Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaminanku
Pangeran kegelapan. Lyra baru benar-benar memahami mengapa Ares mendapatkan julukan tersebut. Pria itu seperti hidup di dunianya sendiri, melakukan apa yang ingin dilakukan tanpa takut dengan konsekuensinya.
Orang gila mana yang berani membakar di rumah mertuanya secara terang-terangan?
“Karena terjadi kecelakaan di kamarmu, malam ini kalian tidur di kamar tamu,” kata Nyonya Tia dengan senyum hangatnya.
“Nanti Papa renovasi kamarmu jadi lebih luas dan lebih bagus lagi, Sayang,” hibur Tuan Rendi yang tak Lyra pedulikan.
Wanita itu memilih menyantap hidangan di depannya dengan tenang seakan tidak terjadi apa pun, beda halnya dengan Cahaya yang gelisah karena sejak tadi Ares selalu menatapnya dengan tajam, seakan menjadikannya target untuk dihabisi.
Saat orang rumah menyadari kebakaran di kamar Lyra, semua orang langsung berusaha memadamkan api agar tak menyebar, bahkan Cahaya yang meninggalkan gaun kesayangannya di sana juga mengangkut air sambil menangis dan mengoceh gaunnya adalah edisi terbatas.
Ketika orang tuanya bertanya apa yang terjadi, Lyra hanya mengatakan ia tidak sengaja menjatuhkan lilin aroma terapi yang sudah dinyalakan di ranjang dan semua orang percaya begitu saja.
“Cahaya suka ganti-ganti kamar ‘kan jadi berikan aja kamar itu sama dia,” tukas Lyra sambil berseringai puas.
Tadinya Lyra tidak mau menginap, bahkan ingin pulang sebelum makan malam karena terlalu kesal, tetapi setelah Ares membantunya melampiaskan kekesalan, tiba-tiba Lyra merasa tenang dan nyaman di rumah itu. Ia juga merasa sangat puas melihat Cahaya yang menangis sesegukan karena barang-barangnya sudah jadi abu. Bukan hanya pakaian dalam, di kamarnya juga ada gaun dan beberapa tas branded Cahaya yang harganya puluhan juta.
“Jangan-jangan kamu sengaja membakar kamarmu sendiri karena kesal sama Yaya?” tuding Nyonya Tia. “Sayang, adikmu masih kecil. Tolong jangan diambil hati, ya. Untuk saat ini kami maklumi kamu tapi bagaimana pun juga apa yang kamu lakukan itu berbahaya loh, bisa mengancam nyawa.”
Lyra hanya menanggapi dengan senyum getir.
“23 tahun memang dianggap anak-anak untuk orang yang punya kelainan mental,” sarkas Ares dengan nada tenang, membuat penghinaan itu terasa seperti sebuah observasi fakta yang dingin.
Cahaya yang mendengar hanya itu mendengkus kesal, sedangkan Nyonya Tia sudah membuka mulut untuk membela putri bungsunya tapi Tuan Rendi memberi isyarat agar istrinya itu diam.
Kehadiaran Ares sudah ia nantikan cukup lama dan ia tidak mau merusak citra keluarga yang harmonis di depan menantunya yang bisa memberikan masa depan cerah untuk keluarga itu.
Sementara Lyra mengulum senyum, sekali lagi ia merasa kekesalannya sangat terwakilkan oleh suaminya, bahkan Lyra ingin mencium pria itu sebagai ucapan terima kasih.
“Aku sudah kenyang.” Makanan di piring Lyra masih banyak tapi ia meletakkan sendok dan garpunya. “Duluan ke kamar.”
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ares mengikutinya dari belakang meski ia juga belum menghabiskan makanannya, hal itu membuat kedua orang tua Lyra berdecak kesal.
“Lain kali jaga sikapmu di depan Lyra, Yaya,” titah Tuan Rendi setelah Lyra dan suaminya tak lagi terlihat. “Sepertinya Ares menyukai kakakmu, mungkin kita bisa memanfaatkan pernikahan mereka untuk memperluas koneksi.”
“Memangnya kapan aku ganggu Mbak Lyra?” gerutu Cahaya dengan kesal.
“Kamu membuat kamarnya berantakan.”
“Sudah, Pa!” seru Nyonya Tia menengahi. “Cahaya pasti nggak bermaksud bikin Lyra kesal, dia nggak tahu kalau malam ini Lyra pulang.”
Tuan Rendi hanya berdecak kesal, malas berdebat dengan istrinya itu. Apalagi saat ini yang harus ia pikirkan adalah bagaimana caranya mendekati Ares.
Sementara di sisi lain, Ares senyum-senyum melihat Lyra yang sibuk mendesain gaun pengantin untuk Zaline. Wajah serius istrinya terlihat sangat cantik dan menggoda di matanya.
Ia memandangi Lyra tanpa berkedip sembari memainkan pena di jarinya.
“Aku tahu aku cantik, terima kasih,” ucap Lyra yang bisa merasakan tatapan Ares. Lyra meletakkan tabletnya, ia mendongak, menatap Ares dengan serius. “Apa yang kamu lakukan tadi termasuk tindakan kejahatan, bisa ditangkap polisi. Kenapa kamu nekat melakukan semua itu?”
Ares tersenyum samar lalu menjawab, “Aku sedang senang.”
“Senang?” Pupil mata Lyra melebar. “Hanya seorang psychopath yang membakar saat senang.” Ia meringis apalagi saat teringat tatapan dan senyum Ares ketika membakar ranjangnya, tetapi entah mengapa Lyra tidak merasa terancam meski berpikir suaminya itu adalah seorang psikopat gila.
“Aku senang karena kamu memanggilku suami,” kata Ares dengan mata berbinar.
“Kapan?” Kening Lyra berkerut dalam.
“Tadi, kamu bilang kamu pulang bersama suamimu.”
“Oh ….” Lyra teringat saat ia marah pada ibunya, tetapi ia merasa tidak ada yang istimewa dari kata-katanya hingga membuat Ares senang.
“Mungkin dia lagi nyindir,” pikir Lyra. Kecuali Ares benar-benar seorang psycho, ia tidak mungkin benar-benar membakar ranjangnya hanya karena senang, mungkin saja pria itu membakar ranjangnya karena kesal sebab masuk ke keluarganya yang kacau. Mungkin itu adalah bentuk pemberontakan Ares.
“Maaf kamu harus menyaksikan kekonyolan keluargaku,” ucapnya dengan tulus.
“Konyol jauh lebih baik dari pada berbahaya,” ucap Ares lembut tapi nadanya sedingin es yang merambat di kulit. Sorot mata pria itu juga tiba-tiba berubah, seperti laut yang tenang tapi mengancam.
Lyra menerka apa yang sebenarnya pria itu alami di keluarga Jatmika. Apakah lebih buruk dari yang ia alami?
Ia adalah anak kandung tapi diperlakukan bak anak pungut, hal itu sudah membuatnya tersiksa karena haus akan kasih sayang yang sulit digapai. Lalu bagaimana dengan Ares yang benar-benar anak pungut?
Sejauh apa perbedaan perlakuan keluarga Jatmika terhadap pria itu dan Ryan? Sedalam apa kesepian dan kehampaan dalam hatinya karena tak merasakan cinta yang hangat dari keluarga?
Tiba-tiba Lyra merasa bersimpati, ia melihat Ares seperti melihat dirinya sendiri.
Lyra meletakkan tabletnya lalu duduk di tepi ranjang. “Sini!” panggilnya pada Ares sambil menepuk ranjang. Seperti bocah yang dipanggil ibunya, Ares mendatangi Lyra, duduk di sisi wanita itu dengan patuh.
“Meskipun kita nikahnya karena terpaksa, terus harus dirahasiakan juga dari dunia luar. Tapi aku bisa jadi keluargamu.” Lyra berkata dengan tulus, tidak ingin Ares merasa tidak diinginkan seperti yang selalu ia rasakan. “Kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja sama aku.” Tanpa ragu, Lyra menepuk pundak Ares berkali-kali.
Kedua sudut bibir Ares terangkat tinggi, membentuk senyum terlebar yang pernah Lyra lihat, mata pria itu yang sebelumnya dipenuhi kabut kini seakan mengeluarkan cahaya dan hal itu membuat Lyra terharu.
Lyra tidak menyangka sehaus itu Ares akan sosok kasih sayang keluarga.
“Terima kasih, Lily,” bisik Ares dengan suara serak.
Lyra mengerutkan dahi saat menyadari pria itu lebih sering memanggilnya Lily dari pada Lyra. Nama itu juga nama perusahaan yang Ares dirikan, awalnya Lyra berpikir Lily diambil dari kata Liana karena menurut rumor yang beredar, Liana dan Ares sudah bersama sejak SMA.
Mungkin saja perusahaan itu memang untuk Liana.
“Jangan-jangan dia menganggapku Liana.”
Lyra yang tadi sempat bersimpati kini merasa kesal. “Aku tahu kamu cinta banget sama Liana tapi jangan menjadikan aku penggantinya,” ketus Lyra seraya naik ke atas ranjang. “Aku nggak melarang kamu melanjutkan hubungan dengan Liana. Jadi berhenti memanggilku Lily.”
Ares menaikkan alis mendengar ocehan panjang lebar istrinya itu. “Kamu percaya rumor yang beredar?”
“Rumor?” Lyra kembali duduk tegak. “Hubungan kamu sama Liana cuma rumor?”
Ares mengangguk tanpa ragu tapi Lyra menolak percaya. Ia berpikir mana ada rumor yang bertahan selama bertahun-tahun. “Dasar laki-laki, sama yang di rumah bilang nggak ada apa-apa dengan yang di luar. Sama yang di luar bilang nggak ada apa-apa dengan yang di rumah. Heh.” Lyra mendengkus kesal lalu kembali berbaring.
“Tapi memang nggak ada apa-apa, aku jamin,” tegas Ares.
“Sebelumnya kamu bilang jamin seribu persen normal dan bersih, sekarang jamin nggak ada apa-apa sama Liana. Memang apa jaminannya?” tantang Lyra diiringi senyum miring tapi hanya dalam sepersekian detik senyum itu langsung musnah saat Ares menarik selimut lalu langsung naik ke atas tubuhnya, kedua tangannya ditahan di atas kepala. Kejadian itu begitu cepat dan di luar prediksi, membuat Lyra mematung tak berdaya.
“A-apa yang mau kamu lakukan, Ares?”
Lyra merutuki dirinya sendiri yang bahkan tidak bisa meneriaki Ares agar turun dari atas tubuhnya mungilnya.
Sementara satu tangan Ares mengunci tangan Lyra, tangan yang lain mendarat di pinggang Lyra. Jarinya tidak bergerak ragu, ia membelai garis lekuk tubuh sang istri dengan tekanan mantap seolah sedang memetakan wilayah miliknya yang paling harga. Tindakan itu membuat Lyra menahan napas, jantungnya berdegup sangat cepat, perutnya bergejolak.
Ia tidak pernah merasakan perasaaan seperti ini sebelumnya.
Melihat wajah tegang istrinya, Ares menyunggingkan senyum yang menggoda lalu berkata, “Membuktikan jaminanku.”
duh giliran ada gratisan langsung ok hehwhe
Kudukung kamu..
apa iya . hilangnya Ryan hari itu ulah ortunya lira