ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6-- Belanja Si Sultan Dan Efek Chasbak 2x lipat
Rahmat sedikit terkejut, namun segera mengenali sosok yang berdiri di depannya. Gadis itu tampak sangat mencolok di antara kemewahan mal ini, seolah membawa aura warna-warni yang menyegarkan.
Dia adalah Bella Valentina anak kelas 10 dari SMA Batubara, sebelumnya Rahmat mengenal dia karena sempat membeli ruko untuk bisnis galeria nya, selain itu seolah sebuah takdir mereka bertemu lagi saat olimpiade bahasa inggris.
Dengan sikap yang penuh semangat Bella mengerjakan ujian olimpiade namun tentu kala telak dari rahmat, karena dia tahu bahwa Bella mengincar sebuah hadiah laptop dan hp dari olimpiade untuk kejutan adiknya. Rahmat dengan hati yang dermawan memberikan hadiah juara itu.
Sebagai ucapan terima kasih juga karena sudah mendapatkan ruko milik Bella, dan sejak hari itu Bella jadi menghormatinya.
. Berbeda dengan Maya yang cenderung tertutup dan kaku, Bella adalah orang yang jauh lebih ekspresif dan ceria.
Penampilannya hari ini benar-benar mencuri perhatian.
Bella mengenakan hoodie berukuran besar dengan gradasi warna pelangi yang sangat lembut—perpaduan warna pastel biru, ungu, dan kuning yang tampak sangat trendi.
Di kepalanya seperti biasa seolah itu adalah aksesoris wajib si gadis, bertengger sebuah topi kupluk rajut berwarna biru tua dengan aksen dua telinga kucing di bagian atas yang sangat imut, lengkap dengan sebuah pin kecil bermotif stroberi di sisi kanannya.
Rambut pendeknya yang berwarna ungu kebiruan sedikit mencuat dari balik topi, membingkai wajahnya yang mungil dengan pipi yang tampak merona alami.
Matanya yang besar dengan iris berwarna ungu cerah berbinar-binar penuh semangat saat menatap Rahmat. Ekspresinya sangat ceria, menunjukkan kepribadian yang ramah dan mudah bergaul.
"Eh, Kak Rahmat?" Bella menyapa dengan suara yang renyah dan penuh energi. "Ah, aku bener itu Kak Rahmat! Hahaha kebetulan sekali. Kakak lagi belanja ya?"
Bella memegang tali hoodie-nya dengan tangan mungil, sementara matanya sesekali melirik ke arah Ibu Dewi dengan sopan tapi tetap penuh rasa ingin tahu.
“Oh, kakak lagi jalan sama ibu? Selamat siang tante … hehe kak Rahmat sering bantu banyak.”
Ibu Dewi mengerutkan kening, menatap gadis eksentrik itu dengan bingung. "Le, ini... teman sekolahmu? Kok pakai kuping kucing? Jaman sekarang ginian trending?*
Rahmat tertawa lepas. "Ini Bella, Bu. Bukan teman sekolah juga sih, tapi dia kenalanku. Teman sekolah sebelah, SMA Batu Bara.”
Bella langsung menunduk sopan dengan senyum lebar yang menular. "Salam kenal, Ibu! Saya Bella ... Wah, Ibu cantik banget pakai gaun itu! Kak Rahmat pinter ya milihnya!"
Rahmat menyeringai. Kehadiran Bella benar-benar di waktu yang tepat. Dengan artefak peningkat keberuntungan yang dia miliki dan level double cashback yang baru saja naik, Bella seolah menjadi "lucky charm" tambahan untuknya.
Semakin banyak belanja kemungkinan dapat cashback lebih banyak soalnya.
"Bella, kamu datang di waktu yang tepat!"
ucap Rahmat sambil menunjukkan kartu hitamnya. "Ayo ikut, sekalian bantu Ibu pilih perhiasan yang cocok. Dan sebagai bonus karena kamu sudah membantu, kamu boleh pilih satu barang apa saja yang kamu mau. Aku lagi hoki hari ini!"
Bella terbelalak, telinga kucing di topinya seolah-olah ikut berdiri karena saking senangnya. "E-eh?! Serius, Kak? Aku juga dapet?!"
“Serius dong!”
Bella tampak sedikit berpikir. Seolah topi telinga itu hidup, kupingnya bergerak kesana kemari. “Tapi Bella lagi sama teman-teman Bella kak. Maaf.”
"Jadi kamu di sini, Bella!"
Suara pekikan itu membuat Bella tersentak kaget. Dua orang gadis sebayanya berlari kecil menghampiri, nafas mereka sedikit terengah seolah baru saja kehilangan jejak Bella di tengah keramaian mal yang luas ini.
Gadis pertama memiliki rambut dikuncir kuda dengan gaya sporty, sementara yang satunya lagi memakai kacamata berbingkai bulat yang membuatnya tampak seperti kutu buku yang modis. Keduanya langsung berhenti mematung saat melihat siapa yang sedang berdiri bersama Bella.
Mata mereka berpindah-pindah antara sosok Rahmat yang tampak berwibawa dengan aura "bos muda"-nya, Ibu Dewi yang kini terlihat anggun dengan gaun mahal.
"Wah, Bella! Kamu ternyata bareng siapa nih?" bisik si gadis berkuncir kuda, sikutnya menyenggol lengan Bella dengan penuh selidik. Matanya tidak bisa lepas dari wajah Rahmat. "Ganteng banget... kenalan kamu, Bel?"
Bella tertawa canggung sambil membetulkan letak topi telinga kucingnya yang sedikit miring.
"Eh, ini Kak Rahmat! Dia yang sering aku ceritain itu, yang beli ruko, ketemuan di Olimpiade, dan kasih hadiah juara satu ke aku. Dia super baik hati banget!"
"Selamat siang, Kak Rahmat! Selamat siang, Tante!" sapa si gadis berkacamata dengan nada yang sangat sopan, namun matanya tetap melirik Rahmat dengan ekspresi tidak percaya.
Dalam hatinya, dia menjerit; gila tampan banget! Auranya juga kaya! Bella punya kenalan sultan?!
Rahmat tersenyum ramah, menyadari tatapan kagum dan syok dari teman-teman Bella. "Oh, jadi ini teman-temannya Bella? Kebetulan sekali. Tadi saya mau traktir Bella belanja sebagai bonus, tapi kalau dia sendirian mungkin canggung. Gimana kalau kalian sekalian ikut?"
"Eh?! Maksudnya... kami juga boleh ikut belanja, Kak?" tanya si gadis kuncir kuda dengan suara melengking karena kaget.
"Iya. Pilih saja satu barang yang kalian suka di toko perhiasan ini. Anggap saja salam kenal dari saya," jawab Rahmat santai, seolah-olah membelikan perhiasan mahal itu semudah membeli permen di minimarket.
Ibu Dewi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya. "Rahmat, kamu ini... jangan boros-boros sama uang, Le."
"Tenang saja, Bu. Hari ini keberuntungan Rahmat lagi tinggi," bisik Rahmat sambil menyeringai.
“Itupun kalau kalian gak keberatan—”
“Kami mau, kak!”
“Boleh-boleh!”
“Duh kalian ini, dapat gratisan langsung gaz aja. Maaf ya kak Rahmat temanku emang gini.” Ucap bella.
Rahmat tersenyum semakin bersemangat.
"Ayo masuk, jangan berdiri di depan pintu terus. Pelayannya sudah nunggu," ajak Rahmat sambil menuntun mereka semua masuk ke area perhiasan VVIP.
Dua teman Bella saling berpandangan, wajah mereka merah padam karena senang sekaligus grogi. Mereka tidak pernah menyangka kalau hari Minggu ini mereka akan dijajani oleh seorang "pangeran" entah berantah yang punya kekayaan tak masuk akal.
Begitu mereka melangkah masuk ke area perhiasan VVIP, suasana berubah menjadi sunyi dan elegan. Aroma mawar mahal tercium di udara, sementara kotak-kotak kaca yang memajang berlian dan emas berkilau di bawah lampu sorot yang hangat.
Dua teman Bella, si gadis kuncir kuda dan si kacamata, berjalan dengan langkah yang sangat hati-hati, seolah takut jika sepatu mereka akan mengotori karpet sutra di ruangan itu. Mereka terpaku di depan etalase, menatap kalung, anting, dan beberapa pakain yang harganya setara dengan setara kendaraan mereka.
"K-Kak Rahmat, ini beneran?" bisik si gadis kuncir kuda, suaranya bergetar saat melihat label harga sebuah cincin safir. "Ini harganya lebih mahal dari harga motor aku..."
Rahmat hanya mengangguk santai, tangannya masih menggenggam kartu hitamnya. "Pilih saja. Anggap saja itu kenang-kenangan karena sudah menemani Bella."
“Bravo!!!”
“Makasih kak!”
“Lo punya kenalan sultan tajir, tampan, bella gila! Gue banga!”
Dua teman itu pun ngacir pergi mencari pakaian yang cocok untuk mereka sendiri.
“Duh, kalian buat kak Rahmat repot, tahu.” Gumam Bella sendiri cemberut.
“Kamu juga milih sana, bel. Aku mau pilih pilih lagi sama ibu, nanti aku temenin lagi.”
Ibunya menghela napas setelah membeli gaun dan lain-lain dia mau dibelikan apa lagi.
Selang beberapa menit setelah dia selesai memilih pakaian, perhiasan dan lain lain untuk ibu.
Sambil menunggu dua teman bella yang berdiskusi dengan pelayan, Rahmat beralih ke arah Bella. Gadis dengan topi telinga kucing itu tampak kebingungan di depan deretan pakaian desain terbaru. Matanya menatap kaos terbatas dan rok-rok modis, tapi tangannya tidak berani menyentuh, seolah-olah kain itu terbuat dari kaca yang mudah pecah.
"Kenapa, Bel? Bingung?" tanya Rahmat menghampiri.
"I-iya, Kak. Semuanya bagus, tapi Bella nggak tahu mana yang cocok buat Bella... dan harganya... duh, telinga kucingku sampai lemes lihat nol-nya," ucap Bella sambil memegang puncak topinya.
Rahmat menyeringai. Ia mulai memilah-milah rak pakaian dengan cepat. Berkat Sistem Analisis Nilai, matanya bisa melihat mana barang yang punya kualitas tertinggi dan paling cocok dengan aura warna-warni Bella.
"Ini bagus buatmu," ucap Rahmat sambil mengambil sebuah jaket bomber metalik dengan aksen pelangi. "Dan ini juga. Pakai ini kalau kamu lagi mau tampil lebih cool."
Rahmat terus mengambil beberapa pasang pakaian—mulai dari oversized sweater, rok mini dengan potongan asimetris, hingga sepasang sepatu bot putih yang tampak futuristik. Bella hanya bisa melongo saat tumpukan baju di lengan Rahmat semakin tinggi.
"Kak! Itu sudah banyak banget!" pekik Bella pelan.
"Masih kurang. Kita butuh sesuatu yang pas buat ngerayain kemenangan olimpiade kemarin," jawab Rahmat tenang.
“Oh, ya omong omong gimana tentang adikmu? Kamu sudah kasih dia hadiahnya?”
Bella terkekeh. Dia teringat ekspresi terkejut sang adik tempo hari saat dia memberikan hadiah laptop dan hp baru
“Iya kak. Dia senang banget. Makasih untuk waktu itu ya.”
Ia membawa semua barang itu ke kasir, bergabung dengan Ibu Dewi yang sudah memilih satu set perhiasan simpel namun mewah, serta dua teman Bella yang akhirnya memilih anting perak minimalis karena terlalu takut memilih yang lebih mahal.
Rahmat meletakkan tumpukan belanjaan itu di meja konter. Pelayan toko dengan tangan gemetar mulai memindai satu per satu barang.
"Total semuanya... Dua ratus Lima puluh juta rupiah, Tuan," ucap kasir itu dengan nada penuh hormat.
Ibu Dewi nyaris pingsan mendengar angka itu, sementara dua teman Bella saling berpegangan tangan agar tidak jatuh lemas.
Namun, Rahmat hanya menyodorkan kartu hitamnya dengan ekspresi datar.
[ Ding! ]
[ Transaksi Berhasil! Saldo terpotong: Rp 250.000.000 ]
[ Menghitung Peluang Double Cashback…]
[ Peluang saat ini: 40% ]
Rahmat menahan napas sejenak. Jantungnya berdegup kencang saat layar virtual di depannya berputar seperti mesin slot. Semua jumlah pakaian disini banyak, walau dia sial dia tetap untung.
[ Ding! ]
[ Selamat! Kemampuan Double Cashback Lv. 2 Aktif! ]
[ Keberuntungan Artefak Memberikan Bonus Tambahan! ]
[ Anda mendapatkan Cashback 2x Lipat dari nilai transaksi! ]
[ Rp500.000.000 telah dikirimkan ke rekening Anda! ]
Rahmat hampir saja berteriak kegirangan. Karena balik modal.
"Terima kasih sudah berbelanja, Tuan. Silahkan datang kembali," ucap manajer toko yang kini ikut turun tangan membawakan belanjaan mereka sampai ke depan pintu.
Bella menatap Rahmat dengan tatapan penuh pemujaan. "Kak Rahmat... Kakak itu sebenarnya anak konglomerat dari mana sih?"
Rahmat tertawa lepas, merangkul bahu ibunya yang masih tampak syok. "Cuma anak dari ruko galeri di pojok kota,”
Dua teman Bella bersorak kegirangan, sementara Rahmat melirik ke arah ponselnya.
Bip!
Bip!
Ponsel dia bergetar hebat. Itu dari Maya, pesan masuk satu.
“Kak ada tamu datang.”
“Katanya tertarik buat beli barang antik disini.”
“Helpp kak😭 canggung banget 😭😭”
“PLISSS!!”