Nikah? itu adalah hal yang paling dihindari oleh Yiwa saat ini, nanti atau sampai kapanpun itu. Bahkan di kamus hidupnya pun kayaknya gak ada tuh yang namanya 'nikah'.
Tapi balik lagi, kalau takdir udah ditentukan, mau jungkir balik salto pun akan tetap gak bisa dihindari lagi.
Satu hal yang disesali Yiwa, harusnya dia gak usah ikut mbahnya lihat acara desa malam itu atau justru seharusnya ia gak usah pulang ke desa sekalian. Tapi kalau gitu malah kasihan mbahnya gak ketemu cucu satu-satunya ini.
namun setelah kejadian itu justru cucunya ini yang harus dikasihani.
Karena apa? karena Yiwa, cucu satu-satunya Mbah ini harus dinikahkan dengan pemuda desa yang cukup disegani disana.
Yiwa sampai bingung, gimana bisa orang sekaku ini bisa punya jabatan penting di desa. Dan sialnya, dialah yang akan jadi istrinya.
Tapi mau bagaimana lagi, Yiwa cuma bisa pasrah sambil misuh-misuh tentunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jalan-jalan
"Yiwa masih tidur, San." Nara duduk di teras rumahnya di temani Sandi.
"Kak Yiwa bikin malu aja. Masa udah jam sembilan masih tidur. Untung aja tadi tante sama mbah nggak jadi ikut." Sandi ikut duduk di samping Nara.
Nara menyeruput teh jahenya. "Mungkin kecapekan. Kemarin kan acaranya seharian penuh. Kamu sudah makan, san?"
Sandi mengangguk. "Sudah, Mas Nara. Kan niatnya mau jalan-jalan, eh malah princess nya belum bangun."
Nara tersenyum mendengar ucapan Sandi. "Adik saya pasti senang kalau ketemu kamu."
Sandi langsung menoleh. "Mas Nara punya adik?"
Nara mengangguk. "adik laki-laki, masih kelas dua SMP."
"Loh tapi kok nggak keliatan? kemana mas adeknya?"
"Dia kan ikut OSIS. Kebetulan jadi ketuanya, dan acara pelantikan OSIS nya harus nginep di luar sekolahan. seperti tempat pelatihan tentara begitu. Mas juga kurang paham."
"Wah! keren banget adeknya Mas Nara. Mas nya keren, adeknya keren. Beruntung banget Kak Yiwa. Jatuhnya malah Mas Nara yang rugi menikah sama Kak Yiwa yang tukang ngebo dan ngegas."
"Lo bilang apa barusan?!"
Hampir saja Sandi terkena serangan jantung saking terkejut mendengar suara Yiwa yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya. "Kak Yiwa ngagetin aja sih!"
"Ya elo! Seenaknya bilang gue tukang ngebo dan ngegas!" Yiwa berkacak pinggang di depan pintu.
"La ini buktinya!"
Nara menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran mereka. "Yiwa, kamu mandi dulu ya? Sebelum berangkat jalan-jalan sama Sandi, makan dulu. Tadi ibu sudah antar makanan."
Yiwa menurunkan tangannya. Sebenarnya ia cukup tersentuh dengan cara bicara Nara yang tenang dan penuh perhatian itu. Tapi namanya juga Yiwa. Gengsinya setinggi langit.
"Nggak usah sok ngatur. Mau mandi atau nggak suka-suka gue!" Yiwa langsung buru-buru masuk ke dalam rumah. Pergi mandi tentunya. Meskipun kelihatannya nggak suka, tapi Yiwa tetap nurut.
"Sabar ya, Mas Nara. Nggak tahu deh, Kak Yiwa tuh titisan siapa sebenernya. Om sama tante aja nggak ada yang tukang ngegas loh kalo ngomong. Cuma Kak Yiwa aja nih! mirip sama mamaku." gerutu Sandi.
"Sandi gue denger omongan lo ya! gue laporin tante tahu rasa lo!" Teriak Yiwa dari dalam rumah.
"Buruan mandi sana!" balas Sandi.
"Sandi," panggil Nara.
"Gimana, Mas?"
Nara diam sejenak. melihat Nara yang bimbang membuat Sandi penasaran. "Tanya aja, Mas. pasti soal Kak Yiwa kan?"
"Setelah kematian orang tuanya, Yiwa tinggal sama siapa? maksud saya, apa dia merasa kesepian?"
Sandi tertegun. "Kak Yiwa tinggal sendirian di rumahnya. Mama sama Papa sering ajak Kak Yiwa buat tinggal bareng, tapi katanya nggak mau jauh dari rumah. Dan sekarang anehnya rumah itu mau di sewain dan Kak Yiwa pindah ke desa. Aku sempat tanya kenapa tiba-tiba pengen pindah ke desa, dia cuma jawab pengen slow living. Padahal kan di kota juga masih bisa."
Sandi menghela napas. "Kalau kesepian atau nggak nya. Aku nggak tahu pasti, Mas. Cuma kak Yiwa sendiri yang tahu. Meskipun aku sering nginep di rumahnya, pasti kan ada saat dimana Kak Yiwa sendirian."
"Kamu benar. Yang tahu sepi atau tidaknya itu yang jalani. terima kasih sudah mau cerita ke mas." Nara tersenyum.
Sandi mengangguk. "Mas Nara. Aku mau kasih tahu sesuatu. Tapi mas Nara jangan marah dan aku kasih tahu ini bukan untuk menjelekkan kakak ku. Tapi aku cuma mau Mas Nara tahu ini."
Nara tidak merespon, ia hanya fokus mendengarkan.
"Sejak om dan tante meninggal, Kak Yiwa itu sering gonta ganti pacar dan kata mama susah di atur. tapi pas masuk kuliah, ada tuh pacar barunya, namanya Kak Malvin. Dan pas sama Kak Malvin inilah Kak Yiwa berhenti gonta ganti pacar dan jadi nurut. Tapi kayaknya sekarang mereka udah putus deh, soalnya pas dateng ke wisudanya Kak Yiwa tuh mereka udah nggak yang deket banget."
"Malvin?"
"Iya. Dulu aku pernah dengar kalau Kak Yiwa mau ke desa sama Kak Malvin buat ketemu mbah. Tapi tiba-tiba di tengah perjalanan mereka kecelakaan. Dan pas itu mama sama papa lagi bisnis di singapura. Dan kecelakaan itu cukup parah."
"Brarti mereka memang sedekat itu." gumam Nara.
"Kak, meskipun begitu. Sekarang yang jadi suami Kak Yiwa itu kan Mas nara. Aku minta tolong buat jagain Kak Yiwa ya, Mas?"
Nara tersenyum dan mengangguk. "Kamu tenang saja, saya pasti akan jagain kakak mu dengan baik."
"Makasih ya, Mas Nara."
"Kamu tidak perlu berterima kasih, San. Yiwa sudah jadi istri saya, jadi sudah kewajiban saya menjaganya."
Sandi mengangguk paham.
"Ayok!" Yiwa berdiri di depan pintu. Pakaiannya sudah berbeda. Ia mengenakan tank top hitam dengan luaran kemeja motif strip warna cream dan celana pendek warna serupa.
Nara hanya menggelengkan kepalanya saat melihat pakaian yang Yiwa kenakan terlalu terbuka. Ia tidak mau terlalu berkomentar.
"Kamu sudah makan?" tanya Nara.
"Sudah. Buruan, San!"
Sandi berdecak kesal. "Bentar, Kak!"
Nara segera berdiri dan mengunci pintu. Sandi juga ikut berdiri.
"Saya antar jalan-jalannya." kata Nara.
"Ngapain? nggak usah!" balas Yiwa.
"Kenapa sih, kak? biar di antar Mas Nara aja deh! nanti kalo kita tersesat gimana?" kata Sandi.
"Ya udah, terserah!"
Setelah memastikan pintu terkunci dengan benar, akhirnya Nara berjalan lebih dulu. Yiwa dan Sandi mengikuti dibelakangnya.
Meskipun jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, tapi udaranya masih sangat sejuk dan matahari tidak terlalu terik. Ditambah dengan angin yang sepoi-sepoi membuat suasana jadi lebih nyaman.
"Disini masih asri banget ya, Mas Nara." kata Sandi.
Nara memperlambat jalannya agar ia bisa berjalan beriringan dengan Sandi dan Yiwa.
"Iya, alam disini masih asli dan terjaga."
"Itu apa, Mas? Kok ditutup kayak gitu?" sandi menunjuk sebuah lahan cukup luas yang terdapat naungan seperti plastik UV.
"Itu kebun anggur milik desa. Ayo saya ajak lihat kesana?"
Sandi langsung mengangguk dengan antusias. Ia langsung menggandeng lengan Yiwa untuk segera mengikuti langkah Nara menuju kebun anggur.
Mata Sandi semakin berbinar saat melihat banyaknya buah anggur hijau yang menggantung. "Ini boleh di incip nggak sih?"
"San! Jangan aneh-aneh deh!" Yiwa menarik tangan Sandi yang mau memegang buah anggur itu. Padahal tangannya sendiri juga sudah gatal pengen metik yang banyak.
"Eh? Den Nara? ada apa kemari, den?" seorang bapak-bapak berjalan mendekati mereka.
"Saya sedang antar Istri dan adik saya lihat-lihat kebun, pak." jawab Nara. Bapak-bapak itu melihat ke arah Yiwa dan Sandi lalu tersenyum.
Sandi langsung menyenggol lengan Yiwa dan berbisik, "cie dipanggil istri gak tuh!"
Yiwa balas berbisik, "Diem!"
"Yiwa, beliau ini Pak Bandi. Pengurus hasil kebun Desa."
Yiwa mengangguk dan tersenyum. "Yiwa, Pak. Ini adik keponakan saya, Sandi."
Pak Bandi tersenyum. "Den Nara ini sangat pintar cari istri. Mbak Yiwa cantik sekali dan ramah."
Yiwa cuma senyum-senyum malu mendengar pujian itu dan Sandi hampir saja tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Ramah? Orang sumbu pendek begini dibilang ramah."
"Bapak bisa saja." Meski begitu, Nara tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
"Oh! Iya, Den. Kebetulan ini sudah siap panen. Nanti jika mau, bisa bawa pulang buahnya."
"Iya, Terima kasih, pak." Nara mengangguk.
"Saya tinggal dulu. Den Nara bisa ajak istri sama adiknya lihat-lihat sambil metik." kata Pak Bandi.
Lalu Pak Bandi berjalan ke bagian belakang kebun anggur itu.
"Sandi, kamu kalau mau petik, keranjangnya ada di sebelah sana. Saya ke belakang dulu nyusul Pak Bandi."
Lalu Nara menoleh Ke Yiwa. "Kamu juga, Yiwa. Ambil sebanyak yang kamu mau."
Yiwa hanya mengangguk, tapi jauh di dalam hatinya ia senang bukan main karena buah anggur ini adalah buah favoritnya ditambah lagi langsung metik dari pohonnya.
Yiwa ikut menyusul Sandi yang sudah mulai metik duluan. Nara tersenyum tipis melihat interaksi keduanya. Kadang berantem kecil, kadang suap-suapan anggur. Lucu sekali.
"Wah! Sepertinya kamu jatuh cinta, Nara. "
"Diam kamu, Mregapati!"
...♡Bersambung ♡...