NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8: Jejak yang Makin Dekat dan Malam Penuh Waspada

Hari-hari berikutnya, suasana di Hutan Aethelgard terasa berubah.

Angin yang berhembus tidak lagi hanya membawa aroma dedaunan kering dan bunga liar, tapi juga membawa aroma yang asing dan tidak menyenangkan—aroma besi, asap api unggun yang sudah dingin, dan bau tubuh manusia yang tidak dikenali. Alexandria bisa merasakannya, meski indranya tidak setajam Leonard. Dan Leonard? Ia bisa menciumnya dengan jelas, setiap jam, setiap menit.

Mereka semakin dekat.

Itu adalah kenyataan yang pahit, tapi harus dihadapi. Sejak Alexandria mengetahui kebenaran tentang identitas Leonard dari buku catatan ayahnya, hubungan mereka berdua berubah menjadi lebih dewasa, lebih penuh pengertian, dan juga lebih waspada.

Mereka tahu bahwa kehadiran Leonard di dunia ini tidak luput dari perhatian orang-orang yang ingin mencelakainya, dan sekarang, orang-orang itu sudah ada di ambang pintu.

Pagi itu, Alexandria sedang duduk di meja kayu, meracik beberapa ramuan obat tambahan—bukan hanya untuk luka fisik, tapi juga ramuan yang menurut buku ayahnya bisa membantu meningkatkan ketahanan tubuh dan memberikan kehangatan di saat dingin atau bahaya. Di sampingnya, Leonard berdiri tegap di dekat jendela, matanya tajam mengamati setiap gerakan di luar halaman. Telinganya selalu terpasang, menangkap suara sekecil apa pun.

"Leonard," panggil Alexandria pelan, tanpa mengalihkan pandangannya dari ujung jarum yang sedang ia gunakan untuk memasukkan ramuan ke dalam botol-botol kecil.

"Kamu merasa mereka ada di sini sekarang, kan?"

Leonard menoleh sedikit, mengeluarkan geraman rendah yang pendek dan tegas. Itu adalah jawaban 'ya'.

Alexandria menghela napas panjang, tangannya sedikit berhenti bergerak.

"Aku tidak takut," katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Leonard.

Tapi ia tahu ia harus meyakinkannya. "Aku benar-benar tidak takut. Selama kita bersama, aku tahu kita bisa menghadapi mereka."

Leonard berjalan mendekati Alexandria, lalu menyandarkan kepalanya yang besar ke bahu wanita itu. Aroma tubuhnya yang hangat dan menenangkan segera menyelimuti Alexandria. Ia tahu Alexandria berusaha bersikap kuat, dan ia menghargainya. Tapi sebagai seorang pria, sebagai pelindung, rasanya menyakitkan bagi Leonard mengetahui bahwa wanita yang dicintainya harus ikut menanggung beban bahaya karena dirinya.

Jika saja ia bisa berubah sepenuhnya, jika saja ia bisa menggunakan kekuatannya secara maksimal... mungkin mereka tidak akan berani mendekat sejauh ini, batin Leonard geram.

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri," bisik Alexandria, seolah bisa membaca pikiran Leonard.

Ia meletakkan tangannya di atas kepala Leonard, mengusapnya dengan lembut. "Ini bukan salahmu. Ini salah orang-orang yang jahat yang menginginkanmu terluka. Dan kita akan membuktikan bahwa cinta kita lebih kuat dari kejahatan mereka."

Leonard mengeluarkan suara dengungan rendah, lalu menjilat pipi Alexandria dengan lembut.

Siang harinya, Alexandria memutuskan untuk memeriksa sekeliling pondok, memastikan tidak ada celah atau tempat persembunyian yang bisa digunakan oleh orang asing. Leonard berjalan di depannya, menjadi pelopor yang berani. Mereka berjalan mengelilingi pondok, memeriksa semak belukar, pohon-pohon besar, dan bahkan gudang kecil di belakang rumah tempat mereka menyimpan kayu bakar.

Saat mereka sampai di sisi timur pondok, dekat dengan tumpukan kayu bakar, Leonard tiba-tiba berhenti. Tubuhnya menegang, dan ia mengeluarkan geraman marah yang rendah. Ia menunjuk ke arah sebuah titik di tanah dekat tumpukan kayu dengan hidungnya.

Alexandria segera mendekat, lalu melihat apa yang membuat Leonard marah. Di sana, di atas tanah yang tertutup daun kering, terlihat jejak kaki yang baru. Jejak kaki yang sama dengan yang mereka temukan di tepi sungai beberapa waktu lalu—jejak sepatu bot besar dengan pola rumit. Dan di dekatnya, ada puntung rokok yang baru saja padam, asapnya masih tercium samar.

Mereka benar-benar sudah ada di sini. Sangat dekat. Bahkan mungkin saat Alexandria dan Leonard ada di dalam rumah, ada mata yang mengawasi dari balik celah-celah dinding atau jendela.

Darah Alexandria berdesir hebat. Rasa takut yang selama ini ia coba tekan kini muncul kembali, tapi kali ini bercampur dengan rasa marah. Berani-beraninya mereka mengganggu kedamaian rumahnya, mengganggu kedamaian dirinya dan Leonard.

"Mereka sudah ada di sini," bisik Alexandria, suaranya bergetar karena marah. "Mereka berani sampai sejauh ini."

Leonard menoleh ke arahnya, matanya yang keemasan tampak menyala dengan amarah yang tertahan. Ia segera berputar, mengamati sekeliling hutan dengan tatapan membunuh, seolah ingin melacak ke mana orang itu pergi. Ia ingin mengejarnya, ingin menghukumnya karena berani mengancam wanitanya. Tapi ia tidak bisa meninggalkan Alexandria sendirian. Instingnya mengatakan bahwa ia harus tetap di sini, menjaganya.

Alexandria menyadari pertempuran batin yang sedang terjadi pada Leonard. Ia segera memegang leher macan itu, menatap matanya.

"Jangan pergi, Leonard. Tetap di sini. Biarkan mereka pergi. Yang penting sekarang kita tahu bahwa mereka sudah sangat dekat. Kita harus lebih waspada."

Leonard menatap Alexandria, lalu perlahan menurunkan postur tubuhnya, meski amarah masih terlihat jelas di matanya. Ia tahu Alexandria benar. Mengejar mereka sekarang tanpa tahu berapa jumlah mereka dan apa rencana mereka terlalu berisiko. Risikonya terlalu besar, terutama jika Alexandria ikut terlibat.

Mereka pun kembali ke dalam pondok, dan kali ini, Alexandria mengunci semua pintu dan jendela dengan lebih rapat. Ia bahkan memindahkan lemari kayu yang berat untuk menahan pintu belakang, dan menutup semua jendela dengan tirai tebal agar tidak ada yang bisa melihat ke dalam.

Sore itu berlalu dengan suasana yang tegang. Alexandria tidak berani melakukan aktivitas yang terlalu berisik. Ia hanya duduk di dekat perapian, sesekali melirik ke arah Leonard yang terus berjaga di dekat pintu depan. Hutan di luar terasa sunyi, terlalu sunyi, seolah semua hewan pun ikut bersembunyi karena merasakan bahaya yang mendekat.

Malam akhirnya turun, membawa kegelapan yang pekat. Alexandria menyalakan lampu minyak, tapi ia membiarkan cahayanya redup agar tidak menarik perhatian dari luar. Suasana di dalam pondok terasa hangat karena api perapian, tapi hati mereka berdua dipenuhi dengan ketegangan.

"Kita harus tidur dengan satu mata terbuka malam ini, ya?" bisik Alexandria sambil tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana yang mencekam.

Leonard berjalan mendekatinya, lalu berbaring di lantai tepat di depan tempat tidur Alexandria—posisi yang membuatnya menjadi tameng pertama jika ada sesuatu yang masuk melalui pintu atau jendela. Ia menatap Alexandria dengan tatapan lembut, seolah mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkan apa pun menyentuhnya selama ia masih bernapas.

Alexandria pun berbaring, tapi ia tidak bisa tidur. Matanya terbuka, menatap langit-langit kayu yang gelap. Pikirannya terus berputar. Siapa orang-orang itu? Apa yang mereka inginkan dari Leonard? Apakah mereka akan menyerang malam ini?

Tiba-tiba, sekitar tengah malam, saat keheningan sudah sangat dalam, terdengar suara gemerisik di atap pondok. Suara itu pelan, tapi cukup jelas didengar oleh telinga Alexandria yang terlatih dan telinga Leonard yang super tajam.

Dalam sekejap, Leonard bangkit berdiri. Bulu-bulu di punggungnya berdiri tegak, gigi taringnya terlihat jelas, dan ia mengeluarkan geraman rendah yang menggetarkan hati. Ia menatap lurus ke arah atap, lalu ke arah pintu depan.

Alexandria juga segera bangkit dari tempat tidurnya, tangannya meraih sebatang kayu bakar yang sudah ia siapkan sebelumnya sebagai senjata darurat. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia tidak membiarkan rasa takut itu menguasainya. Ia berdiri di samping Leonard, siap menghadapi apa pun yang akan datang.

Suara gemerisik itu terdengar lagi, kali ini di dekat cerobong asap. Lalu, terdengar suara benda logam yang beradu pelan, seolah seseorang sedang menurunkan sesuatu atau mencoba membuka sesuatu dari luar.

"Mereka di sini," bisik Alexandria, suaranya tegas. Ia menatap Leonard, dan Leonard menatapnya. Dalam tatapan itu, ada pemahaman yang tak terucapkan. Mereka berdua siap.

Tiba-tiba, terdengar suara benturan keras di pintu depan. Sesuatu atau seseorang menabrak pintu itu dengan keras, membuat pintu kayu itu berderit nyaris roboh. Lemari yang menahan pintu belakang pun bergoyang hebat, seolah ada yang mendorongnya dari luar.

Mereka menyerang.

Leonard mengaum keras—auman yang begitu keras dan menakutkan, menggema di seluruh ruangan dan seolah mengguncang pondok itu. Ia berdiri di depan Alexandria, tubuhnya tegap dan siap bertarung. Matanya yang keemasan menyala di tengah kegelapan, memancarkan aura pembunuh yang nyata.

Alexandria memegang erat kayu bakar di tangannya, napasnya tertahan. Ini adalah saatnya. Ini adalah konfrontasi yang selama ini mereka takuti tapi juga persiapkan.

"Jangan biarkan mereka masuk, Leonard," bisik Alexandria, tekadnya membara.

"Kita lindungi rumah kita. Kita lindungi satu sama lain."

Pintu depan berderit lagi, kali ini lebih parah. Kunci kayu itu mulai retak. Di luar, bayangan-bayangan gelap terlihat bergerak-gerak di balik celah-celah dinding dan jendela. Musuh sudah ada di depan mata.

Dan di dalam pondok kecil itu, dua jiwa yang saling mencintai bersiap untuk bertarung—satu dengan kekuatan hewan dan sihir yang terpendam, satu lagi dengan keberanian manusia dan cinta yang tak tergoyahkan.

Malam ini, mereka akan membuktikan bahwa tidak peduli seberapa kuat musuh yang datang, ikatan di antara mereka adalah pertahanan terkuat yang tidak bisa ditembus oleh apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!