NovelToon NovelToon
Rahasia Terpendam Kristal

Rahasia Terpendam Kristal

Status: tamat
Genre:Misteri / Penyelamat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: IZI.01

Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Di pacu adrenalin, aku terus ikuti Id dari jauh. Jantung seolah pecah di dada, mendesak keluar dari paru-paru, tenggorokan bagai tercekik di cengkram cakar yang tak nampak. Sempat dia melemparkan pandangan ke arahku, namun penglihatanku lebih tanggap bereaksi.

Lantas ak bersembunyi di balik kereta bayi yang di dorong oleh orang tuanya. Aku buntuti sampai masuk ke dalam lobi apartemen. Sial, langkahnya semakin cepat berjalan.

Sepercik panik tersulut kala Id berada di depan lift. Entah lift mana yang akan digunakan, tentu aku harus menunggu sampai dia masuk lebih dulu.

"Barangkali satu-satunya cara terbaik sebelum lift itu berhenti adalah memakai tangga darurat," kataku di ikuti deru nafas yang kian memburu.

Sebelum masuk ke pintu darurat, seorang petugas kebersihan menghadangku, "Ibu! Lift utamanya ada disebelah sana!"

"Saya tahu! Kebetulan saya sedang menjalani terapi. Jadi harus lebih sering menggunakan tangga darurat," tandasku dengan alibi spontan.

"Oh! Apa ibu tidak takut sendirian ke atas sana? Kalau memang lift utama sedang penuh, bisa naik lift barang kok, Bu!"

"Biar saya lewat tangga darurat saja. Oiya, apa kenal atau mungkin pernah dengar ada penghuni baru di lantai sepuluh? Namanya, Id!"

"Id?" perempuan muda itu mengernyitkan dahi, mengambil jeda sebelum meneruskan ucapannya, "Idris Sanjaya!" tandasnya, menerka dengan yakin.

"Bukan.. hanya dua huruf, I dan D!"

"Tidak kenal saya, Bu! Lagian kita tugasnya seminggu sekali di rolling. Jadi gak terlalu memperhatikan penghuni baru. Kenapa gak coba tanya ke bagian informasi saja, Bu?"

"Ya sudah kalau begitu! Silahkan dilanjutkan lagi pekerjaannya!"

Di ujung perkataannya, aku cepat masuk ke dalam pintu darurat. Satu persatu titian anak tangga berhasil terlewati. Oksigen yang masuk ke pernapasan mulai tersendat-sendat, nafas pun termegap-megap. Ingin rasanya kusudahi perburuan lalu segera menghilangkan dehidrasi yang mencekik leher. Tapi hasratku untuk mengungkap identitas mahkluk asing yang menggangguku itu jauh lebih penting dari apapun juga.

Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, kini tersisa sepuluh anak tangga lagi yang harus kulalui. Dengan sekuat tenaga, kutambah lagi kecepatan agar lekas sampai. Dalam hitungan satu, dua, tiga langkah, genaplah aku berada di lantai yang sama dengan Id.

Deretan pintu yang berjumlah dua puluh buah pintu itu tertutup rapat, termasuk satu diantaranya apartemenku sendiri. Hanya ada pemandangan lengang dan senyap. Id sama sekali tidak meninggalkan jejak yang bisa kutelusuri. Aku terdiam sambil merasakan adanya kebuntuan. Seandainya aku sudah mengetahui siapa saja yang tinggal di kanan-kiriku, tentunya tak akan serepot ini.

Dari perasaan putus asa yang menjadi-jadi, tercetus keberanian yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Tanpa perdulikan anggapan para penghuni yang nantinya merasa terganggu, atau kamera pengintai yang terpasang disetiap sudut.

"Id!! Dimana kamu!!" tak ada jawaban, maka aku bergegas ke pintu berikutnya, "Keluarlah, Id!" tetap tak dibalas, sampai akhirnya sosok perempuan muda dengan balutan lingerie hitam, keluar dan menyambutku.

"Siapa yah? Loh, kamu itu kan.." kami berdua sama-sama tertegun, seakan tak percaya.

"Kk-ita sempat ketemu di toilet! Seminar motivasi Gatot Purba!"

"Kenalkan! Monalisa. Panggil saja, Mona." katanya, menyodorkan salam, dan mengajak masuk.

"Kristalia Calysta. Singkatnya, Kristal."

"Biar enak kita ngobrol di dalam, yuk! Sekalian keringin tuh badan yang basah kuyup keringat begitu!" pinta Mona, membuka lebar pintu tempat tinggalnya.

"Hm, sebenarnya aku juga tinggal disini, Mon. Itu di seberang, unit paling pojok, lima unit setelah nomor kamu. Mungkin lain waktu saya bisa mampir!"

"Kebetulan sekali kalau kamu memang tinggal disini. Saya kan jadi ada teman ngobrol!" dengan sedikit memaksa, pergelangan tanganku digandeng mengikuti kepergiannya.

"Tunggu¬-tunggu sebentar, jangan lama-lama yah! Soalnya masih ada yang harus kukerjakan."

"Ih, takut kalau kamu dicariin sama suami yah?"

"Nggak lah! Bukan begitu maksudnya. Kerjaanku itu lagi numpuk banget. Aku kan kan harus ganti baju dulu. Gak enak kalau basah keringat seperti ini!"

"Kalau kamu mau ganti baju, pakai saja bajuku dulu!"

"Haduh, gimana yah! Ya sudah aku masuk! Tapi benar yah, jangan lama-lama!" tanpa balasan, dia menggandengku.

Tipe ruangan serta desain arsitekturnya tak jauh beda dengan milikku. Hanya ada beberapa bagian yang di renovasi. Sebuah ruang tambahan yang sengaja dibuat khusus. Letaknya bersebelahan dengan kamar tidur utama. Bila dilukiskan secara menyeluruh, kamarnya bertambah satu.

"Ini aku pinjami baju ganti. Sementara pakai baju kaos dulu nggak apa-apa kan? Lihat deh.." Mona membentangkan baju yang hendak diberikan.

"Wah! Dapat darimana baju itu, Mon? Ada foto dan tanda tangannya juga!"

"Iya dong, kan aku fans berat sama bapak Gatot Purba! Sekarang kamu ganti baju dulu deh!"

Dindingnya berwarna putih, bersih. Ruangan tertata rapih. Di sisi kanan, kutemukan adanya bath ub dengan suguhan TV flat. Sedangkan pada sisi sebelah kiri terdapat; wastafel closed, shower, rak handuk, kotak obat-obatan dan sebuah bingkai foto yang luar biasa besarnya. Ukurannya berkisar 70x195cm, dengan pose Gatot Purba sedang dalam pakaian formil, tersenyum penuh. Pertanyaan seketika muncul dalam benakku, "Apa yang membuat Monalisa sampai tergila-gila dengan sosok Gatot Purba? Kenapa juga harus ada foto sebesar ini disini?"

Tak mau larut dalam pertanyaan, maka seketika kuhentikan mengamati foto tersebut. Lekas membersihkan wajah dari keringat serta kotoran yang melekat. Bumbu gado-gado itu tak hanya menempel di kulit, tapi juga mengotori liontin kristal pemberian suamiku. Aku buka pengaitnya, perlahan-lahan menggosoknya dalam genggaman tangan. Kutempatkan pada sudut kitchen sing keramik yang berwarna cerah. Sehabis itu, kuteruskan dengan menyingkirkan debu serta keringat di wajah dengan air, lantas aku harus mengeringkannya.

Sangat mudah menemukan rak handuk yang tersusun berdasarkan besar dan kecil. Handuk disana hanya ada warna putih, tak ada yang lain. Saat mengambil handuk kecil, tanpa disengaja jemariku mengambil sebuah alat test pack dengan dua garis, menandakan arti positif. Aku tersenyum sendiri, terbesit masa-masa indah ketika melahirkan Darrius. Untungnya ada suamiku yang menemani selama lebih dari dua puluh empat jam.

"Positif? Wah, pasti sekarang Mona lagi senang banget yah?" aku tersenyum sumringah sendiri.

"Kristal!!" panggilannya terdengar dalam kecemasan. Aku buru-buru mendatanginya sambil meletakkan kembali alat tes tersebut. Namun sebelum aku keluar dari kamar mandi, dia sudah berdiri didepanku dengan ekspresi penuh kekhawatiran.

"Kenapa, Mon?" balasku, tetap menyeka wajah dengan handuk yang kubawa.

"Maaf banget, kayaknya kita gak bisa sekarang ngobrolnya! Aku harus pergi!" tanpa basa-basi, dia lingkarkan siku tangannya, kemudian menggiringku ke pintu keluar.

"Ta-api Mon!" belum selesai berkata, tiba-tiba, "Bruk..." daun pintu di tutup, setengah terbanting. Aku sempat terperanjat, tetapi kemudian lekas berbalik menuju ke tempat ku semula.

Sebelum sampai di apartemen, aku berpapasan dengan dua orang lelaki yang tampak tidak asing bagiku. Satu lelaki berbusana overcoat, berkacamata mengkilap, dengan topi fedora jazz, serba hitam. Lelaki satunya juga mengenakan busana yang serupa, perbedaannya hanya pada warnanya. Mereka sama-sama berjanggut lebat. Keduanya sempat melirik, lalu terus menggenapkan langkahnya masuk ke dalam apartemen yang bersebelahan dengan Monalisa. Sepintas aku merasa seakan pernah bertemu dengan keduanya. Aku menengok singkat kembali untuk menghilangkan keraguanku, dan tetap terasa kalau memang aku pernah bertemu dengan kedua lelaki itu.

1
Mamah Deni
Novel yang rekomen. Alur cerita singkat. Padat. pemilihan kata juga tepat dan mudah. cocok buat bahan bacaan. seharusnya bisa di taruh di rak toko buku yah. wajib baca sampai tuntas.
Mamah Deni
sederhana tapi alurnya menarik buat di baca tuntas. mantap😍
Mamah Deni
Ini pertama kali saya membaca novel di plarform digital. gak disangka bisa nemu tema yang unik. tutur bahasanya juga mengalir. langsung kebawa emosinya.😍
IzI
teruskan menulis, terus membaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!