"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Jejak yang Terhapus
Malam semakin larut di Jakarta, namun lampu di ruang kerja pribadi Baskara masih menyala terang. Arini baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan piyama panjangnya, ketika ia melihat Baskara masih terpaku di depan tiga monitor besar yang menampilkan ribuan baris data.
"Bas, ini sudah hampir jam satu pagi. Kamu tidak istirahat?" Arini mendekat, meletakkan secangkir teh hangat di meja kerja suaminya.
Baskara tidak langsung menjawab. Ia melepas kacamata bacanya, memijat pangkal hidungnya yang terasa kaku, lalu menarik kursi Arini agar duduk di sampingnya. "Lihat ini, Arini. Aku baru saja masuk ke arsip yang seharusnya sudah 'mati' sejak tahun lalu."
Arini mengerutkan kening, menatap layar yang menampilkan foto seorang wanita cantik dengan senyum cerah. "Ini... Maya Sari, kan? Konten kreator yang viral karena meninggal saat live streaming tahun lalu?"
"Benar," sahut Baskara dingin. "Waktu itu, media memberitakan dia meninggal karena serangan jantung akibat kelelahan bekerja. Kasusnya ditutup hanya dalam waktu tiga hari. Tapi, coba kamu lihat laporan medis yang asli ini, yang baru saja berhasil aku tarik dari server cadangan kepolisian."
Baskara memperbesar sebuah foto otopsi yang buram. Mata Arini langsung membelalak. Ia mendekatkan wajahnya ke layar, jemarinya menyentuh permukaan monitor seolah ingin meraba luka di sana.
"Tunggu, Bas... Lihat jahitan di bagian perut ini," suara Arini sedikit bergetar. "Pola jahitannya kasar, menggunakan benang non-medis yang sama dengan yang aku temukan pada Bella Luna tadi siang."
"Tepat," potong Baskara dengan nada tajam. "Lalu lihat tanda di pergelangan tangannya. Apakah itu tampak seperti bekas serangan jantung bagimu?"
"Bukan," Arini menggeleng cepat, napasnya mulai memburu. "Itu bekas ikatan kuat. Sangat kuat sampai menghancurkan jaringan kulitnya. Bas, pola tusukan jarum di lehernya juga identik. Ini bukan serangan jantung. Ini pembunuhan yang dirancang agar terlihat seperti kematian alami!"
Baskara bersandar di kursinya, matanya berkilat penuh amarah. "Kasus Maya Sari ditangani oleh Jaksa Agung Muda sebelumnya dan dokter forensik dari rumah sakit swasta yang punya hubungan gelap dengan birokrasi. Mereka memalsukan data otopsi agar publik tidak bertanya-tanya. Kasus ini tenggelam begitu saja karena tidak ada yang berani menggali lebih dalam."
"Berarti Bella Luna adalah korban berikutnya dari sindikat yang sama?" tanya Arini dengan suara rendah.
"Sepertinya begitu. Polanya sama: wanita, publik figur, punya pengaruh besar di media sosial, dan kematiannya dibuat dramatis," Baskara mengepalkan tangannya di atas meja. "Tapi mereka membuat satu kesalahan besar kali ini."
"Apa kesalahannya?"
Baskara menoleh ke arah Arini, menatap istrinya dengan pandangan yang sangat intens dan posesif. "Mereka tidak menyangka bahwa kasus Bella Luna akan jatuh ke tanganku, dan otopsinya akan dilakukan oleh dokter forensik yang tidak bisa disuap sepertimu. Sial bagi mereka, tersangka kali ini berhadapan dengan kita berdua. Aku tidak akan membiarkan kasus ini tenggelam seperti kasus Maya Sari."
Arini terdiam, ia bisa merasakan kemarahan yang membara di balik ketenangan Baskara. "Mereka punya orang di dalam kejaksaan, Bas. Ini berbahaya."
"Justru itu yang membuatku semakin bersemangat," desis Baskara. "Aku akan menyeret mereka semua ke permukaan. Jika mereka pikir bisa bermain-main dengan nyawa manusia dan memalsukan hukum, mereka salah besar."
Tiba-tiba, suasana di ruangan itu terasa mendingin. Di sudut yang gelap, Satria berdiri dengan wajah yang sangat serius, sementara Mika tampak gelisah di sampingnya.
"Kamu dengar itu, Mika?" bisik Satria. "Mereka mulai menemukan jejak fisiknya. Tapi mereka belum tahu bahwa ada sisi yang jauh lebih gelap yang menahan jiwa-jiwa para korban ini."
"Denger, Mas Satria!" Mika mengangguk cepat. "Tapi Mas Jaksa beneran serem ya kalau lagi mode serius gitu. Auranya kayak mau makan orang hidup-hidup."
Satria menatap Arini yang sedang digenggam tangannya oleh Baskara. "Biarkan mereka melacak bukti di dunia manusia. Kita punya tugas lain. Kita harus menemukan di mana jiwa Bella Luna disekap sebelum para dukun itu menghancurkannya sepenuhnya."
Arini melirik sekilas ke arah Satria, meskipun ia berpura-pura tidak melihat. Ia tahu, perjuangan kali ini akan dilakukan di dua medan perang sekaligus.
"Bas," panggil Arini pelan. "Apapun yang terjadi, kita harus menuntaskan ini. Demi Bella, demi Maya, dan demi semua orang yang suaranya dibungkam secara paksa."
Baskara membawa tangan Arini ke bibirnya, mencium punggung tangan itu dengan penuh janji. "Aku bersumpah, Arini. Siapapun yang ada di balik ini, mereka tidak akan pernah bisa tidur nyenyak lagi mulai malam ini."
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣