NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Aku makan," ucapku akhirnya, menyerah pada tatapannya yang tak kenal kompromi. Aku meraih kantong kertas itu dengan gerakan kaku. "Tapi saya mohon, Anda harus kembali ke ruangan Anda sekarang, Pak. Saya tidak mau ada staf lain yang masuk dan melihat kita seperti ini."

Danendra tidak langsung beranjak. Ia justru menyandarkan punggung ke kursi, melipat tangan di depan dada sambil terus memperhatikanku. "Kenapa? Apa yang salah dengan seorang atasan yang memastikan asistennya tidak pingsan saat bekerja?"

"Di sini saya hanya staf magang, Pak Danendra," desisku pelan, mencoba menahan rasa gemas. "Saya tidak enak dengan staf magang yang lain ataupun karyawan tetap di sini. Saya tidak ingin ada desas-desus yang tidak perlu hanya karena Anda terlalu... perhatian."

Danendra terdiam sejenak. Ada kilatan luka yang melintas cepat di matanya saat aku menekankan kata 'hanya staf magang', namun sedetik kemudian ia kembali menguasai diri. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang tampak sempurna tanpa cela.

"Baiklah," sahutnya rendah. "Habiskan makanannya. Saya akan kembali ke ruangan saya. Tapi ingat, Azzalia, jangan mencoba membuangnya ke tempat sampah setelah saya pergi, karena saya akan mengeceknya nanti."

Ia melangkah pergi tanpa menunggu jawabanku. Langkah kakinya yang berat berangsur menjauh, meninggalkan keheningan yang mendadak terasa hampa di area kubikel.

Aku menatap kantong kertas di depanku. Di dalamnya terdapat sebungkus nasi uduk hangat—menu yang dulu sering kami makan bersama saat bolos jam pelajaran tambahan. Aroma gurih santan dan bawang goreng itu seolah mengejek usahaku untuk bersikap dingin.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku mulai menyuap nasi itu. Rasanya masih sama, hangat dan akrab. Namun, setiap kunyahan justru membuat dadaku terasa kian sesak. Aku membenci kenyataan bahwa meskipun aku sudah berlari sejauh ratusan kilometer dan bersembunyi selama enam tahun, Danendra masih tahu persis bagaimana cara menyusup ke balik zirahku melalui hal-hal kecil yang bahkan hampir aku lupakan sendiri.

Satu jam kemudian, satu per satu staf mulai berdatangan. Suasana kantor yang tadinya sunyi kini berubah menjadi riuh. Aku segera merapikan sisa bungkus makanan dan membuangnya ke pantry, lalu kembali fokus pada layar monitor. Aku harus tenggelam dalam pekerjaan. Hanya dengan cara itu aku bisa melupakan bahwa pria di ruangan ujung sana sedang menungguku untuk menyerahkan laporan atau mungkin, menungguku untuk menyerah sepenuhnya pada perasaan yang masih tersisa.

"Pagi, Zal," sapa Mbak Selly yang tiba-tiba muncul di samping kubikelku sambil membawa setumpuk berkas.

Aku mendongak dan memaksakan sebuah senyum tipis sebagai balasan sopan. Mbak Selly menatapku sejenak, lalu pandangannya beralih ke layar monitor. "Laporan buat rapat nanti sudah siap, kan? Kemarin si Bagas yang lanjutin pas kamu pulang, tapi tetap harus kamu yang revisi balik karena kamu yang lebih tahu teknis lapangannya," tanyanya memastikan.

Aku hanya mengangguk kaku sambil menjawab bahwa aku baru saja akan memulai pengecekan ulang. Mbak Selly menepuk pundakku pelan, "Oke, pastikan matang ya. Jam sembilan tepat kita mulai, tinggal sebentar lagi soalnya," tambahnya sebelum melangkah pergi meninggalkan aroma kopi yang tajam di sekitarku.

Mbak Selly baru saja berlalu ketika Nesha tiba-tiba memutar kursinya ke arahku dengan mata yang memicing curiga.

"Gila lo, Zal! Pagi banget datang ke kantor. Tadi pas gue bangun lihat ada bubur di depan pintu, gue pikir lo kesambet apa," serunya setengah berbisik namun penuh tekanan. "Lo semalam sampai kos jam berapa sih sebenarnya? Pas gue balik, kamar lo gelap banget kayak nggak ada orang."

Aku menghela napas panjang, berusaha menjaga jemariku agar tetap stabil di atas mouse. "Nggak sampai malam kok, Nes. Gue cuma kecapekan banget habis perjalanan, makanya langsung tidur. Sori ya nggak sempat kabari," jawabku tanpa berani menatap matanya.

Nesha terdiam sejenak, ia memandangi wajahku dengan raut wajah yang lebih serius dari biasanya. "Lo oke? Muka lo masih agak pucat, lho."

"Aman," sahutku singkat, mencoba mengakhiri interogasi ini secepat mungkin.

"Oke deh kalau gitu. Tapi kalau ada apa-apa, cerita ya ke gue. Jangan dipendam sendiri terus zirahnya," balas Nesha sambil menepuk lenganku pelan. "Gue balik ke meja gue dulu, mumpung bubur dari lo masih anget."

Begitu Nesha kembali fokus pada pekerjaannya, aku menyandarkan punggungku ke kursi. Keheningan di antara kami kini digantikan oleh suara riuh staf lain yang mulai memenuhi ruangan. Mataku tertuju pada kantong kertas dari Danendra yang sudah kosong. Sial, kenapa rasanya perhatian-perhatian kecilnya justru jauh lebih melelahkan daripada perjalanan lima jam kemarin?

Aku segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir sisa-sisa perasaan itu. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuka file laporan yang dikerjakan Bagas. Aku harus bergerak cepat. Tinggal satu jam lagi sebelum aku harus duduk di depan Danendra dalam sebuah rapat formal, di mana aku tidak bisa lagi bersembunyi di balik alasan "capek" atau "ingin sendiri".

Saat aku sedang fokus membedah angka-angka, sebuah bayangan tinggi melintas di depan kubikelku. Tidak berhenti, hanya lewat menuju ruang rapat. Namun, aroma wood-scent yang tertinggal di udara sudah cukup untuk memberi tahuku bahwa "Pak Danendra" sudah siap memulai perannya hari ini.

Jam di sudut layar monitor menunjukkan angka sembilan tepat. Ini saatnya. Aku menarik napas panjang, mencoba memantapkan degup jantung yang mendadak tak keruan. Seberapa keras pun aku mencoba menghindar, pada akhirnya profesionalitas menarikku kembali ke dalam satu ruangan yang sama dengan pria itu.

Aku menyambar buku catatan dan laporan yang baru saja selesai kubedah. Di depan sana, kulihat Mbak Selly sudah melangkah lebih dulu menuju ruang rapat utama dengan langkah terburu-buru. Tak lama, Pak Hanan, kepala divisi operasional, juga keluar dari ruangannya sambil merapikan dasi, berjalan beriringan dengan Pak Bram yang tampak sedang membicarakan sesuatu yang serius.

"Zal, ayo! Jangan sampai Pak Danendra nunggu," bisik Bagas yang tiba-tiba sudah ada di sampingku sambil menenteng laptop. Di belakangnya, Mbak Selvy mengekor dengan membawa tumpukan dokumen tambahan.

Aku hanya mengangguk kecil dan mengekor di barisan paling belakang. Setiap langkah kaki yang beradu dengan lantai marmer koridor kantor seolah menjadi hitungan mundur menuju konfrontasi yang tak terelakkan. Begitu aku melangkahi ambang pintu ruang rapat, udara dingin dari AC seketika menyambutku, namun rasa hangat menjalar di tengkukku saat menyadari sosok Danendra sudah duduk tenang di kursi utama.

Ia tampak sangat berkuasa dengan setelan jas gelapnya. Tatapannya yang tajam sedang tertuju pada layar tablet di tangannya, namun begitu aku masuk, ia mendongak. Hanya satu detik mata kami bertemu, namun itu cukup untuk membuatku merasa kembali "dikuliti". Tidak ada jejak pria yang membawakanku nasi uduk tadi pagi; di sini, hanya ada Pak Danendra Aditama, sang utusan pusat yang perfeksionis.

Aku memilih posisi duduk paling ujung, mencoba mencari zona aman sejauh mungkin dari jangkauan pandangannya. Namun sial, meja rapat yang berbentuk oval ini justru membuatku tetap berada dalam radius pandangannya yang dominan.

"Baik, karena semua sudah hadir, mari kita mulai," suara bariton Danendra menggema, memecah kesunyian ruangan. "Saya ingin mendengar laporan teknis lapangan yang sudah dikonsolidasi semalam. Azzalia, silakan dipaparkan."

Aku tersentak. Langsung aku? Tanpa pembukaan dari Pak Hanan? Aku menelan ludah, membuka folder laporanku dengan tangan yang sebisa mungkin kujaga agar tidak gemetar di depan rekan-rekan yang lain.

"Baik, Pak. Berdasarkan peninjauan terakhir..."

Aku mulai bicara, berusaha keras memaku pandanganku pada kertas, menghindari binar matanya yang seolah sedang menunggu satu saja celah kecil di ziraku untuk kembali ia tembus.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!