NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Zaidan mematung menatap pintu kamar yang baru saja dibanting oleh Maya.

Suara benturan itu masih terngiang di telinganya, menyisakan kesunyian yang mencekam di ruang tamu.

Ia berpaling pada Sulfi, merasa sangat rendah karena istrinya yang baru itu harus menyaksikan kehancuran rumah tangganya dalam hitungan menit setelah tiba.

"Masuklah ke kamarmu di sana," ujar Zaidan lirih sambil menunjuk sebuah kamar kosong di sudut rumah yang biasanya ia gunakan untuk menyimpan berkas-berkas kasus.

"Maaf, ruangannya tidak luas, tapi setidaknya kamu bisa beristirahat."

Sulfi menganggukkan kepalanya pelan. Ia meraih tas kainnya, namun sebelum melangkah, ia berhenti sejenak dan menatap Zaidan dengan tatapan penuh empati yang tak disangka-sangka akan muncul dari wanita yang baru saja dihina.

"Jangan keras-keras sama Mbak Maya, Mas," bisik Sulfi, suaranya lembut namun tegas.

"Jangan dimarahi. Dia juga korban seperti kita. Hati wanita mana yang tidak hancur melihat suaminya pulang membawa wanita lain?"

Zaidan tertegun. Ia terdiam seribu bahasa mendengar kata-kata itu.

Di saat Sulfi sendiri baru saja dipermalukan dan disebut "miskin" oleh Maya, ia masih bisa memikirkan perasaan wanita yang menghinanya.

"Istirahatlah, Sulfi," hanya itu yang sanggup Zaidan katakan.

Sulfi masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan sangat pelan, seolah takut menambah kebisingan di rumah yang sedang panas itu.

Begitu pintu tertutup, Sulfi menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu yang dingin.

Ia menatap kamar sempit yang berdebu itu, menyadari bahwa mulai hari ini, ia harus belajar bernapas di tengah kebencian orang lain.

Zaidan masih berdiri mematung. Ia menoleh ke arah karung beras pemberian Sulfi yang tadi ditendang Maya.

Dengan perlahan, ia membungkuk, mengangkat karung itu, dan membawanya ke dapur.

Tangannya gemetar saat menuangkan beras itu ke dalam wadah yang kosong.

Setiap butir beras yang jatuh seolah mengingatkannya pada ironi hidupnya: ia diberi makan oleh istri yang tidak diinginkannya, sementara istri yang ia cintai sedang menangis meraung-raung di dalam kamar karena perbuatannya.

Zaidan melangkah menuju pintu kamar Maya. Ia menarik napas panjang, bersiap menghadapi badai yang lebih besar demi sebuah penjelasan yang mungkin tak akan pernah diterima.

Zaidan berdiri mematung di ambang pintu kamar yang baru saja dibuka sedikit oleh Maya.

Mata istrinya itu sembap, namun kilat amarah di sana telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin dan mengerikan: sebuah perhitungan.

"Mas mau dia tetap di sini karena alasan keamanan atau tanggung jawab, kan?" suara Maya terdengar datar, namun tajam.

Zaidan mengangguk pelan. "Hanya sampai keadaan aman, Dek. Mas janji."

Maya menyilangkan tangan di dada, senyum sinis kembali tersungging di bibirnya.

"Baik. Dia boleh tinggal di sini, tapi ada syaratnya. Dan syarat ini tidak bisa ditawar."

Zaidan menahan napas. "Apa syaratnya?"

"Pertama, selama dia di sini, dia bukan istri. Dia harus melayaniku seperti pembantu. Masak, cuci baju, bersih-bersih rumah, semuanya dia yang kerjakan. Aku tidak mau tahu," ucap Maya tegas.

Zaidan hendak memotong, namun Maya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar suaminya diam.

"Kedua," lanjut Maya dengan suara yang lebih berat, "kalau sampai suatu saat dia hamil anakmu, dia harus memberikan anak itu kepada kita. Anak itu akan jadi anakku. Dia tidak punya hak sedikit pun atas bayi itu."

Zaidan tersentak. Jantungnya berdegup kencang mendengar permintaan yang begitu kejam. Namun, Maya belum selesai.

"Dan yang terakhir, setelah semua urusanmu selesai, setelah dia melahirkan atau setelah kamu merasa aman, kamu harus menceraikannya. Mas harus ceraikan dia di depan mataku."

Zaidan yang mendengarnya langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.

Wajahnya pucat pasi, tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut wanita yang selama ini ia kenal lembut.

"Tidak, Maya! Itu tidak manusiawi!" seru Zaidan.

"Memberikan anak? Menjadi pelayan? Kamu tidak bisa memperlakukan orang seperti itu, Dek. Dia itu manusia, punya perasaan, dia juga punya luka sendiri karena kehilangan suaminya!"

"Oh, jadi sekarang kamu lebih peduli pada perasaannya daripada perasaanku yang kamu khianati?" tantang Maya, suaranya kembali meninggi.

"Pilih, Zaidan! Turuti syaratku, atau bawa dia keluar sekarang juga dan jangan pernah kembali ke rumah ini!"

Di balik pintu kamar sebelah, Sulfi yang sejak tadi mendengarkan dari balik dinding kayu yang tipis, jatuh terduduk di lantai.

Air matanya mengalir deras tanpa suara. Syarat itu terasa seperti belati yang menusuk langsung ke jantungnya.

Ia tidak menyangka bahwa pelariannya dari amukan warga justru membawanya ke dalam sangkar emas yang penuh duri.

Zaidan menatap pintu kamar Sulfi, lalu beralih ke Maya.

Ia merasa terjepit di antara dua karang yang siap menghancurkannya.

"Maya, tolong, jangan sekejam ini," bisik Zaidan putus asa.

"Pilih, Mas. Sekarang!" tekan Maya tanpa ampun.

Maya berdiri dengan dagu terangkat, matanya berkilat penuh keyakinan bahwa Zaidan tidak akan punya nyali untuk menolak permintaannya.

Baginya, Zaidan adalah suami yang selalu tunduk pada keinginannya, apalagi dalam kondisi terdesak seperti ini.

Namun, di balik diamnya, pikiran Zaidan justru terbang kembali ke ruang tamu sempit di desa semalam.

Ia teringat genggaman tangan Pak RT yang kasar dan pesan yang begitu berat, "Saya titipkan Sulfi kepadamu. Jangan sakiti hatinya, jangan sia-siakan dia."

Zaidan menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang seolah menguras seluruh sisa tenaganya.

"Maaf, Dek. Mas nggak bisa," ucap Zaidan dengan nada rendah namun sangat tegas.

Maya tertegun. Senyum kemenangan di wajahnya luntur seketika.

"Apa Mas bilang?"

"Mas harus adil kepada kalian berdua," lanjut Zaidan, kini ia berani menatap langsung mata istrinya.

"Sulfi bukan pembantu, dan Mas tidak akan pernah membiarkan seorang ibu dipisahkan dari anaknya kelak. Itu bukan keadilan, Maya. Itu penindasan."

"Oh, jadi Mas lebih memilih janda kampung itu?!" teriak Maya, suaranya melengking hingga ke langit-langit rumah.

"Mas lebih milih perempuan yang baru Mas kenal semalam daripada aku, istri sah Mas yang sudah menemani dari nol?"

Zaidan menggeleng lemas. "Ini bukan soal memilih siapa, tapi soal melakukan apa yang benar sebagai laki-laki."

Maya tertawa sinis, air mata kemarahan mulai membasahi pipinya.

Ia melangkah maju dan menunjuk ke arah pintu depan dengan jari yang gemetar.

"Baiklah kalau begitu! Kalau Mas merasa sudah jadi pahlawan untuknya, Mas bisa tinggalkan rumah ini sekarang juga!"

Zaidan terdiam, matanya menatap sekeliling ruangan yang selama ini menjadi tempatnya beristirahat.

"Jangan lupa, Zaidan," desis Maya dengan nada yang sangat dingin, "rumah ini adalah hadiah dari orang tuaku. Semuanya, sampai kursi yang kamu duduki, adalah milik keluargaku. Kalau kamu mau membela dia, silakan bawa dia pergi dari sini. Jangan bawa satu pun barang dari rumah ini!"

Di balik pintu kamar, Sulfi menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan isak tangis agar tidak terdengar.

Ia merasa sangat berdosa karena kehadirannya membuat Zaidan harus kehilangan segalanya.

Zaidan menatap Maya dengan tatapan pedih, lalu perlahan ia bangkit berdiri. Tidak ada kata-kata balasan.

Ia berjalan menuju kamar Sulfi, mengetuk pintunya pelan.

"Sulfi, kemasi barang-barangmu lagi," ujar Zaidan lirih. "Kita pergi sekarang."

Maya ternganga, tak percaya bahwa ancamannya justru membuat Zaidan benar-benar memilih untuk pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!