NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nutrisi dan Obsesi

Cahaya pagi di puncak bukit Etheria tidak pernah benar-benar terasa hangat. Sinar matahari yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit di ruang makan mansion Geovani tampak pucat, seolah energinya terserap oleh hamparan salju abadi di luar sana. Briella duduk diam di kursi kayu ek berukir, menatap sebuah mangkuk porselen putih yang mengepulkan uap tipis di hadapannya. Bau hambar dari bubur gandum organik yang dicampur dengan berbagai ekstrak suplemen medis membuat perutnya bergejolak mual.

​"Makan, Briella. Aku tidak menyiapkan itu untuk kau tonton," suara dingin Geovani memecah keheningan yang menyesakkan.

​Pria itu duduk di ujung meja yang panjang, masih mengenakan kemeja hitam formal yang disetrika sempurna, kontras dengan jas putih dokter yang ia sampirkan di sandaran kursi. Ia tidak sedang menatap Briella; matanya fokus pada tablet digital yang menampilkan grafik fluktuasi hormon, namun auranya yang mendominasi memenuhi seluruh ruangan.

​"Aku tidak lapar. Baunya menjijikkan," sahut Briella pelan, ia mendorong mangkuk itu menjauh hingga menimbulkan suara decit tajam di atas meja marmer.

​Geovani meletakkan tabletnya perlahan. Gerakannya sangat tenang, namun Briella tahu itu adalah tanda bahaya. Sang Dokter bangkit dari kursinya, langkah kakinya yang berat dan mantap bergema di lantai ruangan yang luas. Ia berjalan mendekati Briella, lalu berhenti tepat di samping kursi gadis itu. Tangan Geovani yang besar mencengkeram sandaran kursi Briella, memaksanya untuk menoleh.

​"Bau menjijikkan yang kau maksud adalah kombinasi nutrisi paling murni yang dibutuhkan oleh janin di dalam rahimmu. Setiap gram yang ada di mangkuk itu sudah aku hitung dengan presisi berdasarkan kebutuhan spesifik tubuhmu pagi ini," Geovani merendahkan wajahnya, hingga Briella bisa merasakan deru napasnya yang beraroma kopi pahit.

​"Aku merasa mual, Geovani. Kau bilang kau dokter, bukankah kau tahu bahwa ibu hamil sering mengalami mual di pagi hari?" Briella mencoba membela diri, meskipun suaranya sedikit gemetar.

​"Aku tahu segalanya tentang kondisi medis, termasuk kenyataan bahwa rasa mualmu adalah reaksi psikologis karena kau mencoba melawan otoritasku," Geovani menarik kursi Briella dengan satu sentakan kuat, membuat posisi mereka kini berhadapan sangat dekat. Ia mengambil sendok perak, menyendok bubur kental itu, lalu mengarahkannya ke bibir Briella. "Buka mulutmu."

​"Tidak mau!" Briella memalingkan wajahnya, rahangnya terkatup rapat.

​Suasana seketika menjadi mencekam. Tekanan udara di ruangan itu seolah merosot tajam. Geovani meletakkan sendok itu kembali ke mangkuk, namun tangannya yang bebas kini mencengkeram rahang Briella dengan kuat, memaksa gadis itu untuk menatap matanya yang sedingin es di balik kacamata.

​"Jangan membuatku harus memasang selang nasogastrik ke hidungmu hanya untuk memastikan anakku mendapatkan nutrisinya, Briella. Aku tidak keberatan melakukannya jika itu berarti aku bisa mengontrol setiap tetes cairan yang masuk ke lambungmu," bisik Geovani dengan nada yang sangat datar namun mengandung ancaman nyata.

​Mata Briella mulai berkaca-kaca karena rasa sakit pada rahangnya dan perasaan terhina yang membuncah. Ia merasa seperti boneka hidup, sebuah wadah biologis yang hanya dihargai karena isinya, bukan karena dirinya sebagai manusia.

​"Kau keterlaluan... kau memperlakukanku lebih buruk dari pasien di rumah sakit jiwa," rintih Briella.

​"Pasien di rumah sakit jiwa tidak membawa masa depanku di dalam tubuh mereka. Kau istimewa, maka perlakuanku padamu pun harus ekstrem," Geovani melonggarkan cengkeramannya sedikit, namun tidak melepaskannya. Ia kembali mengambil sendok. "Sekali lagi, buka mulutmu, Little One. Jangan memancing sisi gelapku lebih jauh pagi ini."

​Dengan hati yang hancur dan air mata yang mulai menetes di pipinya, Briella perlahan membuka mulutnya. Geovani menyuapinya dengan gerakan yang sangat terkendali, hampir terlihat seperti sebuah ritual. Setiap suapan yang masuk terasa seperti penghinaan bagi harga diri Briella. Ia harus menelan bubur hambar itu di bawah pengawasan ketat sang predator yang tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari wajahnya.

​"Bagus. Telan semuanya," perintah Geovani setiap kali Briella tampak hendak memuntahkannya kembali.

​"Apakah kau puas sekarang? Melihatku tidak berdaya seperti ini?" tanya Briella setelah mangkuk itu kosong setengahnya.

​Geovani mengambil serbet kain dan mengusap sisa makanan di sudut bibir Briella dengan gerakan yang sangat lembut, sebuah kontras yang membingungkan setelah kekerasan yang ia tunjukkan sebelumnya. "Puas bukanlah kata yang tepat. Aku merasa tenang saat tahu bahwa segalanya berjalan sesuai dengan rencanaku. Nutrisi, suhu ruangan, hingga detak jantungmu... semuanya harus berada dalam kendaliku."

​"Kenapa kau begitu terobsesi pada bayi ini? Kau bahkan membatalkan pernikahanmu dengan Prilly. Bukankah itu merugikan bisnismu?" Briella mencoba mencari celah di balik topeng dingin sang Dokter.

​Geovani berdiri tegak kembali, ia merapikan kemejanya seolah-olah pertikaian tadi tidak pernah terjadi. "Bisnis keluarga Adijaya hanyalah sekumpulan angka yang bisa aku manipulasi kapan saja. Namun, seorang pewaris yang memiliki darahku dan ketangguhanmu untuk bertahan hidup dari siksaan linggis... itu adalah aset yang tidak ternilai harganya. Kau mungkin membenciku sekarang, tapi kau akan menyadari bahwa sangkar ini jauh lebih baik daripada dunia luar yang ingin melihatmu mati."

​"Sangkar tetaplah sangkar, Geovani. Meskipun itu terbuat dari emas," sahut Briella tajam.

​"Setidaknya di dalam sangkar ini, kau tetap bernapas. Di luar sana, kau hanyalah target operasi Prilly yang gagal," Geovani mengambil jas putihnya. "Aku akan pergi ke rumah sakit. Ada beberapa operasi bedah saraf yang harus aku selesaikan. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan ruang makan ini sebelum kau meminum semua vitamin yang ada di nampan perak itu."

​"Dan jika aku tidak meminumnya?" tantang Briella.

​Geovani berhenti di ambang pintu ruang makan, ia menoleh sedikit, memberikan tatapan yang membuat bulu kuduk Briella berdiri. "Maka saat aku pulang nanti, aku sendiri yang akan memastikan vitamin itu masuk ke sistem tubuhmu melalui suntikan intravena di pembuluh darah lehermu. Pilihan ada di tanganmu, Briella."

​Geovani melangkah pergi, meninggalkan Briella dalam kesunyian yang mencekam. Briella menatap nampan perak berisi deretan pil berwarna-warni dan segelas air mineral dengan pH yang sudah diatur sedemikian rupa. Ia merasa sesak. Obsesi Geovani bukan hanya soal bayi, tapi soal penguasaan total atas eksistensinya. Pria itu ingin menjadi tuhan bagi hidupnya, mengatur setiap molekul yang masuk ke tubuhnya, seolah-olah Briella hanyalah perpanjangan dari ambisi pribadinya.

​Briella meraih gelas itu dengan tangan gemetar. Ia membayangkan Prilly di luar sana, mungkin sedang mengamuk atau merencanakan sesuatu yang lebih kejam. Ironisnya, satu-satunya alasan Prilly belum bisa menjangkau lehernya adalah karena pria iblis ini telah mengurungnya di sini. Ia meminum pil-pil itu satu per satu, merasakan kepahitan yang menyangkut di tenggorokannya.

​"Aku akan bertahan hidup," bisik Briella pada dirinya sendiri. "Demi bayi ini, dan demi hari di mana aku bisa melihatmu dan keluarga Adijaya hancur bersama-sama."

​Ia menyentuh perutnya, tempat di mana benih sang predator mulai mengambil nutrisi dari tubuhnya. Ada rasa benci yang mendalam, namun juga ada secercah insting perlindungan yang mulai muncul secara alami. Ia harus tetap sehat, ia harus tetap kuat, karena dalam sangkar emas ini, hanya kecerdasannya yang bisa menjadi senjata untuk membalikkan keadaan.

​Beberapa saat kemudian, seorang pelayan masuk untuk merapikan meja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pelayan itu bergerak seperti robot, mengingatkan Briella bahwa di mansion ini, tidak ada satu pun manusia yang akan memihaknya. Semuanya tunduk pada perintah Geovani.

​Briella bangkit dari kursi dan berjalan menuju jendela besar. Di kejauhan, ia melihat mobil mewah Geovani meluncur menuruni bukit, menghilang di balik kabut. Ia tahu, di balik jas putih dokter yang bersih dan terhormat itu, tersimpan jiwa seorang penguasa yang tidak akan ragu menghancurkan apa pun demi menjaga apa yang dianggapnya miliknya. Dan bagi Geovani, Briella adalah milik yang paling berharga sekaligus eksperimen yang paling berbahaya.

​"Kau ingin aku menjadi boneka hidupmu, Geovani?" batin Briella sambil menatap salju yang mulai turun kembali. "Mari kita lihat, siapa yang akan hancur lebih dulu saat boneka ini mulai memiliki keinginannya sendiri."

​Ketegangan di mansion itu seolah tidak pernah mereda. Meski Geovani tidak ada di sana, bayang-bayangnya terasa di setiap sudut ruangan, di setiap kamera pengawas yang terus berkedip, dan di setiap suapan makanan yang dipaksakan masuk ke dalam tubuhnya. Briella terjebak dalam siklus obsesi nutrisi dan kontrol medis yang menyesakkan, menunggu celah untuk bisa kembali mengambil alih kendali atas hidupnya sendiri di tengah sangkar paling mewah di seluruh Etheria-Metropolis.

1
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!