NOVEL DEWASA 21+ TIDAK SUKA CUKUP SKIP!!!
A SECRET AFFAIR
Ben Antonio Haghwer 28 tahun. Pria tampan yang juga penguasa dunia bisnis ia memiliki sifat dingin serta kejam namun hatinya tiba-tiba hangat ketika cinta datang menyapa.
Namun cintanya ternyata jatuh pada sang kekasih kecilnya Daisy yang telah lama menghilang.
Daisy telah di jual untuk melunasi hutang orang yang bahkan tidak memiliki ikatan keluarga dengannya.
Di lain sisi pernikahan Daisy tidak pernah bahagia, karena ia tak pernah menginginkannya.
Dan benih-benih perselingkuhan pun terjadi.
Siapa kah yang akan berselingkuh? Silahkan cari tahu jawabannya di kisah berikut ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Club Destroy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Tubuh kekar milik Ben dan tubuh mungil milik Daisy saling menekan satu sama lain.
Kedua tangan kekar milik Ben telah berpindah di pinggul Daisy, dan kedua tangan Daisy telah mencengkram kemeja yang ada di samping perut Ben.
Mereka saling menelan ludah dan masih saling menempelkan hidung mancung serta saling menggesek hidung.
"Aku tahu kau merasakan apa yang ku rasakan Daisy..." Bisik Ben.
Drrt... Drrtt...
Ponsel Ben bergetar, pria itu mengambilnya namun pandangannya tidak lepas dari wajah cantik Daisy.
"Katakan."
"Casey mencarinya tuan..."
"Tahan dia dan urus sesuatu dengannya." Perintah Ben.
Setelah panggilan terputus Daisy tahu itu adalah dari Traver bahwa Casey mencarinya.
"Aku harus pergi." Bisik Daisy hingga suaranya seolah tercekat.
"Kau tidak mau memberiku satu ciuman?" Bisik Ben.
"Tidak Ben, aku sudah memiliki sumpah bersama pria lain, ku mohon jangan memaksaku." Kata Daisy lemah.
Kemudian Ben mundur dengan pelan dan membuka kan pintunya dengan perasaan kecewa serta terluka.
Daisy pun perlahan pergi, meninggalkan Ben yang merasa patah hatinya, kemudian Daisy masuk ke dalam lift, saat itulah Ansell tahu jika Daisy baru saja keluar dari kamar yang pernah ia berikan layanan.
"Apa itu Daisy? Apa dia juga memberikan layanan pada pria itu? Bukankah dia sudah menjadi istri Geraldo." Tanya Ansell yang mendorong troli berisi alat-alat kebersihan.
Kemudian Ansell mendorongnya menuju kamar milik Ben, dan menekan bel kamar tersebut.
Ben membuka pintunya, berharap itu adalah Daisy, namun terlihat wajah Ansell yang tersenyum.
Melihat mimik wajah Ben yang kesal dan marah Ansell pun menawarkan dirinya.
"Apa layanan seseorang kurang memuaskan?" Tanya Ansell.
Ben membuka pintunya dan Ansell masuk. Pria itu menuangkan whiskey ke dalam gelas nya dan meminumnya sembari berkacak pinggang.
Nafas Ben naik dan turun sangat terlihat jelas jika ia sedang marah.
"Apa anda marah karena seseorang tidak bisa memuaskan anda?" Tanya Ansell lagi mendekati Ben.
"Lakukan tugasmu, dan dapatkan uangmu, jangan banyak bicara."
Ben duduk di sofa dan menaruh gelasnya di meja, kedua tangan ia rentangkan di bangku sofa dan kepala ia sandarkan pula melihat langit-langit.
Ansell tersenyum dan berjongkok.
Ben menutup matanya, dan membayangkan Daisy kembali, bagaimana bisa wajah itu semakin membuatnya gila.
Ben sangat marah pada dirinya sendiri karena terlambat menemukan Daisy, dimana gadis itu telah menikah dan bersumpah dengan pria lain.
Ben melenguh kala Ansell semakin mempercepat.
Ben kemudian mencengkram rambut Ansell dan Ansell masih menjalankan tugasnya.
"Fast!" Kata Ben memberikan perintah.
"Lebih cepat!" Kata Ben lagi.
"Aaarggg...!!!" Ben melepaskan semuanya, tubuhnya yang tegang perlahan menjadi mengendur.
Ben menyandarkan kepala, namun perlahan Ansell meraba tubuh Ben dan merengsak naik.
Ben menyadari itu dengan cepat mencengkram tangan milik Ansell.
"Jangan coba-coba menyentuh, apa kau tidak membaca perjanjiannya?" Suara Ben datar penuh ancaman, matanya begitu tajam.
"Iy... Iya, sa.. Saya tidak boleh menyentuh anda, batasnya hanyalah sampai pinggul an... Anda." Kata Ansell takut.
"Maka dapatkan uangmu dan jangan meminta lebih dari ini." Kata Ben.
"Aku yang membayarmu dan bersikap lah patuh." Peringat Ben lagi menatap dengan tajam.
"Pergilah!" Kata Ben ketus dan melemparkan tangan Ansell.
Kemudian Ansell merapikan rambut nya dan merapikan pakaiannya lalu pergi keluar, ia pun mendorong trolinya kembali hingga di tengah perjalanan ponselnya berbunyi dan ternyata adalah pesan mbanking jika telah mendapatkan transferan dengan sejumlah uang yang cukup besar seperti apa yang ia dapatkan kemarin. Ansell hanya melihat dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam sakunya.
Makan siang telah berlalu, Ben sudah selesai dan akan kembali ke negara K.
Sedangkan Dereck juga mengantar Ben untuk masuk ke dalam mobil.
"Senang bekerja sama dengan anda." Kata Dereck.
Ben hanya mengangguk, matanya tertuju pada Daisy yang tidak berani menatap pada Ben. Daisy terlihat gelisah dan berkali-kali meremas tangannya.
"Selamat tinggal." Kata Ben.
Kemudian Ben masuk ke dalam mobil dimana Traver pun juga menutup pintu mobil lalu masuk ke dalam mobil juga, duduk di dekat sang sopir.
Mobil melaju menuju bandara pribadi milik Ben.
"Apa kau sudah menyiapkan mobilnya untuk Daisy?" Tanya Ben.
"Sudah tuan, dan seorang mata-mata."
"Hm."
Di sisi lain Dereck melihat bagaimana istrinya begitu gelisah dan kemudian mengajaknya masuk ke dalam hotel.
"Tuan..." Kata Daisy tersentak.
Dereck menarik tangan Daisy dengan cukup kencang dan mengagetkan, Daisy terseok mengikuti langkah kaki Dereck yang begitu cepat.
Setelah mereka berada di dalam kamar mewah, Daisy masih tak mengerti.
"Apa kau ada hubungan spesial dengan Ben?" Tanya Dereck.
"Hubungan spesial apa? Saya tidak mengerti tuan." Kata Daisy gelisah.
"Aku melihatmu sangat gelisah saat Ben pergi, apa kau takut tidak akan pernah bertemu dengannya lagi?"
"Ap... Apa yang anda maksud."
Dereck maju perlahan, namun Daisy mundur perlahan. Kemudian Dereck menyeringai.
"Kau takut padaku?" Tanya Dereck.
Daisy masih diam.
Dereck masih maju perlahan, dan lagi-lagi Daisy mundur namun sayangnya ia membentur dinding dan tak bisa bergerak kemanapun lagi.
"Jangan macam-macam Daisy. Kau membawa nama keluarga Waldorf."
Daisy terkejut, dia berusaha menutupi dadanya dengan meremas gaunnya yang sedikit tipis, berulang kali seolah Dereck melihatnya dan ingin melahapnya.
"Apa kau tidak senang, saat aku menatap milikmu? Apa kau mengharapkan Ben yang menatapnya?"
Entah mengapa Dereck ingin mempermainkan Daisy.
"Ti-tidak Tuan... Sa-saya tidak begitu..."
"Lalu kenapa kau menutupi dadamu dari suamimu." Dereck menarik tangan mungil Daisy.
Daisy tak punya ruang lagi untuk melarikan diri. Dia bersandar pada dinding.
Pria itu semakin menghimpitnya, hingga tubuh mereka semakin dekat tak berjarak. Tangan Dereck mengambil tengkuk leher kecil milik Daisy, mendongak kan wajah Daisy untuk menatapnya.
"Kau wangi Daisy..." Dereck mendekatkan kepalanya dan mencium rambut gadis itu, kemudian turun dan berhenti di bahu menciumnya lama, menikmati wangi tubuh Daisy.
Gadis itu memiliki tinggi tubuh sekitar 160cm sehingga Dereck harus membungkukkan punggung dan tubuhnya. Telapak tangan pria itu menapak di dinding untuk menjaga keseimbangannya.
Dereck masih menciumi bahu Daisy dengan pelan dan sedikit demi sedikit menyingkap gaun tipis musim panas yang menutupi bahu Daisy.
Dereck hendak menggoda Daisy, namun dirinya justru tenggelam dalam permainannya sendiri, menikmati bahu kecil yang mungil dan mulus serta putih milik Daisy.
"Wangi sekali." Kata Dereck kembali.
Tubuh Daisy masih kaku menempel di dinding, dadanya naik dan turun, ia tidak bisa lagi bergerak, tangan kekar itu menekan dan mencengkram tengkuknya.
Kemudian Dereck menggerakkan hidungnya naik ke telinga Daisy membisikkan sesuatu, pria itu sangat dekat hingga bibir dan hidung Dereck seperti menciumi telinga Daisy.
"Aku paling tidak suka istriku berhubungan dengan rekan bisnisku, jangan sekali-sekali membuatku marah?" Bisik Dereck.
"Entah dia adalah teman mu atau siapapun itu aku tidak menyukainya, dan aku pastikan akan segera mendapatkan informasi tentang kalian di masa lalu." Ancam Dereck.
"Ma-maafkan saya tuan, saya tidak mengerti maksud anda, apakah karena saya mengobrol dengan Ben saat malam itu?"
"Ha Ha Ha Ha... " Dereck tertawa.
"Kau bahkn berani memanggil pria terkaya yang memimpin lebih dari 100 perusahaan itu dengan menyebut namanya, ada hubungan apa kalian di masa lalu." Tatapan Dereck begitu dekat dengan mata Daisy.
bersambung
bpanya Dereck ngamuk😄😄😄