Dalam perang dunia ke-3, semua penyihir dan esper di dunia di kerahkan oleh masing-masing negara. Seorang pemuda yang awalnya hanya merupakan seorang korban penculikan dan dijadikan tawanan perang, pada akhirnya menjadi seseorang yang akhirnya menghentikan perang tersebut.
Dia memiliki kekuatan fisik, dan teknik bertarung yang tinggi. Dia juga memiliki kemampuan untuk melenyapkan segala kekuatan-kekuatan abnormal yang biasanya hanya ada di film-film atau dunia fantasy. Dengan kekuatan dan keahlian bertempurnya, dia menghentikan peperangan tersebut seorang diri.
Setelah perang usai, beberapa tahunpun telah berlalu dan pemuda itu memulai kehidupan normal yang dia inginkan. Namun, suatu hari dia bersama teman-temannya dipanggil ke dunia lain. Dunia yang dipenuhi dengan monster, sihir, dan juga keberadaan-keberadaan makhluk dunia fantasy lainnya.
Disinilah awal dari legenda seorang pemuda yang akan menjadi Raja dari para Raja, Raja dari para Dewa dan Raja bagi seluruh duniapun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAEFUL ADAM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 – Niat Membunuh & Alasan Don
Setelah aku kembali melenyapkan serangan yang dilancarkan Don, semua orang tercengang.
“… A … apa yang … apa yang sebenarnya telah kau lakukan, sialan!!!”
Don jadi begitu panik. Dia berjalan mundur sambil bergetar ketakutan, menjauh dariku dengan cepat dan akhirnya terjatuh.
“Hahh~ … bukankah sudah kubilang padamu sebelumnya! … Kekuatan penyihir dan esper, tidak akan mempan terhadapku!”
Aku berkata sambil mendekatinya. Aku tak punya pilihan lain lagi. Aku kesal sekarang, jadi mari kita beri dia sedikit pelajaran yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
Sambil berjalan, aku mengeluarkan sedikit niat membunuh dan mengarahkannya pada Don.
Dalam sekejap, aura Lenka berubah drastis. Sebuah aura yang sangat mengerikan, yang sangat tebal dan gelap keluar dari dalam tubuhnya.
“”!!!!?“”
Aku hanya sedikit mengeluarkan niat membunuh, namun bukan hanya Don yang merasakan efeknya, semua orang merasakannya.
Tubuh mereka bergetar secara tidak wajar, keringat dingin mengucur dengan deras, jantung mereka berdetak begitu cepat, udara di ruangan menjadi sangat berat, tekanannya membuat mereka menjadi sangat kesulitan untuk bernafas.
Tidak ada yang bisa berbicara dan tidak ada yang bisa bergerak dari tempatnya. Mereka semua hanya diam memperhatikanku yang berjalan dengan perlahan mendekati Don.
Mereka melihatku seperti melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang mengerikan dan sangat menakutkan, yang memberikan mereka perasaan teror yang begitu besar.
Aku sudah sering melihat tatapan-tatapan itu di masa lalu. Mereka melihatku seperti … melihat "Kematian" itu sendiri.
Tekanan dari niat membunuh yang kukeluarkan sangat intens dan terlalu berat untuk mereka semua tangani.
Ketika aku sampai di depan Don, aku berhenti dan tidak berbicara sama sekali. Aku hanya menatap Don dengan dingin.
Ketakutan semua orang semakin besar dan membesar, hingga pada akhirnya mereka mencapai batasnya.
Mereka tidak bisa berhenti gemetar. Mereka yang sebelumnya berdiri akhirnya terjatuh, kaki mereka sudah tidak bisa lagi menopang tubuh mereka karena rasa takut yang berlebihan.
Ketika aku menatap Don dengan sangat dingin, semua orang tiba-tiba saja lupa untuk bernafas. Terutama Don, dia adalah target sebenarnya dari niat membunuh yang kukeluarkan.
Don merasakan puluhan kali dari apa yang dirasakan oleh semua orang. Don tanpa sadar telah mengompol di celana. Aku menyadarinya, namun tidak memperdulikannya.
Semua orang memiliki pikiran yang sama. Hanya ada satu pikiran yang muncul di kepala mereka, dan pikiran itu ditujukan untuk Don ….
“”Ah! … dia sudah mati!””
Namun, tidak seperti yang semua orang pikirkan. Aku tidak benar-benar berniat untuk membunuh Don, aku hanya ingin memberikan pelajaran yang tidak akan pernah bisa Don lupakan seumur hidupnya.
Aku hanya ingin memberitahu Don, bahwa di dunia ini ada orang yang seharusnya tidak boleh dia ganggu, ada orang yang seharusnya tidak boleh terusik sedikitpun, dan ada orang yang seharusnya tidak boleh sampai dia buat marah demi keselamatan hidupnya sendiri ataupun orang lain.
Setelah beberapa saat terdiam, aku memutuskan untuk berbicara ... “Apakah kau sudah selesai dengan semua ini? … Dengan sikapmu ini, aku yakin kakek Ivan akan sangat kecewa terhadapmu!”
“ … Ah!?“
Don terkejut ketika mendengar nama orang yang kusebutkan, namun dia tidak bisa menjawabnya. Karena tekanan yang kukeluarkan telah membuatnya menjadi bisu dan dia hanya bisa membuka tutup mulutnya.
Setelah melihat keputusasaan Don, akhirnya aku menarik kembali niat membunuhku. Tekanan pembunuh menghilang dan atmosfer kembali normal. Semua orang dapat kembali ke akal sehatnya masing-masing dan kembali bernafas dengan lega.
“”Heuuuuuk!!!””
Mereka semua mengambil nafas dalam-dalam, mereka terlihat seperti seseorang yang baru saja dicekik dengan kuat.
Meskipun telah lepas dari takanan kuat sebelumnya, mereka semua masih tidak bisa menghilangkan perasaan takut mereka. Tubuh mereka masih lemas dan belum berhenti gemetar, nafas mereka juga tersengal-sengal.
Saat melihat mereka semua, aku jadi merasa sedikit bersalah ... “ Padahal, aku mengarahkannya hanya kepada Don. Kenapa yang lainnya juga ikut kena dampaknya?”
Niat membunuh yang kukeluarkan tadi, hanyalah 1% dari niat membunuhku yang sebenarnya. Apa yang akan terjadi jika aku mengeluarkan 100% -nya? Bukankah mereka semua akan mati kutu?!
Aku menghela nafas panjang dan berkata dengan serius ... "Hahh~ ... aku ingin tidur. Jadi, mari kita selesaikan ini!”
Gulp!
Semua orang menelan ludah saat mendengar perkataanku. Dilihat dari ekspresi mereka, sepertinya mereka berpikir kalau aku akan menyelesaikannya dengan membunuh Don.
Maaf jika aku mengecewakan kalian, aku tidak pernah berpikir untuk membunuhnya.
“Yoshi, Rex, Rob, Arthur, Lucy, Vina, Yumi, Don, Kali, Carl, Sati dan Mei! … Dengarkan aku!” Aku memanggil nama mereka semua satu persatu. Lalu ....
“Aku tidak akan membantu kalian dalam misi kalian sebagai Pahlawan. Aku tidak tahu apa yang akan kalian lakukan kedepannya sebagai Pahlawan, tapi jangan libatkan aku ke dalam urusan kepahlawanan kalian di dunia ini. Karena aku hanya ingin hidup dengan damai dan tenang."
Setelah itu, Aku diam sesaat, lalu mengarahkan pandanganku pada Don dan gengnya ...
"Khusus untuk kalian, Don, Kali, Carl, Sati dan Mei! … Aku ingin kalian bisa bekerja sama dengan Yoshi dan yang lainnya. Jika kalian berbuat onar atau mencoba untuk mencelakai kawan-kawanku ... akan kupastikan, hanya neraka yang akan menunggu kalian semua!"
Mendengar perkataanku yang tegas dan mengandung ancaman, mereka mengangguk berulang kali dengan cepat. Lalu, aku mengalihkan pandanganku pada Yoshi ....
"Yoshi! … Kau juga harus bisa memimpin mereka dengan baik, jangan sampai kau melakukan kesalahan yang akan membuat teman-teman kita mati! … Apa kalian semua paham!?”
Mendengar seruanku, Mereka menganggukkan kepala mereka beberapa kali dengan cepat.
Mendengar perkataanku yang seolah-olah akan pergi meninggalkan mereka. Yoshi pun bertanya ....
“Tapi, apa yang akan kau lakukan? Kenapa tiba-tiba kau mengatakan itu?”
“Aku akan pergi besok, aku ingin melakukan perjalanan untuk mengelilingi dunia ini, sekaligus mencari informasi tentang cara agar kita bisa kembali ke Bumi!”
“Jadi begitu, ya!”
Mendengar jawabanku, Yoshi dan yang lainnya hanya bisa tersenyum kesepian.
“ … Tapi, bukankah terlalu cepat untuk pergi! Kita baru saja sampai di dunia ini, dan kau akan langsung pergi besok? … Kenapa tidak beristirahat dulu disini, setidaknya selama beberapa hari!” Lucy berkata dengan sedih dan menunjukkan ekpresi seperti akan menangis.
“ … Akan kupikirkan itu! … Tidak ada lagi yang mau mengatakan sesuatu? … Jika tidak ada, aku akan kembali ke kamarku. Sampai jumpa besok!”
Aku kembali ke kamarku dan meninggalkan mereka semua.
****
Ketika telah keluar dari kamar Yoshi. Untuk beberapa saat, suasana masih dalam kesunyian. Tidak ada yang berbicara ataupun bergerak dari tempatnya, sampai seseorang memecahkan kesunyian tersebut.
“ … Waw! Aku tidak pernah menyangka, kalau suatu hari aku akan merasakan bagaimana rasanya berada dihadapan kematian! Apalagi perasaan itu datang dari temanku sendiri!" Kata Rob sambil memandang langit-langit.
"Aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian hari ini! Tadi benar-benar sangat menakutkan, aku tidak akan pernah mau merasakannya lagi!” Kata Arthur sambil mengusap keringat di dahinya. Dia gemetaran ketika mengingat kejadian sebelumnya.
“” … Hahahahaha!!!”” Yoshi dan yang lainnya hanya tertawa masam mendengarnya. Mereka juga merasakan hal yang sama dengan Arthur.
Padahal, Adam hanya berniat untuk memberikan pelajaran pada Don. Namun hasilnya malah membuat semua orang jadi mendapatkan pelajaran yang sama.
Setelah itu, tidak ada yang mengatakan apapun lagi. Suasana kembali sunyi. Tak lama kemudian, Yumi mulai berdiri dan mendekat pada Don ….
“ … Apa yang kau inginkan?”
“Aku hanya ingin bertanya, kenapa tadi kau begitu tak terkendali? Kenapa kau begitu membenci Adam sampai kau ingin membunuhnya?”
Don terlihat masih sangat lemas, namun Yumi tak mempedulikan keadaannya dan tetal bertanya dengan tatapan yang dingin.
Dia tidak mengerti, kenapa Don begitu membenci Adam? Kenapa dia sampai bertindak terlalu berlebihan seperti sebelumya? Dia yakin, bahwa Adam tidak pernah membuat masalah apapun sejak berada di akademi.
Mereka semua baru mulai sekolah di akademi sejak beberapa bulan yang lalu, dan sejak Adam berada di akademi, Adam selalu bersama dengannya dan yang lainnya.
Tidak pernah sekalipun dia melihat Adam melakukan sesuatu yang membuat orang membencinya.
Lagipula, Adam itu pemalas. Dia lebih sering berdiam diri di kamarnya untuk membaca manga atau menonton anime dan jarang keluar. Kecuali, jika seseorang mengajaknya keluar untuk urusan yang penting.
Adam juga selalu menginginkan kehidupan yang damai dan tenang agar dia bisa hidup dengan santai. Jadi, mana mungkin orang seperti dia sengaja membuat orang lain membencinya. Itu hanya akan membuatnya jauh dari kehidupan yang dia inginkan.
Yoshi dan yang lainnya mendengar apa yang ditanyakan oleh Yumi, dan mereka juga ingin tahu apa alasannya.
Bahkan, Kali, Carl, Sati dan Mei yang merupakan gengnya sendiri, tidak tahu alasan kenapa Don bisa sangat membenci Adam.
Sebenarnya, mereka juga tidak pernah ingin mengganggu Adam. Jika bisa, sejak awal mereka ingin menjadi teman dari pada musuh dengannya. Namun, mereka tidak berani melawan perintah Don. Jadi mereka terpaksa ikut mengganggu Adam.
Mereka sudah mengenal Don sejak mereka masih kecil, dan mereka juga sudah mengikutinya dan menganggapnya sebagai pemimpin.
Mereka tidak pernah meragukan apapun tentangnya, karena sejak kecil mereka selalu ditolong olehnya, mereka jadi sangat menghormatinya.
Tapi, itu tidak mengubah fakta bahwa mereka juga merasa Don telah berlebihan kepada Adam. Sebenarnya, Don bukanlah orang yang suka mengganggu orang lain. Justru sebaliknya, Don selalu menolong mereka yang lemah.
Meskipun dulu mereka hidup kesusahan, mereka tidak pernah melakukan hal-hal seperti mengganggu yang lemah.
Namun, sejak perang dunia berakhir dan mereka mendapatkan sebuah bantuan yang sangat besar dari pemerintah dunia, kehidupan mereka mulai sangat membaik. Dan sejak saat itu, sikap Don mulai berubah.
Setelah mendengar pertanyaan Yumi, Don terdiam untuk sesaat, lalu dia menjawab, “Kau benar juga, aku memang sudah terlalu berlebihan.” Don mengatakannya sambil tersenyum masam.
Semua orang terkejut dengan jawaban Don, mereka tidak menyangka kalau Don akan mengakui kesalahannya. Lalu, Don kembali melanjutkan ....
“Sebelum perang dunia berakhir, aku dan juga kawan-kawanku bukanlah berasal dari keluarga yang kaya dan berpengaruh seperti sekarang … “ Don mulai menceritakan masa lalunya.
Sebelum perang dunia terjadi, keluarga Don dan kawan-kawannya hanyalah keluarga yang sederhana. Don dan kawan-kawannya, tidak memiliki kekuatan apapun, mereka hanyalah orang biasa yang hidup dengan normal. Mereka sangat menikmati kehidupannya.
Don memiliki seorang kakek berkemampuan spesial. Kakeknya adalah seorang "Esper", dan dialah yang memberikan kekuatan dan mengajarinya cara mengendalikan kekuatan tersebut.
Begitu juga dengan kawan-kawannya, mereka memiliki beberapa anggota keluarga yang berkemampuan spesial juga. Dari merekalah, Don dan kawan-kawannya mendapatkan kekuatan dan belajar cara mengendalikannya.
Setelah mereka cukup menguasainya, mereka menggunakan kekuatan itu untuk menolong orang lain. Tidak pernah sekalipun mereka menggunakannya untuk mengganggu orang lain. Mereka sangat menikmati kehidupan saat itu.
Namun, perang dunia pun terjadi. Mereka ikut menjadi korban dalam perang tersebut. Mereka kehilangan rumah dan beberapa anggota keluarga.
Orang-orang yang telah mengajari mereka untuk menjadi seorang "Esper", pergi ke medan perang dengan tujuan mengakhiri perang tersebut.
Bagi Don dan kawan-kawannya, mereka adalah guru yang sangat hebat. Jadi, Don dan kawan-kawannya percaya bahwa guru-gurunya akan bisa melakukannya.
Mereka juga ingin ikut, namun mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk ikut serta dalam perang tersebut.
Jadi, mereka ikut mengungsi ke tempat yang aman bersama keluarga mereka yang lainnya. Sejak saat itu, hidup mereka menjadi serba kesusahan.
Mereka tinggal di tempat pengungsian yang selalu kekurangan makanan, hingga mereka terkadang harus saling berebut dengan orang lain.
Mereka juga terus berpindah-pindah tempat, karena tempat pengungsian yang mereka tinggali, selalu menjadi target dari tentara-tentara musuh yang jahat.
Mereka tetap bersabar karena percaya dengan janji dari guru-gurunya, bahwa mereka akan mengakhiri perang tersebut. Namun setelah berbulan-bulan, tidak ada sedikitpun kabar dari mereka. Sampai pada akhirnya, perang dunia berakhir setelah lebih dari satu tahun berlangsung.
Mereka berpikir bahwa guru-gurunya lah yang telah mengakhiri perang tersebut, dan menunggu kepulangan mereka. Namun sayangnya, ketika guru-guru mereka kembali dari perang, mereka kembali dalam keadaan yang sudah tak bernyawa.
Saat itu, mereka semua merasakan perasaan sedih yang mendalam, karena guru-guru mereka yang sekaligus keluarga mereka telah meninggal dalam keadaan yang sangat tragis. Tubuh mereka rusak seperti di koyak atau di cakar oleh binatang buas berukuran sangat besar.
Lalu, orang-orang yang mengirimkan jasad guru-guru mereka kembali, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka sangat terkejut, setelah mendengar penjelasan dari orang-orang yang berasal dari kepemerintahan dunia itu. Ternyata, guru-guru mereka telah melawan makhluk buas mengerikan yang tidak dikenal dan tewas dalam pertarungan.
Itu adalah saat ketika seluruh dunia berguncang dan mengalami bencana besar. Mereka tidak mengira, bahwa bencana tersebut disebabkan oleh pertarungan dari makhluk itu dan satu-satunya orang yang tersisa.
Dan orang yang melindungi jasad guru-guru mereka serta meminta orang-orang dari kepemerintahan dunia untuk mengembalikan jasad-jasadnya kepada mereka adalah satu-satunya orang yang tersisa itu, dia telah berhasil mengalahkan makhluk itu.
Dia adalah rekan guru-guru mereka dan juga pahlawan yang telah berhasil mengakhiri perang dunia. Orang-orang dari kepemerintahan dunia memberikan sepucuk surat dari orang itu, dalam surat itu tertulis ….
“Halo, keluarga rekan-rekanku. Maaf, karena aku tidak bisa mengembalikan jasad-jasad anggota keluarga kalian secara pribadi, dan malah meminta kepada orang-orang dari kepemerintahan dunia untuk melakukannya.
Aku bingung, rekan-rekanku tidak pernah menceritakan keluarganya padaku, itu karena kami selalu disibukkan oleh perang. Jadi, aku terpaksa meminta kepada para pemimpin dunia untuk mengembalikan jasad-jasad mereka kepada kalian.
Aku juga ingin minta maaf, karena tidak bisa menjaga tubuh mereka tetap utuh. Musuh yang kami lawan saat itu terlalu kuat.
Meskipun mereka tidak menceritakan tentang kalian, setidaknya aku tahu keadaan kalian sedang kesulitan karena perang ini. Jadi, kalian tidak usah khawatir, aku telah meminta kepada para pemimpin dunia untuk membantu kalian.
Hanya itu yang bisa kulakukan untuk kalian. Aku juga ingin kalian tahu, bahwa aku bisa bertahan sampai sekarang dan berhasil mengakhiri perang adalah karena jasa dari anggota keluarga kalian yang telah mengajarkanku banyak hal.
Terima kasih.”
Dia tidak menyebutkan namanya, dan sepertinya orang ini tidak tahu caranya menulis surat yang benar. Isinya sangat sederhana, namun Don dan kawan-kawannya beserta seluruh keluarganya sangat menghargainya.
Bukan hanya telah membantu memenuhi janji mereka untuk mengakhiri perang dan mengembalikan jasad mereka. Dia juga meminta kepada pemerintah dunia untuk memberikan bantuan yang besar pada keluarga mereka.
Mereka sangat berterima kasih kepadanya dan tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikannya.
Sejak saat itu, Don dan kawan-kawannya beserta seluruh keluarganya memiliki rasa hormat yang sangat besar terhadap orang itu, dan berharap bisa bertemu dengannya.
Lalu, 2 tahun pun berlalu. Berkat dari bantuan pemerintah dunia, mereka bisa bangkit dan naik ke puncak. Kini, keluarga mereka telah menjadi orang yang terpandang dan kaya. Orang tua mereka telah menjadi anggota dari kepemerintahan dunia.
Untuk Kali, Carl, Sati dan Mei, sikap mereka tidak pernah berubah sejak dulu, mereka hanya sedikit lebih dewasa. Namun sejak hidup dengan mewah dan berkuasa, sikap Don telah berubah.
Bahkan, orang tua mereka yang telah menjadi anggota dari kepemerintahan dunia juga memiliki perubahan sikap yang cukup besar.
Mereka menjadi sombong dan suka merendakan orang lain. Sebenarnya, Kali, Carl, Sati dan Mei sedikit kecewa dengan perubahan sikap mereka.
Namun, mereka tidak berani mengatakannya. Kekuatan Don dan kawan-kawannya telah meningkat karena mereka juga tidak pernah lalai dalam berlatih, dan mereka masuk ke EIYUU : Academy All World.
Disana mereka bertemu dengan seseorang yang bernama Adam, dan dia adalah satu-satunya yang tidak memiliki kekuatan sebagai "Penyihir" ataupun "Esper".
Don yang harga dirinya telah menjadi sangat tinggi, tidak suka dan tidak setuju kalau Adam berada di akademi itu.
Dia telah meminta kepada para petinggi akademi dan juga orang tuanya untuk mengeluarkan Adam dari akademi. Namun, permintaannya ditolak dengan keras. Dia malah mendapatkan respon yang buruk dari mereka.
Sejak saat itu, Don mulai membencinya. Apalagi, saat dia melihat perlakuan dari para petinggi akademi dan para petinggi negara yang sangat memperlakukannya dengan sangat hormat, dia menjadi lebih dan lebih membencinya.
Dia dibutakan oleh rasa iri dan cemburu, sehingga kebenciannya semakin terus meningkat dan mulai terus mengganggu Adam.
Lalu, saat dia dan semua orang dipanggil ke dunia lain, dia mendengarkan cerita Adam yang mengaku kalau dirinya adalah orang yang telah mengakhiri perang.
Saat itulah, kebenciannya mencapai puncaknya. Orang yang telah mengakhiri perang adalah pahlawan yang dia sangat hormati dan kagumi. Dia tidak terima ketika Adam mengaku sebagai orang itu. Lalu, dia pun akhirnya lepas kendali.
Namun akhirnya, dia dikalahkan secara telak dan memalukan olehnya. Setelah kekalahannya, dia mulai menyadari kalau dirinya telah salah. Dia mulai sadar kalau dirinya telah sangat berubah. Dia mulai menyesali semua perbuatannya.
Dia juga mengakui kalau Adam memanglah pahlawan yang telah mengakhiri perang dan membantu mereka. Adam mengetahui nama kakeknya yang tidak pernah dia sebutkan, dan itu sudah menjadi bukti kebenarannya.
“ … Karena itulah, aku benar-benar menyesalinya. Aku sangat malu, aku tidak menyangka kalau orang yang telah kuganggu dan berniat untuk kubunuh sebelumnya adalah dermawanku yang sebenarnya. Dengan semua yang telah kulakukan, aku berhak mati sebagai hukumannya.”
Don berkata sambil menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan. Dia terdengar seperti akan menangis.
Semua orang yang mendengarkan cerita dan pengakuan Don, hanya bisa terdiam tanpa kata. Suasana kembali menjadi sunyi.
Namun, setelah beberapa saat, seseorang memecahkan kesunyian itu lagi. Kali ini, dia adalah Yoshi ....
“Aku tahu kalau perasaanmu saat ini sedang dipenuhi dengan penyesalan. Tapi, jika kau tidak ingin kulaporkan pada Raja, sebaiknya kau segera berdiri dan bersihkan semua kekacauan yang telah kau lakukan di kamarku ini! Baru kau mandi setelah itu, kau kencing di celana, kan?”
Mendengarnya, Don menutupi seluruh wajahnya karena malu.