Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki yang Membuatku Berani Pergi
Namun.. baru saja menginjakkan kaki di exit gate ballroom, Arka menghentikan langkah kakinya. Bahkan Celine sampai menubruk punggung tunangannya itu.
"Arka... what happend.." dengan penasaran, Celine bertanya
"Terserah kamu.. mau pulang sendiri.. atau kembali ke dalam.."
Tanpa penjelasan, laki-laki itu membalikkan badan dan kembali ke arah kursi VIP tempat pertama kali mereka duduk. Gadis itu hanya mendengus kesal, namun bergegas mengikuti arah tunangannya.
*************
Ballroom kembali dipenuhi cahaya terang ketika Joyce melangkah naik ke atas panggung. Senyum profesionalnya kembali terpasang sempurna, seolah tidak ada percakapan menyakitkan yang baru saja terjadi beberapa menit lalu di backstage.
Namun hanya Joyce yang tahu…, kedua tangannya masih gemetar kecil saat menggenggam microphone. Setelah sejenak menghirup nafas panjang...
“Ladies and gentlemen, thank you for staying with us tonight…”
Suaranya tetap terdengar stabil. Elegan. Berkelas.
Para tamu tidak menyadari bahwa perempuan yang sedang memandu acara besar itu baru saja berusaha menahan hatinya agar tidak runtuh lagi.
Dari meja VIP, Arka tidak pernah melepaskan pandangannya dari Joyce. Ada sesuatu yang berubah malam ini.
Biasanya Joyce akan mengejarnya, meminta penjelasan, menangis mempertahankan hubungan mereka.
Tetapi sekarang…, Joyce justru berjalan menjauh. Dan itu membuat Arka mulai merasa kehilangan untuk pertama kalinya. Terlihat penyesalan menggayut di wajah laki-laki itu.
Sementara itu, Ardian berdiri di sisi ballroom bersama beberapa direksi perusahaan. Namun fokusnya sesekali tertuju pada Joyce di atas stage. Cara perempuan itu berbicara. Cara ia tetap tersenyum di tengah luka yang jelas terlihat di matanya.
Dan entah mengapa…Ardian merasa kagum.
“Pak Ardian?”
Salah satu direksi memanggilnya. Namun sebelum percakapan berlanjut, suara Joyce kembali memenuhi ballroom.
“Untuk sesi berikutnya, kami mengundang seluruh tamu VIP menuju private exhibition area yang telah disediakan.”
Tepuk tangan terdengar lagi. Acara berjalan sempurna.
Tidak ada yang tahu bahwa MC yang mereka puji malam itu sebenarnya sedang berperang dengan dirinya sendiri.
Setelah sesi utama selesai, Joyce akhirnya turun dari stage sambil menghela napas panjang. Kakinya terasa lemas karena sejak tadi ia terus memaksa dirinya tetap kuat.
Ia berjalan cepat menuju pantry backstage untuk mengambil air minum.
Tetapi baru beberapa langkah…sebuah suara menghentikannya.
“Joyce.”
Bukan Arka.
Namun Ardian..., dan suara itu membuat gadis itu terkejut. Ada kekhawatiran di sudut hatinya, khawatir jika CEO Aetera Corporation itu kecewa dengan performnya. Atau kecewa karena tadi tanpa permisi, Arka mantan kekasihnya masuk ke back stage tanpa ijin.
"Aku harus siap dengan semua risiko..." bisik gadis itu dalam hati.
Gadis itu berusaha menguatkan hati, kemudian Joyce menoleh perlahan. CEO itu berdiri beberapa meter darinya sambil melepas jas suit bagian depan. Tatapannya jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.
“Kamu hebat.”
Joyce sedikit terdiam, dan memaksakan diri untuk tersenyum. Sudut bibirnya terangkat sedikit, kemudian..
“Maksud Anda bagaimana Tuan..?”
“Banyak orang terlihat kuat saat hidupnya baik-baik saja,” jawab Ardian tenang.
“Tapi nggak semua orang bisa tetap berdiri profesional saat hatinya sedang hancur.”
Kalimat itu membuat Joyce kehilangan kata-kata sesaat. Sudah terlalu lama tidak ada seseorang yang benar-benar mencoba memahami perasaannya.
Joyce tersenyum kecil. Tipis sekali.
“Saya cuma sedang bekerja, Tuan. Sehingga untuk mendapatkan uang, saya harus bisa memisahkan masalah pribadi dengan pekerjaan” sahutnya lirih
Ardian ikut tersenyum samar.
“Dan saya menghargai itu.”
Hening sejenak. Joyce tidak mampu lagi berkata-kata..
Namun suasana tenang itu mendadak berubah ketika suara langkah cepat mendekat dari belakang.
Arka. Dan tatapannya langsung tertuju pada Ardian yang berdiri dekat Joyce.
Rahangnya mengeras.
“Joyce, aku mau ngomong lagi.” tanpa menghiraukan keberadaan Ardian.. Arka menyela pembicaraan
Joyce langsung terlihat lelah.
“Aku rasa nggak ada yang perlu dibahas.”
“Ada.”
Nada suara Arka mulai emosional ketika matanya beralih pada Ardian.
“Bisa bicara berdua?”
Belum sempat Joyce menjawab, Ardian lebih dulu membuka suara dengan tenang.
“Sepertinya Ms. Joyce terlihat tidak nyaman.”
Kalimat itu terdengar sopan. Tetapi cukup tajam untuk membuat suasana memanas.
Arka menatap Ardian tidak suka.
“Ini urusan pribadi kami.”
Ardian tetap tenang.
“Kalau begitu selesaikan tanpa membuat dia tertekan. Dan yang perlu anda ingat, Ms Joyce saat ini masih berada di lingkungan kerja Aetera. So.. anda tidak punya hak untuk bicara dengannya”
Joyce bisa merasakan ketegangan di antara dua lelaki itu semakin jelas.
Dan untuk pertama kalinya… gadis itu merasa ada seseorang yang berdiri di sisinya tanpa meminta apa pun sebagai balasan. Perasaan hangat aneh mulai muncul di dada Joyce. Perasaan yang sebelumnya sempat mati setelah pengkhianatan Arka.
"Tapi tidakkah anda sadar, jika acara launching produk sudah selesai??" dengan sengit, Arka menjawab pernyataan Ardian.
"Tuan.. meskipun anda adalah calon pelanggan perusahaan kami.. Namun saya tidak akan segan bertindak, dan memanggil para pengawal, jika keberadaan anda di tempat ini meresahkan orang kami.."
dengan tenang, dan senyum sinis.. Ardian menegaskan. Kalimat itu sederhana, namun berisi pressure yang besar.
"Hemmpphh.. okelah, anda menang kali ini Tuan Ardian Mahendra... Tapi sampai kapanpun, Joyce adalah wanitaku.."
Seperti menegaskan kepemilikan, Arka melihat ke arah Ardian dengan tatapan tidak senang. Laki-laki itu kemudian membalikkan badan, dan berjalan meninggalkan mereka.
**************
Di lobby hotel, Rike tersenyum melihat kedatangan Joyce. Keberadaannya di tempat itu, memang untuk menjemput dan mengawal sahabatnya itu. Rike paham, jika saat ini Joyce sedang tidak baik-baik saja.
"Dah selesai say acaranya.. pulang yukk.."
Joyce menganggukkan kepalanya dengan lesu
"Ada apa lagi say.. ayuklah lupakan si bedebah itu.. Banyak kan, tadi wajah ganteng, mapan di dalam ballroom. Tidak adakah salah satu dari mereka yang lebih segalanya dari si bedebah Arka.."
"Justru itu Rik... tidak bisakah aku hidup tenang tanpa ada gangguan dari Arka.." ucap Joyce lirih.
"Kurang ajar.. jadi tadi si Arka sama si jalang itu menganggumu di dalam." wajah Rike seperti tersulut kemarahan.
Joyce diam sesaat tidak menjawab, dan Rike seakan menyimpulkan jika ada sesuatu yang terjadi di dalam. Dia merasa menyesal, karena tadi membiarkan Joyce di dalam, tanpa ada dirinya.
"Sorry say.. aku tadi tidak ada di dalam. Kamu tahu kan... aku tidak suka dengan acara seperti itu. Jadinya aku ngopi d depan.."
"Sudahlah Rik.. tidak ada yang salah. Kamu sahabatku yang paling baik, the best.. Anggap saja hari ini adalah hari apesku.."
Rike seperti tersadar.., kemudian..
"Okay.. malam ini kamu tidak boleh pulang ke apartemen. Kamu pulang ke tempatku.."
sambil merangkul pundak Joyce, gadis itu segera menuju ke arah lift. Dia tahu, jika malam ini Arka tidak akan membiarkan Joyce tenang. Laki-laki itu pasti akan datang ke apartemen Joyce, maka dengan membawanya pergi, Arka tidak akan bertemu dengan Joyce.