NovelToon NovelToon
Ditelepon Cucu dari Masa Depan

Ditelepon Cucu dari Masa Depan

Status: tamat
Genre:Poligami / Anak Genius / Pelakor / Menikahi tentara / Mandul / Tamat
Popularitas:142.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

"Berawal dari sebuah telpon yang mengaku datang dari masa depan, Nadia akhirnya mengetahui bahwa kedua anak yang diasuhnya ternyata bukan anak kerabat jauh, tapi anak selingkuhan suaminya!

Saat itu juga, Nadia menggugat cerai suaminya dan keluar dari rumah itu. Namun, Keluarga Pradipta tidak melepasnya begitu saja, mereka terus mengganggunya demi hak waris rumah dan kotak musik warisan ibu Nadia. Nadia pun terusik, mengapa mereka terobsesi dengan sebuah kotak musik?

Tak hanya itu, telepon dari masa depan itu datang kembali dan mengatakan bahwa Mayor Arga Wiratama adalah takdirnya. Nadia semakin terkejut ketika pria itu benar-benar nyata dan hadir di depannya. Sebenarnya siapa penelpon itu dan bagaimana bisa?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 08

Nadia keluar dari rumah Farhan dengan satu koper, satu tas dokumen, dan kotak musik tua di dalam tote bag kain.

Tidak ada yang mengantar sampai pagar.

Dinda berdiri di balik jendela kamar atas. Dimas tidak terlihat. Mama Meri masih menangis di ruang tengah, suaranya sengaja dikeraskan agar tetangga mendengar bahwa menantunya durhaka. Pak Hendra hanya duduk diam di teras belakang.

Farhan pergi entah ke mana.

Mungkin ke rumah Rania.

Mungkin ke masjid untuk memasang wajah pria saleh.

Nadia tidak peduli.

Pagi Lebaran di kompleks itu ramai. Anak-anak memakai baju baru, ibu-ibu membawa rantang, bapak-bapak bersalaman di gang. Beberapa orang menoleh ketika melihat Nadia menarik koper sendiri.

Biasanya ia akan malu.

Hari ini ia mengangkat dagu.

Di ujung gang, mobil Siska sudah menunggu.

Siska turun begitu melihatnya. Perempuan itu memakai gamis hijau tua, rambutnya disembunyikan rapi di balik kerudung. Wajahnya tegang, tapi matanya hangat.

"Masuk," katanya. "Jangan lihat belakang."

Nadia tetap menoleh sekali.

Rumah itu berdiri besar, bersih, dengan tanaman yang ia rawat sendiri. Sepuluh tahun hidupnya menempel di setiap sudut. Jendela yang ia lap. Lantai yang ia pel. Dapur yang menyimpan resepnya. Kamar yang menjadi saksi ia menangis diam-diam setiap kali hasil tes kehamilan hanya menunjukkan satu garis.

Lalu ia masuk mobil.

Siska tidak langsung bertanya. Ia hanya menyerahkan botol air.

Nadia minum dua teguk. Air itu terasa seperti sesuatu yang nyata.

"Kontrakan adikku di Cibubur," kata Siska sambil menyetir. "Lingkungannya biasa saja, tapi aman. Tetangga tidak kepo berlebihan. Ada warung, ada pasar kecil. Kamu bisa tinggal sampai urusanmu jelas."

"Aku tidak tahu kapan bisa bayar."

"Kamu bayar nanti kalau sudah bisa."

"Sis..."

"Jangan debat. Aku tidak sedang jualan properti."

Nadia tertawa kecil. Suara itu terdengar asing di telinganya sendiri.

Siska melirik. "Bagus. Masih bisa ketawa berarti belum rusak total."

Nadia menatap jalan. "Aku punya rekaman."

"Apa?"

"Farhan kelepasan bilang dia punya Dimas dan Dinda. Mama Meri bilang kalau Rania bisa memberi cucu, apa salahnya Farhan bertanggung jawab."

Siska menginjak rem sedikit terlalu kuat. Mobil di belakang membunyikan klakson.

"Serius?"

Nadia mengangguk.

"Simpan di cloud. Kirim ke email baru. Jangan cuma di ponsel."

"Aku belum sempat."

"Kita lakukan begitu sampai kontrakan."

Nadia memandang Siska. "Kamu terdengar seperti pengacara."

"Aku terdengar seperti perempuan yang sudah terlalu sering lihat laki-laki panik lalu merebut ponsel istri."

Kontrakan itu berada di gang yang cukup untuk satu mobil. Rumah kecil bercat putih kusam, dengan pagar besi rendah dan pohon mangga di samping. Di dalamnya ada ruang tamu sempit, satu kamar, dapur mungil, kamar mandi, dan halaman belakang selebar dua langkah.

Bagi Nadia, tempat itu terasa lapang.

Tidak ada suara Mama Meri.

Tidak ada langkah Farhan.

Tidak ada tatapan yang menghitung apa saja yang belum ia kerjakan.

Siska membuka jendela. Udara siang masuk membawa bau tanah dan gorengan dari warung sebelah.

"Aku bersihkan minggu lalu," kata Siska. "Kasur ada. Kompor ada. Gas tinggal beli. Aku tinggalin beberapa piring."

Nadia meletakkan koper di kamar. Ia duduk di tepi kasur, lalu tiba-tiba tidak bisa bergerak.

Siska berdiri di pintu.

"Nad?"

"Aku keluar beneran."

"Iya."

"Aku tidak tahu harus apa setelah ini."

"Pertama, mandi. Kedua, makan. Ketiga, simpan bukti. Keempat, tidur dua jam."

"Aku mau ke Pengadilan Agama."

"Besok. Hari ini libur Lebaran. Jangan sok kuat."

Nadia mengangguk pelan.

Mereka duduk di lantai ruang tamu dengan laptop Siska. Siska membuatkan email baru untuk Nadia, mengunggah semua video, foto, dan rekaman suara. Foldernya diberi nama tanggal hari itu. Lalu Siska memindahkan salinan ke flashdisk kecil.

"Satu simpan di kamu, satu di aku," kata Siska.

Nadia menerima flashdisk itu seperti menerima senjata.

"Aku juga perlu catatan keuangan," katanya.

"Kamu punya akses rekening bersama?"

"Tidak ada rekening bersama. Farhan selalu bilang biar dia yang atur. Tapi aku punya bukti transfer bulanan untuk belanja, kuitansi renovasi rumah yang aku urus, cicilan yang dibayar selama kami menikah. Aku juga yang pegang beberapa struk pembelian emas Mama Meri, pakai uang bonus Farhan."

"Semua foto."

"Sudah."

Siska mengangguk. "Nanti kita cari bantuan hukum. Cerai gugat, harta bersama, dan kalau benar ada anak dari hubungan Farhan dengan Rania sebelum atau selama menikah, itu bisa jadi dasar kuat."

Nadia memegang lututnya. "Aku takut mereka bilang aku gila."

"Karena apa?"

Karena cucu dari masa depan meneleponku.

Kalimat itu hampir keluar.

Nadia menahannya.

"Karena aku tiba-tiba berubah," katanya.

Siska menatapnya lama. "Perempuan yang akhirnya percaya matanya sendiri bukan gila."

Ponsel Nadia berbunyi.

Farhan.

Siska menunjuk layar. "Jangan angkat kalau belum siap."

Nadia menatap nama itu sampai panggilan terputus.

Pesan masuk.

Kamu di mana?

Jangan kekanak-kanakan.

Pulang. Kita bicarakan.

Lalu satu pesan lagi.

Kalau kamu terus begini, aku akan bilang ke semua orang kamu sakit mental.

Siska memaki pelan.

Nadia mengambil tangkapan layar.

Tangannya sudah tidak gemetar.

"Dia cepat sekali memberi bukti tambahan," kata Nadia.

Siska tersenyum miring. "Akhirnya kamu pakai otakmu untuk melawan."

Pesan lain masuk, kali ini dari nomor tidak dikenal.

Kak Nadia, aku tahu Kakak marah. Tapi jangan hancurkan hidup anak-anak. Mereka butuh ayah yang tenang. Aku tidak pernah berniat merebut apa pun.

Nadia membaca dua kali.

Siska mendekat. "Rania?"

"Sepertinya."

"Balas?"

"Tidak."

Nadia mengambil tangkapan layar lagi, lalu memasukkan nomor itu ke folder bukti.

Beberapa menit kemudian, pesan dari Rania datang lagi.

Kalau Kakak merasa tidak sanggup punya anak, bukan berarti Kakak boleh membenci perempuan lain yang diberi amanah.

Siska hampir merebut ponsel. "Dia minta dilabrak."

Nadia menahan tangannya.

"Tidak. Dia ingin aku marah."

"Kamu tidak marah?"

"Marah. Tapi aku mau marahku berguna."

Ia membuka dokumen baru di laptop dan mulai mengetik kronologi. Tahun menikah. Tahun Dimas masuk rumah. Tahun Dinda menyusul. Alasan yang diberikan keluarga Farhan: anak saudara jauh yang orang tuanya meninggal. Kapan Rania mulai sering muncul. Kapan Farhan mulai pulang malam. Kapan Mama Meri mulai menyebut Nadia mandul di depan orang.

Semua yang dulu hanya terasa seperti luka, sekarang ia ubah menjadi data.

Sore hari, setelah Siska pulang untuk menemui keluarganya sendiri, Nadia akhirnya mandi. Ia memakai daster bersih, merebus air, lalu makan ketupat yang dibawakan Siska dari rumah.

Tidak seenak masakannya sendiri.

Tapi untuk pertama kalinya, ia makan tanpa menunggu semua orang selesai.

Menjelang magrib, ia membuka koper untuk mencari mukena. Kotak musik bermotif batik purnama jatuh pelan ke kasur. Tutupnya terbuka sedikit.

Nada lirih keluar.

Ponsel Nadia menyala.

Nomor itu muncul lagi.

020-2056-0000.

Jantungnya berdebar.

Ia menekan tombol hijau.

"Halo?"

Suara anak laki-laki terdengar tergesa.

"Nenek? Nenek sudah keluar dari rumah itu?"

Nadia mencengkeram ponsel.

"Raka?"

Anak itu terisak lega. "Alhamdulillah. Kak Rani, Nenek masih hidup."

Suara gadis kecil terdengar jauh. "Tanya kotaknya! Cepat, waktunya sedikit."

Nadia menatap kotak musik di kasur.

"Kotak ini apa?"

Raka menjawab cepat, "Jangan hilangkan. Itu punya buyut. Kalau kotak itu jatuh ke tangan Tante Rania, semua berubah lagi."

Nadia berdiri.

"Rania tahu soal kotak ini?"

Di seberang, suara berdesis.

Raka berteriak, "Nenek, jangan percaya kalau Ayah Dimas datang minta maaf besok. Dia bukan datang sendiri!"

Sambungan terputus.

Nadia menatap layar yang kembali gelap.

Ia memeriksa jendela, lalu pintu, lalu halaman kecil yang mulai gelap. Tidak ada siapa pun, hanya suara sendok dari warung sebelah dan anak-anak mengaji di kejauhan. Justru kebiasaan suasana itu membuat peringatan Raka terasa lebih nyata. Bahaya tidak selalu datang dengan teriakan. Kadang ia datang membawa kue, wajah menyesal, dan kata maaf yang dipakai sebagai kail.

Nadia memasukkan kotak musik ke dalam tas kain dan meletakkannya di dekat tubuh.

Di luar, azan magrib berkumandang.

Dan untuk pertama kalinya, rumah kecil itu terasa bukan tempat pelarian.

Tempat itu adalah garis awal perang yang sesungguhnya.

1
syska
ɪɴɪ ʙᴇᴛᴜʟᴀɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ʏɢ sᴀɴɢᴀᴛ sᴀɴɢᴀᴛ ʙᴀɢᴜs ʏɢ ᴘᴇʀɴᴀʜ ᴀᴋᴜ ʙᴀᴄᴀ...
sᴇʙᴇʟᴜᴍɴʏᴀ ᴀᴋᴜ ᴘᴇʀɴᴀʜ ʙᴀᴄᴀ ᴊᴜɢᴀ ᴄᴜᴍᴀɴ ᴊᴜᴅᴜʟɴʏᴀ ʟᴜᴘᴀ, ᴅᴀɴ ᴛᴏᴋᴏʜɴʏᴀ sᴀᴍᴀ ᴀʀɢᴀ ᴡɪʀᴀᴛᴀᴍᴀ, sᴀᴍᴀ sᴀᴍᴀ ᴛᴇɴᴛᴀʀᴀ ᴊᴜɢᴀ... ᴀᴋᴜ.ʟᴜᴘᴀ ᴀᴘᴀᴋᴀʜ ɪɴɪ ᴏᴛʜᴏʀ ʏɢ sᴀᴍᴀ ʏɢ ᴍᴇɴᴜʟɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀ...
ᴋᴇʀᴇᴇᴇɴɴɴ ᴀʙɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ... ❤️❤️❤️
syska
ʀᴀʏʏᴀɴ, ᴀsʜᴀ, ᴅᴀɴ ᴋɪʀᴀɴɪ ᴋᴀɴ ɴᴀᴍᴀ ᴀɴᴀᴋɴʏᴀ ɴᴀᴅɪᴀ ᴀʀɢᴀ...
syska
ᴘɪʟɪʜᴀɴ ʏɢ ᴛᴇᴘᴀᴛ ɴᴀᴅɪᴀ...
ZQ
jangan jangan Bagas itu ayah kandung Dimas dan Dinda
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
pusing , ulang lagi alurnya
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
ini kenapa yaa ke ulang trus jd pusing
Non
di episode 25 dimulai kotak musik berbunyi,,,
Rani & Raka manggil Nenek
anak² Nadia > Rayyan, Asha ,Kirana
Evy
Seram juga nih kotak musik nya bisa bunyi sendiri..
andi_wathy
iiihhh gue nangis bacanya 😭
Lesmana
crita nya di ulang lagi aja ini , thor...😤😤
Lesmana
asa jgn lupa , nadia.. itu rmh pinjaman sodara siska loh.. bukan rmh sndr🤭🤭🤭
mommy
sok banget gak butuh bantuan dari arga
mommy
aneh, walopun itu dari masa depan, cucunya kan belum lahir, gimana caranya dia tau, kecuali kalo itu sebuah buku cerita
Setiawan
ntar manggil mama , ntar manggil tante.. 😄😄😄
Dita Dwi
rani dan raka kn anak rayyan kok ini malah jadi kembarannya...
Thewie
laku yg bingung apa mmg othor ya gak cek KLO mau di post ya. kembali mengulang2. lama2 jadi aneh thor
Lesmana
ini msk rs yg ke2x nya atau ngulang sih ?? 🙄🙄

kog kejadiannya ky dejavu gini yah
Lesmana
laras ke dokter ini di ulang lg atau udah ke2x nya yah ?? lier aq🤭
Lesmana
loh td bukannya udah sampai di rmh nadia ?? yg disambut bu tatik , kog skrng ulang lg ??
sukensri hardiati
othor nggak ngecek cerita sebelum up...
setelah up juga nggak ngecek komen...jadi kesalahan terulang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!