"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"
"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan 💙 lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminangmu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu."
Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.
"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.
"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08 [ Apa kebahagiaan masih menyertainya ]
Di kurung diruangan yang kosong dan hanya beralas lantai, Cantika memeluk tubuhnya yang berselimut rasa dingin sebab tak ada selimut yang berikan.
Perutnya pula ikut berbunyi sadar sejak pagi tadi ia tak memakan makanan apapun sebagai penambah stamina dalam tubuh.
Jarum jam bergerak ke arah pukul 19:30 malam, udara sejuk diluar mulai menyelinap masuk lewat celah-celah, berbanding dengan derita yang Cantika rasakan.
Diruangan lain dua sosok suami-istri saling bermesraan, Adrian menyuapi Monika obat lantaran alerginya yang kumat dan penyebabnya ada pada makanan yang telah Cantika sajikan tadi.
"Sayang... Kamu tidak mau membebaskan Cantika? Kasihani dia sejak pagi tadi ia belum makan apa-apa?"bujuk Monika tapi Adrian tak memperdulikan.
"Sayang... Apa hatimu sebegitu baiknya kepada orang yang telah membunuh anak kita? Kamu memiliki iba terhadapnya, tapi ketika kejadian naas itu terjadi apa dia memiliki perasaan terhadap kalian yang dalam keadaan sekarat ditengah jalan? Aku dapat info seusai menabrak, dia tidak sempat melihat bahkan langsung tancap gas tak peduli pada kondisimu... apa orang seperti itu masih bisa diberikan pintu maaf? Tidak!"
Emosi Adrian nampak mulai memburu, Monika tak melanjutkan permintaannya, ia hanya memeluk tubuh kekar suaminya.
"Baiklah aku mengerti tapi tidak baik menyimpan dendam, sudahi ya?"pintanya memohon.
"Sampai mati pun dendam ini tidak akan pernah pudar! Bahkan setiap kali melihatnya ingin rasanya aku melenyapkan detik itu juga, tapi hatiku tidak seburuk itu menggunakan cara kasar! Ada banyak cara! Yang pasti aku bakal buat dia menangis darah!"
"Adrian sepertinya sangat membencinya tapi itu lebih bagus!"batin Monika yang suka Suaminya tak memperdulikan Wanita itu biarpun sudah berstatus istrinya juga.
Tok
Tok
Kedatangan seseorang membangkitkan Adrian dari atas ranjang, ia berjalan menuju arah pintu dan membukanya.
"Apa sesuatu terjadi?"
"Tidak, Tuan. Hanya saja Tuan Victor mengirimkan undangan pernikahan saudara tiri Cantika, beliau berharap Tuan dan Cantika ikut menghadirinya."
Diserahkan undangan itu, tapi Adrian engan menerimanya.
"Lupakan saja aku tidak akan pernah mau menghadirinya, entah pernikahan saudara tirinya ataupun siapa pun itu, aku tidaklah peduli."
"Tapi... dari kabar-kabar yang saya dapat, saudara tiri Cantika akan menikah dengan pacar Cantika. Bahkan mereka telah menjalin hubungan selama 4 tahun, bukankah ini kesempatan yang pas untuk Tuan balas dendam?"
"Kesempatan yang pas untuk balas dendam?"
"Iya, bukankah Tuan bilang ingin balas dendam? Bukankah dengan cara Tuan menghadiri pernikahan ini, bergandengan tangan seolah-olah hubungan kalian harmonis mantan Cantika akan percaya jika dia telah dikhianati? Bukankah Tuan juga ingin melihat kehancuran orang yang telah membunuh putri dan calon anak anda? Saya memiliki ide kenapa Tuan tidak pura-pura mencintainya? Jika ia sudah terjerat dalam cinta, Tuan bisa membuangnya layaknya sampah yang sudah tidak terpakai."
"Tepat! Tumben kamu memiliki ide secemerlang ini? Baiklah siapkan satu jas yang paling mewah, pilihkan pula gaun mewah yang cukup cocok untuk dikenakan Wanita sialan itu, aku akan membuktikan seberapa licik wanita itu di pandangan sang mantan, melihatnya hancur hingga berderai air mata kelihatannya ini aka sangat-sangat menyenangkan."
Jarum jam terus berputar dan kini menunjukkan pukul 22:00, disela-sela hatinya telah terguncang antara kecemasan dan pasrah menerima kelanjutan nasibnya, salah seorang kembali datang dengan membawa sebungkus nasi.
Langkah kaki lelaki itu menggema memecah sunyi yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Aroma nasi hangat menyusup di udara, tapi Cantika tak melirik sekalipun, biarpun sudah beberapa jam sejak ia dikurung tak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh, tak membuat ia tergoda pada makanan yang dibawa oleh anak buah Adrian.
Perutnya mungkin berteriak meminta diisi, tubuhnya mungkin mulai melemah, tetapi harga dirinya jauh lebih keras daripada rasa lapar.
"Makanlah."
Disodorkan langsung nasi bungkus itu, Cantika lebih memilih mengalihkan pandangannya. Ia bahkan serasa tak sudi melihat wajah dari orang-orang yang menurutnya mereka semua hanyalah manusia-manusia kejam yang tak memiliki hati.
Sikap dingin Cantika membuat lelaki itu berdecak kesal. Tangannya yang sejak tadi terulur perlahan turun, sementara sorot matanya mulai berubah tajam.
"Baiklah itu urusanmu! Tuan kita sudah sangat baik masih memiliki hati memberikan anda makan, tapi jika anda kekeh menolak itu keputusan terbodoh yang anda buat sendiri."
Tak dipedulikan, anak buah itu pun berlalu pergi meninggalkan ruangan ini. Pintu baru saja terbuka, keluarnya lelaki itu siapa sangka kehadiran Adrian sudah menunggu di depan pintu sontak mengejutkan mereka.
Sosok tinggi itu berdiri tegap dengan aura dingin yang seketika membuat suasana semakin mencekam. Tatapannya menusuk tajam seolah bisa membaca apa yang baru saja terjadi di dalam sana.
"Ada apa?" kata yang dilontarkan Adrian. Ia tahu sesuatu telah terjadi, terlihat dari raut wajah lelaki barusan nampak murung.
"Wanita itu tidak mau makan."
"Baiklah serahkan saja itu padaku."
"Baik tuan, kami permisi."
"Silahkan."
Anak buah itu segera menyingkir, seolah tak ingin terlalu lama berada di sekitar majikannya saat emosi mulai terpancing.
Melihat sendiri niat baik yang ditawarkan ditolak secara cuma-cuma, dengan langkah gontai Adrian membawa satu bungkus nasi beserta nampan itu, masih memberikan tatapan sinis kepada Cantika. Tapi sebaliknya pada Cantika sendiri ia lebih memilih tak acuh.
Cantika menatap lurus ke depan, seakan keberadaan pria itu tak berarti apa-apa. Sikap acuh itu justru menjadi tamparan bagi ego Adrian. Rahang lelaki itu mengeras, menahan sebuah amarah.
Namun lagi-lagi cengkraman kembali ia layangkan pada rahang Cantika. Wanita itu sedikit merintih, namun lelaki yang menyakitinya tak memperdulikannya sekalipun.
Jari-jari Adrian mencengkeram kuat, memaksa wajah Cantika mendongak menatapnya. Air mata nyaris jatuh karena rasa sakit, tetapi Cantika menahannya mati-matian. Ia tak ingin terlihat lemah di depan orang yang paling ia benci saat ini.
"Kau tau? Aku paling tidak suka ada orang yang menolak niat baikku, anda masih untung aku masih memiliki hati mau memberi kau makan, jadi cepat makan atau anda lebih memilih kelaparan!"
Suara Adrian rendah namun penuh ancaman, menggema di tiap sudut ruangan seperti peringatan yang tak bisa disepelekan.
Mendengar ancamannya... sebaliknya Cantika lagi-lagi lebih memilih tak menggubris, hanya menunjukkan tatapan seolah-olah menyepelekan hal itulah yang ia lakukan. Tatapan itu begitu tajam, penuh penghinaan, seakan Adrian bukan siapa-siapa di hadapannya.
"Sekalipun kau beri aku makan aku akan tetap tidak akan pernah memakan makanan itu. Aku tidak bodoh didalam nasi itu bisa jadi kamu taruh racun kan? Tapi dengarlah jika anda masih tak tega membunuhku anda janganlah khawatir, dengan cara aku tak memakan apapun secara perlahan anda sudah membantuku mencapai titik yang paling aku tunggu, yaitu kematian, sekali lagi terima kasih."
"Dasar bodoh!" umpat Adrian.
Tangannya melepaskan rahang Cantika dengan kasar hingga kepala wanita itu terhuyung ke samping. Nasi bungkus di tangannya diremas tanpa sadar, amarah menguasai seluruh kesabarannya.
Berlalu Adrian memilih pergi, ia tidak peduli apapun yang diucapkan wanita itu baginya wanita yang ia kurung hanyalah wanita bodoh.
Pintu kembali tertutup keras.
Dan di dalam ruangan gelap itu, Cantika memejamkan mata perlahan. Tubuhnya mungkin semakin lemah, tetapi tekadnya justru semakin hidup. Ia tahu satu hal... selama dirinya masih bernapas, ia tidak akan pernah tunduk pada Adrian.
BERSAMBUNG