Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Suara deru mesin yang halus namun bertenaga mendominasi keheningan di dalam kabin mobil. Sebuah sedan mewah berwarna hitam pekat melaju dengan kecepatan yang tinggi, membelah kemacetan ibu kota yang mulai mereda menjelang malam. Lampu-lampu jalan dan neon dari gedung-gedung pencakar langit berkelewat cepat, menciptakan garis-garis cahaya yang memantul di kaca jendela yang gelap.
Di balik kemudi, Raka memegang setir dengan santai namun tetap waspada. Sesekali, matanya melirik ke arah kursi penumpang depan, di mana sahabat karibnya duduk dengan postur tegak namun tampak sangat lelah.
Elvano Praditya. Pria muda dengan wajah yang begitu tampan hingga bisa membuat siapa saja terpana pada pandangan pertama, namun memiliki aura sedingin es. Saat ini, dia hanya diam menatap lurus ke depan melalui kaca depan mobil, dengan wajah yang datar tanpa ekspresi. Tatapannya kosong, seolah pikirannya sedang terbang entah ke mana.
Raka menghela napas pelan. Sejak mereka meninggalkan kafe tempat pertemuan berlangsung sekitar satu jam yang lalu, sahabatnya itu tidak banyak bicara. Biasanya Elvano memang pendiam, tapi hari ini ada sesuatu yang berbeda. Entah itu hanya perasaannya saja atau memang benar adanya, tapi suasana hati Elvano terlihat tidak seburuk dan seketat tadi saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Ada sedikit kelonggaran di bahunya yang sebelumnya tegang.
“Lo yakin banget sama pilihan lo, Van?” tanya Raka akhirnya, ia memberanikan diri memecah keheningan yang terasa berat itu. Suaranya lembut, namun cukup jelas terdengar di ruang yang sempit itu.
Elvano tidak langsung menoleh. Dia tetap menatap jalanan aspal yang hitam dan basah yang baru saja diguyur hujan sore tadi.
“Cewek tadi… Aira kan?” lanjut Raka lagi, kali ini nadanya lebih serius. “Gue perhatiin dari tadi. Kelihatannya dia polos banget, Van. Beneran polos. Bukan tipe cewek yang biasa lo temuin di club atau pesta-pesta mewah itu. Baik hati, lembut banget tingkahnya, dan yang paling penting… matanya tulus banget. Gue nggak liat ada kepura-puraan di situ.”
Raka memundurkan sedikit posisi duduknya, lalu menatap wajah sahabatnya yang tampak samar diterangi cahaya lampu kota.
“Lo yakin mau bawa dia masuk ke dunia lo yang keras dan dingin ini? Lo yakin nggak bakal nyakitin dia nantinya?” pertanyaan itu terlontar jujur dari hati Raka. Dia tahu betul bagaimana karakter Elvano. Pria itu adalah gunung es yang berjalan. Dingin, tertutup, dan tidak pernah membiarkan siapa pun untuk masuk ke dalam hatinya.
Baru setelah itu, Elvano menoleh sedikit. Dia tidak menatap Raka, melainkan menoleh ke arah jendela samping, menyaksikan pemandangan kota Jakarta yang mulai gelap dan diterangi ribuan lampu yang berkelap-kelip seperti bintang di bumi. Suasana kota yang hidup berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang tenang namun beku.
“Gue nggak bermaksud nyakitin siapa pun, Ka,” jawab Elvano pelan. Suaranya terdengar datar, khas suaranya, namun ada ketegasan di setiap kata yang diucapkannya. “Ini bukan soal mau atau nggak mau nyakitin. Ini soal kesepakatan. Ini kesepakatan bersama. Dia butuh uang buat operasi ayahnya dan nyelamatin usaha keluarganya, gue butuh istri buat nutupin omongan keluarga dan memenuhi syarat buat ngambil alih sepenuhnya perusahaan. Saling menguntungkan. Win-win solution.”
Elvano berhenti sejenak, mengatur napasnya.
“Gue bakal perlakukan dia baik sebagai nyonya rumah. Gue bakal kasih dia hidup nyaman, kemewahan, apa aja yang dia mau selama itu ada di kemampuan gue. Dia bakal hidup layak sebagai Nyonya Praditya. Tapi soal hati… jangan harap ada di situ. Gue udah tutup rapat pintu itu bertahun-tahun yang lalu, dan gue nggak berniat bukanya lagi buat siapa pun, termasuk dia.”
Mendengar penjelasan itu, Raka menghela napas panjang lagi. Dia menggeleng pelan, merasa sedikit tidak tega namun tidak bisa berbuat banyak karena itu sudah menjadi keputusan sahabatnya.
“Ya terserah lo deh, Van. Gue cuma ngingetin sebagai temen,” ucap Raka dengan nada pasrah. “Tapi gue ingetin sekali lagi, cewek itu beda sama yang pernah lo temuin sebelumnya. Dia bukan tipe yang matre atau cari sensasi doang. Dia kelihatannya tipe cewek yang suci, polos, dan kalau udah sayang sama seseorang, bakal bener-bener sayang sepenuh hati. Lo siap kalau suatu hari nanti… dia beneran jatuh cinta sama lo? Lo siap ngeliat dia sakit hati karena kenyataan?”
Pertanyaan itu sepertinya sedikit menyentuh sisi lain Elvano, tapi hanya sesaat. Elvano kemudian terkekeh pelan. Tawa yang terdengar sinis dan dingin.
“Mana mungkin, Ka. Lo pikir dia anak kecil?” Elvano akhirnya menoleh sedikit, menatap Raka dengan sebelah matanya. “Dia juga tahu kan aturan mainnya? Kita udah bicarain semuanya secara terbuka. Nggak ada cinta di pernikahan ini. Cuma status dan kewajiban. Lagipula, gue juga nggak bakal kasih celah sedikit pun buat hal kayak gitu terjadi. Gue bakal jaga jarak. Semuanya bakal jalan sesuai rencana dan kontrak yang udah disusun. Dua tahun. Cuma dua tahun. Setelah itu kita pisah dengan cara baik-baik. Selesai. Masalah kelar.”
Raka kembali menggeleng, wajahnya masih terlihat ragu. “Semoga aja lo bener, Van. Semoga aja semuanya berjalan mulus kayak yang lo pikirin. Soalnya gue liat matanya tadi pas dia ngeliat lo… ada sesuatu yang beda. Entah itu rasa takut, atau rasa kagum, atau apa… gue nggak bisa jelasin. Tapi ada sesuatu di sana. Entahlah, semoga aja gue salah liat.”
“Udah ah, bahas yang lain,” potong Elvano cepat, seolah tidak ingin memperpanjang diskusi yang menurutnya sia-sia itu. “Besok lo urus semua surat-suratnya sama tim hukum gue. Terus kabarin keluarga gue dan keluarga dia. Persiapan pernikahannya harus cepet. Gue mau semua selesai sebelum jadwal operasi ayahnya. Gue nggak mau ada hambatan.”
“Siap, Bos Besar!” sahut Raka sambil mengangkat kedua tangannya sedikit ke udara dengan gaya bercanda, mencoba mencairkan suasana yang kembali mencair. “Tenang aja, urusan administrasi sama persiapan, tinggal lo serahin ke gue. Paling cuma butuh seminggu juga kelar semua.”
Raka lalu menoleh lagi dengan senyum jahil di wajahnya.
“Tapi inget ya Van… kalau nanti ternyata malah lo yang jatuh cinta duluan sama istri kontrak lo sendiri, jangan malu-maluin gue jadi orang pertama yang tau! Gue bakal ledek lo seumur hidup!” ledek Raka tertawa kecil.
Elvano hanya mendengus kesal, pipinya sedikit memerah karena malu atau karena kesal, sulit dibedakan. Dia segera memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela, mengabaikan godaan sahabatnya.
Jatuh cinta? Mimpi apa gue semalam? batinnya mengejek dirinya sendiri. Gue Elvano Praditya. Gue udah pernah rasain yang namanya cinta, dan yang gue dapet cuma luka dan pengkhianatan. Nggak akan ada yang kedua kalinya. Nggak akan pernah terjebak lagi sama omong kosong yang namanya cinta.
Sementara itu, di tempat yang jauh berbeda. Jauh dari kemewahan dan gemerlapnya kota, di sebuah perumahan sederhana di pinggiran kota.
Suasana di sana jauh lebih tenang dan sederhana. Sebuah rumah berwarna krem dengan halaman kecil yang tertata rapi. Di dalam salah satu kamar yang berukuran sedang namun terasa sangat nyaman dan hangat itu, Aira baru saja sampai.
Gadis itu melempar tubuhnya dengan lemas ke atas kasur empuknya yang berwarna pastel. Dia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang dicat putih dengan tatapan kosong. Jantungnya masih berdegup kencang, tidak bisa tenang sejak pertemuan yang mengubah nasibnya itu terjadi beberapa jam yang lalu.
“Menikah…” bisiknya pelan, suaranya bergetar pelan di dalam keheningan kamar. Tangannya terulur perlahan menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantung yang begitu cepat. “Menikah sama Elvano Praditya…”
Nama itu terasa asing namun kini memiliki makna yang sangat besar dalam hidupnya. Bayangan wajah pria itu terus berputar tanpa henti di kepalanya. Wajah yang begitu tampan sempurna, namun memiliki ekspresi yang sedingin es. Tatapan mata tajamnya yang seolah bisa menembus jiwa, suara berat dan rendah yang terdengar berwibawa namun menakutkan, serta aura kekuasaan dan kekayaan yang begitu kuat memancar dari setiap gerak-geriknya.
Semuanya terasa begitu menakutkan bagi Aira yang hanya gadis desa yang hidup sederhana. Namun, anehnya… di balik rasa takut itu, ada sesuatu yang… memikat. Seperti magnet yang menariknya untuk melihat lebih dekat.
Aira menghela napas panjang, menarik selimut tipis hingga ke dadanya. Dia tahu betul risiko yang sedang dia ambil ini sangat besar, bahkan bisa dibilang sangat gila. Dia akan hidup bersama seorang pria yang sama sekali tidak dia kenal. Satu atap, satu rumah, tapi bagaikan dua orang asing yang kebetulan tinggal di tempat yang sama.
Tidak ada kasih sayang. Tidak ada perhatian romantis seperti pasangan suami istri pada umumnya. Tidak ada malam-malam indah penuh bincang. Yang ada hanyalah status sosial, kewajiban, dan sebuah kontrak.
Tapi… Aira menelan ludahnya susah payah. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Tapi demi Papa… Aira rela,” gumamnya lirih, namun penuh dengan tekad yang bulat. “Asalkan Papa bisa sembuh, asalkan bisa jalan lagi dan sehat kayak dulu, asalkan usaha keluarga kita bisa bangkit lagi dan nggak bangkrut… Aira ikhlas melakukan apa saja. Meskipun harus mengubur dalam-dalam impian Aira punya keluarga yang bahagia, penuh cinta dan tawa…”
Air mata akhirnya menetes membasahi ujung matanya, lalu mengalir turun membasahi bantal. Rasanya sakit. Sangat sakit. Meninggalkan masa depan yang cerah dan impian seorang gadis untuk menikah karena cinta, demi sebuah pernikahan bisnis yang dingin. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya jalan.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari pintu kamarnya. Tok… tok… tok…
“Aira… boleh Ibu masuk?” suara lembut ibunya terdengar dari balik pintu.
Aira segera mengusap air matanya cepat, mencoba menyembunyikan kesedihannya. Dia duduk membetulkan posisi tubuhnya.
“Boleh, Bu. Masuk aja.”
Pintu terbuka perlahan. Ibu nya masuk dengan langkah pelan, membawa segelas susu hangat di tangan kanannya. Wajah wanita paruh baya itu terlihat penuh kekhawatiran dan kelelahan, namun senyum hangat tetap terukir di sana.
“Sudah pulang, Nak?” tanya Ibu sambil duduk di tepi ranjang, meletakkan gelas susu itu di meja nakas di samping tempat tidur. Tangannya yang keriput namun hangat segera mengusap lembut rambut panjang Aira. “Gimana tadi ketemu sama Tuan Elvano? Ada apa sampai kalian membahas soal bantuan biaya operasi Papa? Ibu dengar dari asistennya tadi katanya mau bantu?”
Aira menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang dia punya. Dia menatap wajah ibunya yang mulai menua dan terlihat begitu lelah bekerja keras memikirkan nasib keluarga.
“Bu…” panggil Aira pelan, suaranya sedikit bergetar.
“Iya, Sayang?” Ibu menatap putrinya dengan penuh perhatian.
“Mereka… mereka mau bantu semua biaya pengobatan Papa. Bahkan mau bantu lunasi semua hutang usaha dan bangkitin lagi usaha kita yang lagi jatuh ini. Mereka mau kasih kita kehidupan yang layak, Bu.”
Wajah Ibu langsung bersinar bahaga. Mata tuanya langsung berbinar-binar, tangannya menutup mulut tak percaya.
“Ya ampun… benar itu yang kamu omongin, Nak? Alhamdulillah! Alhamdulillah! Terima kasih Tuhan, Engkau begitu baik pada kami!” seru Ibu dengan suara bergetar menahan tangis haru. “Terus syaratnya apa, Nak? Mereka minta apa sebagai gantinya? Pasti ada syaratnya kan?”
Pertanyaan itu membuat dada Aira terasa sesak sekali. Tenggorokannya terasa kering. Dia menelan ludah susah payah, memberanikan diri untuk mengucapkan kata-kata yang akan mengubah seluruh hidupnya.
“Mereka minta saya… menikah dengan Tuan Elvano Praditya, Bu.”
BRUK!
Gelas susu di tangan Ibu hampir saja terlepas dan jatuh menggelinding di lantai. Beruntung Ibu masih bisa menahannya dengan cepat, tapi tangan wanita itu gemetar hebat. Wajahnya yang tadi bersinar bahagia kini berubah pucat pasi seketika. Matanya terbelalak lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Me… menikah?!” seru Ibu tak kuasa menahan kagetnya. Suaranya meninggi sedikit. “Serius kamu ngomong ini, Ra? Mereka minta kamu nikah sama anak orang kaya raya itu? Pemilik grup perusahaan Praditya itu?! Tapi kan kamu bahkan nggak kenal dia, Nak! Kamu bahkan baru ketemu dia hari ini!”
Aira mengangguk pelan, air matanya yang tadi sempat kering kini jatuh lagi membasahi pipinya dengan deras.
“Iya Bu. Mereka bilang ini cuma pernikahan kontrak. Cuma di atas kertas buat ngelegitin nama di depan keluarga besar mereka dan masyarakat. Nanti kalau waktunya selesai, kita bisa berpisah dengan cara baik-baik,” jelaskan Aira terbata-bata. “Tapi sebagai gantinya, semua masalah kita selesai, Bu. Papa bisa segera operasi dan sembuh. Kita nggak perlu lagi dihantui penagih hutang.”
Ibu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hati wanita itu hancur lebur melihat anak semata wayangnya harus mengorbankan masa depan dan perasaannya demi menyelamatkan keluarga. Tanpa sadar, Ibu langsung memeluk tubuh Aira erat-erat, menangis bersama putrinya itu.
“Ya Tuhan… kasihan sekali kamu, anakku…” isak Ibu pelan di bahu Aira. “Kamu harus hidup sama orang yang nggak kamu cintai, di tempat yang asing, jauh dari Ibu dan Papa. Ibu nggak tega, Ra. Ibu nggak tega liat kamu hidup tanpa kasih sayang…”