Ganti judul: Bunda Rein-Menikah dengan Ayah sahabat ku
"Rein, pliss jadi bunda gue ya!!" Rengek Ami pada Rein sang sahabat.
"Gue nggak mau!" jawab Rein.
"Ayolah Rein, lo tega banget sama gue!"
"Bodo amat. Pokok nya, gue nggak mau!!" tukas Rein, lalu pergi meninggalkan Ami yang mencebik kesal.
"Pokoknya Lo harus jadi bunda gue, dan jadi istri daddy gue. Titik nggak pake koma!" ujarnya lalu menyusul Rein.
Ayo bacaa dan dukung karya iniii....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mey(◕દ◕), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Bab 9 sudah di revisi ya!
happy Reading:)
***
Setelah satu bulan lalu kedatangan Fitri, hingga saat ini wanita itu tidak pernah kembali menampakan muka. Davin benar-benar meminta ibu nya untuk pulang, dan jika belum sadar akan kesalahan yang dia perbuat sebaik nya jangan kembali.
Tidak terasa juga, Rein sudah tinggal dirumah itu selama sebulan. Gadis itu benar-benar melakukan pekerjaan nya dengan baik. Berkat pria itu UKT nya pun sudah lunas. Rein merasa Ami dan Davin adalah penyelamatnya.
Namun akhir-akhir ini, Rein merasa bahwa sikap Davin padanya sedikit berubah. Pria itu lebih sering meminta nya melakukan hal-hal yang menurut Rein sepele, entahlah apa itu termasuk dalam pekerjaan nya. Contohnya memasangkan dasi, mengantarkan bekas, bahkan membuatkan nya bekal untuk dibawa ke kantor, hingga menemani menonton film.
"Rein, minta tolong sebentar!" suara Davin terdengar. “Kenapa om?” tanya Rein yang sudah berdiri dihadapan Davin. Pria itu sudah rapi dengan kemeja putih yang dilapisi dengan jas abu-abu.
Davin segera menarik tangan Rein menuju kamar nya. Ami yang sedang menuruni tangga tidak sengaja melihat itu. Ami menutup mulut nya sembari bergumam. “Uisss papa Gerak cepat hehe!” gadis itu tertawa pelan sembari melangkah ke ruang tengah. Sebenarnya penasaran apa yang dilakukan Davin pada Rein tapi dia juga tidak ingin mengganggu.
Davin membawa Rein menuju lemari nya. “Tolong carikan dasi saya, yang warna navy! Saya sudah cari tapi tidak ketemu!” Rein mengerutkan kening heran. Bukan nya dia sudah menyiapkan dasi untuk pria itu tadi. “Emang dasi yang saya siapkan tadi kenapa om?” tanya Rein bingung.
“Dasi hitam dengan pola garis itu untuk hari kamis, sedangkan sekarang baru hari selasa, Rein!” ujar pria itu membuat Rein melongo heran. “Bisa gitu ya om. Ada jadwal nya sendiri!” gumam gadis itu heran namun tetap mencari dasi yang Davin maksud.
“Lain kali om liat yang benar, semua barang om sudah saya tata di tempat yang sama!” ujar Rein pada pria itu saat sudah menemukan dasi nya didalam laci, membuat Davin mengangguk mengerti. “Iya, tapi tadi saya cari tidak ketemu!” ujar nya membuat Reinn menggeleng pelan.
Setelah menemukan dasi biru navy polos yang Davin maksud, Rein langsung menyerahkan pada pria itu. “Tolong pasang sekalian!” Rein yang merasa itu pekerjaan nya pun hanya mengangguk. Karena perbedaan tinggi badan, membuat Davin menunduk agar memudahkan Rein membuat simpul dasinya. “Makanya kamu itu tumbuh keatas.” Ucapan Davin terasa panas ditelinga Rein. Gadis itu dengan kesal menarik pelan dasi Davin membuat pria itu sedikit tercekek. “Om yang ketinggian!” balas nya kesal.
Aaaakk
***
Ami yang berada diruang tamu mendengar suara Rein yang memekik. Gadis itu membulatkan matanya sembari menatap kamar Davin. Papa astaga, nggak sabaran banget, gumam nya dalam hati.
Karena rasa penasaran, Ami segera melangkah pelan menuju kamar Davin. Dengan Gerakan pelan, Ami menempelkan telinga nya pada daun pintu. Namun suara-suara aneh tidak terdengar, membuat keningnya mengerut heran.
Ami tidak menyadari pintu yang perlahan terbuka, gadis itu dengan serius tetap menempelkan telinga pada daun pintu, hingga tidak lama kemudian tubuh nya limbung kedepan.
Brukk
“Aaakk!” Ami memekik kaget saat dirinya hampir terjatuh. Untung saja Davin menangkapnya, jika tidak jidat nya pasti sudah mencium lantai. “Kamu ini ngapain didepan pintu papa?” tanya Davin kesal. Untung saja tadi tidak jatuh.
“Hehe papa. Ami nggak buat apa-apa! Tadi itu…em tadi itu ada kucing lari kesini, makanya aku kejar! Ya kucing pah!” Ami berucap bingung sembari tertawa kecil.
“Kapan kamu pelihara kucing?” tanya Rein bingung. Sedangkan Davin menatap Ami dengan raut kesal. “Sudah-sudah. Papa berangkat dulu, sudah siang!” Davin langsung meninggalkan dua gadis itu.
“Bohong kan! Lagian ya kamu itu alergi bulu kucing. Sejak kapan kamu jadi berani sama makhluk berbulu itu!” Rein menelisik wajah Ami yang terlihat panik. “Hehe lupa Rein. Ngomonng-ngomong kamu tadi ngapain sama papa didalam?” tanya Ami sembari menatap Rein dengan senyum menggoda. Gadis itu dengan cepat mengalihkan pembicaraan, membuat dahi Rein mengerut bingung.
“Nggak buat apa-apa. Emang mau ngapain lagi?” tanya Rein bingung sedangkan Ami menepuk jidat pelan. Seperti nya hubungan mereka belum sejauh yang dia pikirkan.
***
Davin melangkah dengan gagah, mengabaikan tatapan karyawan yang menatap dia sembari bisik-bisik pelan. “Wah, gawat! Kayaknya pak Davin udah punya pacar!”
“Kaya nya benar sih! Lihat itu bekal yang sama!”
“Tapi bisa aja kan dari anak pak Davin”
Sedangkan tersangka yang menjadi topik hangat pagi ini, melenggang masuk menuju ruangan. Asisten nya yang mengikuti pun hanya diam, walaupun sebenarnya sangat penasaran dari mana tas kecil pink itu muncul.
“Kenapa? Ada yang salah dengan tampilan saya pagi ini?” tanya Davin Cella. Dengan panik Cella menggeleng sembari tersenyum kaku. “Tidak pak. Tampilan anda hari ini sangat luar biasa!” puji wanita itu. Umur Cella terpaut 2 tahun lebih tua dari Davin. Davin tersenyum bangga mendengar nya, kemudian berucap. “Apa saja agenda saya hari ini?”
Pria itu segera membacakan agenda Davin hari ini, membuat pria itu mengangguk sembari membuka setiap halaman dokumen yang ada diatas meja nya. “Baik kamu boleh pergi!” perintah Davin membuat Cella segera mengangguk kemudian meninggalkan ruangan Davin.
***
Jam menunjukan pukul 11.40…
“Cella, bagaimana kondisi anak mu?” tanya Davin saat Cella memasuki ruangan nya dengan membawa beberapa berkas penting yang memerlukan tanda-tangan. “Sudah lebih baik pak.” Jawab Cela sopan, membuat Davin mengangguk mengerti.
“Menurut kamu, anak muda itu suka nya kemana?” tanya Davin, membuat Cella menatap nya heran, namun segera berpikir. “Tergantung. Jika perempuan mungkin akan suka shopping, traveling, nonton. Tapi kalau cowo, mungkin suk-” Davin mengangkat tangan nya membuat Cella berhenti bicara.
“Baik-baik saya mengerti!” Davin kemudian berdiri dari duduk nya. “Kamu boleh istirahat, saya makan siang disini!” Cella bingung dengan Davin, namun sebagai asisten yang patuh dan tidak ingin kepo berlebihan, Cella segera melangkah istirahat.
“Apa pak Devan lagi jatuh cinta?” gumam wanita itu dengan kening mengerut. “Ah ya sudah lah, bagus kalau pak Davin sudah menemukan wanita pengganti bu Carissa.” Cella melangkah menuju kantin. Biasa nya jam istirahat seperti ini, dia akan mengantar Davin untuk mecari makan, namun satu minggu ini Davin ingin makan diruangan nya sendiri. Hmm pasti itu bekal dari pacar nya, gumam Cella yakin.
“Bu Cella mari gabung.” Suara seorang wanita terdengar tidak jauh dari nya. “Apa saya tidak mengganggu?” tanya Cella tidak enak. “Hehe nggak ganggu bu. Aman!” Tomi dan Tias dua karyawan yang bekerja dibagian divisi pemasaran itu mengangguk bersama.
Terimakasih:)
'mas kenapa?
"pengenpeluk!