Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.
"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Satu dayung tiga pulang terlampau
Ular itu mengendus udara, namun hidungnya hanya menangkap bau kotoran dan tanaman busuk yang menyatu dengan lingkungan gua.
Baginya, Tian Hao yang mematung di sudut gelap hanyalah onggokan limbah yang tak layak diperhatikan.
Dengan raungan parau, sang ular melesat keluar gua, mengejar bau asing dari para murid yang sedang berkeliaran di hutan, target yang jauh lebih "bersih" dan menarik untuk dimangsa.
Begitu ekor ular itu menghilang dari pandangan, Tian Hao bergerak cepat. Ia menghampiri sarang tersebut.
"Menurut legenda, telur Ular Putih membawa esensi murni dari langit. Satu butirnya cukup untuk membeli satu kota kecil di tangan kolektor yang tepat," gumamnya.
Ia mengeluarkan karung kain besar yang telah ia siapkan. Meski matanya berkilat melihat harta karun di depannya, beberapa telur yang masih utuh dan tumpukan artefak dari korban-korban sebelumnya, ia berhenti sejenak. Ia hanya mengambil tiga telur dan beberapa permata kecil yang paling ringan.
"Keserakahan adalah tali gantung yang dipasang oleh diri sendiri," ia mengingatkan jiwanya. "Mengambil semuanya berarti memperlambat lariku. Mengambil secukupnya berarti mengamankan hari esok."
Ia berlari keluar, menuju jalur keluar hutan yang sudah ia petakan. Di bawah sebuah pohon tua yang akarnya menonjol, ia menggali lubang, menyiram karungnya dengan cairan hijau untuk menghilangkan jejak, lalu menguburnya dalam-dalam.
"Tidurlah di sini. Tanah ini akan menjaga rahasiamu sampai aku kembali menjemputmu," ucapnya dingin.
Tian Hao kemudian memanjat pohon Cendana Langit yang paling tinggi. Dari puncaknya, ia duduk bersandar, menyaksikan pertunjukan yang ia sutradarai sendiri.
Di kejauhan, hutan itu tampak seperti neraka yang baru saja tumpah. Pohon-pohon tumbang dihantam tubuh raksasa sang ular. Asap dari ledakan energi praktisi mulai membumbung. Jeritan ketakutan yang menyayat hati memecah kedamaian hutan.
"Tolong! Makhluk ini gila!"
"Aarrgg! Kakiku!"
Suara-suara putus asa itu mencapai telinga Tian Hao. Bukannya merasa ngeri, ia justru menutup matanya, menikmati hembusan angin yang membawa aroma api dan keringat. Ia terkekeh pelan, tawa yang sarat akan ironi.
"Mereka yang kemarin mengejekku sekarang sedang memohon pada langit yang tidak akan menjawab. Kasihan sekali."
Beberapa saat kemudian, ia turun. Di jalur pelarian, ia menemukan mayat seorang murid, si pemuda yang kemarin paling keras menghinanya. Di tangan mayat yang kaku itu, masih tergenggam sebuah bendera ujian.
Tian Hao mengambil bendera itu dengan tenang. "Terima kasih sudah menjadi umpan yang baik. Kau tidak bisa menyalahkanku... karena di dunia ini, orang mati tidak memiliki hak bicara. Mereka hanya bisa diam dan membusuk."
Sebelum keluar dari hutan, Tian Hao melakukan persiapan terakhir. Ia mengambil pecahan batu tajam, menggores lengan dan kakinya hingga darah segar mengucur.
Ia mengusap wajahnya dengan tanah merah, merobek sebagian bajunya, dan mengatur napasnya agar tampak seperti orang yang hampir mati karena kehabisan napas.
Di gerbang keluar, kekacauan telah mencapai puncaknya. Para penjaga keluarga berlarian masuk ke hutan dengan wajah pucat.
Tian Fei, ayahnya, berdiri di depan barisan dengan pedang terhunus, wajahnya merah padam karena amarah dan kebingungan.
"Siapa yang membangunkan amarah Ular Putih?! Siapa?!" teriak Tian Fei, suaranya menggetarkan daun-daun di sekitarnya.
Saat ia melihat sekumpulan murid yang tersisa berlari keluar dalam kondisi mengenaskan, matanya menangkap sosok Tian Hao yang berjalan pincang, berlumuran darah dan kotoran, memegang sebuah bendera dengan tangan gemetar.
Tian Fei menatapnya sejenak, lalu membuang muka. Di matanya, Tian Hao hanyalah korban lemah yang cukup beruntung bisa selamat karena bersembunyi di lubang tikus. Tidak ada sedikit pun kecurigaan bahwa remaja "sampah" ini adalah otak di balik bencana yang baru saja menimpa keluarganya.
Tian Hao terus berjalan melewati kerumunan orang yang panik. Lin Fei, sang instruktur, sibuk memberikan instruksi penyelamatan, tak lagi memedulikan kehadirannya.
Saat ia sampai di ambang pintu kamarnya yang sunyi, Tian Hao merentangkan tangannya, merasakan aliran Qi dari Mutiara Surgawi yang mulai bereaksi dengan esensi telur yang sempat ia sentuh.
"Satu dayung, tiga pulau terlampaui," bisiknya pada kegelapan. "Satu bendera didapat, kultivasi masa depan diamankan, dan para pengganggu... telah dibersihkan oleh alam."
Malam itu, di tengah tangis keluarga yang kehilangan anak-anak mereka, Tian Hao tidur dengan senyum yang paling damai yang pernah ia miliki dalam lima ratus tahun.
"Ia telah mengajarkan dunia satu hal: jangan pernah meremehkan debu, karena jika debu masuk ke mata, ia bisa membutakan seekor raksasa."