia calon suami aku. Ya, maksud aku, walaupun itu juga Papa aku, dia selayaknya membela aku walaupun dia calon suami aku nantinya.”

Mama yang mendengar itu merasa ada yang salah dengan anaknya, tetapi tidak bisa mengucapkannya langsung. Mama tidak mau menyakiti hati anaknya.

“Al, kamu sadar nggak sih kalau perbuatan kamu itu salah? Kamu juga sebenarnya nggak boleh berbicara dengan pria hanya berdua di tempat sepi. Karena itu kayaknya mengundang sesuatu yang tidak diinginkan, Nak.”

“Mah, aku itu nggak ada apa-apa sama Arnold. Beneran deh, Ma. Kalau misalkan Mama nggak percaya, ya aku bakal panggilin dia. Maksud aku, kalau Mama ragu kayak gini sama aku, aku jadi bingung mau cerita ke siapa. Sedangkan Mama tahu aku hanya bisa terbuka sama Mama. Aku juga cuma punya Mama di hidup aku yang bisa aku ajak bicara.”

“Iya, Mama tahu. Dan maafin Mama juga, Al. Mungkin Mama terkesan kayak membantu Papa kamu. Tapi sebenarnya Mama nggak sama sekali membela Papa kamu. Justru kalau Papa kamu salah, Mama akan marahin dia. Tapi kalau kamu yang salah, ya Mama juga bingung harus marahin siapa.”

Alia merasa kecewa ketika dia mencoba jujur ke Mamanya, tapi Mamanya tidak peduli sama sekali. Bagi Alia, mungkin tidak ada tempat lagi untuk dirinya bercengkrama dengan siapa pun.

“Ya udah, Mah, kalau emang mau percaya sama Papa. Tapi Alia cuma bisa berpesan kalau Alia itu sangat sayang sama Mama dan Papa, dan nggak pernah berkurang sedikit pun walaupun nanti Alia akan menikah dengan Arnold.”

Mama merasakan betapa hancurnya hati Alia. Tapi Mama juga tidak bisa terlalu lembek, takutnya anaknya malah semakin salah. Mama ingin mendengar dari POV Papa, tapi kayaknya Papa tidak mau jujur untuk sekarang karena masih marah dan kecewa pada Alia.

Alia langsung pergi ke kamar tanpa berkata apa-apa. Mama hanya diam di ruang tamu, tidak tahu harus berbuat apa kepada anaknya dan juga suaminya.

Mama mencoba untuk adil kepada keduanya, tetapi rasanya susah. Keduanya sama-sama keras kepala dan memiliki sifat yang sama seperti cermin. Mama hanya bisa menggeleng kepala, merasa capek.

“Kenapa ya, anakku dan suamiku… Mereka berdua seperti cerminan. Jadinya aku susah ingin berbicara kepada mereka berdua.”

Di satu sisi, Mama tidak mau anaknya membenci dirinya. Di sisi lain, Mama juga tidak mau suaminya membenci istrinya.

Lantas, apa yang harus dilakukan Mama agar keduanya bisa berdamai dengan baik dan tidak bermusuhan lagi seperti sekarang?

Rasanya Mama curiga kalau ada kesalahpahaman di sini. Mungkin salah satu kuncinya adalah calon menantunya, Arnold.

Keesokan harinya, Mama mencoba ke sekolah Alia tanpa sepengetahuan anaknya untuk mencari Arnold.

Mama mengelilingi sekolah itu sambil mencari Arnold, sampai bertemu dengan seorang pria. Mama pun bertanya kepadanya:

“Maaf, Dek. Kamu kenal Arnold, kelas 12, ketua OSIS?”

“Itu saya, Tante. Halo, Tante. Ada keperluan apa mencari saya?”

“Oh, kamu Arnold. Kenalin, Tante itu Mamanya Alia.”

Arnold kaget ketika tahu itu adalah Mama calon istrinya, lalu langsung menyapa dengan sopan.

“Maaf, Tante. Saya nggak tahu kalau Tante itu Mamanya calon istri saya. Ada keperluan apa Tante cari saya?”

“Kemarin kamu ketemu sama Papanya Alia, kan?”

“Iya, benar, Tante. Memangnya ada apa?”

“Jadi gini, saya cuma ingin memperjelas aja status kamu sama anak saya. Maksud saya, saya nggak mau terlalu ikut campur, tapi saya pengen kamu jelas aja sama anak saya. Kamu itu beneran cinta nggak sih sama anak saya? Kalau nggak cinta, mending lepasin aja. Soalnya kayaknya anak saya udah terlalu cinta banget sama kamu, sampai-sampai dia nggak dengerin saya sebagai Mamanya. Bahkan Papanya pun dia nggak dengerin, seolah-olah kami ini orang asing bagi dia.”

Arnold kaget mendengar perkataan Mama Alia. Ia panik sekaligus syok, nggak nyangka kalau Alia bisa bersikap seperti itu pada kedua orang tuanya.

Terkadang Arnold berpikir, apakah Alia jadi seperti sekarang karena bertemu dengannya? Tapi apa hubungannya? Ia sendiri merasa tidak pernah mengajarkan Alia untuk membangkang.

Arnold hanya ingin menjadi pria yang baik untuk Alia. Tapi kalau dirinya saja tidak cukup baik di mata Papa dan Mama Alia, untuk apa Alia mengejarnya?

Arnold membungkukkan kepala, memberi hormat kepada Mama Alia. Mama Alia kaget melihat sikapnya.

“Maafin saya, Tante, karena sudah melakukan tindakan yang nggak baik untuk Tante. Nggak seharusnya saya seperti ini ke Tante. Kalau saya pria yang baik, saya nggak akan membuat calon istri saya—Alia—membangkang kepada kedua orang tuanya. Saya akan menjauh dari Alia, Tante. Saya janji.”

Mama Alia mendengar itu dan merasa tidak heran kenapa Alia mencintai pria ini dengan begitu besar. Ternyata, Arnold mengingatkan Mama pada Papa Alia dulu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!