NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

langit merah di atas Nusantara

Ufuk timur tidak lagi menampakkan rona jingga, melainkan merah darah. Penjajah mengerahkan "Legiun Besi", pasukan robotik raksasa yang tidak memiliki rasa takut dan tidak mempan ditembus peluru biasa. Di belakang mereka, berdiri para dukun hitam asing yang mencoba mengunci kekuatan gaib tanah Jawa.

Mbah Sidik yang sedang menyunat seorang bocah, mendadak menghentikan tangannya. Ia merasakan getaran di dalam bumi. "Zae, ambilkan serabut kelapaku yang tersisa di dalam mushaf Al-Qur'an," ucapnya tenang namun tegas.

Ia tidak lagi naik sepeda ontel dengan pelan. Kali ini, ia menghentakkan kaki ke bumi.

"Bismillah!"

Sepeda ontelnya meledak dalam cahaya perak, bertransformasi menjadi Kuda Besi Sembrani yang sayapnya terbuat dari rida-rida malaikat.

Pertempuran besar terjadi tepat di tempat asal kekuatannya: Alas Sri Rondo. Musuh mencoba menghancurkan portal gaib di hutan itu agar Mbah Sidik kehilangan sumber energinya. Ribuan tank dan robot penghancur meratakan pepohonan, namun langkah mereka terhenti saat suara bel sepeda mengguntur seperti petir di siang bolong.

Kringggg...!!!

Mbah Sidik muncul dari balik kabut, terbang rendah di atas Kuda Ontelnya. Di belakangnya, langit terbelah. Bayangan Mbah Pupus tidak lagi satu, melainkan ribuan—pasukan gaib veteran masa lalu yang gugur di hutan itu bangkit kembali dalam bentuk cahaya.

"Kalian membawa mesin, kami membawa keyakinan!" teriak Mbah Sidik.

Ia merapalkan Tafsir Ayat Kursi dengan suara yang menggetarkan jagat raya. Setiap kata yang keluar dari lisan Mbah Sidik menjelma menjadi pedang cahaya yang memotong baja-baja robot itu seolah memotong mentega

Puncak drama terjadi saat pemimpin penjajah, seorang Jenderal yang menggunakan baju zirah bionik, mengeluarkan senjata pemusnah massal berupa laser penghancur molekul. Laser itu ditembakkan tepat ke arah desa Mbah Sidik.

Mbah Sidik tidak menghindar. Ia justru terbang menyongsong laser itu. Di tengah angkasa, ia melepaskan Ajian Payung Pupus. Tubuh Mbah Sidik mendadak membesar, menjadi raksasa cahaya yang merangkul seluruh desa dalam perlindungan gaib.

Laser itu menghantam dada Mbah Sidik, namun anehnya, laser itu justru terserap masuk ke dalam tubuhnya, diolah oleh ilmu pengobatan batinnya menjadi energi penyembuh. Mbah Sidik mengarahkan tangannya ke bawah, dan energi laser yang telah dimurnikan itu jatuh ke bumi sebagai hujan cahaya yang menyembuhkan semua pejuang Indonesia yang terluka.

Baja bertemu doa, mesin beradu takdir,

Di bawah langit merah, langkahku takkan getir.

Jika besi adalah Tuhanmu, maka debu adalah nasibmu,

Sebab di tanah ini, setiap jengkal adalah keramat bagi musuhmu.

Ontelku kini menjadi sayap yang membelah awan,

Membawa pembalasan bagi rindu yang kau hancurkan.

Bukan darah yang ingin kukuras dari nadimu,

Tapi kesombongan yang harus kutumbangkan dari hatimu.

Zaenab, lihatlah dari kejauhan doa-doamu menjadi api,

Membakar angkara yang mencoba mencuri mimpi.

Aku adalah prajurit, aku adalah dukun, aku adalah hamba,

Yang takkan membiarkan negeriku terkubur dalam hampa.

Mbah Sidik kemudian turun tepat di depan Jenderal penjajah. Ia tidak memukul, ia hanya menyentuh kening Jenderal itu dengan jari telunjuknya yang terbiasa memegang kitab tafsir.

Seketika, seluruh memori kejahatan sang Jenderal diputar balik, membuatnya merasakan penderitaan rakyat yang ia tindas.

Sang Jenderal jatuh berlutut, menangis sejadi-jadinya, dan memerintahkan seluruh pasukannya mundur seketika.

Perang berakhir tanpa ledakan terakhir, melainkan dengan keheningan yang agung.

Pertempuran itu pecah lagi di puncak Bukit kapur yang gersang. Lawan Mbah Sidik bukanlah tentara biasa, melainkan Malphas si Pemanggil Kegelapan, seorang penyihir hitam dari Barat yang mengenakan jubah beludru kelam dengan tongkat perak berkepala gagak.

Suasana mendadak mencekam. Langit yang tadinya cerah berubah menjadi ungu pekat. Kilat menyambar-nyambar tanpa suara guntur.

Malphas mengangkat tongkatnya, berteriak dalam bahasa kuno yang menyakitkan telinga. Dari tanah yang gersang, muncul ribuan prajurit tengkorak yang membawa pedang api.

"Orang tua renta...!!

Ilmu kunomu tak akan bisa membendung kekuatan kegelapan abadi!" teriak Malphas dengan suara menggema.

Mbah Sidik turun dari ontelnya. Ia melepas sandal jepitnya, berdiri tanpa alas kaki di atas bumi. Ia mengambil serabut kelapa, lalu meniupnya pelan.

"Bismillah... Waja’alna min baini aidihim saddaw..."

Seketika, serabut kelapa itu berubah menjadi Cambuk Petir yang berkilauan.

Perkelahian Dimulai!

Malphas mengayunkan tongkatnya, mengirimkan gelombang api hitam berbentuk naga. Mbah Sidik melompat ringan, tubuhnya seringan kapas akibat Ajian Halimun. Naga api itu menabrak bukit hingga hancur, namun Mbah Sidik sudah berada di belakang Malphas.

Ctar! Cambuk serabut kelapa menghantam punggung Malphas, mengeluarkan percikan api suci yang membuat sang penyihir menjerit.

"Kurang ajar!" Malphas merapalkan kutukan. Ia memanggil hujan meteor hitam dari langit untuk menghancurkan seluruh area tersebut.

Mbah Sidik tenang. Ia duduk bersila di tengah hujan meteor. Ia mengeluarkan Ajian Bayang Pupus.

Tiba-tiba, muncul sosok raksasa bayangan transparan di belakang Mbah Sidik yang menangkap meteor-meteor itu dengan tangan kosong dan meremasnya menjadi debu intan.

Malphas yang mulai terdesak menggunakan kartu asnya: Ilmu Pemindah Jiwa. Ia mencoba menarik sukma Mbah Sidik keluar dari raganya untuk dibuang ke dimensi kegelapan.

Mbah Sidik merasakan tarikan yang sangat kuat. Rohnya mulai bergetar. Namun, di saat kritis itu, ia mengingat Tafsir Al-Qur'an yang ia pelajari di Makkah tentang kekuasaan mutlak Sang Pencipta.

"Kau bermain dengan jiwa? Aku adalah hamba dari Pemilik Segala Jiwa!" seru Mbah Sidik.

Mbah Sidik mengeluarkan Ajian Wibawa Nurullah. Wajahnya memancarkan cahaya seputih matahari Makkah di siang hari. Cahaya itu begitu menyilaukan hingga si penyihir hitam buta seketika. Tongkat peraknya retak dan hancur berkeping-keping.

Mbah Sidik kemudian melesat maju, bukan dengan senjata, tapi dengan satu totokan jari telunjuk di dahi Malphas—Ilmu Totok Syifa yang ia pelajari dari Syekh Mansur.

Blarrr!

Kekuatan hitam di dalam tubuh Malphas meledak keluar dan lenyap tertiup angin. Malphas jatuh tersungkur, jubah mahalnya sobek-sobek, dan seluruh ilmu hitamnya musnah seketika. Ia kini hanyalah manusia biasa yang gemetar ketakutan melihat keagungan ilmu yang dibawa Mbah Sidik.

Tongkat perak beradu dengan serabut kelapa, Kegelapan Barat mencoba menghapus rupa. Namun kau lupa, wahai penyihir angkara, Bahwa cahaya doa takkan bisa kau buat sengsara.

Satu tarikan napas, gunung-gunung tunduk, Satu kalimat tauhid, setu-setu merunduk. Bukan karena aku sakti mandraguna, Tapi karena kebenaran takkan pernah fana.

Pergilah kembali ke negerimu yang jauh, Bawa pesan bahwa tanah ini takkan runtuh. Sebab selama ada hamba yang bersujud pada-Nya, Kegelapanmu hanyalah bayangan yang sirna seketika.

Mbah Sidik mengambil kembali sepedanya. Ia melihat Malphas yang tak berdaya, lalu memberumikan sebotol kecil air Zamzam ke arahnya. "Minumlah, bersihkan hatimu sebelum kau pulang."

Mbah Sidik mengayuh ontelnya pulang dengan tenang, meninggalkan bukit kapur yang kini mendadak ditumbuhi rumput hijau secara ajaib di bekas tempatnya berpijak. Kemenangan itu mutlak, bukan dengan nyawa yang hilang, tapi dengan kesombongan yang tumbang.

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!