"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria sialan!
"Tuan, aku rasa Anda terlalu keras padanya." Ava menatap Nero dari spion tengah karena pria itu duduk di jok belakang, sedangkan dirinya di balik kemudi. Seperti inilah pekerjaannya, selain menjadi sekretaris, koki, dan pelayan, ia juga menjadi sopir pria arogan tersebut. Meski berat, ia tetap menjalani pekerjaannya dengan sepenuh hati, mengingat gajinya sangat besar yang dapat memenuhi kebutuhan hidup mewahnya.
"Tutup mulutmu, Winters! Dan fokus menyetir!" sahut Nero dingin, tanpa menoleh, pandangannya fokus pada layar ponselnya.
Ava langsung melipat bibir, tak berani membantah.
*
Ele benar-benar bosan berada di rumah. Ia berencana keluar rumah hanya untuk menghirup udara segar dan melihat pemandangan Kota Italia, akan tetapi ia mengurungkan niat saat dua bodyguard-nya pasti akan selalu mengikutinya.
"Nona, pelatih Anda sudah tiba, mohon untuk segera bersiap," ucap Botak pada Ele yang tengah duduk di ruang tengah.
Ele menoleh, menatap Botak dengan alis bertaut, "pelatih? Pelatih apa?"
"Pelatih menembak. Tuan Nero yang mengatur semua ini," jawab Botak, tersenyum meringis saat gadis itu menatapnya tajam.
"Apa dia sudah gila?! Dia bertindak sesuka hatinya tanpa meminta pertimbangan dariku! Sialan!" Ele berteriak kencang dengan perasaan emosi. Suaranya sampai menggema memenuhi ruangan tersebut.
"N-Nona tenangkan diri Anda." Botak berusaha menenangkan gadis itu yang tengah kesetanan. "Ini demi kebaikan Anda," imbuhnya, masih berusaha menenangkan.
"Kebaikan apanya? Apa dia itu buta, aku ini cantik, dan elegan, kenapa malah disuruh belajar menembak!" Ele masih nyerocos sembari memperlihatkan kuku cantiknya pada Botak. "Katakan pada boss-mu, aku tidak mau berlatih menembak!" Ia menunjuk wajah Botak rengan ujung jari ya.
"Nona, tolonglah. Kami bisa di pecat jika Anda menolaknya."
"Aku tidak peduli!" Ele menjawab dengan nada keras, lalu beranjak dari sana tanpa memedulikan Botak yang terus memanggilnya.
Botak menatap kepergian gadis itu dengan perasaan tak karuan, kemudian segera menghubungi Nero untuk melaporkan semua sikap Ele.
Nero menghela nafas panjang seraya memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. Dirinya belum sampai perusahaan tapi gadis itu sudah membuat ulah. Pantas saja Ben tak sanggup mendidik putri bungsunya, ternyata Ele sangat bar-bar, sulit di atur, dan selalu melanggar aturan.
"Anda, baik-baik saja, Tuan?" tanya Ava, cemas.
"Putar balik!" perintah Nero, tegas.
Ava mengangguk, lalu memutar balik mobilnya menuju rumah. Meski penasaran yang tengah terjadi, tapi dia memilih diam dan menekan rasa penasarannya itu agar tidak muncul ke permukaan lagi.
*
Sampai di rumah. Nero meminta Ava untuk kembali ke perusahaan tanpanya, karena ia harus mengurus Ele yang semakin menjadi sikapnya.
"Kalian!!" teriak Ele seraya menunjuk para bodyguard yang berusaha menghalanginya. "Aku hanya ingin keluar sebentar tapi kenapa kalian memperlakukanku seperti tahanan?! Kalian sama saja gila, seperti boss kalian!" bentak Ele seraya menunjuk semua orang yang ada di sana penuh emosi.
"Apa kau bilang!?" sahut Nero dari ambang pintu, menatap tajam gadis tersebut.
Para bodyguard langsung membubarkan diri saat melihat kehadiran boss mereka.
Nero mendekati gadis itu tanpa mengendurkan tatapan tajamnya.
Kedua mata Ele membola saat melihat pria itu berada di sana, tapi bukan berarti dia takut pada pria itu.
"Kau gila! Dasar perjaka tua menyebalkan!!" teriak Ele seraya menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Hei, tutup mulutmu!" Nero malu sendiri mendengar umpatan gadis bar-bar tersebut.
Cammora tidak peduli dengan aturan Botak untuk Berta. Camorra mengajak Berta bersenang-senang. Cammora menggenggam erat tangan Berta menuju mobilnya.
Cammora membawa Berta ke salon kecantikan.
Cammora ingin pegawai salon merubah penampilan Berta menjadi cantik, sampai membuatnya pangling.
Elle senang tersenyum puas menikmati kegalauan Botak.
Cammora pria yang bisa membuat Berta bisa tersenyum. Berta merasa di hargai, di inginkan, dan di perhatikan.
Berta hatinya tersentuh dengan perhatian-perhatian kecil dari Cammora.
Apalagi Cammora memberikan Berta semangat dan dukungan moril, juga memberi nasehat.
Berta tumbuh dengan rasa ketakutan, tidak percaya diri, dan terasingkan.
Kini ada pria yang mengatakan Berta berharga. Jangan pernah lagi merasa rendah diri. Berta gadis hebat dan kuat.
Berta dengan mata berkaca-kaca mengucapkan terima kasih pada Cammora.
Berta tersentuh, terharu dengan apa yang dikatakan Cammora.
Cammora bertanya pada Berta - Botak yang menjawab.
Cammora tak terima pada Botak yang ikut campur urusannya dengan Berta.
Elle datang - menyelamatkan Berta dari aturan Botak yang seenaknya sendiri.
Botak kalau suka sama Berta bicara terus terang. Sok meremehkan Berta. Nyatanya cemburu Berta didekati Cammora.
Rasain Batak. Suka memarahi Berta - mana bilang bukan hanya wajah Berta yang jelek, tapi cara kerjanya juga jelek.
Lihat tuh si jelek disukai Cammora yang kaya raya. Botak tak ada apa-apanya dibanding Cammora.
Cammora memanfaatkan waktunya untuk mendekati Berta.
Bahkan kemanapun Berta pergi, Cammora mengikuti.
Berta sampai protes pada Cammora.
Berta menyebut nama sekalian nama panggilannya.
Elle dan Nero berada di kamar menatap mereka.
Nero tak terima istrinya memuji Cammora yang gentelman.
Meronalah kedua pipi Berta mendengar tamu majikannya mengatakan - berliannya Berta.
Di kasih waktu satu minggu oleh Nero.
Nero mengancam Cammora akan kehilangan kepalanya kalau melakukan hal bahaya atau melukai penghuni rumah Nero.
Elle memperbolehkan Cammora menginap - biar Botak cemburu dan sakit hati.
Elle syok mendengar penuturan Nero - Botak tidak pernah mau menikah. Mungkin Botak tidak tertarik pada wanita.
Sepertinya Botak tidak mau menikah bukan karena gay, Elle.
🥰🥰🥰🥰
biar nti pulang paman botak pangling dan lupa ngasih hukuman 🤣🤣🤣