Andika Saputra seorang pemuda yang baru memasuki dunia kerja di ibu kota. Dia seorang arsitek, bekerja di perusahaan kontraktor "Satria Group" yang cukup punya nama di ibu kota. Kinerjanya sangat bagus dan kejujurannya menjadi perhatian manajemen perusahaan termasuk Gunawan Presdir perusahaan tersebut. Hingga Gunawan sangat menginginkan Andika menjadi menantunya, suami untuk Karina anak semata wayangnya.
Ujian demi ujian kehidupan dilalui oleh Andika, dari mulai kepergian ibunya utk selamanya, perjuangan meraih karirnya, termasuk perjuangan cintanya.
Akankah Andika berjodoh dengan Karina?
ataukah ada wanita lain yang dicintainya?
Temukan jawabannya.....!
Selamat membaca.
Salam
Umi Haifa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Haifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Ibu
Andika membaringkan tubuhnya di tempat tidur kamar kost nya. Masih menggunakan kain sarung dan baju kokonya karena baru selesai sholat isya. Andika baru nyampe tempat kostnya sebelum adzan isya, ia langsung membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat.
Jalan bareng dengan Erick dan Marsya ternyata cukup melelahkan. Bagaimana tidak, setelah keliling di property expo di JCC Erick mengajak makan bareng ke sebuah mall.
Makan saja harus ke mall, kenapa gak nyari resto yang deket aja, jadi gak usah jauh-jauh ke mall, pikir Andika saat itu.
"Restonya hanya ada di mall itu, pokonya dijamin enak deh, nanti Gue yang traktir." Erick meyakinkan agar Andika dan Marsya mau diajaknya makan.
Setelah makan Marsya minta diantar ke toko perlengkapan rumah tangga, dia mau membeli beberapa pernak pernik hiasan untuk di rumahnya.
Kemudian mereka pergi nonton, Erick sengaja ngajak nonton agak bisa berlama-lama dengan Marsya. Erick memberi kode kepada Andika agar bersedia ikut nonton. Dan Andika pun bersedia nonton. Sebenarnya Andika tidak suka nonton di bioskop, ia lebih suka nonton film di laptopnya dan dia lebih suka menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku. Setelah menonton Andika langsung pulang ke tempat kostnya sementara Erick dan Marsya mampir dulu ke sebuah cafe di mall tersebut.
Sambil membaringkan tubuhnya, Andika ingat pertemuannya dengan Presdir Satria Group di Property Expo tadi siang.
Gak nyangka Pak Gunawan begitu sederhana, ramah dan rendah hati, ah orang lain pun yang belum tau pasti gak akan menyangka kalau beliau seorang Presdir perusahaan property yang cukup ternama di negri ini.
Saya harus banyak belajar dari beliau.
Andika jadi teringat pesan ibunya saat ia pulang ke rumah satu minggu yang lalu. Ibunya banyak memberi nasehat saat obrolan setelah makan malam bersama.
" Dika, ibu sangat bersyukur kamu dimudahkan mendapatkan pekerjaan sesuai yang kamu inginkan, tempat kerja yang nyaman, gajinya besar, kamu bisa bantu kuliah adik-adikmu , pasti adik-adikmu juga senang. Tapi ibu nitip sama kamu Dika, jangan sampai semua itu membuat lupa diri apalagi sombong. Tetaplah rendah hati, jangan lupa berbagi dengan yang lebih membutuhkan, tolonglah siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Pesan ini juga yang selalu ayahmu sampaikan kepada ibu. Kalau ayahmu masih ada pasti ia akan menyampaikan pesan ini kepada anak-anaknya." Ibunya berkata sambil tersenyum mengenang almarhum suaminya, tak terasa ada air menggenang di matanya.
Sosok suaminya sangat membekas di hati ibu. Prinsip-prinsip hidup yang diajarkan suaminya diajarkan pula kepada anak-anaknya. Hingga Dika , Dita dan Adit tetap merasakan didikan ayahnya walaupun ayahnya tidak ada di sisi mereka.
Dita yang duduk di samping kanan ibunya merangkul bahu ibunya.
" Ibu bangga punya anak-anak seperti kalian, gak nyusahin orang tua, semoga kalian jadi penyelamat ibu dan ayah di akhirat nanti. " Air mata ibu pun jatuh menetes di pipinya.
" Kami lebih bangga memiliki ibu, ibu yang hebat, karena didikan ibu kami bisa seperti sekarang. Maafkan kami belum bisa membahagiakan ibu." Andika mendekat jongkok di depan ibunya sambil memegang kedua tangan ibunya. Adit yang duduk di sebelah kiri ibunya ikut memeluk ibunya. Mereka berempat saling berpelukan.
Kebersamaan dan kedekatan keluarga ini memang sangat terasa. Selain terikat oleh ikatan darah, ikatan batin mereka pun sangat kuat. Walaupun hidup mereka sederhana dengan kebersamaan mereka merasakan bahagia.
"Aaahhh....kok jadi sedih begini." ujar Dita sambil melepaskan pelukannya.
"Bu mulai sekarang sampai seterusnya ibu harus bahagia, jangan terlalu memikirkan kami, ibu harus sehat, sekarang saatnya ibu menikmati hidup ibu dengan bahagia." tambah Dita
" Ibu selalu bahagia kok, yang penting anak ibu bahagia pasti ibu bahagia." balas ibunya sambil tersenyum
Ah ibu....memang yang dipikirannya hanya kebahagiaan orang lain. Batin Andika
Andika kembali duduk di kursi yang tadi ditempatinya.
"Satu lagi Dika yang ingin ibu sampaikan. Mulai sekarang kamu harus memikirkan masa depanmu, kamu di Jakarta kan tinggal sendiri, apa belum ada rencana untuk mencari pendamping hidup, biar kamu ada yang ngurusin." kata ibunya
"Ehemmm...Ehemmmm." Dita pura-pura batuk sambil tersenyum melihat ke Andika.
"Kalau calon sepertinya sudah ada bu, tinggal ditembak saja, bulan depan juga mau diajak menikah." Dita menggoda kakanya
" Benar Dika? kalau sudah ada calon jangan dilama-lamain, gak baik" Tambah ibunya penuh semangat
"Ah Dita....mana ada calon Mas Dika, Dika belum kepikiran kesana bu."
"Kirain yang di depan rumah kita calonnya Mas Dika, cocok ko sama Mas Dika, udah akrab sama keluarga kita dan sayang lagi sama ibu." Dita mencoba mengorek reaksi Andika.
"Apa sih Dita.... Dia itu Mas anggap sahabat Mas Dika, kita kan memang dekat dan kaya saudara dari dulu."
"Emang Dia itu siapa Mas?" Dita menggoda kakanya lagi
" Lah yang di depan rumah kita kan Riana." jawab Andika
"Oh jadi calonnya Mas Dika itu Riana yah...hi..hi.." Dita makin senang menggoda kakanya.
Sementara Adit hanya tersenyum melihat Dita menggoda Andika.
" Bu setuju kan kalau calon Mas Dika Mba Riana" tanya Dita kepada ibunya.
Dita yakin kalau selama ini Riana berharap kepada Andika.
" Siapa pun wanita pilihan kakamu ibu setuju, yang penting sholehah." jawab ibu
" Tuuh mas...ibu setuju Mba Riana jadi calon mas Dika."
"Sstttt.....ssstttt.....udah jangan bahas ini. Pokoknya kalau dah siap nanti Mas kenalin sama calon Mas Dika. Sabar yah....Mas Dika aja yang ngejalaninnya sabar, masa kamu gak bisa sabar..he...he.... "Jawab Dika
"Gimana kalau besok kita jalan-jalan, sebelum Mas Dika kembali ke Jakarta. Mas Dika kangen makan nasi liwet di tempat alam terbuka."
"Setuju...." Jawab Dita dan Adit
Tring...tring....
Andika tersadar dari lamunannya. Ia bangun dan mengambil HPnya yang disimpan di meja. Ada pesan WA masuk.
Pa Syahrul ngirim pesan WA, ada apa yah?
Andika segera membuka pesan dari Pak Syahrul.
" Pa Andika hari Senin jam satu siang ditunggu di ruang Presdir, nanti hubungi sekretarisnya."
Pa Gunawan barusan ngirim pesan. Jangan terlambat yah."
Andika segera membalas chat Pa Syahrul.
"Baik Pak."
Ah ternyata omongan Pak Gunawan tadi siang bukan basa basi. Beliau betul-betul meminta saya menghadap hari Senin.
Sebaiknya nanya-nanya bang Erick dulu, biasanya ditanya apa saja waktu menghadap Presdir pertama kali. Pikir Andika
Andika mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek, kemudian dia merebahkan lagi tubuhnya di tempat tidur.
Tiba-tiba terlintas Riana di pikiranya.
Ya hanya Riana wanita yang saat ini paling dekat dengan Andika. Tapi Andika hanya menganggapnya sebagai sahabat. Benarkah tidak ada perasaan lebih yang dirasakan Andika hingga hanya menganggapnya sabahat?
Hanya Andika dan Tuhan yang tahu.
Ah Riana belum saatnya saya datang ke orang tuamu, masih ada mimpi yang harus saya wujudkan untuk membahagiakan ibu dan adik-adiku. Setelah itu baru kebahagiaanku. Kuliah mu pun belum selesai, saya tidak mau mengganggumu. Semoga kau mau bersabar menungguku. Eh... kenapa Riana....emang yakin dia jodohku. Entahlah pokoknya siapa pun wanita yang akan menjadi jodohku semoga mau bersabar menunggu yah. Kalau sudah waktunya pasti kita bertemu.
Dan Andika pun tertidur.
bersambung
terimakasih