NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Sang Jenderal dan Mahkota yang Tersembunyi

Lonceng katedral masih bergema di langit malam ini saat Daisy menatap pantulan dirinya di cermin besar Paviliun Eisenberg. Rambut hitam legamnya yang panjang hingga sepinggang tampak berkilau, kontras dengan gaun tidur sutra berwarna krem yang ia kenakan. Di balik wajahnya yang terlihat seperti remaja belasan tahun—begitu mungil dan polos.

Dunia mengenalnya sebagai Muse, penulis lagu bertangan dingin yang karyanya dinyanyikan oleh penyanyi sekelas The Golden Boy dari Korea hingga The Queen of Pop dari Amerika. Tak hanya itu, di dunia literasi visual, ia adalah otak di balik komik-komik epik tentang bajak laut, ninja, hingga romansa bangsawan yang terjual jutaan eksemplar. Namun, di rumah ini, di hadapan suaminya, ia hanyalah Daisy—seorang istri yang terjebak dalam keheningan.

Pernikahan itu terjadi enam bulan lalu, sesaat setelah ia menyelesaikan gelar Master di Oxford. Ayahnya, yang merupakan saudara dari Raja yang bertahta, memberikan titah yang tak bisa ia tolak. Bukan karena ayahnya otoriter—justru karena orang tuanya begitu mencintainya—Daisy merasa harus membalas budi dengan menerima perjodohan ini.

"Kau melamun lagi?"

Suara berat dan bariton itu memecah keheningan kamar. Daisy tersentak kecil, menoleh ke arah pintu. Di sana berdiri Matthew von Eisenberg.

Jenderal Agung itu masih mengenakan seragam militernya yang gagah, meski kancing atasnya sudah terbuka. Tingginya begitu mencolok. Daisy, yang memiliki tinggi badan rata-rata wanita, merasa sangat kecil. Ia tahu, bahkan jika ia memakai sepatu hak tinggi sepuluh senti sekalipun, kepalanya hanya akan mencapai batas dada bidang suaminya. Mata Matthew yang berwarna dark blue menatapnya dengan intensitas yang sulit dibaca—dingin, kaku, namun entah bagaimana terasa sangat dominan.

"Ah, tidak... Saya hanya sedang memikirkan beberapa lirik," dusta Daisy kecil, jemarinya memilin ujung rambutnya. Sifat pemalu dan gengsinya selalu muncul tiap kali mereka berada dalam satu ruangan.

Matthew tidak membalas. Ia berjalan menuju meja kerja, meletakkan lencana kepangkatannya dengan denting logam yang tajam. Matthew adalah produk dari didikan wanita-wanita keras di keluarganya. Ibu dan Neneknya adalah bangsawan tinggi yang mengajarkan bahwa dunia bisa ditaklukkan dengan kekuatan dan strategi. Baginya, perasaan adalah variabel yang tidak terukur, dan cinta adalah konsep asing yang tidak pernah diajarkan di akademi militer maupun di meja makan keluarganya.

"Aku akan berangkat besok pagi," ucap Matthew tiba-tiba tanpa menoleh.

Daisy terdiam. "Ke markas lagi? Bukankah anda baru pulang tiga hari yang lalu?"

"Bukan ke markas pusat," Matthew membalikkan badannya, menatap Daisy tepat di mata coklat madunya. "Perbatasan sedang memanas. Raja telah mengeluarkan perintah mobilisasi. Aku akan memimpin pasukan di sana. Estimasi waktu dua tahun."

Dua tahun.

Jantung Daisy seakan berhenti berdetak sejenak. Pernikahan mereka baru berjalan enam bulan, dan itu pun lebih banyak diisi dengan kekakuan. Matthew menghabiskan hampir seluruh waktunya di markas, sementara Daisy tenggelam dalam naskah komik dan komposisi lagunya. Mereka hidup seperti dua orang asing yang berbagi atap megah.

"Dua tahun adalah waktu yang lama," gumam Daisy, suaranya hampir tak terdengar.

"Negara membutuhkan kehadiranku, Daisy. Dan kau tahu itu," jawab Matthew datar. Tidak ada nada penyesalan, tidak ada gurat kesedihan. Baginya, tugas adalah segalanya. Ia tidak tahu cara mengatakan bahwa ia mungkin akan merindukan keheningan yang nyaman saat Daisy berada di dekatnya. Ia tidak tahu cara menunjukkan bahwa ia sebenarnya memperhatikan bagaimana Daisy selalu bangun lebih pagi untuk memastikan tehnya sudah siap.

Daisy menunduk, menyembunyikan kekecewaan di balik helai rambut hitamnya. Ia ingin mengatakan sesuatu—mungkin sebuah permintaan agar Matthew berhati-hati, atau mungkin sebuah pelukan keberanian. Namun, harga dirinya sebagai wanita mandiri dan sifat pemalunya mengunci rapat mulutnya.

"Saya mengerti. Saya akan menyiapkan keperluan anda malam ini," kata Daisy akhirnya, berbalik untuk menuju lemari besar Matthew.

Saat ia berjalan melewati Matthew, aroma maskulin yang bercampur dengan bau debu militer tercium olehnya. Matthew memperhatikan istrinya itu. Di matanya, Daisy tampak begitu rapuh, seolah satu sentuhan kasar bisa mematahkannya. Namun ia juga tahu, wanita ini adalah lulusan Oxford dengan otak cemerlang. Ada kekuatan tersembunyi di balik mata coklat madu itu.

Matthew ingin mengulurkan tangan, menyentuh bahu mungil itu, namun tangannya terasa kaku. Didikan keluarganya membuatnya merasa bahwa menunjukkan afeksi adalah sebuah kelemahan. Ia hanya bisa berdiri di sana, memandangi punggung istrinya yang sibuk merapikan seragam tempurnya.

Malam itu, mereka tidur dalam satu ranjang besar, namun ada jarak tak kasat mata yang membentang di antara mereka. Daisy menatap langit-langit kamar, memikirkan bagaimana jadinya hidupnya dua tahun ke depan tanpa sosok pria kaku ini. Meski dingin, keberadaan Matthew di paviliun ini memberikan rasa aman yang tak bisa dijelaskan.

Sementara di sisi lain ranjang, Matthew menatap gelapnya malam. Ia akan pergi berperang, mempertaruhkan nyawa di medan yang penuh mesiu dan darah. Namun, entah mengapa, memikirkan meninggalkan Daisy di paviliun ini terasa lebih berat daripada menghadapi moncong meriam lawan.

Fajar menyingsing dengan warna kemerahan yang suram. Di depan gerbang paviliun yang megah, mobil militer sudah bersiap. Matthew telah mengenakan jubah perangnya, terlihat bagaikan dewa perang yang turun ke bumi.

Ayah dan Ibu Daisy hadir untuk melepas menantu mereka. Sebagai kerabat dekat Raja, keberangkatan ini adalah urusan kehormatan keluarga.

"Jaga dirimu, Matthew," ucap Ayah Daisy tegas namun penuh rasa hormat.

Matthew mengangguk singkat. Matanya kemudian beralih pada Daisy yang berdiri sedikit di belakang ibunya. Daisy tampak pucat pagi itu. Ia tidak memakai riasan, menonjolkan wajah baby face-nya yang membuat siapapun ingin melindunginya.

"Aku pergi," kata Matthew tepat di depan Daisy.

Daisy menatap mata dark blue itu untuk terakhir kalinya sebelum waktu dua tahun memisahkan mereka. Ia memaksakan sebuah senyum tipis. "Kembalilah dengan selamat, Jenderal. Saya... saya tidak suka jika harus mencari pemilik baru untuk paviliun ini."

Itu adalah caranya bercanda, cara menutupi rasa cemasnya. Matthew sedikit menaikkan sudut bibirnya—sebuah gestur yang hampir mirip senyuman. Ia lalu menunduk, mengecup kening Daisy dengan singkat dan dingin, namun bagi Daisy, kecupan itu terasa membakar kulitnya.

Tanpa kata lagi, Matthew masuk kedalam mobilnya, memimpin barisan pasukan yang mulai bergerak menjauh. Daisy berdiri mematung di gerbang paviliun, memperhatikan bayangan punggung suaminya yang perlahan menghilang ditelan kabut pagi.

Dua tahun. Sebuah awal dari ketidakhadiran, atau mungkin, sebuah awal dari kerinduan yang terlambat disadari. Daisy berbalik masuk ke dalam rumahnya yang kini terasa terlalu luas, ia mengeluarkan buku catatannya, jemarinya mulai menari menuliskan sebuah melodi sedih yang kelak akan menjadi lagu nomor satu di dunia—sebuah lagu tentang seorang Jenderal dan mawar yang ia tinggalkan di balik pagar besi.

1
Nia Nara
Pernikahan itu panjang, nanti 10 atau 20 tahun lagi, tiba2 maira kembali, terlalu beresiko.
Nia Nara
Kalau aku jadi daisy, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua.
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!