Di khianati, adalah satu kata yang paling menyakitkan. Bagaimana pria yang tak lagi punya rasa cinta itu bisa menjerat para wanita dalam pesonanya?
Ketulusannya terhadap Echa putri tirinya membuat Arfian menjadi pria paling di idamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Sena memperhatikan wajah Arfian, merasa jika ada yang aneh. Luka lebam di pipi nya dan ujung bibirnya yang sobek membuat Sena penasaran, kenapa Arfian bisa terluka seperti itu. Dengan perlahan dia menurunkan Echa dari pangkuannya.
"sayang sebentar ya?" Bisik ya.
Gadis itu mengangguk dan kembali bermain dengan boneka-boneka yang ada di sana.
Sena mengambil kotak obat lalu segera duduk di samping Arfian yang tengah sibuk memainkan ponselnya.
"pak Arfian..." Panggilan Sena mengejutkannya, dengan cepat dia berpaling dan hampir saja terjerembab karena posisi wajah Sena yang begitu dekat.
"aah..apa ada sesuatu?" Tanya Arfian.
Sena tersenyum lalu tanpa mengatakan apapun langsung mengoleskan kapas yang sudah di tetesi alkohol ke luka kecil di sudut bibir Arfian.
"eeummm..." Arfian meringis. "apa yang..."
"diamlah, luka bapak harus di obati." Sena menahan Arfian agar tak bergerak.
Arfian menelan ludahnya, wajah Sena begitu dekat hingga membuatnya gugup.
"Selesai." Ujar Sena.
Mendengar kata itu Arfian menghembuskan nafas lega. Sena meletakkan kembali botol alkohol nya kedalam kotak.
"wajah bapak kenapa bisa terluka?" Tanyanya.
Arfian tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Dia bukan tipe pria yang suka bercerita soal kehidupan pribadinya.
"bukan apa-apa, hanya sebuah kecelakaan kecil." Jawabnya.
Sena mengangguk pelan, dia juga bukan wanita pemaksa yang harus tahu setiap masalah. Melihat ekspresi wajah Arfian yang begitu sendu saja sudah membuat Sena paham kalau dia tak mau di ganggu.
"Daddy, Echa mau es krim ya?" Tiba-tiba suara cempreng Echa memecahkan kecanggungan keduanya.
Arfian dan Sena langsung melirik ke arah Echa yang sudah berdiri dan hendak pergi dari ruangan itu.
"iya..sayang. ayo..kita ambil di kulkas." Arfian langsung dengan sigap menggendong Echa.
Sena memukul jidatnya pelan. Merasa jika perbuatannya tadi sudah sangat lancang. Kenapa dia begitu berani melakukan itu.
"hiiisshh... kebiasaan ini tak bisa hilang." Gerutunya.
Wanita ini memang selalu tak tahan jika melihat orang yang terluka, dengan cepat dia pasti akan melakukan tindakan seperti tadi tanpa berpikir dua kali. Tak peduli orang yang terluka itu temannya, saudaranya atau orang asing.
"heuuumm...mencoba menggoda pria yang baru saja bercerai. tindakan yang hebat."
Sena melihat ke arah pintu, disana Rega berdiri dengan tangan menyilang di depan dada. Tatapan nya begitu memandang remeh ke arah Sena.
"apa maksud mu Rega?"
"aku tahu, kak Arfian itu tampan. kau pasti kepincut dan mencoba menggodanya."
Sena mengatupkan mulutnya. Dia merasa terhina oleh setiap kata-kata yang di lontarkan Rega. Dengan cepat dia mendekatinya.
"apa aku serendah itu di matamu?" Ujarnya dengan suara bergetar. "kenapa kau seenaknya saja menilai siapa aku. dulu kita teman baik, bermain bersama, tidur bersama dan selalu melakukan apapun bersama. Tapi..." Sena tak bisa menahan airmatanya.
Rega terkejut melihat Sena menangis. Rasa bersalah menghinggapinya. Dia berkata seperti itu karena merasa kesal melihat kedekatan dan perhatian Sena terhadap Arfian. Entah kenapa, dia juga tak mengerti dengan perasaannya.
"Sena..aku...."
"sudahlah, aku tahu. kau memang tak menyukai ku. waktu itu aku mendengarnya sendiri. kau merasa malu karena aku jelek." Ucap Sena lalu pergi meninggalkan Rega yang terdiam.
"Sena..." Gumam Rega menyesal.
Dia merasa sangat bodoh. Jujur saja dia belum pernah dekat dengan gadis manapun, saat mengatakan sudah memiliki kekasih pun itu hanyalah kebohongan.
Rega menyesali perbuatannya. Tapi, merasa malu untuk menyusul Sena saat ini. Bagaimana pun dirinya sudah sangat keterlaluan.
"ck..bodoh." Umpatnya.
...************************...
Siang pun sudah berganti malam. Ecah sudah terlelap sejak satu jam yang lalu. Sementara Arfian masih duduk termenung di atas kasur, tangan mengelus rambut Echa lembut.
Sebuah fakta tentang siapa Echa membuat Arfian merasa tidak bisa bernapas dengan lancar. Rasanya sesak dan begitu menyakitkan. Meskipun sekarang gadis kecil ini telah jatuh ke tangannya tapi bagaimana saat dia beranjak dewasa, apa akan menanyakan siapa dirinya sebenarnya.
Terlalu banyak ketakutan di dalam hatinya saat ini.
"ini semua salahmu Rena. kenapa kau begitu tega." Lirihnya.
Dan di saat yang bersamaan ditempat berbeda. Rena tampak melamun. Suasana rumah megah ini begitu sepi. Para pelayan pun sudah beristirahat di kamarnya masing-masing.
Ben memang memberikan segalanya yang dia inginkan. Meskipun Ben dan Arfian sama-sama pria kaya yang sukses tapi satu yang unggul dari Ben di matanya. Pria ini selalu ada kala dia kesepian dan memberikannya banyak perhatian.
"ada apa heumm..." Ben meletakan ponselnya, merangkul pundak Rena lembut.
"Ben, aku..."
Ben menarik nafas dalam-dalam. Dia tahu akan seperti ini, Rena pasti akan merindukan putrinya. Bagaimana pun dia seorang ibu pasti menginginkan untuk tetap bersama putrinya.
"sudahlah,ini sudah larut. tidurlah." Ben membaringkan tubuhnya lalu menarik Rena kedalam pelukannya. "bulan depan kita menikah." Bisiknya membuat Rena tersipu.
Malam yang gelap dengan cepat berganti terang. Arfian dan Rega sudah bersiap akan kembali pulang. Rada bahkan sudah menyiapkan semuanya untuk mereka bawa, beberapa makanan khas daerah itu dan juga masakan yang sengaja dia buat untuk ketiganya.
"kalian hanya perlu menghangatkan nya saat tiba dirumah." Ujar Rada sembari memasukan semuanya kedalam bagasi mobil membantu Rega.
"iya mah, maaf merepotkan mamah." Seru Arfian.
"tidak masalah. oh..ya, Sena nanti akan kesana. biarkan dia mengurus Echa." Ujarnya.
"loh, itu tak perlu mah. kan..."
"tidak Arfian. Echa butuh seseorang yang mengurusnya, bukannya bulan depan dia mulai masuk sekolah." Sela Rada. "biarkan Sena tinggal bersama kalian. besok mamah akan mengantarnya."
"lalu di sini mamah siapa yang bantu?" Tanya Arfian.
"tak usah di pikirkan." Rada tersenyum tipis.
Rega yang mendengar percakapan keduanya merasa senang karena Sena akan tinggal bersama mereka tapi juga cemas begitu ingat jika ibunya berniat menjodohkan mereka berdua. Pasti ini semua demi mendekatkan keduanya.
"Daddy lihat..." Echa berlari dari dalam rumah, dia terlihat begitu bahagia.
"waaahh...cantik sekali cucu nenek."Rada mengecup pipi tembem nya.
"cantik, siapa yang membuatnya?" Tanya Arfian.
"kakak Sena. dia pandai..." Puji Echa. Selama ini Rena tak pernah mengepang rambutnya karena terlalu sibuk dengan urusannya hingga melupakan putrinya.
Arfian bahagia melihat wajah berseri Echa, bersyukur pula karena selama 2 hari ini tak merengek menanyakan ibunya. Sepertinya gadis kecil ini sama sekali tak merasa kehilangan.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Rega hanya diam dan menghela nafas berkali-kali. Resah dan tentu saja mencemaskan soal perjodohan yang di rencanakan ibunya, dia merasa tak senang akan itu entah apa alasannya.
"ada apa?" Tanya Arfian yang merasa terganggu oleh ulahnya.
"humm...kak, apa Sena cantik?"
"ya..tentu. dia gadis yang cantik."
Rega menarik napas mendengarnya lalu menghembuskannya kasar.
"dan kakak menyukainya?" Tanyanya lagi.
"umm...ya. dia gadis baik jadi aku menyukainya."
Rega mengepalkan tangannya, nafasnya terdengar tak beraturan. Arfian meliriknya sekilas lalu tersenyum.
"jangan khawatir, aku hanya menyukainya bukan mencintainya. kau tenang saja." Ujar Arfian membuat Rega gelagapan.
"apa maksud perkataan kakak. kenapa aku harus..." Rega memalingkan wajahnya. "sudahlah." Ucapnya.
...***********************...
Rena mengeryit saat melihat sebuah jam tangan di dalam saku celana Ben yang akan di cucinya.
"kenapa ada jam tangan wanita di sini." Gumamnya.
Jam tangan berwarna perak dengan hiasan beberapa mutiara di talinya. Rena pun menyimpan celana panjang bahan itu ke dalam mesin cuci lalu segera menghampiri Ben yang tengah menikmati sarapannya.
"ini apa?" Tanyanya dengan marah.
Rena curiga jika Ben menyembunyikan sesuatu darinya. Ben terdiam sejenak, lalu mengambil jam itu.
"jam ini untuk mu." Ujarnya dengan tenang, menarik tangan kiri Rena lalu memakaikannya.
Rena memperhatikan jam tangan yang sudah menghiasi pergelangan tangannya dengan sedikit tak nyaman. Merasa jika Ben masih saja berbohong padanya.
"kau membelinya tanpa kotak dan juga ini terlihat...."
Ben langsung berdiri, menarik tubuh Rena kedalam pelukannya.
"sayang...ini jam tangan ibuku. ibu pernah bilang aku harus memberikan jam ini pada wanita yang akan aku nikahi." Ujarnya sedikit tak masuk akal.
Ben memejamkan matanya menunggu reaksi apa yang akan dilakukan Rena.
"kau serius?"
"ummm...tentu saja."
Rena tersenyum lalu membalas pelukan Ben. Wanita ini terlalu mudah di perdaya. Dia akan cepat terlena oleh kata-kata rayuan dan mudah percaya dengan pasangannya.
"kalian sedang apa?" Seru seseorang yang baru saja masuk tanpa permisi.
Ben dan Rena pun melepaskan pelukannya.
"tak bisa kah kau mengetuk pintu lebih dulu?" Ben membawa orang itu kedalam ruang kerjanya dengan marah.
"hoi...kau, buatkan aku susu coklat hangat. bawa kedalam." Perintahnya dengan tak sopan pada Rena.
Rena mengepalkan tangannya, dia tak suka dengan orang ini karena selalu seenaknya dan bertindak seolah dia pemilik rumah ini.
"cih..gadis jelek itu menyebalkan." Gerutunya. "saat aku sah menjadi istri Ben, akan ku kirim kau keluar negeri."
Wanita itu ternyata adik Ben, dia sering datang mengunjungi Ben dan kurang menyukai Rena. Karena dia tahu jika Rena adalah wanita yang rela meninggalkan suaminya demi pria lain.
"untuk apa kemari?" Ben menatap wanita itu tak suka.
Dari dulu keduanya memang tak pernah akur. Karena adik perempuannya itu lebih di sayangi oleh orangtuanya di banding dirinya. Rasa cemburunya tak bisa hilang bahkan semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu.
"ck..ketus sekali." Ujar wanita itu, duduk dengan gaya arogannya. "ibu memintamu pulang. wanita itu tak pantas untuk mu."
"Rihanna..." Bentak Ben. "jangan ikut campur masalah pribadi ku. kau dan ibu sama saja, mengatur hidupku sesuka kalian. kali ini aku tak akan diam, pergilah."
"kau mengusir ku?"
"pergi ku bilang, atau kau ingin aku menyeret mu dengan paksa?"
Wanita bernama Rihanna itu berdiri lalu pergi dengan kesal.
"cih...lihat saja, kau akan memohon pada kami saat wanita itu melakukan hal yang sama padamu." Ujarnya lalu pergi.
Brak...
Menutup pintu dengan sangat keras. Rena mematung di tempatnya dengan segelas susu di nampan. Hampir saja tertabrak oleh Rihanna.
"cih.." Decih Rihanna.
Rena mencebikkan bibirnya dan mengumpat pelan. Rihanna memang wanita arogan.
...**********************...