Bening, gadis berusia 18thn, harus rela mengandung benih pria yang tak dikenalnya melalui inseminasi buatan. Karena keadaan yang membuatnya menerima perjanjian kontrak sebagai ibu pengganti. Ayahnya yang sedang di penjara juga ibunya yang sakit keras, membutuhkan biaya besar untuk operasi. Ketidakberdayaannya, membuat Bening merelakan rahimnya disewa untuk melahirkan keturunan pria tersebut sebagai ibu pengganti. Apakah penderitaan Bening akan berakhir sampai anak itu lahir, atau justru itu awal dari penderitaan dia yang sesungguhnya. Inilah kisah gadis cantik yang berjuang hidup untuk ibu juga putranya,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liliana *px*, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
"Lucky,,,lucky,,, berhenti!"
Seorang anak kecil berusia 7tahun berlari lari mengejar seekor kucing anggora yang terlihat menggemaskan dengan tubuh yang gemuk, warna bulu perpaduan abu abu juga coklat muda.
Di mulut kucing itu sedang menggigit sosis.
"Berhenti! Duduk!" Perintah anak kecil itu dengan mengarahkan telunjuknya menunjuk ke salah satu kursi di taman.
"Bos galak banget, kan udah tau aku kelaparan sudah 2 hari belum makan enak!" Mungkin itulah kata kata lucky seandainya ia bisa bicara. Sambil menggesek gesekkan kepalanya di kaki bocah kecil yang tampan itu.
"Meongg,, meong,,,' Lukcy pun duduk dengan patuhnya.
"Bagus! Kamu memang pintar!" Bocah itu mengelus elus kepala lucky lalu memberinya makan lagi.
Semilir angin berhembus menyebarkan aroma wangi yang berasal dari bunga bunga di taman. Harumnya semerbak menenangkan pikiran.
"Lucky,,, aku merindukan Papa, kapan beliau akan pulang?"
Mata Bening yang polos juga teduh itu memandang kearah pintu gerbang mansion. Berharap Papa yang dirindukannya datang. Meskipun ia tidak bisa bertegur sapa dengan Papanya.
Keandra Dewantara. Anak laki laki tampan yang tumbuh dengan penuh kedisiplinan tata krama juga tingkah laku. Sebagai calon penerus keluarga Dewantara di masa yang akan datang, ia di tuntut memiliki tingkah laku yang mencerminkan seorang ningrat. Meski ia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu juga ayahnya.
Hari harinya hanya diisi dengan belajar dan terus belajar. Ia tidak memiliki seorang teman pun, hanya kucing imut itulah temannya. Tempat mencurahkan semua perasaannya. Ia sangat berbeda dengan anak seusianya. Jika kebanyakan anak berusia 7tahun baru masuk SD, namun Kean,, di usianya sudah mempelajari pelajaran anak menengah pertama. Kepintarannya diatas rata rata. Cara berpikirnya pun lebih matang dari anak seusianya.
"Tuan Muda kecil!" seorang pelayan berlari menghampiri Kean. Dengan nafas ngos ngosan pelayan itu menunjuk kearah ruang utama.
Kean mengeryitkan alisnya," ada apa paman?"
"Tuan Muda Ravendra, papa Tuan Muda kecil menunggu di ruang utama. Ayo cepat kesana, beliau tidak suka menunggu terlalu lama!"
Dengan wajah datar Kean bangkit dari duduknya, berjalan dengan elegan menuju ruang utama. Sungguh sifat juga tingkah lakunya seperti ayahnya yang dingin tanpa bisa tersentuh.
Menatap seorang pria tampan yang kini duduk ditemani seorang wanita paruh baya. Matanya menatap penuh kerinduan pada pria itu. Namun tidak diperlihatkan lewat mimik wajahnya, biarlah semua kerinduan itu dipendamnya dalam hati.
Sejak dia lahir hingga seusia sekarang, bertemu dengan Papanya bisa dihitung dengan menggunakan jari, diantara mereka juga jarang bertegur sapa.
Kean duduk di sofa yang berada di depan Ravendra, diikuti lucky yang juga naik keatas pangkuannya. Kucing itu seakan mengerti apa yang dirasakan tuan kecilnya.
"Braakkk!" Tumpukan kertas ujian dilempar Ravendra keatas meja. Membuat semua orang di ruangan itu terlonjak kaget menundukkan kepala.
"Liat hasil ujianmu! Memalukan! Apa selama ini Papa kurang mendisiplinkan mu, hingga kau mulai berani menentang Papa, hmm?"
"Raven? Kean masih kecil, jangan di marahi lagi. Kemarin ia memang kurang sehat, makanya kurang belajar, jadi nilainya tidak sempurna, cuma turun 2angka saja. Jangan dibesarkan, ya!"
Tante Yenny menepuk nepuk pelan tangan Ravendra. Ia adalah ibu tiri Ravendra, setelah ibu Ravendra meninggal, ayahnya menikah dengan wanita ini, namun Ravendra memanggilnya dengan sebutan Tante. Karena baginya hanya ada satu ibu, yaitu ibu kandungnya. Meskipun ia membenci kata ibu juga orang yang telah melahirkannya.
"Kean sayang, ayo minta maaf pada Papamu!"
Suasana di ruang utama menjadi horor, karena ayah juga anak itu mengibarkan bendera perang. Kean yang ingin sekali mendapat perhatian sedikit saja dari Papanya pun berinisiatif membangkang. Selama ini menjadi anak yang penurut, melakukan semua keinginan Ravendra, namun apa yang di dapatnya, hanya perlakuan dingin dari pria yang dipanggil Papa olehnya.
"Nek, maafkan Kean, tapi untuk apa minta maaf, apa salahku? Anak kesayangan kakek saja yang berlebihan!" Cibirnya menantang kearah Ravendra.
"Oh Tuhan,,, rumah ini tidak akan damai lagi, Tuan Muda kecil, jangan menyulitkan kami, kami masih mencintai pekerjaan kami,hikks,,hikksss." jerit hati para pelayan.
Mereka sudah berkeringat dingin, bisa menjamin hari ini terakhir kalinya bekerja di rumah keluarga Dewantara. Karena mereka tidak becus menjaga dan mendidik Tuan Muda kecilnya.
"Oh,,, jadi kamu sudah berani terang terangan melawan Papa,hmm?"
Ravendra bangkit dari duduknya, mendekati Kean yang kini juga sudah bangkit dari duduknya, tegap berdiri menantang Papanya. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ayah juga anak itu sama sama tampan, keras kepala, juga dingin, benar benar Kean adalah duplikat Ravendra saat kecil.
"Pelayan!" Bentak Ravendra, membuat semua pelayan menggigil ketakutan. Tamat sudah hidup mereka.
"I,,iya,, Tuan Muda." Kepala pelayan bergegas mendekat kearah mereka dengan tubuh gemetaran.
"Ambil tongkat pemukul!"
"Apa? Teriak Tante Yenny.
"Raven,,, Ke,,"ucapannya terpotong oleh Ravendra.
"Terima kasih tante sudah bekerja keras mendidik anak ini, saya percaya Tante sudah melakukan yang terbaik, tapi anak ini sudah lama tidak mendapat pelajaran dariku, sekaranglah saat yang tepat aku mengajarinya!"
Keduanya masih saling menghunuskan pedang permusuhan lewat tatapan mereka. Tante Yenny tidak berani lagi untuk menyela ucapan Ravendra. Meskipun ia sangat menyayangi Kean.
"Cepat ambil tongkatnya! Atau kamu ingin menggantikan hukuman untuk anak nakal ini, hah !" Bentak Ravendra pada kepala pelayan.
"Ti,,tidak Tuan Muda, maafkan saya." Bergegas kepala pelayan berjalan cepat kearah tempat penyimpanan barang barang di gudang.
"Maafkan saya Tuan Muda kecil." Lirihnya.
Ia tahu kenapa Kean bersikap seperti itu. Ia hanya ingin mendapatkan perhatian Ravendra, ingin berbicara lebih lama lagi dengan Papanya. Namun maksud hati anak kecil itu tidak di mengerti oleh Ravendra. Percuma ia mendapat berbagai macam gelar hingga menjadi Presdir Dewantara Group. Tapi urusan hati ia tidak memahaminya.
"Kean,,, mintalah maaf Papa sayang, untuk apa keras kepala. Setidaknya lakukan untuk nenek, bukankah dengan sikapmu yang melawan ini membuktikan jika pengajaran nenek buruk selama ini. Kean,,," bujuk Nyonya Yenny yang sedikit bisa meluluhkan hati Kean.
"Maafkan Kean Nek." Tuturnya lirih sambil menundukkan kepalanya. Ia meremas jemarinya.
Bersamaan dengan itu kepala pelayan sudah datang dengan tongkat pemukul.
"Mana tanganmu? Buka!" Perintah Ravendra, Kean pun membuka kedua tangannya.
"Plakk,,, plakkk,, plakk,,"
Kean meringis merasakan sakit di tangannya. Ia tidak menangis sama sekali. Justru tatapannya makin membenci Papanya. Dan itu disadari oleh Ravendra.
"Sudah Raven! Sudah! Tidak kah kau tahu tangannya sudah memar seperti itu, bagaimana ia bisa menggunakan tangannya. Sudah!" Nyonya Yenny menepis tongkat pemukul itu. Membawa Kean dalam pelukannya.
"Belajar yang rajin, jangan membuat ulah, berani membuat ulah, aku buang binatang jelek itu, kau mengerti!" Geramnya lalu melangkah kearah kamarnya.
"Aku benci Papa, aku benci diriku sendiri, aku benci keluarga ini!" Kean berteriak lalu berlari keluar dari rumah keluarga Dewantara.
"Kean,, Keandra,,,! Teriak Nyonya Yenny memanggil bocah kecil itu, namun tidak dipedulikannya.
Sedangkan Ravendra hanya bisa mematung di tempatnya tanpa menoleh ke belakang. Setelah itu melanjutkan langkahnya ke kamar.
"Braakkk!"
bersambung🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
hati hati dengan Pak Hendra Bening dia sungguh licik
semangat bening 💪💪
tp km masih punya satu anak laki2 lagi
apa pria kaya itu gk tahu ya klo Bening puya anak kembar 🤔