follow yuk ig : @riana.kristina
Sekuel "Di Antara Dua Hati"
Jangan lupa siapkan tissu🤧
Plakkk!!
Sebuah kisah yang berawal dari ciuman yang tidak terduga. Mengharuskan gadis bernama Cinta Yasmila Pratama melayangkan tamparan keras ke wajah tampan seorang Adipati Rangga Wijaya.
Pemuda yang selama ini menganggap para gadis hanyalah boneka barbie.
Hingga pada akhirnya mereka saling jatuh cinta, Rangga harus dihadapkan pada kenyataan pahit lantaran Cinta adalah adiknya sendiri.
"Apapun yang terjadi di antara kita, itu semua bukan salah cinta. Tidak ada yang bersalah jika kita saling mencintai."
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Apakah hubungan keduanya harus kandas lantaran adanya hubungan darah?
Penasaran? Ikutin kisahnya ya di,,
"Bukan Salah Cinta"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Dan Ibu
Cinta masih terus menangis, dia meraung meratapi kebodohannya. Bisa-bisanya dengan mudah percaya dengan cowok mesum ini.
Sementara Rangga sudah keluar dari kamar rahasia yang ada di dalam ruangannya. Dia sudah mengenakan pakaian kerjanya dengan lengkap. Kini dia menatap Cinta yang masih bersimpuh di lantai, ada rasa iba di hatinya. Dia mencebikkan bibirnya lalu berjalan mendekati Cinta dan berjongkok di depannya. Rangga menyentuh bahunya tapi, Cinta menepisnya.
"Aku kan sudah minta maaf, kamu tidak usah khawatir aku sudah berjanji akan bertanggung jawab, 'kan."
"Aku tidak butuh tanggung jawabmu!" salaknya.
Rangga tersenyum, "Lalu yang kamu butuhkan apa?" Menyusuri wajah Cinta dengan jarinya.
Cinta menepis tangannya dengan kasar. "Jangan menyentuhku!" bentaknya.
"Hei, semalam kita bahkan melakukan lebih daripada ini." Rangga tertawa pelan.
"Aku membencimu Adipati! Aku membencimu!" teriaknya.
Rangga melihat kilatan api yang menyala hebat di mata Cinta. Cinta terlihat benar-benar marah dan frustasi.
Apakah dia sebegitu tersiksanya jika ditiduri laki-laki?
"Kamu mau aku menceritakan apa yang terjadi semalam?" Rangga menatapnya iba.
Cinta tidak menjawab, dia memalingkan wajahnya menatap ke depan.
Rangga menghela napas panjang lalu berdiri. "Sebenarnya, semalam kita tidak melakukan apa-apa!" Dia berkacak pinggang.
Cinta menengadahkan wajahnya menatap tajam Rangga. "Maksud kamu?"
Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Emm, ya kamu dan aku tidak melakukan itu," katanya santai.
Cinta menautkan kedua alisnya dan bangkit dari duduknya. Kini dia mendekati Rangga. "Katakan yang jelas, jangan berbelit-belit!"
Rangga mengulum senyum, "Aku hanya bercanda, Cinta."
"Bercanda?" Dahinya berkerut.
Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Emm ... iya, aku hanya ingin mengerjaimu, hehehe .... Aku hanya ingin tau reaksimu jika aku melakukan itu padamu." Rangga cengengesan tapi, Cinta menatapnya semakin tajam bagaikan seekor macan yang siap menerkam mangsanya kapan saja.
"Aku jadi pingin tau, apa kamu juga akan membanting atasanmu jika dia menyentuhmu?"
Kata-kata Rangga di lift waktu itu terngiang kembali di telinganya. Kini dia baru paham maksudnya.
Kurang ajar! Aku benar-benar dikerjai rupanya!
"Jadi?" sorot matanya menyatakan amarah yang siap meledak kapan saja. Dia semakin mendekati Rangga, membuat pria itu harus memundurkan langkahnya.
Rangga mengambil ancang-ancang bersiap jika Cinta membantingnya kali ini. "Jadi ... itu semua zonk! Heheheee, kamu kena prank! Haahaaaa ...."
Cinta semakin mendekatinya, dia mencengkram bahu dan lengan kanan Rangga. Dengan gerakan cepat kaki kanannya bergerak ke belakang kaki kanan Rangga lalu, mengunci lekukan lututnya bagian belakang dan, dengan kekuatan penuh siap untuk melakukan bantingan. Namun, kali ini Rangga lebih gesit. Saat Cinta membanting tubuhnya, dengan cepat dia menarik balik lengan Cinta hingga mereka terjatuh bersama.
Cinta tidak menyangka jika Rangga akan melakukan perlawanan. Dia kaget dan kehilangan keseimbangan, akhirnya dia terjatuh dengan menindih tubuh Rangga.
Rangga memutar posisi dengan cepat, kini dia yang menindih tubuh Cinta dan mengunci kedua lengannya ke atas kepala. Cinta semakin melotot marah padanya tapi, Rangga malah tersenyum penuh kemenangan.
"Ternyata tubuhmu empuk juga," selorohnya, "pasti menyenangkan kalau ...."
"Eh!" potong Cinta cepat. Tubuhnya mencoba berontak. "Jangan macam-macam ya kamu!" Dia terus mencoba melepaskan diri.
"Jangan bergerak terus, kamu akan membangunkan yang di bawah nanti!" gumamnya.
Cinta berhenti bergerak, dahinya berkerut mencoba memahami maksud ucapan Rangga.
Yang di bawah? Apaan sih yang bang...un....
Matanya kini membelalak, "Dasar mesum! Lepasin ih!"
Rangga semakin tergelak, "Aku suka cewek badas sepertimu, membuatku semakin bergairah!" bisiknya di telinga Cinta. Dia lalu meniup-niup telinga Cinta, hingga membuat tengkuk Cinta serasa berdesir.
"Jangan macam-macam ya kamu!" geramnya.
Rangga tergelak kembali, "Aku gak macam-macam kok, aku maunya satu macam aja." Mengerlingkan sebelah matanya.
...****************...
Cinta memalingkan wajahnya, sungguh dia sangat jengkel dipermainkan seperti ini.
"Tapi aku tidak akan melakukan itu sekarang, aku tidak pernah memaksa gadis untuk melakukan itu denganku. Mereka yang selalu memaksaku." Tersenyum bangga.
"Cihh!"
"Hei, aku serius." Mencoba meyakinkan. "Aku memang bajingan tapi, aku tidak mau merusak anak gadis orang. Apalagi ... gadis yang aku sukai. Aku akan menunggu sampai kamu yang meminta itu dariku." Menatap Cinta dengan tatapan serius. "Aku menyukaimu Cinta Yasmila Pratama!"
Kata-kata terakhirnya membuat Cinta akhirnya menoleh padanya, membuat mata mereka saling bertemu. Kini suasananya menjadi hening, hanya terdengar hembusan napas mereka yang beradu dan mata yang saling berbicara. Cinta menatap mata itu ingin mencari kebenaran di sana. Mata Rangga terlihat teduh, dia merasa terhipnotis sekarang.
Perlahan Rangga menurunkan wajahnya, dia sudah sangat menahan keinginannya dari tadi. Di saat bibirnya hampir menggapai bibir Cinta, dengan cepat Cinta memalingkan wajahnya. Penolakan dari Cinta, menyiratkan raut kekecewaan di wajah Rangga.
"Ehem! Tubuhmu berat. Badanku terasa pegal," gumamnya.
"Ups sorry, aku lupa." Rangga tersadar dan segera menggeser tubuhnya ke sebelah Cinta lalu segera bangkit. Begitu juga dengan Cinta. Suasana tiba-tiba menjadi canggung.
"Jam berapa sekarang? Di mana pakaian dan barang-barangku? Aku harus mengabari ibu dan segera pulang."
"Jam lima pagi." Menunjuk alroji di tangannya. "Barang-barangmu ada di sana!" Menunjuk pintu yang ada di pojok ruangannya. "Di situ ruang ganti, ada showernya juga. Kamu bisa sekalian mandi."
"Baiklah." Cinta mengangguk dan segera menuju ke sana. Saat memasukinya dia merasa kagum, ruangan itu lebih luas dari kamarnya. Fasilitasnya lengkap, ranjang berukuran king size, televisi, lemari pakaiannya juga ada.
"Ayahku sering kunjungan ke sini dan tinggal beberapa hari. Jadi, dia membuat ruangan ini agar dia bisa menginap di sini." Rangga sudah berdiri di depan pintu. "Hampir semua kantor ayah dilengkapi ruangan seperti ini, terutama yang di luar kota." Dia sudah ikut berada di dalam ruangan. "Ayahku orangnya gila kerja, dia sampai jarang pulang karena lebih sering tidur di kantornya." Ada rasa bangga bercampur sedih dalam nada suaranya.
"Dulu aku sering protes, karena ayah tidak pernah ada waktu untukku. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Hanya teman-temanku yang selalu ada untukku."
Cinta sekarang paham kenapa pria ini jadi berandalan. Dia ternyata pria yang kesepian. Entah kenapa Cinta merasa iba mendengarnya.
"Sejak ibu pergi, ayah jadi berubah. Ayah jarang di rumah, bahkan kadang berminggu-minggu tidak pulang," ceritanya lagi.
"Ke mana?" tanya Cinta akhirnya.
"Di kantornya!" Rangga kini sudah duduk di atas ranjang sedangkan Cinta masih berdiri di depan lemari. "Dia menyibukkan diri agar bisa melupakan ibu."
"Memang ibumu ke mana?" tanya Cinta semakin ingin tahu.
"Aku juga tidak tahu. Ibu pergi dua puluh tahun lalu, waktu aku mendapat kecelakaan. Tidak ada yang tahu ibu ke mana, dia pergi tanpa jejak." Wajahnya kini menjadi sendu.
Cinta menghela napas. "Ternyata kita senasib," ujarnya.
"Maksudmu?" Rangga mendongakkan wajahnya.
"Iya, sama-sama dibesarkan orang tua tunggal. Tapi bedanya, kamu kehilangan ibu sedangkan aku kehilangan ayah."
Rangga semakin menatapnya, "Kenapa dengan ayahmu?"
"Entahlah, ibu tidak pernah mau menceritakannya padaku. Katanya, belum saatnya aku tahu."
"Lalu, kamu tidak berusaha mencarinya?"
"Mau mencari ke mana? Tidak ada petunjuk apa pun."
"Foto?"
Cinta menggeleng, "Ibu tidak menyimpan foto ayah satu pun, lalu kamu sendiri tidak berusaha mencari ibumu?"
"Sama, aku juga tidak punya petunjuk apa pun."
Mereka lalu saling pandang meratapi kemalangan mereka. Sampai akhirnya tergelak bersama karena memiliki kemalangan yang sama.
bersambung....
thor tolong y sembunyikan cinta sampai dia melahirkan dan bikin rangga prustasi berat