Tidak ada yang tahu, Ratu pergi bukan karena ingin meraih cita-cita, namun untuk lari dari perasaannya kepada sosok laki-laki yang ternyata telah memiliki tunangan.
Dia adalah Ardiansyah, putra kedua dari keluarga Suhadi, seorang CEO yang baru saja di Lantik setahun yang lalu setelah menyelesaikan pendidikannya,dan fokus memimpin perusahaan raksasa. namun fakta yang membuat Ratu pergi, Ardiansyah telah bertunangan dengan seorang gadis salehah, teman Adiknya saat berada di pesantren dan memutuskan untuk pergi ke kota dengan misi tersembunyi.
yuk ikuti kisah Ratu di sini....
kawal sampai akhir ya...
apakah sad ending, atau happy ending...
terimakasih atas dukungannya selama ini...
🥰🥰🥰🥰🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Masih di mansion Pratama...
Nadine segera menangkap sinyal ketegangan itu. Ia menggendong Alesha dan menuntun Noah. "Ayo sayang, kita ke taman. Biar Om Ardi bicara dulu sama Ayah," ucap Nadine lembut sambil memberikan kerlingan penuh tanya pada Ratu. Ratu hanya bisa menunduk, tak berani menatap Ardiansyah, lalu mengekor pergi dengan langkah terburu-buru.
___
Kini, hanya tersisa dua pria di ruangan itu. Ardiansyah berdeham, mencoba membetulkan Bajunya yang sedikit terlipat, namun ia sadar wibawanya sebagai CEO Suhadi Group seolah menguap di hadapan Aditya.
Aditya berjalan perlahan menuju sofa, duduk dengan santai namun matanya terus mengunci Ardiansyah. "Duduklah, Ardiansyah. Terakhir kita bertemu, kamu sedang memenangkan tender pelabuhan dengan sangat agresif. Sekarang... kamu datang ke rumahku membawa boneka dan robotik di hari libur. Ada apa...?"
Ardiansyah duduk dengan kaku. "Tuan Aditya, saya... saya hanya ingin bersilaturahmi. Noah dan Alesha sangat lucu, jadi saya pikir..."
"Bersilaturahmi?" Aditya memotong dengan senyum miring yang meremehkan. "Seorang Ardiansyah Suhadi tidak melakukan sesuatu tanpa alasan. Dan setahu saya, hubungan kita hanya sebatas rekan bisnis, bukan teman yang saling kirim mainan anak-anak."
Ardiansyah menelan ludah. Ia merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen. Mana sosok Ardiansyah yang dingin dan ditakuti karyawannya? Sekarang ia hanya pria yang sedang gemetar karena jatuh cinta pada adik dari singa bisnis ini.
Ehm....
Ardiansyah berdehem, jantungnya berdebar tidak karuan, tubuhnya kaku, namun ia mencontohkan memberanikan diri untuk berbicara jujur.
"Jujur saja, Tuan Aditya. Saya sedang mendekati Ratu,, Saya mencintai Ratu" ucap Ardiansyah akhirnya dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas.
Aditya tertawa kecil, tawa yang membuat Ardiansyah semakin merasa ngenes. "Mendekati Ratu, mencintai Ratu...? Adikku yang kamu jadikan asisten juga itu? Yang ibumu sebut wanita tidak jelas asal usulnya dan seperti preman pasar...?"
Deg...
Ardiansyah tertegun. Ternyata telinga keluarga Pratama ada di mana-mana. Ia sadar, mamanya saja tidak bisa menembus siapa sebenarnya Ratu, namun ia tetap diam meski ia tahu kalau Ratu adalah keluarga Pratama.
"Dengar, Ardiansyah," Aditya condong ke depan, suaranya berubah serius. "Dua tahun lalu aku menghormatimu sebagai pebisnis handal. Tapi hari ini, aku melihat pria yang bahkan tidak bisa membereskan kekacauan ibunya sendiri sebelum melangkah ke gerbang rumahku. Kamu datang membawa robot untuk putraku, tapi apa kamu membawa perlindungan untuk adikku dari hinaan keluargamu?"
Ardiansyah tertunduk. Ia merasa sangat kecil. Semua rencana romantis yang ia susun di kamarnya tadi seketika hancur berantakan. Ia sadar, mengejar Ratu bukan hanya soal mengalahkan netizen di dunia maya, tapi meyakinkan raksasa di depannya ini bahwa ia cukup pantas.
"Saya sudah membatalkan pertunangan saya, Tuan.... Saya serius, saya mencintai Ratu,dan akan menjadikan Ratu sebagai istriku, memastikan Ratu menjadi seorang Ratu di sisiku ," bela Ardiansyah lirih.
"Serius saja tidak cukup untuk seorang Pratama, Ardi. Sekarang, silakan minum tehmu, lalu pulanglah. Biarkan Ratu menikmati waktu liburnya tanpa gangguan bosnya " usir Aditya secara halus namun telak.
Ardiansyah menghabiskan tehnya yang masih hangat, setidaknya untuk membasahi tenggorokan nya yang sedari tadi kering karena tercekik oleh atmosfer ruangan tersebut ,Lalu Ia berdiri , berpamitan dengan sopan , lantas ia berjalan dengan langkah gontai. Ia melirik ke arah taman melalui jendela besar, melihat Ratu yang sedang tertawa bersama Alesha. Hatinya perih. Ternyata, menjadi CEO kaya raya tidak menjamin jalannya mulus saat berhadapan dengan calon kakak ipar yang levelnya jauh di atasnya...
___
Malam, harinya, setelah makan malam, Ardiansyah mengumpulkan keluarga nya di ruang keluarga untuk membicarakan tentang hubungannya dengan Nisya yang telah selesai.
Kini suasana di ruang keluarga utama Mansion Suhadi malam itu terasa begitu mencekam. Lampu kristal yang biasanya memancarkan kemewahan, kini seolah menjadi saksi bisu atas ketegangan yang memuncak. Ardiansyah berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh pilar-pilar keluarganya yang menatapnya dengan berbagai ekspresi.
Papa Afkar duduk dengan tenang namun matanya menyiratkan kecemasan, sementara Kakek Suhadi, sang pemegang takhta tertinggi keluarga bersandar pada tongkat kayu jatinya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Apa yang ingin kau katakan Ardi, sehingga meminta kami semua berkumpul di sini?" tanya kakek Suhadi dengan tegas.
Sedangkan Monica dari tadi sudah gelisah, pasalnya ia belum bisa meyakinkan Ardiansyah untuk meneruskan pertunangannya,
Di sisi lain , Najwa dan Ishaq berusaha menenangkan si kembar yang mulai gelisah, merasakan aura berat di ruangan tersebut.
"Ardi sudah membatalkan pertunangan itu secara resmi pagi tadi," jawab Ardiansyah dengan mantap, suaranya rendah namun bergetar oleh emosi yang ia tahan. "Ardi sudah menyiapkan kompensasi 500 juta rupiah untuk menjaga nama baik keluarga mereka, meskipun Nisya menolaknya."
BRAK!....
Monica menggebrak meja kopi di depannya, membuat semua orang tersentak.
"Kamu sudah gila, Ardiansyah?!" teriak Monica dengan napas memburu. "500 juta? Itu bukan soal uangnya! Itu soal harga diri Mama! Nisya itu menantu idaman, dia santun, dia salehah, dia dari keluarga yang jelas! Kenapa kamu setega itu membuang permata demi wanita yang... yang bahkan penampilannya lebih mirip preman daripada asisten!"
Ardiansyah memejamkan matanya sejenak, mencoba tetap tenang. "Ma, Nisya juga tidak mencintai Ardi. Dia punya masa lalu yang masih dia simpan. Keputusan ini untuk kebaikan kami berdua."
"Bohong!" Monica histeris. "Itu hanya alasanmu saja karena sudah dicuci otak oleh perempuan bernama Ratu itu! Lihat dia, Ardi! Memang dia berhijab, tapi perilakunya? Naik motor besar, bicara kasar, gayanya tidak ada anggun-anggunnya sama sekali! Apa yang akan dikatakan rekan bisnis Papa dan Kakek kalau mereka tahu pewaris Suhadi Group memilih wanita seperti itu?"
"Cukup, Ma!" suara Ardiansyah naik satu oktav, membuat Najwa refleks memeluk anak kembarnya lebih erat. "Ratu tidak seperti yang Mama lihat dari luar. Dia punya hati yang lebih mulia daripada semua kepura-puraan yang kita jalani di rumah ini!"
Kakek Suhadi akhirnya berdehem, sebuah suara yang seketika membungkam ruangan. Beliau menatap cucunya dengan tajam.
"Ardi," suara kakek terdengar serak namun penuh wibawa. "Kamu tahu risiko dari langkahmu. Kamu bukan hanya melepas seorang tunangan, tapi kamu sedang menantang arus keluarga ini. Apa wanita itu layak mendapatkan semua kekacauan yang kamu timbulkan malam ini?"
Ardiansyah berlutut di depan kakeknya, menunjukkan sisi rapuhnya yang jarang terlihat. "Kek, selama ini Ardi hidup untuk angka, untuk bisnis, dan untuk ekspektasi Mama, Ardiansyah menjadi seperti yang kalian inginkan, Najwa memilih menjadi ibu rumah tangga, Bang Alendra hidup di desa dengan keluarga kecilnya tanpa memikirkan masalah perusahaan, sementara Ardi, Ardi harus menjadi pemimpin yang dari dulu Ardi hindari,tapi demi menjadi penerus Suhadi, Ardi rela mengorbankan masa muda Ardi, bahkan Ardi harus bekerja sambil kuliah. Dan Untuk yang pertama kalinya, Ardi merasa hidup saat bersama Ratu. Dia bukan preman, dia adalah wanita yang sanggup berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Ardi butuh pasangan yang seperti itu, bukan yang hanya tunduk karena harta."