"Bukankah poligami itu sunnah, kamu orang yang taat agama kan pasti juga tahu, apa kamu tidak ingin menjalankan sunnah yang satu ini?" ujar Ita pada sang suami
Ammar awalnya hanya ingin menolong seorang wanita namun sebuah kejadian yang tak terduga membuat orang lain salah paham dan bahkan istrinya sendiri tak mempercayainya
Bukan, bukan karena sepenuhnya kejadian itu yang membuat Ammar menikah lagi, tapi juga karena rumitnya rumah tangga yang saat ini ia jalankan bersama istri pertamanya karena sang istri masih terbelenggu oleh masa lalunya
"Kalian hanya ingin bermain rumah-rumahan kan, ok saya akan temani kalian bermain" ujar Zofa lantang
Namun ketika Zofa telah memasuki rumah tangga Ammar dan Ita maka saat itu pula hati Ita berubah, terombang-ambing mengikuti arus permainan. Dan kini Ita baru menyadari bahwa ia telah menaruh hati pada suaminya sendiri
____
Hay semua Jan lupa mampir ke novel saya ya, jika sudah mampir tolong tinggalkan jejak kalian baik berupa like, comment maupun vote, thanks a lot guys, ala kuli sukri askuruki
follow ig 👉 habr_zayf
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AFI_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Poliandri Itu Haram
Zofa berjalan-jalan di area pesantren, sesekali ia menendang botol plastik yang berserakan di sana, mungkin karena hari ini banyak angin kencang maka banyak pula sampah berserakan
Para santri sedang belajar di dalam kelas masing-masing, hanya ada beberapa orang berlalu lalang, mungkin mereka guru atau petugas lainnya
Cuaca sedang mendung, seperti hatinya yang kian meredup, ia harus menerima fakta bahwa kini ia sedang bermain rumah-rumahan di rumah tangga orang lain, sesekali ia menghela nafas berat
"Assalamualaikum mbak" sapa Azril yang merupakan adik iparnya, adik kandung dari suaminya siapa lagi kalau bukan Ammar Athallah
"Waalaikumsalam" ujarnya ketus
"Aku bahkan lebih muda dari kamu empat tahun kenapa manggil mbak" ujar Zofa tak terima dirinya dianggap tua
"Saya tahu tapi ini sebagai bentuk penghormatan saya pada mbak yang merupakan istri dari abang saya" ujar Azril datar
"Oh, haruskah aku berterimakasih padamu atas penghormatan itu" ujar Zofa sinis, sepertinya ia dendam dengan keluarga Ammar
"Tak perlu mbak, kalau begitu saya permisi dulu, wassalamu'alaikum" pamit Azril
"Dasar nyebelin, kakak adik sama aja" gerutunya, ia menendang kuat botol yang kebetulan ia jumpai di bawah hingga mengenai punggung Azril
"Rasain tuh" teriak Zofa
Azril menoleh kebelakang sembari menggelengkan kepalanya "Ya Allah kuatkan abang hamba" batinnya berdoa memohon pada Allah
Cuaca semakin mendung, bahkan petir sudah saling bersahutan satu sama lain
Tes tes tes
Air mata langit mulai berjatuhan
Zofa yang sedari tadi kelilingi pondok untuk menghilangkan rasa jenuhnya segera berlari menuju rumah pimpinan pondok ini, untung ia masih hafal jalan meski tadi sempat kesasar
Baru saja melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut kini ia sudah melongos melihat dua orang yang sedang saling berpelukan
"Heem, bermesraan di depan orang jomblo itu gak baik lo" Zofa berdehem namun nampaknya mereka berdua tak merespon
"Heem"
"Heem"
Berkali-kali Zofa berdehem agar kedua sejoli itu menyadari keberadaannya
Azril menoleh ke arah kakak iparnya "Tenggorokan mbak sakit?" tanyanya
Zofa menghentakkan kakinya merasa kesal, akhirnya ia mendudukkan diri di sofa yang berhadapan dengan Azril dan istrinya
"Saya permisi ke kamar mbak, istri saya takut petir, saya mau menenangkan ia dulu"
"Ayo sayang ke kamar" ujar Azril lembut, ia malah menggendong istrinya menuju kamar di hadapan Zofa
Zofa melongo memandangi pemandangan yang ada di hadapannya ini "Beruntung banget istrinya bisa dapetin suami kayak dia" gumam Zofa pelan, lagi dan lagi ia meratapi nasibnya
***
"Kita pulang besok" ujar Ammar yang membuka pembicaraan
"Eemmm"
"Mau kemana?" tanya Ammr kala melihat istrinya memegang engsel pintu
"Cari angin" ujarnya yang langsung menghilang dari balik pintu
"Hallo mbak" sapa Rara yang tengah asyik menonton tv sembari memakan popcorn
Zofa menoleh ke sana kemari seperti sedang mencari sesuatu
"Semua sibuk mbak, ada pengajian bapak-bapak rutin malam ini" ujar Rara tanpa mengalihkan pandangannya
"Pantes sepi" ujarnya
"Lah kamu gak ikut?" tanyanya kemudian
"Maunya ikut mbak, tapi harus transgender dulu" ujar Rara yang membuat Zofa terkekeh, ia baru sadar pengajiannya untuk bapak-bapak
"Zofa saya pamit ke masjid dulu ya" ujar Ammar yang sudah siap dengan pakaian islami, baju koko, sarung, serta peci
Zofa hanya mengangguk
"Ra, titip Zofa" ujar Ammar kemudian
"Siap kak"
"Emang aku anak kecil apa pakek di titip titipin segala" gerutu Zofa yang menjatuhkan tubuhnya di samping Rara
"Assalamualaikum" pamit Ammar
"Waalaikumsalam" ujar mereka berdua kompak
"Udah kayak di bioskop aja nonton di temani popcorn" ujar Zofa yang melirik ke arah Rara
"Iya tadi maunya nonton film horor"
"Terus kenapa gak jadi?"
"Takut tapi penasaran"
"Ayo nonton aku suka film horor" ujar Zofa antusias
"Ya udah yuk, tapi... takut" ujar Rara bergidik ngeri
"Kan nontonnya berdua"
Akhirnya Rara menyetujui permintaan Zofa, kini mereka menonton film horor dengan lampu di matikan, kata Zofa biar suasananya persis di bioskop
"Akkkhhh" sesekali Rara menjerit-jerit, sedangkan Zofa hanya memasang wajah terkejut dengan jeritan yang tertahan
"Mbak udah datang belum hantunya?" tanya Rara yang menyembunyikan wajahnya di balik bantal yang ia peluk
"Kayaknya bentar lagi deh ra"
"Mbak"
"Sabar ra aku juga deh deg an"
"Akkhhhhhhhh setannnnnnn" kedua orang itu berteriak dengan keras kala ada sesuatu yang menyentuk pundak mereka
Sontak membuat kedua pelaku penyentuhan pundak tersebut berjalan ke depan menghampiri istri mereka masing-masing
"Suuuut sayang ini mas" ujar Azril, ia membawa Rara dalam dekapannya
Begitupula Ammar, setelah mendapat kode dari Azril untuk mengikuti pergerakannya akhirnya ia membawa Zofa kedalam pelukannya, ini pertama kali ia memeluk tubuh Zofa
Namun
Rara dan Zofa sama-sama mendorong tubuh suaminya
"Mas apa-apaan sih bikin kaget aja"
"Kamu apa-apaan sih bikin kaget aja"
Rara dan Zofa kompak memarahi suaminya, bukannya senang mendapat pelukan mereka malah mendengus kesal, bagi mereka jantung mereka lebih berharga dari sebuah pelukan yang katanya itu suasana romantisme
"Ya lagian kamu ngapain nonton film horor gini, awas nanti ke kamar mandi minta temenin mas" ujar Azril
"Ya namanya orang penasaran" Rara menggerutu mendengar omelan suaminya
"Ini makan nasi kotaknya, mas sama bang Ammar mau balik ke masjid lagi" ujar Azril yang menaruh dua kotak nasi di hadapan Rara dan Zofa
Setelah kedua orang itu pergi mereka mematikan tv, sudah hilang moodnya dalam menonton film horor karena ulah suami mereka
"Ra" panggil Zofa
"Mmmm"
"Kenapa ya nasib ku gini amat" ujar Zofa, ada pancaran kesedihan yang Rara tangkap dari mata tersebut
"Sabar ya mbak, sabar itu pasti berbuah manis, nanti kalau buahnya banyak bagi-bagi ya"
"Issss aku serius, kenapa sih kita gak boleh melakukan poliandri kan gak adil kalau cuma kaum pria doang" gerutu Zofa
"Dulu aku juga berpikir gitu mbak, tapi aku sudah mendapatkan jawabannya" ujar Rara
"Kenapa?"
"Karena ditakutkan adanya masalah dalam menentukan ayah dari anak yang dikandung istrinya"
"Kan bisa melakukan tes DNA"
"Nah dulu aku juga berpikir kayak gitu zaman sekarang bisa melakukan tes DNA, tapi ternyata kita juga harus menjaga kemurnian keturunan agar tidak bercampur aduk, lagipula fisik dan psikologis wanita tuh lebih lemah dari kaum pria, bayangkan aja mbak punya suami 4, nah tiap malam mbak di gilir melakukan hubungan itu satu suami belum tentu lo satu kali puas bisa jadi minta beberapa kali, bisa kebayangkan betapa lelahnya"
"Issss ngeri juga ya" Zofa bergidik ngeri meski ia tak tahu rasanya karena memang belum pernah sama sekali
"Terus juga katanya wanita tuh lebih rentan terkena virus kela*** makanya Islam menentangnya, terus masih banyak juga alasan lainnya"
Zofa mencerna perkataan Rara, ya pasti ada alasan di balik larangan dalam suatu hal
"Udah yuk makan, biar punya tenaga menghadapi banyak beban yang sedang menunggu" ujar Rara yang membuka kotak makan
"Kamu gak akan pernah tahu apa yang aku alami ra, makanya kamu gampang dalam menasehati orang" ujar Zofa yang mulai berdiri dan berjalan ke kamar
"Iya mbak, aku memang tidak pernah mengalami apa yang mbak alami, tapi jangan lupa mbak juga gak pernah mengalami apa yang aku alami" teriak Rara agar Zofa dapat mendengarnya
Beberapa menit kemudian Zofa berjalan dan duduk di samping Rara
Rara melirik ke arah Zofa "Laper ra" ujar Zofa yang membuka kotak makanannya, dan ikut melahap makanan bersama Rara
***
Selamat membaca semuanya Jan lupa tinggalkan jejak, like comment and vote thanks all, see you next episode, Ilal iqo' 👋