NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Arlan menyipitkan mata. Ingatannya kembali ke saat ia baru saja melangkah masuk tadi. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Sarah hanya duduk diam menikmati polesan kuku saat Dion tersungkur dan menangis kesakitan. Begitu ia muncul, Sarah berubah total ,berakting seolah ia adalah ibu yang paling lelah di dunia karena mengurus anak.

Pandangan Arlan beralih kembali ke catatan kecil di tangannya. Tulisan tangan Maya yang rapi, berisi jadwal vitamin Dion, jenis kain yang tidak membuat kulit Dion gatal, hingga daftar restoran yang aman dari kontaminasi kacang.

"Sarah," panggil Arlan dingin. Ia berjalan mendekat dengan catatan itu di tangan. "Kau bilang Maya membencimu dan Dion. Kau bilang dia sering mengabaikan kebutuhan Dion saat aku tidak di rumah."

Sarah mendongak, masih dengan raut wajah memelas yang dibuat-buat. "Iya, Kak. Mbak Maya itu dingin sekali kalau Kak Arlan tidak ada. Dia sering membiarkan Dion lapar kalau aku tidak turun tangan..."

"Lalu apa ini?" Arlan membanting catatan detail itu ke atas meja kopi di depan Sarah. "Kenapa 'wanita yang membenci Dion' ini sampai menuliskan detail ukuran sepatu Dion yang harus diganti setiap tiga bulan karena pertumbuhan kakinya? Kenapa dia mencatat tanggal vaksinasi yang bahkan kau sendiri lupa?"

Wajah Sarah memucat. Ia mencoba meraih kertas itu. "Itu... itu pasti hanya pencitraan dia agar terlihat baik di depan Kak Arlan!"

"Pencitraan?" Arlan tertawa getir, tawa yang penuh dengan penghinaan pada dirinya sendiri. "Pencitraan di dalam laci yang ia tahu tidak akan pernah aku buka? Pencitraan yang ia siapkan bahkan saat aku mengusirnya ke gudang?"

Arlan maju selangkah, membuat Sarah mundur hingga terpojok di sofa. "Selama setahun ini, aku membiarkan istriku diperlakukan seperti pelayan karena aku percaya pada setiap kata yang keluar dari mulutmu. Aku percaya kau adalah korban, dan dia adalah monster. Tapi lihat sekarang..." Arlan menunjuk Dion yang masih sesenggukan di pelukan Sarah ,pelukan yang tampak kaku dan terpaksa. "Anak ini hampir mati karena kecerobohanmu, sementara wanita yang kau fitnah adalah orang yang paling mengerti denyut nadinya."

"Kak, dengar dulu..."

"Cukup, Sarah!" bentak Arlan hingga Dion kembali tersentak kaget. Arlan tidak melanjutkan kalimatnya, namun kilat kemarahan di matanya sudah cukup untuk membuat Sarah gemetar ketakutan.

Malam itu, Arlan duduk di meja kerja yang sunyi. Ia mengambil map biru yang dikirimkan pengacara Maya. Ia membacanya dengan teliti, lembar demi lembar. Tidak ada permintaan harta. Tidak ada tuntutan uang. Hanya ada draf perceraian yang sudah ditandatangani oleh Maya dengan goresan pena yang mantap.

" Kamu tidak akan pernah ku lepaskan ,Maya...jangan pernah berharap kita akan bercerai."

Arlan meremas kertas draf perceraian itu hingga tak berbentuk. Matanya yang merah menatap nanar ke arah bingkai foto pernikahan mereka yang sengaja ia balikkan di sudut meja beberapa bulan lalu. Obsesinya untuk mempertahankan Maya kini bukan lagi didasari oleh cinta yang sehat, melainkan rasa bersalah yang terdistorsi dan keinginan untuk menebus dosa dengan cara yang salah.

"Kau menghukumku dengan kepergianmu, Maya. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menang," desisnya rendah.

Pagi harinya, Arlan tidak pergi ke kantor. Ia memanggil orang kepercayaannya, seorang mantan intelijen yang sering menangani kasus-kasus gelap perusahaan.

"Cari dia. Aku tidak peduli berapa banyak uang yang harus kukeluarkan. Aku ingin tahu di mana dia tidur, apa yang dia makan, dan dengan siapa dia bicara," perintah Arlan dingin.

"Tapi Pak, pengacara Ibu Maya sangat menutup rapat informasi ini. Secara hukum, Ibu Maya memiliki hak untuk..."

"Aku tidak butuh penjelasan hukum!" Arlan memotong dengan bentakan. "Cari celah dari keluarganya. Rumah sakit tempat ibunya dirawat, ayahnya, siapa pun. Jika dia tidak mau kembali secara sukarela, buat dia tidak punya pilihan lain selain mencariku."

Di sebuah kota kecil yang berjarak ratusan kilometer dari hiruk-pikuk ibu kota, Maya sedang menata beberapa buku di rak sebuah perpustakaan desa. Rambutnya yang biasa disanggul rapi kini dibiarkan tergerai bebas. Tak ada lagi gaun mahal, hanya kaos katun sederhana.

"Maya, ada telepon untukmu di kantor," panggil kepala perpustakaan.

Maya mengerutkan kening. Tak ada yang tahu nomor tempat kerjanya yang baru selain ayahnya. Saat ia mengangkat gagang telepon, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Hening di seberang sana, namun Maya bisa mendengar deru napas yang sangat ia kenali. Napas yang dulu sering ia dengar saat ia tidur di samping pria itu.

"Pulang, Maya." Suara Arlan terdengar serak, namun penuh otoritas yang tak terbantahkan.

Maya menggenggam gagang telepon lebih erat. "Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?"

"Tidak ada tempat yang tidak bisa kujangkau. Kau pikir dengan kabur ke pinggiran kota dan bekerja sebagai pustakawan, kau bisa menghapus statusmu sebagai istri Arlan Dirgantara?" Arlan tertawa pelan, tawa yang membuat bulu kuduk Maya berdiri. "Aku sudah melunasi semua sisa biaya pengobatan ibumu di rumah sakit terbaik, dan aku sudah memastikan ayahmu tidak perlu bekerja keras lagi. Semuanya sudah kuberikan... sebagai uang muka kepulanganmu."

"Kau mengancamku dengan keluargaku lagi, Mas? Setelah semua yang kau lakukan?"

"Aku tidak mengancam, aku sedang bernegosiasi," sahut Arlan tajam. "Sarah sudah sudah kembali kerumah nya. Rumah ini kosong. Dion merindukanmu. Dan aku... aku hampir gila tanpamu. Jika kau tidak pulang dalam waktu dua puluh empat jam, aku sendiri yang akan menjemputmu dengan cara yang tidak akan kau sukai."

Dua puluh empat jam kemudian, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan rumah besar keluarga Dirgantara. Maya turun dengan langkah berat. Di ambang pintu, Arlan berdiri menunggu. Pria itu tampak lebih kurus, dengan kantung mata yang dalam, namun binar kemenangannya sangat jelas.

Arlan melangkah mendekat, mengabaikan tatapan benci dari Maya. Ia menarik pinggang Maya dengan kasar, mengunci wanita itu dalam pelukannya.

"Selamat datang di rumah, Sayang," bisik Arlan di telinga Maya.

Maya tidak membalas pelukan itu. Tangannya tetap dingin di samping tubuhnya. "Kau bisa membawaku kembali ke rumah ini, Mas. Tapi kau tidak akan pernah bisa membawa kembali Maya yang dulu."

Arlan tersenyum miring, sebuah senyum tipis yang menunjukkan betapa rusaknya hubungan mereka. "Aku tidak butuh Maya yang dulu yang selalu mengalah. Aku ingin Maya yang sekarang... yang membenciku, karena kebencianmu jauh lebih jujur daripada cinta yang kau berikan dulu. Dan aku punya waktu seumur hidup untuk membuatmu tetap di sini, meski itu berarti aku harus menjadi penjara bagimu."

Maya hanya bisa menatap nanar lorong rumah yang kini terasa seperti labirin tanpa jalan keluar. Arlan melepaskan pelukannya, namun jemarinya masih mencengkeram lengan Maya, seolah takut jika ia lengah sedetik saja, wanita itu akan menguap seperti asap.

"Masuklah. Kamar kita sudah kembali seperti semula. Semua barang Sarah sudah kubakar, tidak ada satu pun jejaknya yang tersisa," ujar Arlan sembari menuntun Maya masuk.

Langkah kaki mereka bergema di ruang tamu yang sunyi. Benar saja, rumah itu kini bersih dari aroma parfum Sarah yang menyengat. Namun bagi Maya, udara di sini tetap terasa beracun. Setiap sudut ruangan ini masih menyimpan memori tentang bagaimana ia dihinakan di depan tamu, bagaimana ia dipaksa memakai celemek pelayan, dan bagaimana Arlan menatapnya dengan kebencian murni.

"Aku ingin melihat Dion," ucap Maya singkat, memutus keheningan.

Arlan mengangguk, sorot matanya sedikit melunak mendengar permintaan itu. "Dia di kamar bermainnya. Dia terus memanggil namamu sejak insiden itu."

Saat pintu kamar bermain terbuka, Dion yang sedang duduk di atas karpet berbulu langsung menoleh. Mata kecilnya membelalak. Dengan langkah tertatih, bocah itu berlari dan menghambur ke pelukan Maya.

"Mama Maya! Mama pulang!" tangis Dion pecah.

Maya berlutut, memeluk erat tubuh mungil itu. Dadanya sesak. Dion tidak bersalah dalam permainan ego orang dewasa ini. Namun, saat Maya membelai rambut Dion, ia menyadari Arlan berdiri di ambang pintu, memperhatikan mereka dengan tatapan posesif yang mengerikan. Arlan seolah sedang mengagumi miliknya yang telah kembali ke dalam sangkar.

"Lihat, Maya? Dia membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu," bisik Arlan sembari mendekat dan berlutut di samping mereka. Tangan Arlan mencoba menyentuh bahu Maya, namun Maya dengan halus menghindar dengan cara membetulkan posisi duduk Dion.

"Dia membutuhkan ibu nya, Mas. Kenapa kamu memisahkannya dari ibu kandungnya?" balas Maya tanpa menoleh.

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!