Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Sisa Rasa Takut yang Tertinggal
Elora tidak benar-benar ingat bagaimana ia bisa kembali ke hotel malam itu dengan utuh. Ingatannya seperti pecah menjadi potongan-potongan kecil yang tidak tersusun rapi—lampu jalan yang melewati jendela mobil terlalu cepat, suara pintu yang dibuka tanpa ia sadari, langkah kaki yang terasa lebih dekat dari biasanya, dan satu sosok yang tidak pernah benar-benar meninggalkannya sejak ia berada di sana. Tapi dari semua yang samar itu, ada satu hal yang tertinggal dengan sangat jelas di dalam dirinya: rasa takut yang tidak ikut pergi meskipun situasinya sudah berakhir. Rasa itu tidak lagi berada di luar, tidak lagi berdiri di belakangnya seperti bayangan yang mengintai, tapi justru menetap di dalam tubuhnya sendiri, menyelinap ke dalam napasnya, ke dalam detak jantungnya, dan menolak untuk hilang begitu saja.
Kamar hotel yang biasanya terasa seperti tempat paling aman setelah hari yang panjang kini justru berubah menjadi ruang yang terlalu sunyi untuk ditinggali sendirian. Tidak ada suara selain detak jam yang terdengar lebih keras dari biasanya dan napasnya sendiri yang masih belum sepenuhnya stabil. Elora duduk di tepi ranjang tanpa benar-benar bergerak, masih mengenakan pakaian yang sama seperti tadi, seolah tubuhnya menolak untuk berpindah dari momen yang belum selesai ia proses. Bahkan untuk sekadar melepas sepatu pun terasa seperti sesuatu yang membutuhkan usaha lebih besar dari biasanya, karena setiap gerakan kecil justru membuat pikirannya kembali ke satu titik yang sama—jalan yang sepi, langkah kaki di belakangnya, dan perasaan bahwa ia tidak lagi punya kendali atas ruang di sekitarnya.
Ia mencoba menarik napas lebih dalam, mencoba menenangkan dirinya dengan cara yang selama ini selalu berhasil—mengatur ritme napas, menenangkan pikiran, mengingatkan diri bahwa semuanya sudah selesai. Tapi kali ini tubuhnya tidak sepenuhnya menurut. Ada ketegangan yang masih tertinggal di bahunya, ada getaran halus di jemarinya yang tidak bisa ia hentikan, dan ada sensasi aneh di dadanya yang membuat setiap tarikan napas terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Dan semakin ia mencoba untuk mengabaikannya, semakin jelas bahwa ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan waktu beberapa menit.
Bayangan itu datang lagi.
Tidak jelas.
Tidak utuh.
Tapi cukup kuat untuk membuatnya memejamkan mata lebih lama dari yang ia rencanakan.
Langkah kaki itu.
Mobil yang tidak pernah benar-benar pergi.
Dan cara seseorang berdiri cukup dekat untuk membuat ruang aman yang selama ini ia percayai tiba-tiba terasa seperti ilusi yang rapuh.
Elora menunduk, jemarinya mencengkeram ujung gaunnya tanpa sadar, seolah mencoba memastikan bahwa ia benar-benar berada di tempat yang nyata sekarang. Tapi tubuhnya masih belum sepenuhnya percaya.
Ketukan pintu terdengar.
Pelan.
Tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhnya langsung menegang.
Elora tidak langsung bergerak. Ia hanya diam di tempat, mencoba memastikan apakah suara itu benar-benar berasal dari luar, atau hanya bagian dari pikirannya yang masih belum bisa membedakan antara ingatan dan kenyataan. Detik-detik terasa lebih panjang dari biasanya. Napasnya tertahan tanpa ia sadari. Dan ketika ketukan itu terdengar lagi—sedikit lebih jelas, sedikit lebih nyata—jantungnya berdetak lebih cepat.
“Elora.”
Suara itu.
Tubuhnya bereaksi sebelum pikirannya sempat menyusun logika. Ia berdiri, langkahnya sedikit goyah tapi tetap bergerak menuju pintu, seperti ada sesuatu yang menariknya ke sana tanpa perlu dipikirkan lebih jauh. Tangannya sempat berhenti di gagang pintu selama satu detik—cukup untuk membuatnya ragu—sebelum akhirnya ia membukanya perlahan.
Dan di sana—
Arshaka berdiri.
Tidak ada jeda panjang.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada alasan.
Elora langsung melangkah mendekat.
Bukan karena ia sudah memutuskan untuk melakukannya.
Tapi karena tubuhnya bergerak lebih dulu, mengikuti sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya pahami.
Arshaka sedikit terdiam.
Bukan karena terkejut dengan gerakan itu.
Tapi karena cara Elora berdiri di depannya sekarang tidak sama seperti biasanya. Tidak ada jarak yang ia jaga dengan sadar, tidak ada sikap defensif yang biasanya selalu muncul setiap kali mereka berada terlalu dekat. Yang ada hanya seseorang yang terlihat lebih diam dari biasanya, lebih rapuh, dan untuk pertama kalinya… tidak mencoba mengontrol situasi di antara mereka.
“Kamu nggak apa-apa?” suara Arshaka terdengar lebih rendah dari biasanya.
Elora tidak langsung menjawab.
Karena ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Beberapa detik berlalu dalam diam yang tidak canggung, tapi juga tidak ringan. Elora bisa merasakan napasnya sendiri perlahan mulai stabil, bukan karena ia sudah benar-benar tenang, tapi karena kehadiran Arshaka di depan pintu itu memberikan sesuatu yang tidak ia sadari ia butuhkan sejak tadi—rasa bahwa ia tidak lagi sendirian menghadapi semua yang tersisa di kepalanya.
“Aku…” ia berhenti, menarik napas pelan, mencoba menemukan kata yang tepat, “…nggak bisa berhenti kepikiran.”
Kalimat itu keluar lebih pelan dari yang ia kira.
Tapi cukup untuk membuat maknanya terasa jelas.
Arshaka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elora beberapa detik lebih lama, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak memberikan solusi cepat, tidak juga mencoba mengalihkan. Ia hanya ada di sana.
Langkahnya maju.
Pelan.
Terukur.
Tidak memaksa.
Tapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka perlahan menghilang tanpa perlu izin.
“Kamu aman sekarang,” katanya akhirnya.
Kalimat itu sederhana.
Tapi tidak terdengar kosong.
Elora menggeleng pelan.
Matanya sedikit menunduk.
“Rasanya masih ada…” suaranya hampir seperti bisikan, “…kayak belum selesai.”
Arshaka tidak memotong.
Tidak menyangkal.
Ia hanya berdiri lebih dekat sekarang.
Cukup dekat untuk membuat Elora sadar bahwa ia tidak lagi berdiri sendirian di ruang itu.
“Lihat aku.”
Suara itu lebih pelan.
Tapi lebih tegas.
Elora mengangkat pandangannya.
Dan di titik itu, ia melihat sesuatu yang berbeda.
Tatapan Arshaka tidak lagi sekadar dingin atau tenang seperti biasanya. Ada fokus yang lebih dalam, sesuatu yang terasa lebih personal, lebih terarah—seolah untuk pertama kalinya, seluruh perhatian pria itu benar-benar berada di satu tempat.
Di dirinya.
“Kamu di sini,” lanjutnya pelan.
“Bukan di sana.”
Kalimat itu seharusnya biasa saja.
Tapi di saat seperti ini—
itu cukup.
Elora menarik napas lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua itu terjadi—
napasnya tidak terasa seberat sebelumnya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang berbeda.
Tidak lagi mencekam.
Tapi juga tidak sepenuhnya tenang.
“Aku nggak suka ini,” kata Elora pelan.
“Perasaan kayak… aku kehilangan kendali.”
Kata-kata itu menggantung di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya—
Arshaka tidak mencoba memperbaikinya.
Sebaliknya, suaranya turun sedikit saat ia menjawab—
“Kalau kamu nggak bisa pegang…”
Ia berhenti.
Sejenak.
“…aku yang pegang.”
Elora terdiam.
Karena kalimat itu seharusnya membuatnya mundur.
Membangun kembali batas.
Menarik jarak yang selama ini ia jaga.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Ia tidak bergerak.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak yakin apakah itu karena ia tidak mampu…
atau karena sebagian dari dirinya mulai menerima.
Malam itu tidak berakhir dengan kepastian.
Tidak juga dengan jawaban yang jelas.
Tapi dengan satu hal yang perlahan menjadi semakin nyata—
bahwa rasa takut yang tersisa di dalam diri Elora…
tidak hanya meninggalkan luka.
Tapi juga membuka ruang—
untuk seseorang masuk lebih dalam dari yang seharusnya.
Dan kali ini—
Elora tidak tahu apakah ia masih ingin menutup pintu itu.
⸻
Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌
See you di bab selanjutnya...