NovelToon NovelToon
Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Terlarang / Enemy to Lovers
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.

Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.

Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tebak Nama

"He, Rek! Tomo jatuh!" teriak seorang bocah, memanggil kawan-kawannya yang berada di kejauhan.

Beberapa anak berdatangan, membiarkan sepeda mereka tergeletak begitu saja di aspal, lalu berlari menghampiri Myra yang masih mendekap teman mereka.

"Kalian teman-temannya?" tanya Myra memastikan.

"Iya, Kak..." jawab mereka serempak dengan wajah polos yang diselimuti kecemasan.

"Kalau begitu, jaga teman kalian. Obati lukanya dengan baik," ujar Myra sembari merogoh tasnya. Ia menarik selembar uang berwarna merah dan menyodorkannya. "Sisa uangnya bisa kalian gunakan untuk membeli jajan."

Mata anak-anak itu membelalak. "Wah! Terima kasih, Kak!" sorak mereka gembira. Dua anak maju membopong Tomo, sementara yang lain membereskan sepeda yang berserakan.

"Terima kasih, Kak," pamit Tomo dengan senyum kikuk menahan malu.

"Sama-sama. Lain kali, hati-hati ya, jangan menabrak lagi!" Myra membalas dengan senyum lebar yang tulus.

"Kamu ini gimana, sih? Masa tong sebesar itu tidak kelihatan," seloroh salah satu bocah, mulai mengomeli temannya yang baru saja tertimpa musibah.

Myra masih terpaku menatap punggung kecil mereka yang menjauh, hingga ia tak menyadari keberadaan seseorang yang mengintai di balik bayang-bayangnya.

GREP.

Sebuah tangan kokoh mencengkeram erat pergelangan tangan Myra.

"Hah!" Myra tersentak hebat. Ia refleks menoleh dan mendapati pria tinggi itu sedang berdiri di sana, menatapnya dengan senyum riang yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Mampus," batin Myra sembari menelan ludah getir.

Myra berusaha menyentakkan tangannya, mencoba melepaskan diri dari pitingan Rafan. Namun, kekuatan pria itu terlalu dominan; rontaan Myra hanya terasa seperti hentakan lemah seekor kelinci di mata sang predator.

"Lepaskan!" desis Myra dengan gigi terkatup rapat.

Rafan tak menjawab. Ia seolah tersihir, terjerat ke dalam labirin pesona yang terpancar dari wajah di hadapannya. Ia tak bisa berhenti mengagumi paras elok yang kini memerah karena amarah itu.

"Aku benci tatapannya," gerutu Myra dalam hati. Andai saja ia membawa senjata, mungkin malam ini berita utama di koran akan dipenuhi oleh kabar kematian seorang perwira polisi.

"Aku tidak boleh tertangkap." Myra segera mengambil tindakan nekat. Ia menunduk dan menancapkan gigi depannya dalam-dalam ke lengan Rafan.

Anehnya, Rafan tetap bergeming. Ia masih tersenyum, seolah rasa sakit itu tak berarti dibandingkan keberhasilannya menggenggam Myra.

"Dasar gila!" Myra semakin muak. Ia menambah kekuatannya hingga rasa besi dari darah segar mulai menyentuh lidahnya. Mereka bertahan dalam posisi itu selama beberapa detik yang menyesakkan, sampai akhirnya Myra mendongak kembali dengan napas memburu.

"Sebenarnya apa maumu?!" pekik Myra frustrasi. Ia merasa hari ini adalah puncak kesialannya.

"Siapa namamu?" tanya Rafan tiba-tiba, membuat Myra mematung.

"Apa?" Myra membelalak, tak percaya bahwa pertanyaan seringan itu yang keluar dari mulut pria yang ia anggap sebagai ancaman besar.

"Namamu. Siapa namamu?" ulang Rafan, suaranya merendah, menghujani Myra dengan tatapan lembut yang mematikan. Jika saja wanita lain yang berada di posisi ini, mereka pasti sadar bahwa pria ini sedang menyerahkan hatinya.

Myra bungkam. "Ini jebakan. Dia pasti ingin menggali informasiku," pikirnya waspada.

"Kalau tidak salah, namamu diawali huruf S?" tebak Rafan, mencoba memancing reaksi. "Oh, bukan. Huruf P?" Ia terus menyebutkan abjad sembari mengamati setiap perubahan kecil pada raut wajah Myra. "Atau M?"

Manik mata Myra sedikit bergetar. Rafan menangkap reaksi itu dengan cepat.

"M! Iya, M. Aku ingat sekarang. Marissa? Mawar? Mony---Moly? Melinda?"

"Myra! Namaku Myra!" potong gadis itu karena muak mendengar celotehan tak berujung Rafan. Ia hanya ingin pria ini menepati janjinya. "Cepat lepaskan!"

Pats!

Rafan membuka genggamannya. Ia tertegun, menatap punggung Myra yang langsung berlari menjauh dengan kecepatan tinggi.

"Maaf!" teriak Rafan, membuat langkah Myra terhenti sejenak. Myra menoleh, ada secuil rasa penasaran yang tak bisa ia bendung.

"Maaf... aku tidak sengaja melihatmu kemarin," gumam Rafan dengan nada penuh penyesalan yang terdengar tulus. "Aku benar-benar tidak bermaksud. Itu adalah pertama kalinya aku... melihat seorang gadis telanjang."

"Dasar bajingan mesum!"

Bagi Myra, permintaan maaf itu justru terdengar seperti penghinaan. Tanpa pikir panjang, ia melepas salah satu sepatu haknya dan melemparkannya dengan tenaga penuh.

BAK!

Sepatu itu mendarat telak di wajah Rafan, meninggalkan bekas merah dan goresan di pipinya.

"Shh... sakit sekali," rintih Rafan, namun tangannya dengan sigap menangkap heels rendah yang baru saja melukainya. Ia menyeringai tipis melihat punggung Myra yang kembali berlari.

"Aku suka gadis tangguh. Tidak apa-apa... lain kali, aku pasti akan menangkapmu." Rafan membisikkan kata-kata itu pada angin. "Kucing liarku... Myra, sampai berjumpa lagi!"

"Dasar cowok gila!" maki Myra dalam hati, terus memacu kaki jenjangnya melewati labirin jalanan yang sangat ia kuasai.

Sementara itu, Rafan berdiri mematung di tengah gang asing, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sekarang... bagaimana caranya aku pulang?"

Ia menoleh ke sekeliling. Dinding-dinding pembatas di sekitarnya tampak begitu asing. Di tengah kebingungannya, ponsel di sakunya bergetar hebat.

"Halo?"

"Halo, Pak!" Suara Andre memotong dengan nada mendesak. "Salah satu pelayan di rumah Pak Willy baru saja melapor. Mereka menemukan Pak Willy... tergeletak tak bernyawa."

Wajah Rafan seketika menegang. "Apa? Kapan kejadiannya?"

"Polisi baru dikabari sepuluh menit yang lalu. Petugas sedang dalam perjalanan ke sana."

"Kita ke sana sekarang!" tegas Rafan, otoritas kepolisiannya kembali seketika.

"Baik, Pak. Saya jemput ke rumah Bapak sekarang."

"Tunggu!" Rafan merendahkan suaranya, sedikit malu. "Sepertinya... aku tersesat. Aku akan mengirimkan lokasiku, cepat jemput aku di sini!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!