NovelToon NovelToon
The Baskara'S Bride

The Baskara'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Di kediaman keluarga Wijaya, suasana begitu kontras.

Di saat Ambar sedang mempersiapkan diri dengan penuh martabat, Gea justru sibuk berputar-putar di depan cermin besar ruang tamu.

Ia mengenakan gaun pesta berwarna putih salju yang sangat megah—gaun yang sebenarnya dirancang khusus untuk Ambar, namun kini melekat di tubuhnya dengan penuh keangkuhan.

"Lihat, Ma! Aku terlihat seperti ratu, kan?" seru Gea sambil mengagumi pantulan dirinya.

"Gaun ini jauh lebih cocok di badanku daripada di badan Mbak Ambar yang kaku itu."

Mama Shinta yang sedang merapikan perhiasan berliannya tertawa bangga.

"Tentu saja, Sayang. Siapa pun yang melihatmu hari ini pasti akan kagum akan kecantikanmu. Ambar itu hanya sampah yang kebetulan menemukan pria lumpuh untuk menutupi malunya."

Tepat saat itu, Jayden melangkah masuk dengan setelan tuksedo yang sangat rapi.

Matanya berbinar penuh gairah saat melihat Gea. Ia berjalan mendekat dan dengan posesif menarik pinggang istrinya, merapatkan tubuh Gea ke dadanya di depan cermin.

"Kamu luar biasa cantik, Gea," bisik Jayden sambil mencium pundak Gea yang terbuka.

"Aku tidak menyesal membuang Ambar. Bayangkan jika aku harus bersanding dengan wanita yang membosankan itu di pesta semegah ini."

Gea tertawa manja, menyandarkan kepalanya di dada Jayden.

"Aku dengar semua pengusaha besar kota ini akan hadir. Ini kesempatan kita, Jay. Setelah pesta ini, bisnis keluarga kita akan meroket karena relasi Mahendra."

Hendra keluar dari kamarnya sambil merapikan dasi, wajahnya tampak sangat puas.

"Ayo berangkat. Jangan sampai kita terlambat. Kita harus menunjukkan pada dunia bahwa keluarga Wijaya adalah tamu kehormatan di acara Mahendra. Biarlah Ambar membusuk dengan suami cacatnya itu di rumah kontrakan mereka."

Mereka bertiga tertawa bersama, penuh kemenangan.

Jayden semakin erat memeluk pinggang Gea, membayangkan malam yang penuh kejayaan.

Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa gaun yang dipamerkan Gea hanyalah kain perca dibandingkan dengan kemegahan yang akan dikenakan Ambar, dan undangan di tangan Hendra adalah surat tuntutan yang akan menghanguskan seluruh hidup mereka.

Di dalam kabin limousine yang mewah dan kedap suara, suasana terasa begitu hangat namun penuh ketegangan yang mendebarkan.

Ambar duduk tegak di samping kursi roda Baskara, jemarinya yang dingin saling bertaut di atas pangkuan gaun merah marunnya.

Baskara, yang sejak tadi tidak sedetik pun melepaskan pandangannya dari wajah sang istri, perlahan mengulurkan tangannya yang besar dan kokoh.

Ia menggenggam jemari Ambar, menyalurkan kehangatan dan kekuatan yang selama ini Ambar rindukan.

"Jangan gugup, sayang," ucap Baskara dengan suara rendah yang menenangkan, matanya menatap lembut ke dalam manik mata Ambar.

Ambar menarik napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang kian berpacu seiring mobil semakin mendekati hotel berbintang tempat resepsi digelar.

PIa menganggukkan kepalanya perlahan, namun senyumnya sedikit getir.

"Aku hanya takut kalau ini semua cuma mimpi, Bas," bisik Ambar lirih.

"Aku takut ini seperti cerita Cinderella yang keajaibannya akan hilang tepat saat jam dua belas malam. Aku takut besok pagi aku bangun dan kembali menjadi wanita buangan yang dihina oleh keluargaku sendiri."

Baskara terdiam sejenak. Ia membawa tangan Ambar ke depan bibirnya, mengecup punggung tangan itu dengan penuh perasaan, tanpa melepaskan kontak mata.

"Kalau begitu, kita ubah cerita Cinderella versi kita, sayang," ucap Baskara dengan nada tegas yang tak terbantahkan.

"Di ceritaku, tidak ada jam dua belas malam yang akan menghapus segalanya. Sepatu kacamu tidak akan lepas, dan pangeranmu ini, meskipun dia duduk di kursi roda ini, dia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh ujung rambutmu lagi."

Baskara menyeringai tipis, sebuah seringai penuh otoritas.

"Lagipula, Cinderella hanyalah gadis yang melarikan diri. Kamu bukan dia, Ambar. Kamu adalah Ratu Mahendra. Dan malam ini, bukan kamu yang akan kehilangan keajaiban, tapi keluarga Wijaya yang akan kehilangan seluruh dunia mereka."

Mobil mulai melambat saat memasuki area drop-off hotel yang dipenuhi lampu-lampu kilat dari ratusan wartawan.

Karpet merah sudah terbentang luas, dikelilingi oleh barikade keamanan yang sangat ketat.

"Tersenyumlah, Ambar," bisik Baskara tepat sebelum pintu mobil dibuka oleh pengawal.

"Tunjukkan pada mereka bahwa luka di punggungmu adalah bukti bahwa api mereka tidak cukup panas untuk membakarmu habis. Justru kamulah yang akan membakar mereka malam ini."

Ambar menegakkan punggungnya. Ia menatap pantulan dirinya di jendela mobil yang gelap.

Ia bukan lagi Ambar yang rapuh. Dengan tangan Baskara yang masih menggenggam erat tangannya, ia siap melangkah keluar menuju panggung pembalasan dendamnya.

Pintu limousine terbuka perlahan, dan seketika ribuan lampu kilat kamera menyambar bagaikan badai petir di kegelapan malam.

Ambar melangkah keluar terlebih dahulu; kakinya yang jenjang terbalut sepatu hak tinggi bertahtakan kristal, menyentuh permukaan karpet merah yang empuk.

Kemudian ia berbalik dengan anggun, membantu Baskara turun dan memastikan suaminya duduk nyaman di kursi roda kebesarannya.

Saat Ambar mulai mendorong kursi roda Baskara menyusuri red carpet, suasana lobi hotel yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap karena terpana, sebelum akhirnya meledak dalam histeria wartawan.

"Itu Mahendra! Dia benar-benar datang!"

"Siapa wanita itu? Dia sangat cantik! Apakah itu model internasional?"

"Lihat punggungnya! Apa itu emas di atas lukanya? Sangat artistik!"

Para wartawan berdesakan, berebut mendapatkan sudut foto terbaik dari pasangan yang tampil begitu kontras namun sangat serasi itu.

Ambar berjalan dengan dagu terangkat, tatapannya lurus ke depan, tidak sedikit pun gentar oleh kerumunan manusia yang memuja kecantikannya.

Seorang wartawan senior dari media bisnis ternama memberanikan diri menerobos barikade keamanan dan menyodorkan mikrofon tepat di hadapan Baskara yang tetap tenang di kursi rodanya.

"Tuan Mahendra! Maaf mengganggu momen Anda! Seluruh dunia ingin tahu, siapa wanita luar biasa di samping Anda ini? Apakah dia putri dari salah satu kolega rahasia Anda?" tanya wartawan itu dengan napas terengah-engah.

Baskara mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua kamera mendekat.

Ia menggenggam tangan Ambar, lalu menatap lensa kamera dengan tatapan sedingin es yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya melalui layar televisi.

"Wanita ini adalah Ambar Mahendra. Istri sahku, satu-satunya ratu di hidupku," ucap Baskara, suaranya yang bariton menggema melalui pengeras suara di seluruh hotel.

Ia menjeda sejenak, lalu menyeringai tipis—sebuah seringai yang mengandung maut.

"Dan untuk menjawab rasa penasaran kalian semuanya. Dia adalah wanita yang dibuang oleh Keluarga Wijaya karena dianggap 'sampah' dan 'kuno'. Keluarga yang cukup bodoh untuk menyia-nyiakan permata demi sepotong kerikil jalanan. Mulai detik ini, siapa pun yang berurusan dengan Keluarga Wijaya, artinya mereka berurusan dengan kemurkaan Mahendra. Karena bagi saya, menyakiti Ambar adalah alasan yang cukup untuk menghapus nama Wijaya dari peta bisnis dunia dalam semalam."

Pernyataan itu bagaikan bom atom yang meledak di tengah-tengah resepsi. Para wartawan langsung sibuk mengetik berita utama:

"MAHENDRA DEKLARASIKAN PERANG TERHADAP KELUARGA WIJAYA DEMI SANG ISTRI!"

Sementara itu, di dalam mobil yang masih beberapa kilometer dari hotel, tawa Gea masih terdengar melengking.

Ia sedang asyik memoles lipstiknya sambil sesekali melirik Jayden yang tertawa bersamanya.

"Aduh, Jay. Aku tidak sabar melihat wajah Ambar besok saat dia tahu kita berpesta pora di acara Mahendra sementara dia harus mengemis cinta pada pria lumpuh itu," ucap Gea sambil tertawa terbahak-bahak.

"Sabar, Sayang," sahut Jayden sambil mengelus tangan Gea.

"Malam ini adalah malam kemenangan kita. Ambar sudah menjadi sejarah yang memalukan, dan kita adalah masa depan yang gemilang."

Hendra yang duduk di depan ikut terkekeh, tidak menyadari bahwa di layar ponselnya yang berada di saku jas, ratusan notifikasi berita tentang

"Istri Mahendra" sedang membanjiri akun-akun berita, siap menghancurkan tawa mereka tepat saat mereka menginjakkan kaki di lobi hotel.

1
tiara
waduh thor bikin deg-degan aja nih,akhirnya Badkara kembali sadar semoga Jayden tertangkap segera ya
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
tiara
semoga Jayden dapat di hadang oleh pengawal Ambar yah.dan dibuat tidak bisa berulah lagi
tiara
sabar Ambar berdoa saja semoga lancar operasinya dan cepat bisa berjalan lagi
tiara
lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: ok kak
total 1 replies
tiara
keluarga Wijaya masih terus membuat Ambar ga nyaman sepertinya,
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
apa keluarga Wijaya menginsyafi kesalahannya atau tabah tetpuruk ya,lanjuut
tiara
cepat sembuh Ambar biar bisa lihat kejutan apa yang dibuat oleh suamimu yang kaya
tiara
wah pa Baskara ko bisa kecolongan sih
Alex
sambil nahan nafas Thor bacanya
tiara
lanjuut thor
tiara
nasi sudah jadi.bubur, bekerjalah kalian pa Wijaya jika ingin punya uang
tiara
dimulainya kehancuran keluarga wijaya,lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
tiara
perjanjian pra nikah mulai di hapus satu demi satu hingga akhirnya mungkin dihapus semua 😄😄😄
tiara
bagus pa Baskara hempaskan mantan sejauh mungkin
tiara
wah mantan Bastian mau melakukan apa ya terhadap Ambar.lanjuut thor
tiara
pa Wijaya nikmatilah hasil kejahatanmu pada anak kandung sendiri dan lebih membela anak tirimu
tiara
lanjuut thor semangat upnya,ga sabar lihat kehancuran keluarga Wijaya.agak aneh juga sih mengapa ayahnya begitu benci sama anaknya atau karena Gea dan ibunya yang sudah menghasut ps Wijaya ya
tiara
lanjuut thor seru niih, jadi deg-degan aku nunggu reaksi keluarga wijaya
tiara
Mereka mulai saling terbuka dan saling membutuhkan semoga kebahagian selalu menyertai tuan Baskara dan istrinya
tiara
ga sabar liat reaksi keluarga Wijaya di hari pernikahan Baskara,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!