NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 // MBKCM

​Suara jeritan pilu Kiana seolah masih menggantung di langit-langit ruko Twin's Florist yang sunyi. Di atas lantai, Ardan Arkatama masih bertahan dalam posisi berlutut. Bahu tegap pria itu tampak bergetar pelan, menanggung beban penyesalan yang teramat sangat berat. Setiap kata yang keluar dari bibir Kiana bagai cambukan cambuk berduri yang menguliti harga dirinya hingga tak bersisa.

​Ardan mendongak, menatap wajah wanita yang kini sedang menangis tersedu-sedu di hadapannya. "Dengarkan aku dulu, Kiana... aku mohon, beri aku kesempatan satu kali saja untuk menjelaskan semuanya padamu," lirih Ardan, suaranya terdengar serak dan begitu putus asa.

​"Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, Pak Ardan! Semuanya sudah selesai sejak malam itu!" seru Kiana sembari memalingkan wajahnya, enggan menatap sepasang mata elang yang kini tampak begitu rapuh.

​"Aku ditipu, Kiana! Selama ini aku dipermainkan oleh seseorang yang sampai detik ini belum aku ketahui siapa orangnya!" ucap Ardan dengan nada suara yang bergetar hebat, mencoba meyakinkan wanita di depannya. "Hasil tes medis dari rumah sakit besar yang kupegang selama bertahun-tahun itu palsu. Aku baru saja melakukan tes ulang di klinik kecil secara rahasia pagi ini, Kiana. Dan hasilnya... aku ternyata tidak mandul. Aku normal, sangat sehat, dan seratus persen subur!"

​Mendengar pengakuan yang meluncur dari bibir Ardan, tangis Kiana mendadak mereda sesaat. Dia tertegun, perlahan memalingkan kembali wajahnya untuk menatap pria yang masih bersimpuh di bawah kakinya.

​Keheningan yang mencekam kembali merayap di antara mereka. Kiana menatap lekat-lekat mata merah Ardan, mencari kebohongan di sana, namun yang dia temukan hanyalah guratan rasa sakit, frustrasi, dan kehancuran yang teramat nyata. Pikiran Kiana berputar kacau. Dia... tidak mandul? Jadi selama ini dia hidup dalam kebohongan?

​Ada sebersit rasa kasihan yang mendadak menyelinap di sudut hati Kiana yang paling dalam saat mengetahui fakta tersebut. Bagaimanapun, pria kejam di hadapannya ini telah hidup tersiksa selama bertahun-tahun akibat vonis kesehatan palsu yang menghancurkan harapannya untuk memiliki keturunan. Ardan pasti merasa dunianya runtuh saat mengetahui dirinya dimanipulasi sedemikian rupa oleh musuh yang tak kasat mata.

​Namun, rasa iba itu hanya bertahan selama beberapa detik saja. Kiana memejamkan matanya rapat-rapat, dan seketika itu juga, ingatan tentang malam yang dingin di atas jembatan kembali berputar dengan sangat kejam. Kiana teringat bagaimana Ardan melemparkan tatapan penuh jijik, dan bagaimana ucapan-ucapan kasar yang keluar dari bibir kejam Ardan malam itu telah meremukkan seluruh harga dirinya sebagai seorang wanita terhormat.

​Kiana membuka matanya, dan sorot mata hangat yang sempat muncul tadi kini berubah menjadi sedingin es.

​"Anda normal...?" tanya Kiana, suaranya terdengar datar namun sarat akan kepedihan. Dia tersenyum getir, menggelengkan kepalanya perlahan. "Fakta bahwa Anda normal atau subur, itu sama sekali tidak mengubah keputusan apa pun dariku, Pak Ardan."

​Ardan tersentak, wajahnya kian memucat. "Kiana, apa maksudmu? Anak-anak itu..."

​"Malam itu... saya yang memulai semuanya," potong Kiana dengan nada dingin, mengungkit kembali awal mula petaka di antara mereka. "Saya yang sedang kehilangan kesadaran memancing anda lebih dulu. Dan Anda... Anda sudah membayar saya. Anda sudah memberi saya uang sepuluh juta rupiah setelah malam itu, bukan?"

​"Kiana, jangan bicara seperti itu, aku mohon..." ratap Ardan, dadanya terasa sesak bagai dihantam batu besar mendengarkan Kiana mengungkit nominal uang sialan itu.

​"Uang sepuluh juta itu sudah lebih dari cukup untuk membayar malam itu, Pak," lanjut Kiana kejam, mengabaikan raut kesakitan di wajah Ardan. "Hubungan kita harganya hanya sebatas itu. Dan sejak malam di mana Anda mengusir saya untuk tidak pernah muncul di hadapan Anda, saya tidak pernah menginginkan apa pun lagi dari Anda. Tidak harta Anda, tidak juga kehadiran Anda."

​Mendengar penolakan yang begitu mutlak, Ardan tidak bisa lagi menahan dirinya. Dia bergerak bangkit berdiri dengan tergesa-gesa. Tubuh tingginya kembali menjulang di depan Kiana. Dengan napas yang memburu, Ardan mencoba melangkah maju, mengulurkan kedua tangannya untuk meraih dan memegang tangan Kiana, berniat untuk memeluk dan menenangkan wanita itu.

​"Kiana, dengarkan aku... aku mohon jangan seperti ini," ujar Ardan, suaranya naik satu oktav karena panik.

​Namun, sebelum jemari Ardan sempat menyentuh seujung kuku pun, Kiana dengan sangat cepat menarik kedua tangannya ke belakang tubuhnya. Dia melangkah mundur satu tindakan dengan wajah yang dipenuhi ketakutan dan penolakan yang luar biasa.

​"Jangan sentuh saya!" bentak Kiana kasar. "Jangan pernah berani menyentuh saya lagi dengan tangan Anda, Pak Ardan!"

​Ardan menghentikan gerakannya di udara, tangannya menggantung gemetar. "Kiana... beri aku kesempatan. Biarkan aku bertanggung jawab padamu. Biarkan aku menjaga dan merawatmu, serta anak-anak dalam kandunganmu itu. Mereka berdua membutuhkan seorang ayah, Kiana. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup kesusahan lagi di ruko ini."

​Mendengar kata tanggung jawab, Kiana merasa ingin tertawa sekencang-kencangnya di tengah tangisnya. Tanggung jawab? Setelah semua makian dan pengusiran itu, kini pria ini bicara tentang tanggung jawab seolah semuanya bisa diperbaiki dengan mudah menggunakan uang dan kekuasaan?

​Kiana tidak langsung menjawab. Sepasang matanya perlahan bergerak turun, melirik ke arah jemari tangan kiri Ardan yang sejak tadi menggantung di udara. Di sana, di jari manis pria itu, masih tersemat sebuah cincin pertunangan bermata berlian yang sangat mewah dan berkilau, cincin pengikat antara Ardan dan Dania.

​Kiana mengulas senyum paling getir yang pernah dia miliki, menunjuk cincin itu dengan lirikan matanya yang redup.

​"Tidak perlu, Pak Ardan. Tanggung jawab Anda tidak pernah dibutuhkan di ruko sederhana ini," tutur Kiana dengan nada suara yang perlahan kembali memelan, namun terdengar sangat menusuk. "Pergi saja dari sini... pergi dan jangan pernah menampakkan wajah Anda atau menemui saya lagi seumur hidup Anda."

​"Kiana, aku tidak bisa pergi begitu saja setelah tahu kebenarannya,"

​"Saya bilang pergi, Pak!" seru Kiana, napasnya mulai terengah-engah karena kelelahan emosional yang luar biasa.

​Tanpa berniat mendengarkan argumen atau permohonan Ardan lebih lanjut, Kiana membalikkan tubuhnya dengan cepat. Dia melangkah tergesa-gesa menghindar, berjalan menuju anak tangga kayu yang berada di pojok ruangan, tangga yang akan membawanya menuju kamarnya di lantai dua tempat teraman di mana tidak ada sosok Ardan Arkatama.

​Namun, tepat saat kaki kanannya baru saja menapak pada anak tangga yang ketiga, langkah Kiana mendadak terhenti sejenak. Ada sesuatu yang menahan nuraninya untuk tidak pergi begitu saja tanpa memberikan pukulan terakhir pada ego pria itu.

​Kiana memutar kepalanya perlahan, menoleh ke arah Ardan yang masih berdiri mematung di tengah toko bunga sembari menatap punggungnya dengan pandangan hancur.

​Kiana menatap Ardan lurus-lurus. Tatapan mata Kiana saat itu terlihat sangat sendu, dipenuhi oleh sisa-sisa luka, namun juga sarat akan ketegasan yang tak tergoyahkan.

​"Satu hal lagi, Pak Ardan..." ujar Kiana, suaranya menggema lirih di antara keheningan ruko. "Kembalilah ke Jakarta. Jangan menyakiti dan mengkhianati perasaan calon istri Anda yang ada di sana... hanya karena Anda mendadak memedulikan wanita sampah seperti saya di sini."

​Jleb

​Kalimat terakhir yang diucapkan Kiana dengan nada selembut sutra itu justru menjadi senjata paling mematikan yang meremukkan seluruh pertahanan Ardan. Kata wanita sampah yang dulu pernah dia lontarkan kini berbalik menyerang hatinya, menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat menyiksa.

​Setelah mengucapkan kalimat menohok tersebut, Kiana tidak menoleh lagi. Dia melanjutkan langkah kakinya menaiki tangga dengan cepat, meninggalkan Ardan yang terpaku diam sendirian di lantai satu, tenggelam dalam penyesalan yang tiada bertepi di sela-sela keharuman bunga-bunga yang mendadak terasa begitu menyesakkan napasnya.

1
Lisa
Ardan harus mengambil sikap tegas utk melawan kakeknya..
Lisa
Penyesalan Ardan tidak berarti lg utk Kiana..
partini
sat set lah tuan be smart don't be stupid aihhh CEO 🤦
Nur Fadilah
suka jln ceritax
Lisa
Duh punya tetangga koq kayak gitu ngomongnya..
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!