Perjodohan, pernikahan yang tidak didasari cinta ini hanya mempunyai dua kemungkinan. Saling jatuh cinta dan ikatan pernikahan itu akan abadi, atau berpisah karena kecocokan itu tidak kunjung terlihat.
Wanita yang berdiri di atas tempat tidur dan menghadap figura besar di dinding, batinnya bergejolak. Diusapnya figura itu pertanda dia sudah memantapkan hati dan keputusannya.
"Divina...."
Suara itu membuat sang wanita berbalik dan mengulas senyum lembut, membuat laki-laki yang tadi memanggilnya itu merasa resah.
>>> Hihi.... Cerita baru, padahal yang lama masih belum juga dilanjut👉🏻👈🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainuru Fitori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Besar
Seorang wanita tampak berlari meyusuri lorong rumah sakit, di belakangnya ada sang suami dan beberapa bodyguard yang mengikuti. Wanita itu langsung saja membuka pintu sebuah kamar khusus hingga membuat dua orang di dalam sana terkejut.
"Divina, anak Mama!" Dira langsung menangis dan memeluk erat putrinya yang sedang duduk di atas brankarnya.
Divina membalas pelukan itu sama eratnya. Rasa hangat dan nyaman dari pelukan mamanya seolah membuat semua beban yang menghimpit pundaknya terbang begitu saja. Rasanya lega dan, ahh... Sulit untuk dikatakan. Bukankah pelukan sang Ibu memang yang paling nyaman?
Pelukan terlepas, Dira mengusap air mata di pipi putrinya itu. Pipi yang tampak bulat daripada sebelumnya. Wanita itu tersenyum, perubahan pada tubuh putrinya itu pasti karena kehamilannya.
"Kita pulang, ya. Kamu dirawat di rumah aja, lebih aman." Dira langsung mengutarakan apa yang ada di pikirannya saat ini. Tempat ini bukanlah tempat yang aman untuk Divina. Seringkali datang para pebisnis organ manusia ke sini.
Dio yang berdiri di belakang Dira, maju mendekati Divina. Diusapnya puncak kepala putrinya itu dan tersenyum.
"Kita pulang, ya. Buah sawo di rumah udah pada matang, lho, Div." Pria yang tak lagi muda itu tertawa yang membuat Divina ikut tertawa.
Divina mengangguk dan Dio segera meminta perawat untuk melepaskan infus yang masih melekat di tangan Divina. Barang-barang Divina sudah dikirim ke rumah oleh pamannya atas permintaan Dio.
Akhirnya, siang itu Divina dibawa pulang. Setelah sebelumnya berada di rumah sakit itu selama dua hari. Sampai sekarang, Revan masih belum bisa menemukannya.
Setelah menempuh dua jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah. Divina memandangi rumah yang jarang dia datangi sejak menikah itu. Hari ini dia kembali, namun membawa hati yang terluka begitu dalam. Ternyata rumah ini masih menerimanya walau dia datang hanya ketika terluka seperti saat ini saja.
Dira membawa Divina ke kamar yang sudah dia siapkan untuk perawatan bumil itu. Di ruangan yang begitu lengkap dengan alat medis itu, Divina kembali dipasangkan infus.
"Ma, nggak mau." Bumil itu merengek karena takut, tangan Dira dia genggam begitu erat.
"Nggak apa-apa, sakitnya kan cuma sebentar." Mengelus lembut tangan putrinya itu dan mengajak berbincang tentang kesehatan ibu hamil agar rasa takut Divina teralihkan.
Infus telah terpasang, Divina sempat meringis ketika jarum itu menusuk punggung tangannya tadi.
"Istirahat, ya. Mama mau ngurus keperluan kamu yang lain dulu." Dira mengusap kepala Divina sebelum keluar.
Ruangan itu sekarang begitu hening, Divina pun termenung. Sudah dua hari dia pergi dari rumah Revan, meninggalkan suaminya itu agar tidak terluka lagi.
Divina menghembuskan napas panjang, dia menutup matanya. Lebih baik dia tidur. Perjalanan tadi membuatnya lelah dan perlu istirahat agar janin mungilnya tetap sehat.
*****
Seusai makan malam, Divina meminta agar kedua orang tuanya dan kakaknya berkumpul di kamarnya. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada mereka semua.
"Divin mau tinggal di Swiss," ujarnya yang sontak membuat ketiga manusia di sana membulatkan mata mereka.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Devandra yang langsung duduk tegap.
"Divin butuh ruang untuk sendiri, menikmati proses-proses kehamilan di tempat yang menenangkan. Dan Swiss adalah pilihan terbaik buat Divin," jelas bumil itu tentang ucapannya sebelumnya.
"Sendiri? Kamu kan lagi hamil, Div." Dio angkat bicara soal rencana putrinya itu.
"Ya karena itu Papa Mama harus sering-sering datang," balas bumil itu membuat Dio dan Devandra saling pandang. "Walau Divin bilang sendiri, tapi kalian harus sering datang berkunjung."
Sejenak mereka semua terdiam. Dio, Dira, dan Devandra yang sedang menimbang-nimbang apakah aman untuk Divina pindah ke Swiss. Dan bumil itu yang menunggu jawaban dari ketiga orang tersebut.
"Baiklah, kami setuju. Tapi kamu harus diawasi bodyguard 24 jam." Dio menatap putrinya yang juga sedang menatapnya.
Divina mengangguk dan tersenyum. "Iya."
*****
Divina tampak melamun memandangi layar hpnya yang memperlihatkan sebuah foto. Satu-satunya foto dia dan Revan berdua, foto resepsi pernikahan mereka. Bahkan untuk berfoto itu saja tidak ada senyuman yang terlihat dari bibir suaminya, hanya dia yang memamerkan senyum lebar.
"Div."
Divina langsung mematikan hpnya dan meletakkannya di atas nakas.
Dira duduk di pinggir brankar Divina, bisa dia lihat jejak air mata yang berusaha disembunyikan putrinya itu.
"Udah tengah malam, kenapa belum tidur?" tanyanya sambil memperbaiki selang infus Divina yang tampak memerah karena darah di bagian ujung yang menusuk punggung tangan putrinya itu.
"Nggak bisa tidur," balas Divina lirih.
"Mau Mama temenin?"
Divina mengangguk. Dia bergeser hingga Dira bisa berbaring di sampingnya. Pelukan hangat dan elusan lembut di kepalanya dia dapatkan.
"Ma, katanya cinta itu hadir karena terbiasa. Tapi selama dua tahun ini, kenapa cinta itu belum juga hadir buat Divin?" Mata bumil itu tampak berkaca-kaca, kalimatnya sendiri membuat hatinya kembali terasa perih.
Hati Dira sakit, kenapa putrinya harus merasakan semua ini? Perjodohan yang mereka lakukan bertujuan untuk mempererat hubungan dua keluarga yang sudah dekat begitu lama. Namun keputusan itu salah, salah satu dari anak mereka harus terluka karenanya.
"Maafin Mama, ya,Sayang." Tangisan penyesalan seorang ibu atas semua yang dialami oleh putrinya. Diusapnya punggung Divina dengan lembut.
Divina mendonggakkan kepalanya menatap sang Mama. "Mama nggak salah, kok. Divin aja yang terlalu naif, berpikiran kalau selama ini mas Revan mencintai Divin."
Mengeratkan pelukannya, Divina menghirup aroma tubuh Dira yang membuatnya merasa bertambah nyaman. Matanya mulai terasa berat.
"Semua kebutuhan kamu sudah siap. Kita akan berangkat besok siang." Dira mengecup kening Divina dua kali sambil tersenyum.
Mata yang sempat tertutup, sekarang kembali terbuka. Berat, namun dia sudah memantapkan hatinya untuk pergi sejauh mungkin. Terkesan pengecut memang, namun Divina bukan wanita yang tahan jika dibanting puluhan kali. Dia sudah bertahan selama dua tahun, bukan waktu yang sebentar tentunya.
"Lauterbrunnen, tempat yang paling ingin kamu jadikan tempat singgah!" imbuh Dira semangat membuat Divina mengangguk senang.
Lauterbrunnen, nama lembah sekaligus desa kecil yang terletak sekitar 70km dari kota Bern, Swiss. Tempat yang begitu asri yang sejak dulu ingin Divina jadikan sebagai tempat singgah untuk waktu yang lama.
"Ini permintaan kamu yang paling berat kami setujui. Tapi kami mengerti kalau kamu butuh waktu."
Divina mengusap air mata yang sama sekali tidak dia sadari sudah membanjiri pipinya.
"Elus kepala Divin, ya, Ma." Kalimat terakhir sebelum akhirnya bumil itu tertidur.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
utk divina kl ada sesuatu yg ganjal di hati/sebuah pertanyaan utk sang suami hrus diutarakan/ditanyakan langsung,krn sebuah hubungan hrus sling terbuka gak bisa klo cuma diem di batin aja, krn zaman skg sdah jrang org puya ilmu kebatinan,iya gak sodara2..??!!
good job thor, ttp smangat n Fighting ✊✊✊