"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Solusi
"Bagaimana Mbah? kenapa Kalingga berdarah?" tanya Kaelan khawatir
Rumi merasa heran karena dia yakin sudah membersihkan pusar Kalingga bahkan memotongnya dengan benar dan mengubur ari arinya dengan tata cara di kampung Mahoni. tapi bagaimana mungkin pusar Kalingga mengeluarkan darah meskipun sudah di bawa ke klinik Nurdin.
"Tidak ada luka Bu, tapi kenapa darahnya terus keluar" heran Nurdin
"Pasti ada sesuatu yang terjadi, ini bukan masalah medis Nurdin, panggil seseorang yang bisa melihat ini" jawab Rumi
"Dia terus menangis karena tali pusarnya di sembunyikan makhluk halus, sepertinya Malak tahu kalian membawa Kalingga dari dalam kubur Maryani" ucap Kalana yang muncul dari dalam tubuh Karna karena melihat keanehan dari dalam pusar Kalingga.
"Apa maksud kamu? Ari Arinya aku sendiri yang kuburkan, bahkan itu Ari Ari Kalingga karena ada sisa kain yang aku ikatkan di tali pusarnya" ucap Rumi
"Itulah yang kamu pikirkan, tapi kenyataannya aku melihat pusar anak ini terhubung ke arah kampung cadas, pasti Malak atau Jayandanu sudah membodohi kalian saat di hutan, kalian kelelahan karena satu hari tidak tidur jadi kalian sedikit lengah, aku juga baru menyadari itu saat melihat pusar Kalingga" jawab Kalana
"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Kaelan
"Kalingga tidak bisa tinggal di sini, dia harus tinggal di kampung cadas bersama Ari arinya, cari Ari Ari itu dan setelah di temukan, lakukan ritual penguburan Ari Ari dengan benar, Ari Ari bayi ini sepertinya di bawa ke alam gaib atau di sembunyikan dengan mantra" jawab Kalana
"Bagaimana kalau ari ari itu sudah hancur?" tanya Rumi
"Lihat garis hitam di sekitar pusar Kalingga, berbentuk lingkaran itu artinya ari arinya tidak akan hancur, ini mantra pengikat dan akan hilang jika ari ari Kalingga sudah kalian dapatkan" jawab Kalana
"Narno bajingan! dia pasti sudah tahu kalau Maryani melahirkan anak kami, Kalingga terus menangis dan kebetulan jalan ke perbatasan melewati rumahnya" ungkap Kaelan
"Kamu benar, padahal Prawira sudah menutupi tubuh kami dengan kain hitam supaya tidak ketahuan, tapi ternyata suara tangis Kalingga masih terdengar" ucap Rumi
"Kaelan... tidak ada pilihan lain, kalau kamu ingin Kalingga hidup, kamu harus kembali ke kampung cadas, tinggal di sana sampai ari ari Kalingga kamu temukan" ucap Rumi
"Tidak, bagaimana kalau Kalingga di jadikan tumbal saat Kaelan pergi bekerja Mbah? bapak dan ibu tidak bisa membantah Narno" ucap Kaelan
"Tapi kalau Kalingga di sini, dia akan terus seperti ini" ucap Rumi
"Ayah Kalana, apa tidak ada cara lain? aku juga ingin membawa Kalingga ke kota supaya dia bisa ikut aku kerja" tanya Kaelan
"Temukan ari arinya, hanya itu caranya" jawab Kalana
Kaelan terduduk lemas, dia merasa kalau Kalingga tinggal di kampung cadas, itu sama saja Kaelan menyiksa anaknya, bukan hanya akan di benci dan di caci, Kalingga juga akan di kucilkan di kampung itu yang sejak Kaelan memutuskan untuk pergi bekerja di kota, semua warga di sana membenci keluarganya.
"Kalingga, kenapa ini harus terjadi, maafkan ayah nak...." lirih Kaelan memeluk bayinya yang masih terus menangis di gendongannya.
"Kalana aku tidak bisa membuat anakku menderita di sana, cucuku juga" ucap Karna
"Aku ingin membantu, tapi tuan juga tahu kan kalau Kaelan ini adalah keturunan Arsana, Arsana yang akan mendampinginya" jawab Kalana
"Tapi panglima Arsana itu penjaga hutan keramat Sagara" ucap Rumi
"Minta sisik Kalia, sisik itu akan membuat pusar Kalingga berhenti mengeluarkan darah, tutup bagian pusarnya dengan sisik itu supaya Malak dan Jayandanu tidak bisa menarik Kalingga untuk jadi makanan mereka" jawab Kalana
"Kalia..."
"Iya, leluhur kampung mahoni yang di percaya warga kampung ini sejak jaman dulu" jawab Kalana
"NYI Kalia sekarang ada di air terjun hutan Sagara bersama suaminya Gatra, pergilah ke sana melalui aliran sungai di dekat mata air Ciherang, kecuali kamu datangi Liam dan Lintang, minta ijin mereka untuk melewati hutan miliknya" ucap Rumi
"Temui Arsana untuk mendapatkan ijin ke sana, Arsana akan bicara dengan mereka berdua, ayo ayah antar" ucap Karna
Kaelan tetap menggendong Kalingga, dia pergi bersama Karna dengan perasaan cemas, bahkan kain bedong Kalingga juga masih terus di aliri darah dari pusar Kalingga meskipun tidak deras tapi tetap membuat bayi itu tidak nyaman.
Setengah jam berjalan mereka sudah sampai di rumah milik Sagara yang sekarang di tempati oleh cucunya yang bernama Liam Langit Danendra dan Lintang Langit Danendra, dua saudara kembar itu merupakan pemilik dari sekolah kampung Mahoni yang dulu sempat di tentang keras keberadaannya di kampung itu, tapi setelah peperangan gaib berlangsung dan di menangkan oleh pihak Sagara, semua warga kampung Mahoni mengakui keberadaan keduanya dan menerima mereka jadi bagian kampung Mahoni.
"Ada apa cucuku?" tanya Arsana
"Kakek, anakku terus menangis karena kami salah membawa ari ari bayi lain, Malak menipu kami" jawab Kaelan membuat Arsana yang sedang menjaga hutan Sagara terkejut.
"Berani sekali mereka, akan aku hancurkan mereka!" bentak Arsana
"Jangan, selama ari ari Kalingga ada pada mereka, kita tidak bisa melakukan apapun, nyawa Kalingga dalam bahaya, sepertinya Malak tahu kalau kekuatan yang dia miliknya sekarang tidak cukup untuk mengalahkan kita kalau sampai tantangan perang dia layangkan" ucap Kalana lalu menjelaskan apa yang terjadi, dan solusi apa yang harus di lakukan oleh Kaelan.
"Aku akan bicara pada pangeran Liam dan Lintang supaya mengijinkan kalian masuk dan Kalia bisa menemui kalian secara langsung juga" ucap Arsana dan Kaelan mengangguk.
Tak perlu waktu lama, Arsana sudah mengajak Liam yang saat itu sudah berusia empat puluh tahun keluar bersamanya bahkan Lintang juga ikut bersama keduanya.
"Kaelan, kemarikan Kalingga, aku akan membawanya pada Kalia" ucap Liam
"Tapi kami saja tidak bisa masuk rumah ini" ucap Kaelan karena memang rumah Sagara menolak semua orang kecuali orang orang terpilih.
"Kalingga berbeda Kaelan dan kamu pasti tahu itu" jawab Lintang yang bisa melihat ada sesuatu di pusar Kalingga.
"Anak ini memiliki pusar Chakra bang, itu sebabnya ari arinya tidak bisa jauh dari dia, harusnya ari arinya di hanyutnya di sungai supaya bayi ini nantinya bisa jadi anak yang bebas" ungkap Lintang
"Jadi begitu, Tante Kalia!" panggil Liam dan secara tiba tiba sesosok ular besar berwarna merah berada di samping Liam.
"Ya pangeran" jawab Kalia menunduk hormat
"Minta sisik kamu" jawab Liam
"Untuk apa pangeran? apa pangeran tidak punya uang?" tanya Kalia langsung di tatap datar Liam dan Lintang.