Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam pertama
Malam semakin larut. Ibu Ratih yang kondisinya lemah akhirnya tertidur setelah ditenangkan oleh Cantika. Ketiga adiknya pun sudah terlelap di kamar sebelah yang hanya dibatasi kain gorden lusuh.
Kini tinggal Arka dan Cantika yang duduk di ruang tamu yang temaram. Arka merasa punggungnya pegal luar biasa karena duduk terlalu lama di kursi kayu keras itu.
"Tuan,sudah malam,pasti anda capek ?" Cantika memberanikan diri bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Sudah tahu,masih nanya." sahut Arka ketus,Cantika hanya nyengir,bingung mau berkata apa .
“Tuan … Tuan mau tidur di mana?” tanya Cantika pelan. “Kami cuma punya dua kamar. Satu untuk Ibu, satu untuk saya dan adik-adik. Tuan tidak mungkin tidur di sini.”
Arka memijat pelipisnya.ia melihat keadaan rumah itu merasa tidak nyaman ,lagi pula ia tidak mungkin tidur di tempat kumuh seperti itu “Saya tidur di mobil saja.”
“Jangan, Tuan! Di luar banyak nyamuk, dan kalau warga lewat lalu melihat Tuan tidur di mobil, mereka akan curiga lagi. Mereka akan mengira kita hanya sandiwara.”
"Tapi mau kemana lagi,Aku nggak mungkin tidur di tempat ini,Disini memang ada hotel ?atau penginapan ?"
Cantika menggeleng,Tidak ada tuan disini tidak ada hotel dan penginapan,adanya dikota tidak mungkin anda kesana,jaraknya sangat jauh.
Arka mendesah frustrasi. “Lalu saya harus tidur di mana? Di tikar robek itu?”
Cantika menunduk, merasa sangat rendah diri. “Maaf,Keadaan kami memang seperti ini,jauh dari layak." Cantika tertunduk sedih ,melihat itu Ada sesuatu yang menyentuh hati Arka,rasanya ia tidak menyukai melihat wajah sedih Cantika .
"Jadi saya harus tidur dimana?"Arka kembali bertanya namun dengan suara yang sedikit lembut .
"Tuan bisa tidur di kamar saya. Biar saya yang tidur di lantai bersama Gilang dan adik-adik.”
“Tidak perlu,” potong Arka. “Saya tidak mau jadi pengungsi di rumah ini. Saya akan tidur di kursi ini saja.”
“Tapi kursi itu sangat keras, Tuan …”
“Sudahlah, Cantika! Tidurlah!” bentak Arka sedikit keras, lalu segera menyesal ketika mendengar suara rengekan salah satu adik Cantika di balik gorden.
Cantika terdiam. Ia mengambil sebuah bantal yang sudah tipis dan sebuah selimut dari dalam. Ia meletakkannya di dekat Arka.
"Tuan,ini bantal dan selimut untuk anda." Cantika menyodorkan bantal dan selimut itu pada Arka, tidak langsung menerima dan hanya melihatnya ,ia merasa bergidik melihat bantal dan selimut yang warnanya sudah kusam
"Apa,Nggak ada bantal dan selimut yang lain ?"
"Tidak ada Tuan,hanya selimut dan bantal ini yang terbaik yang kami punya ." kembali Cantika berkata sedih,dan merasa rendah diri
Arka melihat wajah Cantika yang terlihat sedih merasa tidak tega,dengan terpaksa ia mengambil bantal dan selimut dari tangan Cantika.
“Maafkan keadaan rumah ini, Tuan. Saya tahu ini sangat jauh dari kemewahan yang Tuan punya,” bisik Cantika.Arka hanya diam tanpa menjawab .
“Terima kasih,Tuan ... sudah mau berakting jadi suami saya di depan Ibu. Tadi … saya benar-benar takut Ibu akan pingsan dan tidak bangun lagi.”
Arka menatap Cantika. Di bawah lampu remang-remang, wajah gadis itu terlihat sangat lelah. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Arka teringat ucapan Cantika tadi: ia menghemat setiap butir garam agar modalnya cukup untuk esok hari.
Ada rasa iba yang menyelinap pelan, menggantikan amarahnya,namun ia tidak ingin hal itu terlihat oleh Cantika
“Pergilah tidur,” ujar Arka, suaranya kini sedikit melunak. “Besok pagi kita harus bicara serius tentang kita."
Cantika mengangguk, lalu beranjak masuk ke balik gorden.
Arka menyandarkan kepalanya di kursi kayu. Ia menatap langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Di luar, suara jangkrik bersahut-sahutan. Ini adalah malam paling gila dalam hidupnya. Beberapa jam yang lalu, ia adalah seorang CEO sukses yang sedang memikirkan kontrak miliaran rupiah.
Sekarang, ia adalah seorang suami dari gadis penjual keripik, berada di sebuah gang sempit yang bahkan tidak terdeteksi GPS, dikelilingi oleh keluarga yang menangisinya seolah ia adalah musibah sekaligus penyelamat.
“Sial,” umpat Arka pelan. “Apa yang sudah aku lakukan pada hidupku?”
Namun, di balik semua kekacauan itu, ada satu hal yang tidak bisa Arka pungkiri. Ketika ia melihat Cantika memeluk ibunya dan adik-adiknya tadi, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia temukan di dunianya yang megah: sebuah ketulusan yang murni.
Sesuatu yang membuatnya merasa bahwa, mungkin saja, takdir tidak sekejam yang ia kira.
Malam itu, di tengah isak tangis yang mulai mereda dan aroma tanah yang pekat, Arka Pradipta menyadari bahwa dunianya yang sempurna telah runtuh. Digantikan oleh dunia baru yang sangat berantakan, tapi entah mengapa, terasa jauh lebih nyata.
Ia memejamkan mata, mencoba mencari sedikit ketenangan di tengah kegaduhan batinnya. Bau minyak tanah dari lampu dan aroma singkong yang masih menempel di udara seolah mengingatkannya bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kadang, sebuah kesalahan kecil dapat mengubah segalanya termasuk takdir seorang pria yang selama ini mengira ia mengendalikan dunia.
Sementara itu, di balik gorden tipis, Cantika berbaring di samping adik-adiknya dengan mata terbuka lebar. Air mata masih mengalir pelan di pipinya. Ia memikirkan ibunya yang sakit, adik-adik yang masih kecil, dan pria asing yang kini menjadi suaminya. Besok pagi, ia harus menghadapi kenyataan baru ini. Entah itu akan menjadi awal dari penderitaan atau, entah bagaimana, sebuah harapan kecil yang tak terduga.
Di ruang tamu, Arka bergeser sedikit di kursi kayu yang keras. Punggungnya terasa nyeri, tapi itu bukan yang paling menyakitkan. Yang paling menyakitkan adalah kesadaran bahwa malam ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak bisa lagi melarikan diri dari tanggung jawab yang baru saja ia ambil dengan terpaksa.
Angin malam berhembus pelan melalui celah-celah dinding papan, membawa dingin yang menusuk. Di kejauhan, suara anjing menggonggong samar. Rumah kecil itu kini menyimpan rahasia besar: sebuah pernikahan yang lahir dari salah paham, sebuah keluarga yang rapuh, dan dua orang asing yang terpaksa menjadi suami-istri.
Arka tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Ia hanya tahu bahwa hidupnya telah berubah selamanya. Dan di tengah kegelapan yang pekat, entah kenapa, ada secercah cahaya kecil yang mulai menyala pelan di hatinya sebuah perasaan yang asing, yang mungkin saja bernama empati, atau bahkan awal dari sesuatu yang lebih dalam.
Malam pertama itu berlalu dengan lambat, penuh dengan pertanyaan tanpa jawaban, dan diam-diam, mulai menenun benang takdir yang tak seorang pun bisa duga arahnya.