NovelToon NovelToon
Love Unscripted

Love Unscripted

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: CieMey

Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.

Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Derana

Nana fokus pada film yang sedang mereka tonton. Berbeda dengan Vanya yang masih dihantui rasa gelisah karena ulah Nana dan Desya tadi. 

Bagaimana bisa Nana dengan mudah menyukai Desya yang baru saja ia temui. Apa semua cowok seperti itu. Semua pertanyaan itu sedang memenuhi isi kepala Vanya. 

Tak terasa ternyata film yang mereka tonton telah selesai. Lampu teater yang menyala menyadarkan Vanya dari lamunannya. 

Vanya menatap Nana dengan Sendu. Ia sedang bingung dengan perasaan yang sedang ia rasakan, Vanya sangat takut kehilangan Nana. Vanya sangat menyesal keluar rumah hari ini. 

"Van... Ayo keluar" ajak Nana yang sepertinya tidak menyadari suasana hati Vanya yang sedang buruk. 

Vanya mengangguk, mengikuti langkah Nana. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan, suasana hati benar benar sudah hancur. Vanya hanya ingin sendiri. 

Tubuh Vanya sudah mulai terasa lemah. Kepalanya sangat sakit bahkan penglihatannya mulai menggelap. 

Vanya hanya berdoa semoga ia bisa bertahan sampai rumah. Ia tak mau merepotkan Nana. Lebih tepatnya ia tak mau Nana melihatnya seperti orang yang lemah.Vanya sangat benci dengan kondisi tubuhnya yang lemah.

Tepat ketika penglihatan Vanya benar benar sudah gelap, Nana membuka suaranya. Hal itu mampu membuat Vanya kembali tersadar, sedikit demi sedikit penglihatannya mulai kembali walaupun penglihatannya tak lagi gelap namun kepalanya masih terasa sangat sakit. 

"Kita mau kemana lagi?" Tanya Nana tanpa menoleh kearah Vanya. 

"Pulang" jawaban singkat yang di berikan Vanya, mampu membuat Nana menoleh kearahnya. 

"Lo sakit Van? Muka Lo pucat banget" kata Nana.

Vanya tak menjawab pertanyaan Nana, ia hanya diam menatap Nana. 

"Yaudah kita pulang sekarang" kata Nana yang tak kunjung mendapat jawaban dari Vanya. 

Ia sangat khawatir dengan Vanya. Tidak biasanya Vanya seperti ini, muka nya terlihat sangat pucat, tatapan nya juga sangat sayu. Ia bingung, sepertinya pagi tadi Vanya baik baik saja, bahkan Vanya masih tersenyum manis sampai Vanya bertemu dengan temannya tadi. 

Nana baru menyadari sikap Vanya yang berubah setelah Vanya bertemu dengan Desya. "Apa mereka sedang ada masalah" kata Nana dalam hati. Nana ingat bagaimana cara Vanya menatap tajam kearah temannya tadi, sebelumnya Nana tidak pernah melihat tatapan Setajam itu dari Vanya. Bahkan sepengetahuan Nana, Vanya bukan tipe orang yang suka bertengkar dengan orang lain, ia akan memilih untuk diam atau menjauh dari orang yang tidak ia suka. 

Nana memilih untuk diam. Ia tak berani menanyakan apapun pada Vanya. Percuma juga Nana bertanya, Vanya pasti tidak akan menjawabnya. 

Vanya berbaring di tempat tidurnya. Ia sendiri tidak mengerti dengan kondisi tubuhnya. Setiap kali ada hal yang menggangu pikirannya atau ia sedang merasa cemas, tubuhnya akan sangat lemas, kepalanya terasa sangat pusing bahkan bisa sampai pingsan, dadanya terasa sangat sesak. 

Sudah sangat sering ia menanyakan tentang kondisi tubuhnya ini ke dokter pribadinya atau pun ke keluarganya, tapi tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya. Mereka selalu bilang semuanya akan baik baik saja, Vanya hanya harus menjaga kesehatan dan jangan terlalu banyak pikiran.

Vanya memilih untuk tidur, ia berharap ketika ia bangun dari tidurnya pusing di kepalanya hilang atau setidaknya mereda.

Nana sangat khawatir dengan keadaan Vanya. Saat ini ia sedang berada di ruang tamu rumah Vanya, ia tak berhenti menatap kearah kamar Vanya yang pintunya tertutup rapat. Kamar itu sangat tenang tidak ada suara sama sekali. Itu membuat Nana semakin merasa khawatir, tapi ia tidak bisa berbuat apa apa.

Nana telah menghubungi orang tua Vanya. Sebentar lagi orang tua Vanya akan pulang dan dokter akan datang. 

Sebenarnya Vanya menyuruh Nana untuk langsung pulang setelah mengantarnya. Tapi setelah mengetahui tak ada satu orang pun dirumah Vanya, Nana bersikeras untuk menemani Vanya, Paling tidak sampai orang tua Vanya datang. 

Vanya yang sudah sangat lemas tidak bisa lagi menolak. Ia hanya minta Nana menunggu di ruang tamu dan menghubungi orang tuanya.

"Assalamualaikum, Nana gimana keadaan Vanya?" Ratih terlihat sangat panik. Ia langsung meninggalkan pekerjaannya ketika mendapatkan kabar dari Nana. 

"Waalaikumsalam, Vanya lagi istirahat dikamar Tante" jawab Nana sambil mencium tangan Ratih. 

Ratih tidak sendirian. Ia membawa dokter pribadinya. 

Mereka bertiga bergegas ke atas. Untung saja Vanya tidak mengunci kamarnya, mereka bisa dengan mudah memasuki kamar Vanya. 

Dokter Rayan, dokter pribadi keluarga Karasya. Saat ini ia sedang memeriksa kondisi Vanya. Ratih menemani dokter Rayan  sambil terus menggenggam tangan Vanya. Ratih dan dokter Rayan terlihat sangat panik. 

Nana mulai curiga, ada yang tidak beres dengan kondisi kesehatan Vanya. Menurutnya ini hanya sakit biasa, seharusnya mereka tidak sepanik ini.

"Maaf Tante, dokter... Kalau saya boleh tau, sebenarnya Vanya kenapa ya?" 

Ratih dan dokter Rayan menatap Nana cukup lama. "Vanya baik baik saja... Boleh saya minta tolong sama kamu?" Kata dokter Rayan yang tidak dapat dipercaya oleh Nana. Nana yakin saat ini Vanya sedang tidak baik baik saja. 

"Boleh dok" 

"Tolong jaga Vanya, jangan biarkan dia sedih, jangan biarkan dia berpikir terlalu keras, jangan biarkan dia melakukan kegiatan yang terlalu berat, dan yang terakhir adalah yang paling penting... Ingatkan dia untuk selalu meminum obatnya atau lebih baik lagi jika kamu bisa memastikan Vanya selalu meminum obatnya."

Nana mengangguk. Bahkan tanpa harus dimintai tolong Nana pasti akan melakukan hal itu. 

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
gempi
b
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!