Kisah keluarga besar Zaynard Orlando Mark dan Nadin Alia Syahir. Menceritakan tentang kedua anak lelaki Zayn.
Rafandra Orlando Mark
Alva Damianus Mark
Penasaran bagaimana kisahnya...
yuk buruan baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon faray_glad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 8
Malam itu selesai acara makan malam, Nadin mengajak queen untuk tidur. Setelah queen tidur, dia segera menyusul sang suami di ruang kerjanya.
Nadin duduk di sofa sedangkan Zayn duduk di kursi kebesarannya. Dia sedang menatap Nadin yang terlihat duduk tidak tenang. Mereka berdua sedang berbincang sambil menunggu kedatangan Rafa.
Ceklek.
Zayn dan Nadin menoleh kearah pintu yang baru saja terbuka. Rafa masuk ke dalam dengan raut wajah bingung. Seketika suasana di dalam ruang kerja Zayn berubah tegang.
"Mam ... Dad," sapa Rafa pada keduanya.
"Duduklah dulu! Apa Alva sudah masuk ke kamarnya?"
"Sudah Dad," jawab Rafa sambil mengangguk kecil.
Rafa segera menghampiri Nadin dan ikut duduk di sampingnya.
"Baiklah, Dad tidak ingin membuang waktu lagi. Rafa, Daddy ingin bertanya, Apa setelah lulus nanti kamu akan melanjutkan S2?"
"Ehmmm ... sebenarnya Rafa ingin langsung lanjut, tapi sepertinya Rafa akan mencari pengalaman dulu, Dad. Rafa akan bekerja, jika dirasa dalam pekerjaan nanti Rafa membutuhkan pendidikan yang lebih, maka rafa akan lanjutkan ambil S2."
Zayn berdehem sambil mengangguk. Rafa melihatnya sedikit heran.
'sebenarnya ada apa sih?' batin Rafa
"Sayang ... apa kamu sudah memiliki kekasih?"
"Belum Mam, Rafa belum kepikiran soal wanita. Kenapa?"
Rafa menatap Nadin cukup lekat. Ia sungguh merasa sangat penasaran dengan keadaan yang tengah dialami.
"Biar Daddy saja yang menjelaskan."
Rafa segera mengalihkan pandangannya ke arah Zayn. Walaupun bingung, tetapi dia masih terus berusaha untuk tenang dan mengikuti kemana arah pembicaraan kedua orangtuanya saat ini.
"Rafa ... jika kamu sudah berjanji pada seseorang apa kamu akan menepati janjimu, Nak?"
"Tentu saja, Dad." Pemuda itu bergantian menatap kedua orangtuanya. Kemudian kembali berucap, "Sebenarnya ada apa sih, Mam, Dad? Rafa sungguh penasaran."
"Apa kamu menyayangi Mami, Nak?" Bukannya menjawab, Zayn malah balik bertanya. Rafa mengernyitkan keningnya. Tidak perlu dijelaskan, bahkan dia rela mengorbankan nyawa untuk wanita itu.
"Tentu. Aku sangat menyayangi Mami, lebih dari apapun, bahkan nyawa sekalipun." Rafa semakin dibuat bingung dengan setiap pertanyaan ayahnya itu.
"Sungguh? Kamu rela berkorban nyawa bahkan hidupmu untuknya?"
"Dad. Sebenarnya apa inti pertanyaan Daddy?" ucap Rafa dengan perasaan yang mulai kesal.
"Jawab saja pertanyaan Daddy, Rafa!"
"Ya ... Rafa akan lakukan apapun untuk Mami. Hidup bahkan nyawa Rafa sekalipun. Rafa sangat menyayangi Mami melebihi apapun yang ada pada diri Rafa, Dad"
Pemuda itu cukup serius. Ia kini mengalihkan pandangannya menatap Nadin. Tak segan ia memeluk tubuh wanita itu yang saat ini tampak begitu tegang.
"Bagus ... sekarang buktikan ucapanmu!"
Kali ini Zayn melebarkan senyumnya. Nadin juga nampak senang mendengar ucapan Rafa. Mereka aling beradu pandang dengan melebarkan senyuman.
"Apa? Bagaimana sih? Rafa masih tidak mengerti." Rafa semakin dibuat bingung akan pembicaraan ayahnya.
"Menikahlah dengan Felicia, Nak. Putri dari almarhum Bi Nela!"
"Hahh??"
Rafa yang masih bingung seakan bertambah pusing dan terkejut oleh ucapan Zayn.
"A-apa maksudnya Daddy berbicara seperti itu?" tanya Rafa yang masih bingung.
"Rafa tidak ingin menikah muda. Bahkan Rafa tidak mengenal siapa Felicia itu. Jangan konyol, Dad," lanjutnya dengan sedikit kesal.
"Sayang ... Mami yang menginginkan kamu untuk menikah dengannya." Kali ini Nadin yang angkat bicara.
"Kenapa Mam? Bahkan Mami dan Daddy saja menikah di usia yang tidak muda dan Rafa sekarang masih usia 22 tahun tiga bulan lagi. Rafa tidak mau, Mam. Kami pun tidak saling mengenal. Ini sungguh tidak lucu. "
"Rafa, Mami mohon, Sayang. Kamu bilang akan melakukan apapun untuk Mami, tapi ...."
"Iya, tapi bukan untuk menikah, Mam," tegas Rafa.
Zayn hanya menatap lekat ke arah anak dan istrinya. Lelaki itu sudah bisa menduga jika hal ini akan terjadi. Putra sulungnya itu sedikit lebih keras dibandingkan dengan Alva. Hal ini akan sedikit sulit untuknya.
"Sayang ... Mami mohon! Menikahlah dengan Feli! Kamu juga masih bisa menikmati usia mudamu walaupun sudah menikah. Kamu juga bisa meminta apapun dari Mami dan Daddy jika kamu bersedia untuk menikah. Mami mohon sayang!"
Rafa terdiam, dia bingung dengan situasi saat ini. Kenapa ibu dan ayahnya menginginkan dirinya untuk segera menikah. Apalagi dengan anak bi nela. Itu sungguh diluar dugaannya. Mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain.
"Sayang, waktu itu kamu pernah minta pada Daddy, jika kamu ingin mandiri dengan tinggal di apartemen. Daddy akan mengabulkannya jika kamu mau menikahinya," bujuk Nadin.
"Mami mohon," Nadin memelas sambil menggenggam kedua tangan putranya.
"Maaf Mam, Rafa belum siap untuk menikah muda."
Dengan segera dia berdiri dari duduknya Kemudian segera berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menghiraukan perkataan Nadin.
"Rafa."
Nadin dibuat terkejut oleh apa yang dilakukan putranya. Ia tidak menyangka jika Rafa akan melakukan hal ini. Karena merasa tidak puas, segera ia mengikuti langkah kaki Rafa yang baru saja keluar.
"Sayang," panggil Zayn yang melihat istrinya berjalan menyusul anak sulungnya. Zayn dengan segera juga mengikuti mereka.
"Rafa ... Sayang ...," panggil Nadin tetapi Rafa tidak menghiraukan. Dia tetap melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga.
"Rafa!" Nadin bahkan sambil berlari untuk dapat menyusul langkah besar Rafa.
Dengan tergesa-gesa Nadin menaiki tangga. Ia sungguh merasa tidak terima dengan sikap putranya yang sekejap saja acuh padanya. Hingga tepat langkahnya hanya tinggal beberapa lagi sampai di atas, Nadin tidak memperhatikan langkah kakinya sendiri. Sesuatu yang tidak terduga terjadi.
"NADIN!" teriak Zayn dari lantai bawah. Rafa yang akan membuka pintu kamarnya segera menoleh kearah sumber suara itu berasal. Seketika matanya terbelalak.
Nadin tergelincir dari tangga, dia tidak sengaja tersandung oleh kakinya sendiri. Zayn yang tidak jauh dari tangga segera berlari menghampirinya.
"Ya Tuhan ... Sayang ...." Zayn dibuat sangat syok melihat keadaan Nadin yang telah terkulai lemas. Bahkan sangat tidak menyangka jika dirinya menyaksikan darah yang keluar dari kepala dan juga hidungnya.
"Pak Louis." Zayn segera menggendong Nadin sambil berteriak memanggil sang sopir.
"Dad," panggil Rafa yang ada di belakangnya. Tadi setelah dia melihat maminya yang tergelincir dari tangga, dia segera berlari untuk kembali turun menghampiri ibunya.
"Kau!" Zayn menatap lekat wajah Rafa. Rahangnya mengeras tanpa dia sadari.
"Biar Rafa yang antar Mami ke eumah sakit."
"Baiklah cepat!" pinta Zayn dengan menahan rasa kesalnya.
Rafa segera berlari menuju garasi mobil. Sedangkan pak Louis dan Bi Nuri baru saja keluar dari kamarnya. Merasa bingung melihat pemandangan yang ada di depannya.
"Tuan ... apa yang terjadi?" tanya Bi Nuri yang melihat Nadin digendongan Zayn.
"Astaga ... Nyonya."
"Bi, tolong jaga queen selama kami pergi!"
"Baik Tuan," jawab Bi Nery sambil mengangguk cepat.
"Biar saya antarkan, Tuan," sahut Pak Louis baru saja mengambil kunci mobil.
"Tidak perlu, Rafa sedang menyiapkan mobil sekarang."
Setelah mendengar suara derum mobil dari luar, Zayn segera berlari untuk masuk ke dalam mobil. Bahkan Zayn tidak memperdulikan pakaiannya yang sudah berlumuran darah.
Alva dan queen masih belum mengetahui apa yang tengah terjadi di rumahnya. Mereka berdua sudah tertidur pulas dengan ditemani oleh mimpinya.
******
Zayn duduk sambil sedikit membungkuk. Tangannya memegangi kening yang dirasa sedikit pusing. Sedangkan Rafa duduk di sampingnya dengan tegang. Bagaimana bisa semua ini terjadi. Dia sungguh menyesali perbuatannya yang membuat ibunya hingga terjatuh dari tangga.
Nadin sedang dalam penanganan di dalam ruang ICU. Tampak raut wajah mereka begitu sangat khawatir. Sesekali Rafa melirik kearah ayahnya. Dia semakin khawatir melihat ayahnya yang diam.
Saat ini, situasi seperti ini membuat Zayn mengenang kembali kisah pilu yang dia alami beberapa puluh tahun yang lalu. Ada sedikit rasa yang membuatnya takut untuk sekedar mengangkat wajahnya. Zayn terus menunduk. Dia sangat lemah karena keadaan.
Dia mengingat dengan masih sangat jelas hari-hari dimana dia dengan segala penyesalannya, menemani sang istri yang tertidur cukup lama dan sekarang dia tidak ingin kembali merasakannya.
Sesaat Zayn menganjur napasnya. Kembali teringat akan kejadian waktu dia melakukan sesuatu hal yang sangat menjijikkan. Dia semakin dibuat sangat menyesal karena kejadian saat ini mengingatkan kembali akan luka di masa lampau.
Satu jam berlalu tetapi tidak ada tanda-tanda jika pintu ruang ICU itu akan terbuka.
' Sayang ... kumohon bertahanlah! Aku tidak akan sanggup jika harus hidup tanpamu ' batin Zayn.
' *Y*a Tuhan ... selamatkan Mami! kumohon selamatkan Mami! Apapun keinginannya nanti aku akan menurutinya. Kumohon selamatkan mami!' batin Rafa.
Tbc
seru
sukses
semangat
🤭🤭🤭
ngilang aja
Yg Queenara q udh bc smpe abis berharap msh da lnjutan'a yah crita tentang anak2 nya Queen sm edgar hehee
jgn rusak kebahagian mrk...sudah cukup kesedihan ini.