Legenda perjalanan dua pendekar yang mengarungi dunia persilatan. Mengguncang dunia persilatan dengan bakat dan kemampuan yang mereka miliki. Mendapatkan julukan dari para pendekar diseluruh penjuru dunia.
Perjalanan menuju keabadian yang penuh akan pengorbanan. Mengguncang langit dengan pedang di tangannya. Seluruh alam berseru, menunggu waktunya mereka mencapai puncak tertinggi dunia.
cover by: pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogasurendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Permaisuri
Permaisuri Xiao Fang berada di kediamannya saat menerima surat rahasia dari ayahnya.
"Fang'er. Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan. Datanglah ke rumah segera"
"Sepertinya ada sesuatu hal yang mendesak"ucap permaisuri Xiao Fang.
Permaisuri berdiri segera bersiap menemui kaisar untuk meminta izin berkunjung ke rumahnya. Permaisuri memanggil pelayan pribadinya untuk menyiapkan kereta kuda.
Permaisuri berjalan ke arah ruangan kerja kaisar Zhao Lan yang cukup jauh dari kediamannya. Ditengah perjalanan, ia bertemu dengan ibu suri.
"Salam hormat ibu permaisuri. Semoga langit memberkati,"ucap permaisuri Xiao Fang.
"Menantu yang berbakti. Gerangan apa permaisuri Xiao Fang berjalan ke arah ruang kerja kaisar?"
"Fang'er ingin meminta izin kepada Yang Mulia untuk mengizinkan Fang'er berkunjung ke rumah"
Ibu suri tersenyum lembut dan berbincang-bincang sebentar sebelum permaisuri berpamitan.
Permaisuri telah sampai di ruangan kerja kaisar dan bertanya kepada salah satu pengawal.
"Apakah Yang Mulia berada di dalam?"
Sebelum pengawal menjawab pertanyaan dari permaisuri, sebuah suara dari dalam terdengar.
"Masuklah,"ucap kaisar Zhao Lan.
Permaisuri mendengar suara kaisar Zhao Lan segera masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Jarang sekali kau datang ke mari,"ucap kaisar Zhao Lan.
"Aku kemari untuk meminta izinmu,"jawab permaisuri.
"Izin berkunjung ke rumahmu?"tanya kaisar Zhao Lan.
"Benar"
"Sudah lama kau tidak berkunjung ke rumahmu. Tak ada salahnya berkunjung hari ini. Aku akan memerintahkan pengawal untuk mempersiapkan kereta kuda,"ucap permaisuri.
"Terimakasih. Tak perlu menyiapkan kereta kuda. Aku telah memerintahkan pelayaan pribadiku untuk menyiapkannya,"jawab permaisuri.
"Maaf, aku tidak bisa menemanimu"
"Tidak apa, aku mengerti"
Setelah berpamitan dengan kaisar, permaisuri keluar ruangan menuju kereta kuda yang telah disiapkan oleh pelayan pribadinya.
Permaisuri duduk di dalam kereta kuda dengan wajah tenangnya namun tidak dengan seseorang yang menatap kepergian permaisuri yang tak lain adalah ibu suri.
Jalanan kota tampak ramai seketika. Semua orang terdiam melihat permaisuri kekaisaran berada di dalam kereta kuda. Para rakyat membuka jalan membiarkan kereta kuda milik permaisuri lewat.
Permaisuri membuka selambu melambaikan tangannya menyapa rakyatnya. Sorak-sorai gembira terdengar dari masyarakat hingga permaisuri sampai di gerbang kediaman keluarga Xiao.
Permaisuri turun dari kereta kuda disambut oleh ayahnya, tetua pertama. Permaisuri Xiao Fang memeluk erat ayahnya menyalurkan kerinduan yang ia alami.
"Bibi!!"
Suara Xiao Wei dan Xiao Feng yang mengalihkan perhatian permaisuri.
"Salam hormat permaisuri,"ucap Xiao Wei segera.
Xiao Wei melihat Xiao Feng tidak memberikan hormat kepada permaisuri Xiao Fang segera memukul kepalanya. "Salam hormat permaisuri"
"Kalian sampai lebih dulu dariku,"ucap permaisuri.
"Kita masuk ke dalam. Kalian panggil ayah kalian masing-masing!"perintah tetua.
Permaisuri Xiao Fang bersama tetua pertama yang tak lain ayahnya sendiri masuk ke dalam kediaman keluarga Xiao menuju aula. Sedangkan Xiao Wei dan Xiao Feng memanggil ayahnya masing-masing atas perintah tetua pertama.
Aula kediaman Xiao tampak sepi. Burung-burung kecil berterbangan disekitar aula. Permaisuri mengangumi pemandangan disekitar aula.
"Sudah lama aku tak datang ke mari,"ucap permaisuri.
"Lebih baik kita duduk terlebih dahulu sebelum aku menjelaskan kenapa aku memanggilmu,"ucap tetua pertama menunjuk sebuah pondok kecil dipinggir kolam.
Permaisuri menganggukkan kepalanya. Mereka berbincang-bincang santai menunggu seseorang datang.
Xiao Wei dan Xiao Feng memberitahu ayahnya untuk segera datang ke aula atas perintah tetua pertama.
"Apa katamu! Fang'er datang kemari!"
"Benar, bibi datang kemari. Tetua pertama memerintah ayah untuk segera datang ke aula,"ucap Xiao Wei.
Ditempat Xiao Feng, hal yang sama terjadi ketika mengetahui bahwa kakak dari ayahnya datang ke kediaman keluarga Xiao.