NovelToon NovelToon
Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / TimeTravel / Misteri
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Kabut Biru dan Ilusi Lilin

Jack dan Kieran menyelesaikan pemeriksaan terakhir pada perlengkapan mereka, memastikan setiap tali terikat, setiap pisau terasah. Dengan gerakan serempak, keduanya menarik masker respirator hitam mereka ke wajah. Udara di lantai tiga sudah mulai terasa berat, bukan hanya karena hawa panas, tetapi juga campuran debu dan bau kimia yang asing.

Mereka segera bergerak, turun dari tangga darurat yang berkarat menuju lantai tiga. Di persimpangan tangga, seorang tentara muda bernama Letnan Reno wajahnya tegang di balik maskernya berlari menghampiri Aura, mengulurkan masker cadangan.

“Nona, tunggu! Anda harus pakai ini,” ujar Reno, suaranya teredam oleh filter. “Masker Anda… itu terlihat seperti kain biasa.”

Aura menghentikan langkahnya, menoleh dengan senyum yang hanya terlihat dari sorot matanya yang tenang. Ia mengenakan buff leher dari kain teknis berwarna abu-abu gelap, yang kini menutupi separuh wajahnya dengan sempurna.

“Terima kasih atas perhatiannya, Letnan,” balas Aura, nadanya ramah dan lembut, kontras dengan situasi berbahaya di sekitar mereka. “Tapi aku akan menggunakan milikku sendiri.”

Reno menggeleng cemas. “Tidak bisa! Bos Jack bilang di lantai ini ada residu toksin tingkat tinggi. Masker ini dirancang khusus untuk menghalau racun. Ini standar militer!”

Aura tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti lonceng. Ia mengangguk pelan. “Aku tahu. Tapi percayalah, maskernya juga bisa menghalau racun, bahkan yang memiliki tingkat berbahaya sekali pun.”

Reno menatapnya dengan keraguan yang tak terselubung. Matanya menyiratkan kecemasan murni,”Wanita sipil ini pasti gila, atau bunuh diri.”

Aura merasakan keraguan tentara itu. Tanpa berkata-kata lagi, ia hanya menunjuk ke bawah tangga, mengisyaratkan bahwa ia akan turun lebih dulu. Langkahnya ringan, seolah udara di lantai tiga sejuk dan bersih.

Reno, yang kini merasa cemas dan gelisah, menatap ke arah Jack dan Falix.

Tepat saat itu, Falix yang baru tiba di belakang Reno, menepuk pundaknya.

“Kamu tenang saja, Letnan,” kata Falix, suaranya berat dan yakin. “Wanita itu… dia tidak main-main. Dia berkata jujur kalau masker itu bisa menghalau racun untuk masuk ke tubuhnya.”

Meskipun mendapat konfirmasi dari Falix, Reno masih ragu. Dia segera mengencangkan maskernya sendiri dan bergegas turun ke bawah, jantungnya berdebar-debar, takut melihat Aura sudah terkapar keracunan.

Reno menemukan Aura di ujung koridor, berdiri dengan wajah santai, seolah-olah sedang menikmati udara segar di taman. Kabut tipis kebiruan memang mulai menyelimuti lantai itu.

“Lihat aku baik-baik saja, bukan?” tanya Aura, matanya melengkung membentuk senyum.

Reno segera memeriksa dari atas sampai bawah, matanya menyelidiki setiap detail, dari warna kulit Aura hingga kecepatan napasnya. Setelah memastikan Aura baik-baik saja, barulah ia merasa lega, bahunya yang tegang sedikit mengendur.

“Kalian sedang apa sebenarnya?” tanya Jack, berjalan cepat bersama Kieran, melihat bawahan mereka malah berkumpul menatap ke arah Aura. Nada suara Jack menunjukkan ketidaksabaran.

Falix maju, menjelaskan singkat. “Letnan Reno khawatir karena Nona Aura tidak memakai respirator militer, Tuan Jack.”

Jack segera melihat ke arah Aura, yang memang tampak baik-baik saja, bahkan di tengah kabut yang mulai menebal. Jack mengangguk, kepercayaan dirinya pada kemampuan Aura kembali menegaskan. “Baik, fokus. Kita harus bergerak cepat sebelum kabut ini semakin tebal. Kieran, kamu di depan. Falix, siapkan penghalau racun cadangan.”

“Siap, Tuan!” jawab bawahan serempak.

Mereka mulai menyusuri ruangan ketiga. Kabut kebiruan itu menyesakkan, membuat pandangan terbatas. Setiap ruangan yang mereka lewati memiliki konsentrasi kabut yang berbeda; ada yang hanya tipis seperti asap rokok, ada yang tebal hingga menelan cahaya senter mereka. Semakin jauh mereka berjalan, kabut semakin padat, semakin gelap.

Mereka bergerak dalam formasi, suara langkah sepatu bot mereka teredam di lantai beton yang lembap. Konsentrasi Jack tepecah antara mengawasi kabut dan mendengarkan laporan sensor Kieran.

Tiba-tiba, di tengah lorong yang paling tebal kabutnya, mereka menemukan sesuatu yang aneh.

Di atas sebuah peti kayu lapuk, bersinar sebuah objek kecil. Bukan hal baik yang mereka temukan, melainkan sebuah lilin yang memancarkan cahaya biru terang, hampir seperti api gas yang membeku. Cahaya biru itu aneh, memantul di tetesan kabut, menciptakan fatamorgana yang berkilauan.

Saat Jack menatap lilin bercahaya biru itu, lilin itu seolah-olah menunjukkan sebuah ilusi. Dalam sekejap, kabut kelabu di sekelilingnya lenyap, digantikan pemandangan padang rumput hijau yang tak terbatas di bawah langit senja keemasan. Jack melihat siluet seseorang yang sangat ia rindukan, melambai ke arahnya. Hatinya mencelos, ia terlamun, terpikat oleh keindahan yang tak mungkin ada di neraka beton ini.

Aura, yang berjalan di samping Jack, segera merasakan ada yang salah. Suasana yang tadinya dingin karena kabut kini terasa hangat dan manis secara psikologis perubahan drastis yang berbahaya. Ia melihat Jack membeku, matanya terpaku pada lilin.

Aura tidak panik. Gerakannya cepat dan efisien.

Plak!

Ia menepuk bahu Jack dengan keras, suaranya tajam namun lembut. “Jack! Sadar! Jangan melihatnya!”

Jack tersentak, seperti terbangun dari mimpi indah yang tragis. Ia mengedipkan mata, dan padang rumput hijau itu retak, digantikan kembali oleh lorong kotor yang diselimuti kabut biru pekat. Rasa kehilangan seketika menghantamnya, tetapi kewaspadaannya kembali.

Pada saat yang sama, Kieran yang lebih kebal terhadap kejutan, menyadari bahaya itu. “Tutup mata kalian! Jangan tatap apinya!” seru Kieran, suaranya parau dan mendesak.

Falix dan Reno segera membantu tentara lain yang juga mulai terdiam, mata mereka membesar karena ilusi. Falix dengan cepat meraih kepala seorang tentara, membalikkan wajahnya menjauh dari lilin biru itu.

“Fokus pada sepatu saya! Jangan lihat apa pun yang bersinar!” perintah Falix dengan emosi tegang.

Setelah berhasil menarik semua orang dari pengaruh ilusi, Jack menghela napas panjang di balik maskernya. Jantungnya masih berdebar kencang karena kerinduan yang ditimbulkan oleh ilusi sialan itu. Ia menatap Aura, pandangan mata mereka bertemu di balik kabut. Ada rasa syukur yang mendalam dan pengakuan tak terucapkan.

“Terima kasih, Aura,” bisik Jack, suaranya rendah dan penuh emosi.

Aura hanya mengangguk, isyaratnya berarti: Jangan lengah.

Mereka terus berjalan, bergerak cepat, menghindari pandangan ke arah lilin yang masih menyala dengan api biru memikat. Mereka sadar, ilusi itu adalah pertanda baru pertanda bahwa musuh tidak hanya mengandalkan racun, tetapi juga serangan psikologis.

Langkah kaki mereka semakin cepat. Setelah melewati beberapa tikungan, Kieran, yang memimpin di depan, berhenti.

“Tuan Jack, kami menemukannya,” lapor Kieran.

Di dinding beton yang tampak paling kokoh, ada sebuah pintu baja berat, sedikit berkarat, pintu yang jelas menuju ke bawah, menuju lantai berikutnya. Pintu menuju jantung masalah.

“Buka,” perintah Jack. “Waktunya kita melihat apa yang ada di baliknya.”

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Herwanti: terima kasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!