NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8

Ruangan kerja Gunawan yang luas dan didominasi oleh panel kayu jati gelap itu terasa begitu pengap oleh aroma wiski dan cerutu mahal.

Mayang berdiri di samping meja kerja kayu yang masif, jemarinya yang lentik masih memegang pulpen mahal yang baru saja ia gunakan untuk menandatangani surat pengalihan saham sepuluh persen tersebut. Dokumen-dokumen berkekuatan hukum itu kini terbentar di atas meja, menjadi saksi bisu atas transaksi yang melibatkan nyawa di dalam rahim Mayang.

Gunawan menatap surat itu dengan binar mata yang penuh kemenangan, lalu pandangannya turun ke arah perut Mayang yang masih rata, namun bagi Gunawan, di sana sudah tersimpan harta karun yang paling ia dambakan.

"Sepuluh persen saham Logistics," gumam Gunawan, suaranya parau oleh keinginan yang meluap. "Kau adalah wanita paling mahal yang pernah kupunya, Mayang. Dan malam ini, aku ingin merasakan investasi itu secara langsung."

Gunawan berdiri, langkah kakinya terasa berat dan dominan saat ia mengitari meja. Ia mencengkeram pinggang Mayang, menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan erat. Mayang bisa merasakan panas tubuh Gunawan dan aroma alkohol yang menguar dari napas pria itu.

"Tuan... surat ini baru saja kering tintanya," bisik Mayang, memberikan senyum yang penuh provokasi.

"Apakah Anda sudah tidak sabar untuk merayakan kepemilikan baru Anda?"

"Aku ingin kau melayaniku di sini, Mayang. Di atas surat-surat ini," perintah Gunawan. Suaranya tidak menerima bantahan. Ia mengangkat tubuh Mayang dan mendudukkannya di atas meja kerja, tepat di atas dokumen saham tersebut.

Mayang sedikit meringis, rasa mual akibat kehamilan mudanya tiba-tiba menyerang, namun ia menekannya dalam-dalam. Ia tidak boleh terlihat lemah. Ia harus terlihat seperti hadiah yang sangat berharga.

"Ah... Tuan Gunawan," rintih Mayang pelan saat tangan kasar Gunawan mulai merayap di bawah gaun tidurnya yang tipis. Sentuhan itu jauh lebih kasar daripada Aris, namun Mayang membiarkannya.

"Pelan-pelan... Anda tahu saya sedang membawa pewaris Anda di dalam sini."

"Justru itu yang membuatku menggila, Mayang," desis Gunawan. Ia menenggelamkan wajahnya di leher Mayang, menghisap kulitnya hingga meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok. "Melihatmu hamil, melihatmu tetap tunduk meski kau sudah memegang sahamku... itu adalah puncak kejantananku."

Ritual di Atas Dokumen Kekuasaan

Gunawan tidak membiarkan Mayang bernapas lega. Ia mulai mengklaim haknya dengan intensitas yang mengerikan. Mayang mencengkeram tepi meja kayu itu, kuku-kukunya menggores permukaan meja saat Gunawan mulai mendominasi tubuhnya.

"Nghhh... ahhh... Tuan Gunawan..." rintihan Mayang mulai pecah di ruangan yang sunyi itu. Suaranya bergetar, antara rasa nyeri karena kehamilannya yang masih sensitif dan gairah yang dipaksakan untuk menyenangkan sang penguasa.

"Katakan, Mayang! Siapa pemilikmu sekarang?" Gunawan bertanya dengan napas yang memburu, gerakannya semakin tidak terkendali.

"Anda... ahh... Anda pemilik saya, Tuan," sahut Mayang dengan napas terengah. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membayangkan angka-angka di rekeningnya setiap kali Gunawan memberikan tekanan yang lebih keras. "Saham ini... rumah ini... semuanya sebanding dengan apa yang Anda lakukan sekarang."

Gunawan tertawa serak, sebuah suara yang terdengar mengerikan di keheningan malam Sentul. "Kau benar-benar iblis kecil yang serakah. Kau merintih untukku, tapi kepalamu menghitung uang, bukan?"

"Itulah... nghhh... yang membuat Anda menyukai saya, bukan?" Mayang membalas, ia melingkarkan kakinya di pinggang Gunawan, menarik pria itu semakin dekat. "Anda tidak butuh cinta... Anda butuh ketaatan. Dan saya... ahh... saya memberikan Anda segalanya."

Desahan Mayang semakin kencang saat Gunawan membawanya ke puncak ritual tersebut. Di bawah cahaya lampu meja yang temaram, Mayang terlihat seperti mahakarya yang sedang dihancurkan sekaligus dipuja. Keringat membasahi dahi dan lehernya, membuat daster sutranya menempel ketat di kulit, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang sedang bertransformasi.

Setelah badai itu mereda, Gunawan tidak melepaskan Mayang. Ia membiarkan Mayang bersandar di dadanya yang bidang, sementara jemarinya mengelus perut Mayang yang masih sangat halus.

"Kau luar biasa, Mayang," bisik Gunawan, suaranya kini lebih tenang namun tetap penuh obsesi. "Aris benar... rintihanmu memang musik yang paling indah. Tapi aku ingin lebih dari ini. Aku ingin proses persalinanmu nanti menjadi sejarah di vila ini."

Mayang mengatur napasnya yang masih belum stabil, ia merapikan rambutnya yang berantakan. "Saya akan memberikan apa yang Anda minta, Tuan. Tapi ingat... setiap rintihan saya di ruang persalinan nanti, akan ada harga tambahan yang harus Anda bayar."

Gunawan menatap Mayang dengan tatapan yang nyaris memuja kegilaan wanita itu. "Apa pun. Kau ingin gedung di pusat kota? Kau ingin berlian yang lebih besar? Aku akan memberikannya. Asalkan kau tetap menjadi milikku, dan kau melahirkan anak itu tepat di hadapanku, tanpa ada orang lain yang menyentuhmu."

"Saya setuju," ucap Mayang tanpa ragu. Ia turun dari meja, membiarkan dokumen saham yang sedikit lecek karena aktivitas mereka tadi jatuh ke lantai. Ia tidak peduli. Surat itu sudah sah.

Mayang berjalan menuju jendela, menatap hutan Sentul yang gelap. Di dalam perutnya, janin itu seolah menjadi pengingat bahwa ia sedang meniti jalan menuju puncak dunia.

Rasa sakit, fetish Gunawan, dan kesepian di vila ini hanyalah bumbu dari kesuksesan yang ia dambakan.

"Tuan Gunawan," panggil Mayang tanpa berbalik.

"Ya?"

"Pastikan ruang bawah tanah itu nyaman. Karena saat waktunya tiba nanti... saya ingin Anda melihat betapa mahalnya harga seorang Mayang Puspita Sari saat dia sedang hancur demi Anda."

Gunawan bangkit, memeluk Mayang dari belakang, tangannya kembali mendekap rahim yang membawa masa depannya. Di sana, di tengah kesunyian Sentul, dua manusia yang sudah kehilangan nurani itu saling mengunci dalam kontrak kegilaan yang tak berujung. Mayang tersenyum dingin dalam dekapan itu; ia tahu, ia telah berhasil menjinakkan satu monster lagi.

Bersambung .....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!