Rania seorang gadis manja berusia 18 tahun yang manis dan memiliki wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dia baru saja kehilangan cinta pertamanya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, dirinya berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dan mandiri.
Hardin seorang pria dingin berusia 24 tahun yang sulit dijamah wanita. Pemilik hotel bintang 5 dan juga supermarket besar. Kecintaannya terhadap kue membawanya bertemu si gadis manja yang manis dan menjadikannya kekasih.
Akibat kesalah pahaman, Hardin harus berusaha mendapatkan kembali hati gadis nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Pasti bolehlah tante" jawab Rania sambil mengetikkan nomor hpnya.
"Nih tante, udah Ran tulis nomornya." Rania mengembalikan hp tante itu.
"Tante coba miss call ya Ran." tante itu menekan tombol di hpnya.
drtt...drtt..drtt
"Udah masuk nih tante." Rania melihat layar hpnya. "Ran save juga ya nomer tante." Rania meminta izin untuk menyimpan nomer tante itu.
"Iyaa sayang. Bikin namanya jangan tante ya, tapi buat aja Mama." jawab tante sambil tersenyum.
"Eh iya tante." Rania tersipu sekaligus heran mendengar permintaan si tante.
"Ciyee Ran dapat mama baru nih." goda Leha
"Jangan jangan bentar lagi jadi anak mantu nih. ahahhahaha." Miskah malah menambahkan sambil tertawa kekeh.
"Tante juga mau nya gitu. Semoga aja ya Ran kamu beneran bisa jadi anak mantu tante" dengan wajah yang berbinar si tante mengelus lembut rambut Rania.
"Aamiin.." Miskah dan Leha dengan serempak meng aamiin kan do'a si tante.
"Aa..ha ha ha.. Ran masih sekolah tante." Rania tertawa kaku dengan wajah yang sudah merona karena malu dengan ucapan tante itu.
"Hahaha. Sudah sudah jangan di goda lagi Rania nya. Kasihan, lihat tuh mukanya sudah kayak kepiting rebus." tante mencoba mengalihkan karena kasihan melihat wajah Rania yang sudah merah merona.
"Ya sudah, tante pulang dulu ya." pamit si tante.
Setelah itu, tante beranjak pulang dengan menaiki mobilnya. Sedangkan Rania dan sahabatnya kembali membuat keributan di kafe kak Ryan, sampai Ryan menggeleng dan tersenyum melihat tingkah laku gadis gadis itu.
Tepat pukul 10 mereka memilih bubar. Rania diantar oleh Miskah dan Leha sampai kerumah karena hari sudah sangat malam, takut ada apa apa dengan Rania. Sesampainya dirumah Rania masuk kedalam dengan perlahan. Dilihatnya semua lampu sudah padam yang berarti bunda sudah tidur.
Rania masuk ke kamar dan segera bersih bersih untuk bersiap tidur. Sebelum tidur Rania kembali mengecek hp untuk membalas pesan yang tadi siang sempat diabaikannya.
R : "Selamat malam Pak Hardin, maaf baru membalas pesan bapak. Saya Rania, ada yang bisa saya bantu pak?"
Usai membalas chat Hardin, Rania merebahkan tubuhnya. Rasa kantuk mulai menyerang karena memang satu harian Rania tidak istirahat. Saat matanya baru akan terpejam, hp rania tiba tiba bunyi menandakan ada pesan yang masuk.
H : "To the point aja bu Rania, saya berniat jumpa dengan ibu untuk membahas masalah kerja sama. Saya yakin pemilik kafe sudah memberitahu maksud dan tujuan saya menghubungi ibu".
R : "Iya pak, beliau sudah memberitahu saya. Kapan dan dimana kita akan bertemu?" balas Rania.
H : "Besok saya akan hubungi ibu untuk waktu dan tempatnya".
R : "Baik pak, saya tunggu kabarnya".
Usai berbalas chat Rania pun langsung tertidur karena sudah tidak kuat lagi menahan rasa kantuknya. Bagaimana tidak mengantuk, dari pagi mata Rania terbuka terus. Tidak ada waktu untuk istirahat.
Esok harinya Rania bangun kesiangan dan dengan badan yang segar. Kemudian dia bersiap siap untuk ke sekolah. Memeriksa segala keperluan sekolah yang harus dibawanya. Setelah selesai ia segera turun ke bawah untuk sarapan dengan bundanya.
" Pagi bunda. Bunda masak apa nih untuk sarapan?"
" Bunda gak sempat masak nak. Ini udah bunda buatin susu sama roti panggang. Kamu sarapan dulu ya sebelum berangkat" jawab bunda tersenyum walaupun dengan suara yang lemas.
Rania memperhatikan bundanya sambil duduk di meja makan. Dia mengerutkan keningnya.
"Bunda kenapa? bunda sakit ya? muka bunda kok masih pucat sih?" tanya Rania beruntun.
"Bunda gak kenapa kenapa sayang. Tadi pagi bunda muntah, masuk angin kali ya. karena semalam bunda makannya cuma sedikit" jawab bunda.
"Bunda yakin?"
"Iyaa sayaang. Kamu buruan makannya gih udah mau telat lho."
Rania pun segera menyelesaikan sarapannya lalu berangkat ke sekolah. Rania ke sekolah menggunakan ojek online. Selama di jalan Rania teringat wajah bundanya yang dia pikir semakin bertambah pucat dari yang kemarin.
Keenakan melamun Rania tidak sadar sudah sampai di sekolah sampai si sopir ojek nyadarin Rania.
"Neng, mau sampe kapan duduk di belakang. Segitu gak relanya turun dari motor saya".
"Neng"...."Neng" si sopir bersuara agak tinggi untuk menyadarkan Rania sambil menggoyang motornya sedikit
"Astagfirullah baaang, pelanan dikit napa manggilnya. Gausah segala toa mesjid dipake buat manggil" Rania merengut sambil memukul dengan pelan pundak si abang.
"Ya abisnya si eneng di panggilin gak nyaut nyaut. Yaudah saya teriakin aja." ucap si abang ojek.
Setelah membayar ongkos ojeknya, Rania berlari masuk ke dalam kelas karena waktunya tinggal 5 menit lagi.
"Woi Ran, ngapa lu lari lari sih. Dikejar gerandong?" tanya Miskah yang melihat kedatangan Rania yang sambil berlari.
hah hah hah hah
Rania ngos - ngosan sampai di kelas. Dia mengatur nafasnya begitu duduk, lalu menyambar botol minum milik Miskah dan meneguknya sampai kandas. Sehingga dihadiahi jeritan sama si empunya minum.
"Raaan, kebiasaan deh ih." Miskah memukul pundak Rania. "Nyebelin banget sih ah. Abis dah tu minum gue. Kalo gue haus pas lagi belajar gimana." geram Miskah.
"Aelah Miis cuma minum doank pelit amat sih." Leha berdecak kesal mendengar komplain Miskah karena minumnya sudah dihabiskan oleh Rania.
"Tauk ni Miskah pelit amat. Sama sahabat sendiri juga. Lu pun pernah kan ngabisin makanan gue. Tapi gue santai aja." sambung Rania dengan nada yang santai.
"Ya tapi kalo gue haus gimana.? Beli lagi gih ke kantin sebelum bel masuk."
teeet teeet teeet
Bel sekolah berbunyi tanda waktu belajar sudah akan dimulai. Rania dan Leha tertawa melihat Miskah yang makin merengut.
Semua murid memperhatikan pelajaran dengan tekun. Tak sedikit pula yang tidak memperhatikan.
Di Star Hotel
Hardin berjalan dengan gagah menuju ruangannya dengan ditemani oleh sahabat sejatinya yang juga asisten pribadinya.
"Selamat pagi pak" sapa setiap karyawan yang berpapasan dengan Hardin
Dan seperti biasa Hardin hanya menjawab dengan anggukan tanpa senyum sedikitpun. Dibelakangnya Harry berjalan sambil memeriksa hp nya untuk melihat jadwal Hardin hari ini.
"Din, pagi ini kita ada jadwal meeting dengan Pak Suryo untuk membahas permohonan kerja sama yang diajukannya".
"Din din, kamu pikir nama saya udin? Dan ingat ini di kantor, jadi panggillah saya dengan semestinya" jawab Hardin tegas.
Begitulah Hardin. Walaupun dikenal baik oleh orang terdekatnya, tapi tetap saja dia sosok yang tegas kalau sudah menyangkut sekitar pekerjaan.
"Maaf Pak, saya khilaf" jawab Harry sambil menahan senyum mendengar nama Udin.
"Jangan ulangi lagi. Diluar memang kamu sahabat saya. Tapi disini saya adalah bos kamu."
"Baik pak." balas Harry sambil menundukkan kepalanya karena menyembunyikan tawa nya.
Terima kasih sudah mampir di novel aku. Jangan lupa like dan komen yang positif ya. Dan jangan lupa favorite kan.