NovelToon NovelToon
Iblis Penelan Langit

Iblis Penelan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.

Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Napas Terakhir di Ambang Istirahat

Episode 14

Asap dupa di Ruang Meditasi Jiwa Murni sudah lama padam, namun udara di dalam ruangan itu tetap terasa berat dan bermuatan listrik. Gu Sheng masih duduk bersila, namun posisi tubuhnya kini sedikit membungkuk. Kulitnya yang semula bersih setelah mandi herbal, kini kembali tertutup oleh lapisan tipis cairan hitam pekat yang berbau amis, limbah kotoran fana yang dipaksa keluar dari sumsum tulangnya saat Gerbang Pertama (Kai Men) terbuka.

Meskipun kesadaran spiritualnya kini sangat tajam, tubuh fisiknya sedang mengalami krisis. Membuka gerbang otak telah memberikan beban komputasi yang luar biasa pada saraf-sarafnya. Gu Sheng merasa seolah-olah kepalanya sedang menampung seluruh lautan yang bergejolak, sementara tubuhnya hanyalah sebuah bejana tanah liat yang retak.

“Hah... Hah... Hah...”

Napas Gu Sheng terdengar berat dan tidak teratur. Setiap tarikan napasnya memicu denyutan di pelipisnya. Ia bisa merasakan setiap detak jantungnya menggema di telinganya seperti tabuhan genderang perang yang tidak sinkron.

“Bocah, kendalikan dirimu!” suara Kaisar Iblis terdengar sangat mendesak, bergema di ruang batin yang kini jauh lebih luas daripada sebelumnya. “Kau baru saja membuka pintu menuju kecerdasan dewa, tapi ragamu masihlah raga manusia tingkat rendah. Jika kau tidak segera menyeimbangkannya dengan Gerbang Kedua, otakmu akan membakar seluruh energi kehidupanmu dalam waktu kurang dari enam jam!”

Gu Sheng menggertakkan giginya hingga gusi-gusinya berdarah. Darah merah segar merembes di sela bibirnya, kontras dengan jubah hitamnya. Ia tahu risikonya. Teknik Sembilan Gerbang Penghancur Bintang bukanlah teknik yang bisa dipelajari satu per satu secara santai. Gerbang-gerbang itu saling berhubungan, pembukaan gerbang pertama menuntut ketahanan fisik yang hanya bisa diberikan oleh gerbang kedua.

Ia menundukkan kepalanya, menatap ke arah ulu hatinya, lokasi Gerbang Kedua: Gerbang Istirahat

(Xiu Men).

Nama Istirahat adalah ironi yang kejam. Dalam manual kuno itu dijelaskan bahwa gerbang ini mengontrol regenerasi sel dan stamina tanpa batas. Untuk membukanya, seseorang harus mengistirahatkan seluruh fungsi tubuh organ dalamnya secara paksa, mematikan detak jantung dan pernapasan untuk sementara, agar energi Qi bisa melakukan rekonstruksi total tanpa gangguan dari metabolisme fana.

"Mematikan... detak jantung...?" bisik Gu Sheng, suaranya parau.

“Iya. Kau harus berada di ambang kematian klinis,” kaisar iblis menjelaskan dengan nada dingin yang tanpa ampun. “Dantian Penelan Langit-mu akan menjadi satu-satunya sumber kehidupanmu saat jantungmu berhenti. Ini adalah taruhan nyawa, Gu Sheng. Jika kau ragu meski hanya seperseribu detik, kau akan benar-benar mati menjadi mayat di ruangan ini.”

Gu Sheng memejamkan mata. Ia memikirkan Qing Er yang sedang tidur di lantai bawah, memimpikan masa depan yang lebih baik. Ia memikirkan ayahnya, Gu Jianfeng, yang mungkin sedang bertarung sendirian di suatu tempat yang jauh demi melindunginya. Dan tentu saja, ia memikirkan Mu Ruoxue, wanita yang mungkin sedang tertawa di pelukan Lin Tian saat ini.

Kebencian itu kembali muncul, dingin dan mematikan, menyelimuti jantungnya seperti lapisan es hitam.

"Lakukan," desis Gu Sheng.

Ia mulai menggerakkan Qi hitamnya dengan pola yang sangat rumit. Alih-alih mengalirkan energi ke jalur meridian utama, ia justru memutus aliran darah ke arah jantungnya menggunakan tekanan Qi.

Dug... Dug...

Detak jantungnya melambat.

Dug....... Dug.......

Wajah Gu Sheng berubah menjadi biru pucat. Suhu tubuhnya turun drastis hingga embun beku mulai muncul di lantai marmer di bawahnya. Kesadaran spiritualnya yang baru saja tajam kini mulai meredup, beralih ke dalam fase trance yang mengerikan.

Sementara itu, di koridor luar ruang meditasi, Su Mei berdiri mematung. Ia mengenakan jubah sutra merah yang elegan, namun tangannya yang memegang baki berisi teh herbal gemetar sedikit. Sebagai praktisi tingkat Spirit Sea, ia memiliki sensitivitas yang kuat terhadap energi di sekitarnya.

Sejak satu jam yang lalu, ia merasakan aura Gu Sheng yang tadinya meluap-luap tiba-tiba menghilang. Bukan sekadar disembunyikan, tapi benar-benar lenyap, seolah-olah pria itu sudah tidak lagi ada di dunia ini.

"Nyonya... apakah kita harus masuk?" bisik Zhao Hu, pengawal setianya yang berdiri di samping pintu dengan wajah cemas. "Tekanan di dalam ruangan ini... terasa seperti kuburan."

Su Mei menatap pintu besi meteorit itu dengan pandangan yang kompleks. Ada keinginan besar untuk mendobrak masuk dan menyelamatkan Gu Sheng, namun ia teringat perintah terakhir pemuda itu.Jika ada yang mencoba masuk paksa... bunuh mereka tanpa ragu.

"Jangan," jawab Su Mei pelan, suaranya mengandung rasa takut yang jarang ia tunjukkan. "Dia sedang melakukan sesuatu yang melampaui pemahaman kita. Jika kita masuk sekarang, kita mungkin justru akan membunuhnya... atau dia akan membunuh kita dalam keadaan setengah sadar."

Su Mei menyandarkan tubuhnya ke dinding dingin koridor. Ia bisa merasakan getaran dari dinding paviliun, getaran halus yang berasal dari bawah tanah, dari formasi gravitasi yang masih bergema di dalam fondasi bangunan.

"Gu Sheng... siapa kau sebenarnya?" gumam Su Mei. "Kau baru berusia tujuh belas tahun, tapi kau membawa beban kegelapan yang bahkan para kaisar pun tidak berani memikulnya."

Di sisi lain kota, di bawah cahaya bulan yang dingin, kediaman Keluarga Mu tampak seperti benteng yang tak terkalahkan. Di lapangan latihan pribadi, Lin Tian sedang mencoba mengayunkan pedang barunya, pedang pemberian Senior Zhao yang bernama Azure Fang.

Srak! Srak!

Setiap ayunannya membelah pilar-pilar kayu dengan presisi yang mematikan. Lin Tian merasa kekuatannya telah meningkat dua kali lipat setelah mengonsumsi pil pemulih dari sekte. Namun, setiap kali ia teringat pada pedang tumpul Penebas Dosa milik Gu Sheng, ia merasakan denyutan di lengannya yang pernah gemetar menahan hantaman itu.

"Satu hari lagi..." Lin Tian menyeringai, matanya berkilat dengan kegilaan. "Besok, di arena turnamen, aku tidak akan memberinya kesempatan untuk mengeluarkan pedang sampahnya. Aku akan memenggal kepalanya sebelum dia bisa berkedip."

Kembali ke Ruang Meditasi Jiwa Murni.

Gu Sheng sudah tidak lagi bernapas. Jantungnya telah berhenti berdetak selama tepat tujuh belas menit. Secara medis, ia sudah mati. Namun, di dalam Dantiannya, pusaran hitam Penelan Langit meledak dengan kekuatan yang luar biasa.

Tanpa adanya aliran darah dan oksigen fana, energi Qi hitam menjadi satu-satunya nutrisi bagi sel-sel tubuhnya. Ini adalah fase Metamorfosis Iblis.

“Bagus... pertahankan... sedikit lagi...” suara kaisar iblis terdengar sangat halus, hampir seperti bisikan dari dimensi lain.

Di dalam kegelapan batin Gu Sheng, gerbang kedua muncul. Berbeda dengan gerbang pertama yang berwarna perunggu, gerbang ini berwarna putih pucat, hampir seperti terbuat dari tulang manusia yang dipoles. Gerbang ini tidak dirantai, melainkan tertutup rapat oleh lapisan otot-otot energi yang tebal.

"Istirahat... untuk bangkit kembali..." jiwa Gu Sheng berbisik.

Ia mengumpulkan seluruh sisa energinya, bukan untuk menghantam gerbang itu, melainkan untuk merembes ke dalamnya. Ia membiarkan Qi hitamnya meluluhkan lapisan otot energi tersebut secara perlahan, menyerap setiap inci perlindungan gerbang itu untuk dijadikan bagian dari tubuhnya sendiri.

Ini adalah proses yang sangat lambat. Setiap detik terasa seperti setahun bagi jiwa Gu Sheng yang sedang melayang di antara hidup dan mati. Ia bisa merasakan organ dalamnya mulai mengalami pemurnian, paru-parunya menjadi lebih elastis, lambungnya mampu mencerna energi yang paling kasar sekalipun, dan yang terpenting, otot-otot di sekitar jantungnya diperkuat hingga mampu memompa energi Qi secara langsung ke seluruh tubuh.

Krrrrrkkk...

Suara pintu putih itu perlahan-lahan terbuka.

Begitu pintu itu terbuka sedikit saja, sebuah gelombang kehidupan yang sangat masif meledak dari ulu hati Gu Sheng.

DUG!

Jantung Gu Sheng berdetak kembali. Namun, kali ini detakannya begitu kuat hingga suaranya terdengar seperti hantaman palu raksasa di ruangan sunyi itu.

DUG! DUG! DUG!

Darah hitam yang menyumbat pori-porinya seketika terhempas keluar dari kulitnya karena tekanan darah yang melonjak drastis. Warna kulit Gu Sheng yang tadinya biru pucat seketika berubah menjadi merah panas, mengeluarkan uap yang sangat tebal.

Gerbang Kedua: Terbuka.

Seketika, rasa lelah yang menghimpit otaknya akibat pembukaan gerbang pertama menghilang. Ia merasa tubuhnya memiliki energi yang tak terbatas. Stamina yang biasanya habis setelah bertarung selama satu jam, kini seolah-olah bisa bertahan selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti.

Namun, kejutan sebenarnya datang dari Dantiannya.

Energi yang dilepaskan dari Gerbang Istirahat sangatlah murni. Dantian Penelan Langit melahap energi itu dengan rakus, melakukan kompresi Qi yang luar biasa di dalam jalur meridiannya.

Krak! Krak! Krak!

Tiga suara pecah berturut-turut terdengar dari dalam tubuhnya.

Qi Refinement - Tingkat Kedelapan.

Qi Refinement - Tingkat Kesembilan.

Qi Refinement - Tingkat Puncak.

Gu Sheng membuka matanya. Pupil mata merahnya kini memancarkan cahaya yang begitu pekat hingga kegelapan di dalam ruangan itu seolah-olah lari menjauh darinya.

Ia berdiri perlahan. Ia tidak merasa ringan seperti sebelumnya; sebaliknya, ia merasa sangat padat. Setiap jengkal dagingnya memiliki berat dan kekuatan yang tak masuk akal. Ia mengepalkan tangannya, dan udara di dalam genggamannya meledak karena tekanan fisik murni.

"Istirahat sudah selesai," bisik Gu Sheng. Suaranya tidak lagi serak, melainkan berwibawa dan penuh dengan getaran energi.

Ia melihat ke arah jendela yang tertutup. Meskipun matanya terhalang dinding, dengan bantuan Gerbang Pertama (Kai Men), ia bisa melihat matahari mulai terbit di cakrawala Kota Azure.

Hari terakhir sebelum turnamen telah tiba.

Gu Sheng berjalan menuju pintu. Ia meraih jubah hitam barunya yang tergeletak di meja, memakainya dengan gerakan yang sangat tenang. Ia kemudian meraih Penebas Dosa, pedang hitam yang kini terasa seperti bulu di tangannya namun ia tahu, di tangan musuhnya, itu akan menjadi beban kematian.

"Su Mei, buka pintunya," ucap Gu Sheng pelan.

Di luar koridor, Su Mei yang hampir tertidur sambil bersandar di dinding, seketika tersentak bangun. Ia menatap pintu besi yang perlahan terbuka, memperlihatkan sosok pemuda yang aura penindasannya kini membuatnya sulit untuk bernapas.

"Gu... Gu Sheng?" Su Mei ternganga. "Kau... kultivasimu... kau sudah berada di puncak Qi Refinement?!"

Gu Sheng melewatinya tanpa menoleh, langkah kakinya tidak lagi meninggalkan retakan di lantai, ia telah memiliki kontrol absolut atas kekuatannya.

"Aku lapar," ucap Gu Sheng pendek. "Siapkan makanan yang paling banyak mengandung energi spiritual yang kau miliki. Aku butuh nutrisi terakhir sebelum aku membantai seluruh keluarga Mu besok pagi."

Su Mei hanya bisa terpaku, menatap punggung tegap sang Iblis yang berjalan menuju aula bawah. Ia menyadari satu hal: Besok, Kota Azure tidak akan menyaksikan sebuah turnamen... mereka akan menyaksikan sebuah pembersihan.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai sekte pedang langit dengan cara paling kejam thor bikin leluhur sekte itu memohon ampunan bunuh dia aja jangan libatkan sektenya bikin mcnya tidak peduli bantai sekte itu serap kultivasi mereka naikin ranah kultivasi habis itu bantai klan lin dan klan zhou
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih proses hehe 😅
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
bantai keluarganya zhou rou bikin mereka semua mengutuk zhou rou karena menganggu mcnya
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih dalam proses ia Hehe 😅
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat robek musuhnya thor bantai klan zhao
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih dalam proses ia Hehe 😅
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat naikin ranah kultivasi mcnya sampai puncak habis itu bantai lintian dan zhaoru bikin zhaoru dan lintian memohon jangan libatkan keluarganya bikin mcnya tidak perduli thor
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih proses hehe 😅🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
bikin mcnya kejam bantai lin tian beserta keluarganya bikin mcnya memasukkan pil itu ke dalam tubuh lintian bikin lintian tidak bisa bereinkarnasi bikin mcnya memakan lintian
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!