Dihianati pacar dan sahabat, membuat Danisa atau yang akrab disapa Nisa enggan menjalin hubungan percintaan dan persahabatan dengan perempuan lagi.
Dari itu dia hanya dekat dengan Senopati, atau yang akrab disapa Seno, hanya dengan Seno dia merasa nyaman.
Saking akrabnya, Seno sudah seperti suami bagi Nisa. Sebelas tahun menjalin persahabatan, rasa cinta mulai tumbuh di hati Seno. Namun, tiba-tiba cinta masa lalu Nisa datang lagi.
Apakah Nisa memilih cinta masa lalunya atau berbalik memilih sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffo Azhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Malam ini Seno ingin melupakan sejenak kesedihannya dengan bersenang-senang di club malam. Ia menelepon teman-teman SMAnya untuk menemani. Sebenarnya Seno bukanlah type cowok yang suka dengan ingar bingar dunia malam, tapi entah kenapa malam ini ia sangat ingin ke sana. Seno memesan vodka sambil menunggu kedua temannya datang.
Seno melihat club rame sekali. Perempuan dan laki-laki berbaur di dance floor, pergaulan warga Jakarta semakin ekstrim saja. Sebagian besar dari mereka terlihat sedang dimabuk cinta, mereka sudah tidak malu lagi melakukan pelukan bahkan ciuman di tengah orang-orang yang sedang menari. Sorakan dan teriakan orang-orang yang asik menari membahana keseluruh ruangan berbaur dengan dentuman musik progressive dari mesin portable DJ yang seperti menusuk jantung.
"Woi nyet ...!" seru Seno sambil melambaikan tangan ketika melihat salah satu sahabatnya datang.
"Widih gorila edan, tumben lo nelepon gue? Kesepian lo?" kata Dean sambil duduk di samping Seno. Bahasa mereka kalau sudah ketemu emang begitu, gak pake ayakan kalau udah ngomong. Sebutan 'nyet' atau yang lainnya udah biasa, malah itu membuat mereka semakin dekat.
"Iya nih, gue tiba-tiba kangen aja ama kalian, oh iya, si Sandy mana?"
"Gak tahu, kayaknya sih masih di jalan. Tuh anak dari dulu emang enggak berubah, tukang ngaret," kata Dean.
"Eh, tuh-tuh dia tuh dateng ...," ucap Seno sambil melihat ke arah pintu masuk. Dari jauh Sandy sudah senyum-senyum melihat kedua sahabatnya.
"Waduh Senopati Aryan Kusuma, Deandra Putra, sahabat gue ...," sahut Sandy sambil melakukan tos khas mereka yang seperti panco.
"Udah lama ya, kita gak ngumpul bareng kayak gini, terakhir kapan, ya?" tanya Dean.
"Malam tahun baru 2014!" seru Seno.
"Buset udah lama juga, ya," kata Sandy.
Mereka bertiga duduk di bangku tinggi depan meja bar lalu larut dalam obrolan tentang pekerjaan dan bernostalgia sedikit, sebelum berganti topik membahas soal asmara.
Saat ini ketiganya memang belum ada yang menikah, tapi Dean dan Sandy sudah punya pacar dan mereka berhubungan dengan serius, bahkan Sandy udah punya rencana untuk ngelamar ceweknya. Hanya Seno saja yang belum jelas. Dari yang Dean dan Sandy tahu, Seno adalah playboy kelas mapia, yang kerjanya cuma kenalan sama cewek, dideketin, setelah jadian satu atau dua bulan, ia tinggalin begitu saja. Dan kebanyakan dari klan daun muda.
Dean dan Sandy sempat berpikir kalau Seno tidak normal karena suka anak kecil.
Seno selalu berhasil ngedapetin cewek yang dia suka. Wajar sih, itu karena Seno ganteng juga kaya raya, mana ada cewek yang sanggup nolak dia.
"Jadi sekarang cewek lo siapa, Bro?" tanya Sandy.
"Gue jomblo," jawab Seno datar lalu meneguk vodka. Minuman dari hasil permentasi serelia itu perlahan membasahi tenggorokannya yang kering.
"Gila, seorang Senopati jomblo? Yang bener aja, gue gak percaya," ucap Dean.
"Serius gue jomblo!" Kali ini Seno menjawabnya dengan tegas. Dean mendecakkan lidah sambil melirik Seno dengan curiga, sepertinya dia masih tidak percaya.
"Ya udah kalo gak percaya. Sebenarnya yang disuka sih ada, tapi ...." Seno menghentikan ucapannya, ia menarik napas yang dirasa berat, menahan gejolak hatinya yang kacau dari tadi pagi.
"Tapi apa?" tanya Sandy penasaran.
"Tauk ah, complicated," jawab Seno suram. Dean menyemburkan tawanya. "Kayak judul lagu aje," katanya.
"Bro, kayaknya gue kejebak sama yang namanya friendzone," kata Seno dengan kepala tertunduk. Sandy dan Dean serempak mendelikan matanya.
"Maksud lo?" tanya Sandy dan Dean hampir bersamaan.
"Lo berdua tahu Danisa, kan?"
"Maksud lo Nisa? temen lo waktu kuliah di Singapore itu?" tanya Sandy.
"Iye dia."
"Lo cinta sama dia tapi lo galau karena dia sahabat lo? Ya elah Sen, zaman sekarang udah banyak kali yang tadinya sahabatan lalu pacaran," kata Dean gemas.
"Gak sesederhana itu De urusannye. Pokoknya ribet dah, kayak benang kusut. Kusuuuuttt banget." Sandy gelak tertawa lalu berkata, "Sekusut apapun, kenapa lo gak coba ungkapin aja sama dia? Bagaimanapun hasilnya, yang penting lo nanti tahu gimana perasaan dia buat elo, tapi lo jangan dulu berharap dia membalas cinta lo, lo cukup ungkapin biar perasaan lo tenang, itu aja, simpel, kan?" Seno tercenung memikirkan ucapan Sandy.
"Bro, kita ini cowok. Yang namanya cowok itu bebas untuk menyatakan cinta sama siapapun, beda dengan cewek. Kalau cewek menyatakan cinta duluan itu masih tabu dan kesannya gampangan, tapi kalau cowok menyatakan cinta itu terkesan macho, cool, gantelman. Bener gak apa gue bilang? Cowok itu special. Masa, elo yang udah malang melintang di dunia percintaan dan elo yang udah banyak pengalamannya nembak cewek malah gak bisa nembak satu cewek?" Dean berargumen.
"Karena cewek ini spesial buat gue, makanya susah."
"Yah, payah lo." Dean mendengus kecewa.
Seno menenggak kembali vodkanya sampai habis. Tidak menyatakan cinta pun, Seno sudah tahu gimana perasaan Nisa. Ia sudah menyimpulkan tadi pagi. Di hati Nisa tidak ada tempat untuk orang lain. Karena di hatinya sudah penuh untuk satu orang saja. Satu orang yang sudah membelenggunya selama sebelas tahun. Seno tahu betul itu. Apakah ia masih punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya? Satu jawaban tegas yang keluar dari lubuk hati Seno: Tidak!
Mungkin Seno harus tetap memegang komitmennya di awal, ia cukup untuk menjaga malaikat penolongnya saja. Ia tidak boleh serakah menginginkan yang lebih dari itu.
***
Seno menggeliat di tempat tidur karena ada yang membunyikan bel rumah.
"Siapa sih pagi-pagi?" ucapnya sebal sambil menutup telinganya dengan bantal. Tapi suara bel itu tidak kunjung berhenti. Seno terduduk di tempat tidur dengan kesal.
"Arrrgghhh ...!" Seno teriak sendiri sambil membuka selimut lalu pergi membuka pintu dengan mata setengah melek. Semalam ia baru pulang jam dua pagi, tadinya ia ingin bangun jam delapan, tapi jam setengah tujuh malah ada yang mengganggu.
"Ah, elo Nis, masuklah," sahut Seno sambil memberi jalan untuk Nisa masuk.
"Elo semalam kemana aja, sih? Gue telepon gak bisa, gue nanya si Aldi karyawan lo itu, katanya lo udah pulang dari jam tujuh. Gue nungguin lo kayak orang **** di depan sampe dua jam tauk!"
"Sorry deh, semalam gue ketemuan sama temen-temen SMA gue. Emangnya ada apa lo nyari gue?" Nisa melihat Seno dengan tatapan sebal. Sepertinya Seno lupa soal novel itu. Nisa menarik napas sebelum menjawab pertanyaan Seno.
"Lo udah baca novelnya Viko? Kemarin kan gue suruh elo baca novel itu."
"Oh itu," sahut Seno datar. Entah kenapa melihat ekspresi Seno yang seolah tidak peduli malah membuat Nisa semakin sebal.
"Gue belum sempet, Nis. Sorry ya ...," ucap Seno. Bukannya tidak sempat, tapi Seno tidak mau membaca novel yang akan membuatnya sakit itu. Nisa memberengut.
Tidak tahukah Seno bahwa Nisa sangat menunggu komentar sahabatnya itu? karena Nisa tidak akan melakukan apapun selain apa yang akan dikatakan oleh Seno nanti.
Melihat reaksi Seno yang seolah cuek malah membuat Nisa kecewa.
"Ya udah, deh," katanya sambil ngeloyor keluar. Setelah Nisa keluar, Seno mengerjap, ia sadar sudah membuat Nisa sewot. Seno pun mengejar Nisa.
"Nisa ...!" panggil Seno, Nisa yang sedang membuka kode pintu apartemennya menoleh.
"Apa?" sahut Nisa rada jutek.
"Kok marah, sih?"
"Abisnya, gue suruh baca novel itu malah belum. Semalam elo kemana? Lo minum ya ke club? Hayo ngaku!" Seno garuk-garuk kepala walau tidak gatal sambil tersenyum malu-malu, ia tertangkap basah.
"Kok lo tahu, sih? Lo mata-matain gue, ya?" Nisa jinjit lalu menjitak kepala Seno pelan. Walau dengan kesusahan karena sahabatnya itu sangat tinggi.
"Napas lo bau alkohol tauk! Astaga, lo itu udah tua ngapain main ke club?"
"Hehehe ... gak apa-apa dong sekali-sekali ini." Seno menyeringai.
"Hhhhh terserah elu deh. Oh iya, apa lo manggil gue?" Seno berdeham pelan, lalu pupil matanya menatap lurus ke mata Nisa. Lantas ia berkata, "Nis, lo salah kalau lo nyuruh gue bilang apa yang harus lo lakuin setelah baca novel itu. Karena sebenarnya lo sendiri juga sudah tahu jawabannya." Nisa mengernyit, "Maksud lo?"
Seno menunjuk dada Nisa. "Jawabannya ada di hati lo, jadi jangan tanya gue, karena gue sama sekali gak tahu," katanya.
"Jadi menurut lo gue sebenarnya tahu?" Seno mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, lo tinggal benar-benar merasakan apa yang lo rasakan. Itu jawabannya."
Nisa mengerjap, benar juga, ngapain ia harus maksa Seno membaca novel itu karena sebenarnya Seno tidak perlu tahu. Nisa menarik napas lega, sebenarnya inilah jawaban yang harus ia dengar dari Seno.
🌸🌸🌸
Sudah ratusan kali Nisa memikirkan apa yang dikatakan Seno tadi pagi. Ia sampai tidak konsen di kantor.
Lo tinggal merasakan apa yang lo rasakan? Bukannya Nisa tidak bisa, tapi Nisa takut. Nisa takut menemukan kebenaran bahwa sesungguhnya ia masih mencintai Viko.
Kalau hal itu terjadi, Nisa harus bagaimana? Jujur saja, Nisa penasaran dengan motif Viko dan Gita melakukan ciuman itu. Ia ingin mendengar penjelasan dari Viko atau Gita. Tapi apakah ia sanggup? Lagi-lagi Nisa ingat dengan ucapan Seno, 'lo harus secepatnya selesaikan masalah ini kalau mau hidup lo tenang.'
Nisa mengacak rambutnya sendiri, ia benar-benar stres. Tapi setelah itu ia rapikan lagi karena ada Lena yang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk, Len." Lena menatap bosnya heran. Tidak seperti biasanya The Queen ice itu terlihat berantakan. Kenapa dia? batin Lena.
"Mbak, ini laporan penjualan kota Medan, mereka baru nge-emailnya tadi pagi," kata Lena sambil menyodorkan dua lembar kertas HVS pada Nisa. Nisa memberengut ketika memeriksa laporan itu.
"Loh, ini kan yang minggu kemarin, gue kan minta yang kemarin saat gue gak masuk itu, gimana sih! Suruh mereka email lagi." Lena mengangguk sedikit takut. Gawat kalau bosnya udah menggunakan kata 'gue' berarti dia lagi marah atau bête.
"Gue beri waktu sepuluh menit, laporan itu harus udah nyampe meja gue!"
"I_iya mbak." Lena cepat-cepat keluar dari ruangan Nisa. Lena memberi tahu karyawan yang lain bahwa bosnya sedang bête, agar mereka waspada. Lalu mereka berspekulasi, Nisa jadi lebih sensitif setelah ditinggal si berondong itu ke Bandung. Semua karyawan Nisa mendadak ingin Yuda kembali.
🌸🌸🌸
sumpah
lanjutt thorr