NovelToon NovelToon
BEBAN PUNDAK AMANDA

BEBAN PUNDAK AMANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: pinnyaple

Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 8

Aku pulang ke rumah setelah mampir di warung langganan untuk membeli nasi. Aku membeli 3 bungkus, takutnya kakaknya sudah pulang ke rumah hari ini.

Aku membuka pintu rumah setelah sebelumnya mengucapkan salam.

"Kakak udah pulang bu?" Tanyaku kepada ibu. Dia sedang duduk di ruang tamu. Sendirian.

"Sudah tadi pagi. Tapi pergi lagi karena tau belum dibelikan hp baru."

"Kan ibu tau aku belum punya uangnya."

Ibu mengangguk menatapku. "Iya ibu udah bilang begitu. Tapi dia tetep pergi."

Mukaku murung. "Terus gimana bu?" Aku bingung. Pikiranku tidak bisa menemukan jalan keluar.

"Kalau kamu mau ya... Pinjem dulu sama bos mu itu. Kalau ga ya biarin kakakmu pergi sebelum punya hp baru."

Aku mendesah pelan. "Apa hp kakak kemarin bisa diperbaiki dulu?"

"Hp nya dibawa kakakmu pergi. Entah mau diapakan hp itu."

Mendengar itu aku tambah bingung. Kenapa harus dia yang memikirkan masalah ini?

"Kalau gitu biar manda besok coba tanya sama Mba Nia ya bu."

Ibu mengangguk saja. Membiarkanku pergi ke kamar dengan lesu. Tenagaku terkuras habis begitu juga pikiranku yang tak ada habisnya.

---

Aku sibuk mondar-mandir mengantarkan pesanan bakso para pelanggan siang ini. Kemarin aku tidur begitu saja sampai pagi.

Walaupun tidur begitu lama, aku merasa malah badanku jadi berat. Tadi pagi saja jika aku tidak memasang alarm mungkin aku akan bangun kesiangan.

"Pak kades kapan ya ada rencana buat gerebek kosan yang di depan jalan itu? Udah menakutkan sih kalau ada yang berantem juga."

"Ga tau tuh pak kades. Harus gercep takut ada korban."

"Iya bikin was-was anak muda sekarang. Tapi mereka kenapa bisa berantem gitu ya. Rame loh semalem."

"Katanya biasa masalah anak muda. Rebutan cewe."

"Siapa mba?" Mba Nia yang dari tadi berdiri di dekat pelanggannya yang sedang mengobrol itu ikut menimbrung. Mungkin penasaran juga. Aku pun sebenarnya penasaran juga, tapi aku diam saja. Malu kalau harus ikut seperti mba Nia.

"Itu anak-anak muda yang mengekos di jalan depan. Semalem ada yang ribut-ribut." Kata pelanggan yang satunya.

"Halah! Bukannya memang dari dulu juga begitu mba. Kos-kosan itu kan juga terkenal bebas. Siapa aja boleh ngekos. Ya wajar lah sampai ada yang begitu."

"Tapi mba, semalem itu heboh."

Mba Nia masih melanjutkan obrolannya dengan pelanggannya. Aku, juga sibuk mencuci mangkok dan gelas kotor di dalam warung.

Sepertinya aku tidak begitu tertarik dengan obrolan para orang dewasa. Malah semakin membuat lelah. Kalau bisa aku lebih memilih untuk di dalam kamar seharian, membaca novel atau membaca komik. Itu membuatku seperti mengisi bateraiku kembali. Sayangnya, hari liburku masih 5 hari lagi. Yang artinya aku masih harus bertahan dengan tubuhku yang sudah merasa lelah.

Hari ini dari tadi sore sampai malam kembali ramai oleh pelanggan. Apalagi tadi para tukang yang bekerja membangun toko juga datang.

"Mba Nia aku pulang ya. Kerjaanku usah selesai semua."

"Tunggu!" Mba Nia berlari ke dalam warung. "Ini bawa ke rumah ya." Mba Nia memberiku sebuah plastik berukuran sedang. "Cuma sedikit sih tapi semoga bermanfaat ya, manda."

Di dalamnya ada gula, teh dan minyak. "Ini saja sudah banyak mba. Makasih banyak ya."

Mba Nia tersenyum mengangguk. Lalu mempersilahkanku untuk pulang.

Apa ini tanda jika Tuhan masih sayang padaku. Dibalik keluargaku yang selalu membuatku banyak pikiran, tapi masih banyak orang lain yang sayang dan perhatian padaku.

Aku pulang ke rumah membawa dua plastik. Yang satu berisi bingkisan dari mba Nia tadi yang satu seperti biasa nasi bungkus.

Rasanya hatiku sedikit merasa senang. Pikiranku juga ikut lega sedikit. Berkat sebuah bingkisan yang menurut orang lain sedikit itu, tapi mampu memberikan dampak yang besar bagi diriku.

"Aku pulang."

Pintu luar terbuka. Tidak seperti biasanya yang tertutup. Apakah ada tamu?

Di dalam rumah ibu sedang duduk dengan kak Toni yang membelakangiku. Iya, ternyata kak Toni pulang malam ini.

"Kak Toni sudah pulang?" Aku menghampiri mereka. Ternyata ibu dan kak Toni tidak hanya sedang duduk biasa melainkan ibu juga sedang membersihkan luka di wajah kak Toni.

"Kak Toni kenapa?" Aku bertanya khawatir. Benar-benar khawatir. Aku baru pertama kali melihat kak Toni yang babak belur seperti ini. Apalagi baru hari ini aku melihat kak Toni lagi setelah dia kabur dari rumah.

"Kamu ga liat ini luka-luka." Ibu yang menjawab.

Aku menaruh dua plastik itu di meja. "Kok bisa kaya gini?"

"Cerewet kamu manda! Aku sedang kesakitan! Sana buatkan aku minuman hangat."

Aku mengangguk menuruti perintah kakakku. Aku bergegas ke dapur. Membuatkan segelas teh hangat dan membawanya lagi ke depan.

"Ini kak. Teh hangatnya."

Ternyata ibu sudah selesai mengobati kak Toni. Wajahnya penuh lebam biru dan bibirnya terlihat mengeluarkan darah walaupun sedikit. Sepertinya sobek.

Kak Toni meminum teh yang kubuat. Aku memperhatikannya.

"Kenapa lihat-lihat?"

Aku tersentak mendengarnya. "Ga apa-apa kak? Tapi kenapa bisa begini?" Aku menunjuk luka di wajahnya dengan takut.

"Urusan orang gede. Kamu ga perlu tau!"

Aku diam saja. Lebih baik bangkit dari situ membiarkan kakakku sendirian. Aku menuju meja makan, perutnya sudah keroncongan dari tadi.

Mulai membuka bungkus nasi yang sudah aku beli tadi. Makan dengan nikmat sampai sebuah gebrakan meja membuatku terkejut.

"Ada apa Bu?"

Aku melihat ibu menangis. Aku tidak tau kenapa tapi sepertinya ibu dan kak Toni habis adu argumen lagi.

"Kakak mau pergi kemana lagi?" Aku mencoba mencegah kak Toni untuk pergi, tapi tenagaku kalah besar dengannya. Dia menghempaskan tubuhku begitu saja dan pergi tanpa memperdulikan aku atau ibu yang masih sesenggukan di dalam rumah.

Aku bangkit, menuju ibu untuk menenangkannya. "Ibu kenapa?"

Ibu masih saja menangis. Bingung tentu saja. Karena tidak tau duduk masalahnya sama sekali. Ingin menyalahkan kakakku, tapi dia sudah pergi. Rasanya kak Toni makin berandal saja. Aku yakin bekas luka di wajahnya itu karena dia habis berantem.

"Ibu baik-baik aja?"

Ibu mengangguk. Aku mendudukan ibu di kursi kembali. Mengambilkan segelas air putih untuk menenangkannya.

Setelah ibu cukup tenang aku kembali bertanya. Aku sungguh penasaran ada apa sampai begini.

"Kakakmu habis berantem tadi pagi. Dan barusan dia minta uang. Ibu ga kasih karena biar kakakmu ga pergi-pergi lagi."

Aku mengangguk mendengarnya. "Sudah bu. Biarkan kak Toni menenangkan dirinya juga. Ibu disini juga yang tenang."

"Ibu takut kejadian kaya tadi lagi."

Aku mengerti kekhawatiran ibu. Tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Kata ibu dia akan beristirahat di kamar. Aku menyetujuinya. Kasihan, tentu saja. Ibu yang sudah semakin tua itu masih harus bertahan dengan sikap kakakku sendiri.

Aku melanjutkan makanku. Baru satu suap tadi dan perutnya tambah berbunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!